Palu, katakabar.com - Suka tidak suka, dan mau tidak mau, serta harus diakui digitalisasi telah masuk ke semua lini dan sektor, termasuk sektor kelapa sawit. Digitalisasi ini penting mendorong kinerja industrialisasi kelapa sawit salah satu sektor penopang ekonomi pemerintah dan masyarakat.

Beranjak dari situ, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Sulawesi gelar Celebes Forum 2025.

“Digitalisasi menjadi salah satu solusi untuk mempercepat proses dalam industri perkebunan sawit,” tutur Ketua GAPKI Cabang Sulawesi, Dony Yoga Perdana di Palu, dilansir dari laman sawitsetara.co, Kamis sore.

Ia meyakini teknologi bisa berdampak positif, kalau dikembangkan lebih baik lagi di industri kelapa sawit secara berkelanjutan. Di mana 70 persen anggota GAPKI Sulawesi, telah menerapkan proses digitalisasi dalam industri perkebunan kelapa sawit.

“Saat ini sudah mulai dari proses panen, merawat, mengolah sudah banyak menggunakan digitalisasi,” cerita Dony.

Diketahui, digitalisasi proses mengubah informasi dari bentuk analog (tercetak, audio, video) atau proses manual menjadi bentuk digital menggunakan teknologi. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, aksesibilitas, dan kolaborasi dalam berbagai bidang seperti bisnis, pemerintahan, dan kehidupan sehari-hari. Contoh penerapannya meliputi pembayaran digital, perpustakaan digital, dan otomatisasi proses bisnis.

Menurutnya, pemerintah terus memperkuat strategi hilirisasi industri sebagai langkah kunci dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Salah satu fokus utamanya adalah pada komoditas kelapa sawit, yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong diversifikasi produk turunan dan memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di dalam negeri.

Staf Ahli Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menegaskan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada tahun 2029. Untuk mencapai ambisi tersebut, strategi percepatan hilirisasi industri menjadi kunci, terutama pada sektor komoditas strategis seperti kelapa sawit.

“Komoditas kelapa sawit menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk mendorong percepatan hilirisasi produk turunan,” timpal Dida.

Diversifikasi produk hilir sawit, sebut Dida, tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah dan keuntungan finansial, tetapi juga menyentuh aspek strategis lain, seperti ketahanan energi, penghematan devisa, hingga kontribusi terhadap isu lingkungan global.

Salah satu contoh konkret dari upaya tersebut adalah penerapan program biodiesel berbasis sawit yang kini telah memasuki tahap B40, yakni campuran 40 persen biodiesel dalam solar. Program ini diproyeksikan menyerap crude palm oil (CPO) hingga 15,6 juta kiloliter.

“Artinya, kebutuhan energi kita bisa lebih banyak dipenuhi dari dalam negeri dan tidak terlalu bergantung pada impor solar,” terangnya.