Membangun Bersama Indonesia: Apa Diungkap Komitmen Jangka Panjang Google Tentang Kemitraan Teknologi Dibutuhkan Negara
berita utama. Sejarah justru akan mengingat kemitraan yang membantu memperkuat kapasitas Indonesia untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang dengan caranya sendiri.
'DNA' Presiden Tandai Bangkitnya Diplomasi Peradaban
Oleh: Satish Chandra Mishra Jakarta, katakabar.com - Ketika Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkatkan hubungan bilateral Indonesia–India menjadi Kemitraan Strategis pada tahun 2005, mereka sesungguhnya melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menandatangani sebuah dokumen kerja sama. Keduanya sedang menghidupkan kembali ikatan yang telah terjalin selama berabad-abad untuk menegaskan bahwa Indonesia dan India bukan sekadar negara bertetangga secara geografis, melainkan juga memiliki hubungan sebagai sesama pewaris sejarah dan peradaban. Sejak saat itu, istilah “diplomasi peradaban” (civilizational diplomacy) semakin sering bergema, baik di Jakarta maupun New Delhi, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Republik India pada 26 Januari 2025 dan menyampaikan pernyataan bahwa dirinya juga memiliki “DNA India.” Pernyataan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan pendekatan diplomasi yang bertumpu bukan hanya pada kedekatan geografis, tetapi juga pada kesamaan akar peradaban, pengakuan budaya, dan kepentingan strategis yang terus berkembang. Menariknya, berbagai kesamaan sejarah, bahasa, dan budaya yang selama ini terlupakan kini kembali ditemukan dan diangkat, termasuk melalui kajian mengenai kejayaan Sriwijaya, sehingga semakin memperkuat kesadaran bersama di Indonesia maupun India mengenai akar historis yang mereka miliki. Alasan di balik kedekatan tersebut sesungguhnya sudah sangat jelas. Selama lebih dari dua milenium, kepulauan Nusantara dan anak benua India dihubungkan oleh jalur perdagangan muson yang menjadi nadi perdagangan maritim pada masanya. Jalur tersebut tidak hanya mengangkut rempah-rempah dan kain, tetapi juga membawa gagasan, pengetahuan, sistem aksara, agama, filsafat politik, hingga tradisi istana yang menyebar melintasi Teluk Benggala. Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram banyak dipengaruhi oleh tradisi Brahmanisme dan kemudian Buddhisme yang berasal dari India. Jejak pengaruh tersebut bahkan masih dapat ditemukan hingga kini melalui berbagai nama tempat di Jawa dan Sumatra yang berasal dari bahasa Sanskerta. Bali pun tetap menjadi salah satu contoh paling nyata dari peradaban yang mempertahankan warisan budaya pra-Islam yang berakar kuat pada tradisi India. Begitu pula kisah Ramayana dan Mahabharata, yang di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai kisah asing, melainkan telah menyatu dengan identitas budaya lokal sebagai bagian dari warisan bersama kedua bangsa. Meski demikian, kedekatan sejarah dan budaya saja tidak cukup untuk membangun hubungan strategis yang berkelanjutan. Setelah masing-masing negara meraih kemerdekaan, kebijakan luar negeri India lebih banyak difokuskan pada kawasan Asia Selatan serta dinamika Perang Dingin, sementara Indonesia pada era Orde Baru lebih berkonsentrasi pada konsolidasi politik dalam negeri dan integrasi kawasan ASEAN. Semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 memang sempat menjadi simbol tujuan bersama yang mempererat hubungan Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru. Konferensi tersebut memberikan dorongan besar bagi semangat dekolonisasi sekaligus membuka ruang bagi Indonesia dan India untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam percaturan global. Sayangnya, momentum Bandung kemudian meredup di tengah berbagai tantangan politik dan pembangunan ekonomi yang dihadapi kedua negara pada masa-masa awal kemerdekaan. Memasuki abad ke-21, hubungan Indonesia dan India kembali memperoleh momentum baru. Kebangkitan ini didorong oleh sejumlah perubahan struktural yang saling memperkuat. Faktor pertama adalah ekonomi. Reformasi ekonomi India sejak tahun 1991 menjadikan negara tersebut sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia sekaligus mendorong kebutuhan untuk mempererat hubungan dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia. Nilai perdagangan bilateral yang pada tahun 2004 baru mencapai sekitar US$3,5 miliar meningkat menjadi hampir US$38 miliar pada 2022, sebelum kemudian turun menjadi sekitar US$29 miliar akibat fluktuasi harga komoditas global, bukan karena melemahnya hubungan ekonomi kedua negara. Struktur perdagangan Indonesia dan India menunjukkan tingkat saling melengkapi yang sangat kuat. Indonesia memasok batu bara, minyak sawit, dan nikel—komoditas yang permintaannya terus meningkat di India. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin industri, produk minyak olahan, layanan teknologi informasi, serta tekstil ke Indonesia. Di masa depan, salah satu peluang terbesar terletak pada pengembangan rantai pasok kendaraan listrik dan baterai. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, sementara India tengah mempercepat ambisinya menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Kombinasi tersebut menjadikan kedua negara sebagai mitra yang sangat ideal. Perubahan kedua datang dari dinamika kawasan Indo-Pasifik yang melahirkan kebutuhan strategis baru bagi Indonesia dan India, terlepas dari siapa pun yang sedang memimpin pemerintahan di masing-masing negara. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga tatanan internasional yang berbasis aturan, menjamin kebebasan navigasi, serta mempertahankan sentralitas ASEAN. Indonesia maupun India sama-sama mempromosikan visi Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan inklusif. Pilihan Indonesia untuk mempertahankan otonomi strategis sejalan dengan pendekatan India yang dikenal sebagai multi-alignment, yakni menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terikat pada satu blok tertentu. Dalam konteks inilah diplomasi peradaban menjadi sangat relevan, karena menyediakan bahasa diplomasi yang tidak bersifat konfrontatif maupun berpihak, melainkan berakar pada pemahaman bersama sebagai dua peradaban besar yang memiliki tradisi strategisnya masing-masing. Perkembangan hubungan pertahanan juga menjadi salah satu pilar penting yang memperkuat kemitraan Indonesia dan India. Jika sebelum tahun 2001 hampir tidak terdapat kerja sama pertahanan yang berarti, kini kedua negara telah membangun berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari latihan angkatan laut bersama, pertukaran intelijen, hingga kerja sama industri pertahanan. Patroli maritim terkoordinasi antara Angkatan Laut India dan TNI Angkatan Laut telah berlangsung sejak 2012 dan terus berkembang, termasuk melalui latihan antikapal selam. Di sisi lain, rudal jelajah BrahMos buatan India juga menarik perhatian Indonesia sebagai salah satu opsi untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan bilateral kini telah bergerak jauh melampaui diplomasi tradisional dan semakin menyentuh kepentingan strategis kedua negara. Hal lain yang patut dicermati adalah konsistensi komitmen Indonesia terhadap hubungan dengan India di bawah tiga pemerintahan yang berbeda. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pemimpin yang pertama kali meningkatkan hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis pada 2005. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo bersama Perdana Menteri Narendra Modi memperkuat fondasi tersebut melalui pembentukan Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) pada 2018. Kini, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan momentum tersebut setelah kunjungannya ke India pada 2025 dengan memperluas ruang kerja sama ke bidang pembiayaan pertahanan, ketahanan pangan, dan berbagai sektor strategis lainnya. Keberlanjutan kebijakan ini menunjukkan bahwa diplomasi peradaban bukanlah agenda yang bergantung pada satu pemerintahan atau koalisi politik tertentu, melainkan telah berkembang menjadi orientasi strategis Indonesia dalam menjalin hubungan dengan India. Lingkungan strategis global pada 2025 semakin memperkuat alasan bagi kedua negara untuk mempererat kemitraan. Tatanan dunia pasca-Perang Dingin yang sebelumnya ditandai oleh globalisasi dan stabilitas keamanan kini bergeser menuju dunia yang lebih multipolar, kompetitif, dan transaksional. Berkurangnya intensitas globalisasi mendorong negara-negara menengah seperti Indonesia dan India untuk mengurangi ketergantungan pada satu kekuatan besar melalui diversifikasi kemitraan ekonomi maupun strategis. Dalam konteks ini, kebijakan hilirisasi industri Indonesia dan upaya India menjadi pusat manufaktur global yang baru justru saling melengkapi, sehingga masing-masing negara dapat menjadi mitra strategis yang memperkuat ketahanan ekonomi satu sama lain. Selain kepentingan ekonomi dan keamanan, hubungan Indonesia dan India juga memiliki dimensi normatif yang sangat kuat. India merupakan negara demokrasi terbesar di dunia, sedangkan Indonesia adalah demokrasi terbesar ketiga sekaligus negara dengan populasi Muslim terbesar yang menerapkan sistem demokrasi. Bersama-sama, kedua negara menaungi lebih dari 1,75 miliar penduduk, atau lebih dari seperlima populasi dunia. Jumlah tersebut bahkan sudah mendekati total populasi seluruh negara demokrasi lainnya jika digabungkan. Lebih menarik lagi, ketika banyak negara demokrasi menghadapi penuaan penduduk atau pertumbuhan populasi yang melambat, Indonesia dan India justru masih menikmati bonus demografi. Jika tren tersebut berlanjut, pada 2040—kecuali terjadi gelombang demokratisasi besar di berbagai belahan dunia—jumlah penduduk Indonesia dan India saja diperkirakan dapat melampaui total populasi seluruh negara demokrasi lainnya. Di titik inilah cita-cita nasional kedua negara bertemu secara sangat jelas. India mengusung visi Viksit Bharat 2047, yaitu tekad menjadi negara maju tepat pada satu abad kemerdekaannya. Indonesia memiliki visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia menjadi negara maju pada peringatan 100 tahun kemerdekaan. Meski hanya terpaut dua tahun, kedua visi tersebut bertumpu pada keyakinan yang sama, yaitu memanfaatkan bonus demografi dan tenaga kerja muda sebagai mesin pertumbuhan sebelum jendela peluang tersebut tertutup akibat penuaan penduduk. Indonesia dan India sama-sama menghadapi perlombaan melawan waktu, sekaligus memiliki alasan yang kuat untuk saling mendukung agar visi besar masing-masing dapat terwujud. Namun, seluruh potensi tersebut tidak akan terwujud secara otomatis. Semangat diplomasi peradaban hanya akan memiliki arti apabila dibarengi dengan penguatan kelembagaan yang melampaui pertemuan-pertemuan tingkat tinggi, peningkatan investasi yang nyata, serta hubungan antarmasyarakat yang semakin erat melalui pertukaran mahasiswa, pariwisata, diaspora, dan berbagai bentuk interaksi lainnya. Warisan sejarah harus diterjemahkan menjadi pengalaman yang hidup dan dirasakan oleh masyarakat kedua negara dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, sejarah, budaya, dan rasa saling percaya merupakan fondasi hubungan Indonesia dan India. Perdagangan menjadi penggerak utamanya. Kerja sama pertahanan menyediakan arah strategisnya. Sementara demokrasi menjadi kerangka nilai yang menyatukan kedua negara. Ketika kawasan Indo-Pasifik semakin menjadi pusat dinamika geopolitik abad ke-21, hubungan antara demokrasi terbesar di dunia dan negara demokrasi dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk menjadi salah satu kemitraan paling menentukan di kawasan. Ini bukan lagi sekadar sebuah gagasan yang menarik, melainkan sebuah momentum yang waktunya telah tiba, dan hampir tidak mungkin untuk diputar kembali. *Dr. Satish Chandra Mishra adalah Pendiri The Arthashastra Institute serta akademisi yang berfokus pada hubungan peradaban antara India dan Indonesia. Ia banyak menulis mengenai isu-isu strategis, diplomasi ekonomi, serta perkembangan kemitraan Indonesia–India. The Arthashastra Institute Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang berdedikasi memperkuat hubungan historis dan kemitraan strategis antara India, Indonesia, dan Asia Tenggara. Seluruh pandangan yang disampaikan dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis.
Prabowo No Mic?
Oleh: Agung Marsudi Penulis buku Chevronomics katakabar.com - Ada bisik-bisik yang makin kencang belakangan ini: "Prabowo No Mic". Bukan soal ekonomi. Bukan "Prabowonomics". Tapi harapan sederhana: agar Presiden Prabowo Subianto dijauhkan dari mikrofon. Alasannya? Agar pidatonya tidak sering "keseleo lidah" karena terlalu berapi-api. Di era demokrasi digital yang riuh ini, panggung politik memang penuh political stunt. "Ipoleksosbudhankam" kita dipenuhi lalu lintas kebohongan dan kebisingan. Di tengah itu, rakyat justru rindu ketenangan. "Prabowo No Mic" sejatinya adalah harapan agar kita punya presiden yang lebih banyak berpikir, bersikap, dan bertindak dengan kearifan. Sesuai falsafah Pancasila. Budaya bernegara yang rahayu. Tentu, catatan ini tidak menafikan siapa Prabowo. Rakyat tahu. Ia ksatria. Seorang prajurit patriotik dan nasionalis. Cintanya pada bangsa ini tak perlu diragukan. Tapi rakyat juga punya catatan. Ada sederet kata ikonik, yang kini melekat dari pidato-pidato beliau di berbagai kesempatan. "Ndasmu! Bajingan! Brengsek! Londo Ireng!" Kata-kata itu jadi viral. Jadi meme. Jadi bahan diskusi warung kopi. Bisa dibayangkan jika suatu hari ada pementasan seni monolog berjudul "Presiden Ndasmu!". Lucu? Mungkin. Tapi di balik tawa itu ada kegetiran. Satu kata presiden sama dengan satu juta meme. Terlepas dari apakah itu keceplosan, gaya retorika, atau memang sengaja. Jejak digital mungkin bisa dihapus. Tapi perasaan rakyat halus. Rakyat merekam. Kita pernah punya demokrasi terpimpin. Demokrasi Pancasila. Diselingi demokrasi reformasi dengan trias politica yang kadang kalah oleh "manasuka siaran niaga". Di tengah semua itu, yang dirindukan rakyat sederhana: suara asli. Suara hati Prabowo yang lantang dan tegas, tanpa pengeras. "Sir, Yes Sir!" Mungkin itu kode. Kode bahwa ketegasan tak selalu harus berteriak. Kewibawaan tak selalu harus keluar dari mic.
Dominasi Anak Usaha Pertamina dan Eksistensi Perusahaan Lokal di Riau
Oleh: Agus Salim katakabar.com - Awalnya dengan adanya pergantian operator atau alih kelola ladang minyak di Riau khususnya yang berada di Duri, Minas dan Bekasap dari PT. Chevron Pasific Indonesia (CPI) kepada PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang nota bene anak kandung dari PT Pertamina (Persero) resmi terjadi pada 9 Agustus 2021, menandai berakhirnya masa kelola Chevron selama 97 tahun. Proses transisi ini mencakup alih status pekerja, penyesuaian sistem operasional, serta keberlanjutan program pengeboran sumur migas Momentum ini bagi penguusaha lokal ini seakan menjadi sebuah harapan baru akan bangkitnya eksistensi penguasa lokal untuk bisa berpartisipasi, dan berkembang bersama. Tetapi, sayangnya itu sebuah ironi dan hanya menjadi sebuah angan angan yang jauh dari kenyataan. Karena sebagian besar pekerjaan diberikan kepada anak cucu perusahaan Pertamina, dan sebagian lagi diberikan kepada perusahaan luar daerah, yang keberadaan mereka tidak ada menjadi nilai tambah bagi pengusaha lokal daerah. Hal ini lantaran tidak adanya aturan yang mengikat untuk membangun pola kemitraan dengan Pengusaha lokal, tentunya ini sangat merugikan dan juga semakin membuat pengusaha lokal menjadi terpuruk. Di sini kami sebagai yang mewakili suara hati pengusaha lokal berharap kepada pemerintah khususnya kepada Presiden RI, H Prabowo Subianto atau melalui kementerian terkait khususnya kementerian ESDM untuk bisa meninjau ulang pola kontrak kerja yang berlaku di Pertamina dan khususnya di PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR), terutama untuk pemberdayaan, dan kemitraan dengan pengusaha, serta tenaga kerja lokal yang menggantungkan hidupnya menjadi support pekerjaan yang ada di daerah operasional PT. PHR. Sebagai sesama anak bangsa, kita mendukung adanya warcana Presiden RI, H Prabowo Subianto untuk merampingkan perusahaan-perusahaan plat merah nota bene anak cucu Pertamina. Sebab, dengan adanya wacana Presiden RI tersebut bisa menjadi angin segar bagi perusahaan perusahan lokal untuk menjadi bagian mitra bisnis PHR ke depan.
B2: Bengkalis Bermasa(lah)?
Oleh: Agung Marsudi, Founder Duri Institute katakabar.com - Tulisan ini diawali dengan narasi pendek, gaya dramatis ala konten media sosial—tak lebih dari 514 kata, seperti angka ultah Bengkalis tahun ini. Skripnya sebagai berikut; (1) "Bengkalis. Kaya migas. Tapi rakyatnya tak jua sejahtera." (2) "Kas daerah kering. Minyaknya sudah rest." (3) "Pemerintah kabupaten ibarat kapal Roro. Ikut arus, tidak ada gebrakan." (4) "Sementara daerah lain seperti Siak, Afni bupatinya sudah teriak. Bengkalis mencari jalan aman, memilih diam." (5) "Kita butuh nahkoda baru. Bukan sekadar penumpang. Ada apa dengan Bengkalis? Negeri "bawah minyak, atas minyak". Tapi slogan "Bermasa" Bermarwah, Maju, Sejahtera, masih jauh dari realita. Puluhan tahun, Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi andalan pendapatan daerah. Kini minyaknya terlihat mulai "rest". Seperti kapal roro. Kredo pemerintahan Kasmarni-Bagus Santosa. Wira-wiri, ikut arus, ikut gelombang politik Jakarta. Tidak ada gebrakan. Saat krisis, kita butuh yang berani banting setir. Berani lobi pusat, seperti yang dilakukan bupati Siak. Soal krisis fiskal daerah penghasil migas. Berani jujur ke rakyat. "Menurut kamu gimana? Komen!" Di sisa masa jabatan pasangan KBS, menahkodai Bengkalis, perlu jurus pamungkas terkait DBH Migas. Paradoksnya jelas. Relasi kekuasaan, Proyek ada, peluang ada. Tapi uangnya tidak ada. Ini bukan soal korupsi. Dulu kita bangga punya "Bermasa". Bengkalis butuh lebih dari sekadar nahkoda Roro. Bengkalis butuh kapten yang berani lawan arus. Yang berani bilang ke Jakarta: "Kami yang menghasilkan, kami juga yang harus diselamatkan". "Kita tidak sedang baik-baik saja". Kalau tidak, kapal pembangunan kita akan terus terombang-ambing. Jangan sampai 5 tahun lagi. Kita cuma mewarisi cerita. Dulu Bengkalis "pernah kaya". Tahun ini tak terasa Bengkalis sudah genap berusia 514 tahun. Kita tak ingin "Bermasa" dikenang masyarakat menjadi slogan "Bermasa(lah)", sementara para peneraju negerinya biasa "leguh legah".
"AADB: Ada Apa Dengan Bengkalis?"
Oleh: Agung Marsudi *Founder Duri Institute* katakabar.com - Sudah lama tidak mengikuti dinamika politik Bengkalis, kabupaten yang dikenal kaya sumberdaya migas tapi kondisi masyarakatnya masih jauh dari kata "sejahtera" seperti isi slogan "Bermasa" yang diharapkan. Kabupaten yang dinahkodai pasangan Kasmarni-Bagus Santosa kini ibarat naik Roro, wira-wiri menjalani rutinitas, menyeberang lautan, mengikuti gejolak gelombang politik Prabowo. Pada posisi dan relasi kuasa tertentu. Titik, garis, bidang, ruang, (proyek dan peluang) meski telah dimonetisasi sedemikian rupa, tapi faktanya "uangnya" mulai tak ada. Berbeda dengan kondisi Indonesia dua dekade sebelumnya. Kini aliran dan level keuangan daerah termasuk Bengkalis sepertinya memprihatinkan. Negeri "bawah minyak, atas minyak" tapi minyaknya sedang "rest". Dan kondisi itu disuarakan dengan lantang di panggung politik nasional, Jakarta oleh bupati Siak, Afni. Kabupaten Bengkalis sepertinya memilih jalan aman. Sehingga kapal pembangunan daerah berjalan laksana "auto pilot". Apa kabar Bu Kasmarni? Apa kabar Bagus? Sebagai warga biasa, dulu saya mendukung dan memiliki ekspektasi tinggi pada pasangan ini? Pasangan ideal untuk memajukan kabupaten Bengkalis hingga 2029. Slogan Bermarwah, Maju dan Sejahtera (Bermasa) begitu ikonik, dan menarik. Kini saya mendengar, jangankan masyarakat bisa menikmati ruang bermasa yang selesa, para anggota dewan saja mengeluh, soal gaji, perjalanan dinas, dan reses (sudah dilaksanakan tapi uang resesnya tidak cair), padahal ketiganya penting untuk menjaga kelangsungan demokrasi, sekaligus amunisi. Gaji adalah hak dasar, reses adalah hak konstitusi. Perjalanan dinas adalah hak operasional. Jika wakil rakyatnya saja mengeluh, apalagi rakyat kecil. Apa kabar Bengkalis? Bagaimana dengan political stunt 2029? Meski sudah lama tidak pulang ke Duri, saya masih sering mendengar pantun, "Gendang gendut tali kecapi, kenyang perut senanglah hati". Apa tanda Bengkalis bermarwah, Berlainan suku hidup serumah.
Belajar dari Indonesia: Ketika Negeri Mengubah Cara Pandang Hidup
Oleh: Gunjan Prasad Jakarta, katakabar.com - Di antara konsekuensi tak terduga ketika membangun kehidupan di negara lain adalah tanpa disadari kita berubah menjadi seorang antropolog. Selama hampir dua belas tahun Indonesia menjadi rumah bagi keluarga kami, saya merasa cukup hanya dengan mengamati. Baru ketika diminta menulis refleksi ini saya mulai mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan. Saya bertanya kepada teman-teman Indonesia, mencarinya di Google, bahkan bertanya kepada ChatGPT apakah bahasa Indonesia memiliki istilah untuk menggambarkan berbagai nilai yang diam-diam saya kagumi selama tinggal di sini. Sebagian memang memiliki padanan kata. Sebagian lainnya, seperti martabat yang tenang dalam cara masyarakat Indonesia menjalani hidup, terasa sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Tulisan ini lahir dari berbagai pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan saya di Indonesia: rumah, keluarga, lingkungan sekitar, sekolah anak-anak, spiritualitas, makanan, hingga kebudayaan. Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Indonesia datang jauh sebelum saya mengetahui bahwa nilai itu memiliki sebuah nama. Pelajaran itu saya temukan di rumah. Apabila salah satu anggota staf rumah tangga kami menyelesaikan pekerjaannya lebih dahulu, ia akan membantu rekan lainnya tanpa diminta. Ketika ada yang sedang sakit, pekerjaan berpindah tangan begitu saja, hampir tanpa terlihat. Tidak pernah terdengar pertanyaan, "Itu tugas siapa?" Mereka hanya melihat apa yang perlu dilakukan, lalu mengerjakannya bersama. Rumah kami terasa berjalan bukan sebagai tempat kerja dengan pembagian tugas yang kaku, melainkan sebagai sebuah komunitas kecil. Awalnya saya mengira kami hanya beruntung memiliki orang-orang yang luar biasa. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa yang saya saksikan sebenarnya adalah salah satu naluri budaya paling mendasar di Indonesia. Gotong royong. Dalam bahasa Inggris istilah ini sering diterjemahkan sebagai mutual cooperation. Terjemahan itu terasa terlalu kaku. Gotong royong bukan sekadar bekerja sama karena seseorang meminta bantuan. Nilai itu lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan saya dan kesejahteraan Anda saling berkaitan. Begitu saya mulai memahami maknanya, saya melihat gotong royong hadir hampir di mana-mana. Saya menemukannya kembali di sekolah internasional tempat anak-anak kami belajar. Seperti banyak keluarga ekspatriat lainnya, kami datang dengan harapan yang tidak jauh berbeda. Kami ingin anak-anak berprestasi, menemukan bakat mereka, dan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Sekolah tentu mendorong mereka untuk meraih prestasi. Namun pada saat yang sama, sekolah juga mengajarkan sesuatu yang lebih penting, yaitu bahwa keberhasilan tidak boleh diraih dengan mengorbankan orang lain. Di ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan seni, maupun proyek pelayanan masyarakat, anak-anak terus menerima pesan yang sama. Jika kita memiliki kesempatan untuk berhasil, maka kita juga memiliki tanggung jawab membantu orang lain berkembang bersama kita. Prestasi memang penting, tetapi memberikan ruang bagi orang lain untuk berhasil sama pentingnya. Ada lagi satu kata yang menurut saya hampir mustahil diterjemahkan dengan tepat, yaitu ramah. Bahasa Inggris biasanya menerjemahkannya sebagai friendliness. Namun bagi saya, ramah lebih merupakan cara menyambut seseorang. Sebuah kemampuan sederhana untuk membuat orang lain merasa diterima bahkan sebelum mereka melakukan apa pun. Saya menemukannya di tempat-tempat yang paling biasa. Saat mewawancarai narasumber ketika masih menjadi jurnalis lepas, berbincang dengan pengemudi Grab, bermain bridge, duduk di salon langganan, berbelanja di pasar tradisional, hingga dalam percakapan-percakapan kecil yang diawali dengan bahasa Indonesia saya yang masih terbata-bata. Lebih sering daripada yang saya bayangkan, kesalahan saya dalam berbahasa tidak disambut dengan koreksi, melainkan dengan senyum dan kegembiraan yang tulus. Sebagai seorang ekspatriat, saya tidak pernah merasa harus "membuktikan diri" agar diterima. Keramahan di Indonesia bukan sekadar membuat orang merasa disambut, melainkan membuat mereka hampir tidak pernah merasa sebagai orang asing. Kemudian saya mengenal makna ikhlas. Selama tinggal di Indonesia, kami berkesempatan bekerja bersama banyak orang Indonesia yang luar biasa. Etos kerja mereka sangat tinggi, loyalitasnya tidak pernah diragukan, standar kerjanya sangat baik, dan semangat belajar mereka selalu menginspirasi. Tetapi, yang paling membekas justru bukan semua itu. Yang paling saya ingat adalah betapa kecilnya keinginan mereka untuk mencari pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan. Kini saya memahami bahwa mungkin itulah makna ikhlas: melakukan sesuatu sepenuh hati tanpa terus-menerus berharap dipuji atau diakui. Bersamaan dengan itu saya juga belajar mengenai harga diri. Di balik kesopanan masyarakat Indonesia tersimpan rasa hormat terhadap diri sendiri yang sangat kuat. Ketika kepercayaan rusak atau rasa hormat hilang, jarang sekali saya melihat kemarahan yang meledak-ledak. Yang lebih sering terjadi justru seseorang memilih menjaga jarak dengan tenang. Ada hal-hal yang tidak dapat diperbaiki hanya melalui penjelasan atau negosiasi. Indonesia juga memiliki satu kata yang sangat saya sukai: adem. Kata ini bukan hanya berarti sejuk. Adem adalah perasaan ketika segala sesuatu terasa tenang dan berada pada tempatnya. Itulah yang selalu saya rasakan setiap kali duduk bermain bridge di Jakarta. Indonesia melahirkan banyak pemain bridge terbaik yang pernah saya temui. Kemampuan teknis mereka luar biasa dan mereka selalu mengikuti perkembangan strategi terbaru. Namun yang paling mengesankan bukanlah kecerdasannya, melainkan ketenangannya. Mereka tidak pernah merasa perlu memamerkan kemampuan. Di Indonesia, rasa percaya diri dan kerendahan hati ternyata dapat berjalan berdampingan. Saya juga mengira selama ini telah memahami arti sabar. Ternyata Indonesia mengajarkan makna yang jauh lebih dalam. Sabar bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi keyakinan bahwa proses tidak harus selalu dipercepat. Saat membesarkan dua putra kami hingga beranjak dewasa, saya sering mengingat pelajaran tersebut. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa. Kita hanya bisa merawatnya dengan penuh kasih dan percaya bahwa semuanya akan berkembang pada waktunya sendiri. Dan mungkin sabar selalu berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang paling setia: syukur. Sabar mengajarkan kita untuk percaya pada sesuatu yang masih berproses. Syukur mengingatkan kita untuk menghargai apa yang telah kita miliki hari ini. Setiap kali kami memulai perjalanan, sopir kami selalu mengucapkan doa singkat. Ketika kami tiba di tujuan, doa lain kembali dipanjatkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada penonton. Hanya ungkapan syukur yang sederhana. Lama-kelamaan saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar dalam hidup. Tiba di tujuan dengan selamat pun sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur. Pelajaran sederhana itu kini menjadi salah satu yang paling saya hargai. Ada satu bagian yang sengaja tidak saya ceritakan di sini. Hubungan saya dengan makanan Indonesia rasanya layak mendapat tulisan tersendiri. Cukuplah saya katakan bahwa isi dapur kami pun perlahan berubah. Ketumbar dan jintan kini berbagi tempat dengan kemiri, terasi, daun jeruk, dan kecap manis. Berbagai resep yang dahulu saya coba karena rasa penasaran kini justru menjadi hidangan favorit keluarga, bahkan lebih sering diminta dibanding makanan yang kami nikmati sejak kecil. Tanpa saya sadari, perubahan isi dapur itu ternyata sedang menceritakan kisah yang jauh lebih besar. Baru ketika menulis refleksi ini saya menyadari betapa dalam Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Kami kini sedikit lebih lambat menghakimi orang lain, sedikit lebih cepat merangkul mereka, sedikit lebih sabar, dan jauh lebih mudah bersyukur. Mungkin memang begitulah hidup di negara lain dalam waktu yang cukup lama. Suatu hari kita menyadari bahwa negeri itu tidak lagi sekadar tempat tinggal sementara. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, dan perlahan ikut membentuk siapa diri kita sebenarnya. Catatan: Gunjan Prasad adalah penulis asal India yang telah tinggal di Indonesia selama hampir 12 tahun. Melalui pengalaman hidup bersama keluarganya di Indonesia, ia banyak menulis tentang budaya, masyarakat, pendidikan, serta pengalaman lintas budaya yang memperkaya hubungan antara Indonesia dan India.
Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia
Oleh: Rajiv Bhatia Jakarta, katakabar.com - Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara. Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru. Kunjungan ini juga berlangsung saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata. Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati. Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat. Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan. India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting. Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta. Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final. Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang. Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif. Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut. Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA). Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi. Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar. Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu. Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah. Pada konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi. Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025. Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025. Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Ikatan Indonesia dan India Tak Terpisahkan
Oleh: Ashish Bharadwaj dan Manjeet Kripalani Jakarta, katakabar.com - India dan Indonesia dipisahkan oleh Samudra Hindia, tetapi dipersatukan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang sama. Hubungan kedua negara tidak pernah semata-mata dibangun melalui perdagangan atau perjanjian diplomatik, melainkan tumbuh dari penghormatan terhadap keberagaman, toleransi, dan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad. Kini, ada satu dimensi baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar, yakni pendidikan tinggi dan riset sebagai jembatan strategis yang akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. India dan Indonesia merupakan dua negara berkembang yang tengah bertransformasi menjadi kekuatan menengah (middle powers) dengan potensi besar untuk memainkan peran yang lebih menentukan dalam tatanan global. Agar mampu memanfaatkan momentum tersebut, keduanya perlu berinvestasi bukan hanya pada infrastruktur fisik dan ekonomi, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Perjalanan pembangunan India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Rata-rata usia penduduk India sekitar 29 tahun, sementara Indonesia 31 tahun. Secara bersama-sama, kedua negara mewakili hampir seperlima populasi dunia. Keduanya juga termasuk masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital. Kawasan Asia-Pasifik merupakan pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan India dan Indonesia menjadi dua negara yang paling aktif memanfaatkan berbagai platform seperti Facebook, WhatsApp, X, dan YouTube, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun dalam situasi darurat. Bonus demografi yang besar ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, yakni bagaimana memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesempatan ekonomi yang lebih luas, dan kualitas hidup yang semakin tinggi sebelum momentum tersebut berlalu. Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan sistem pendidikan tinggi dan model penelitian yang banyak mengacu pada Barat. Namun, model tersebut kini menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendanaan maupun relevansinya terhadap tantangan masa depan. Seiring semakin memudarnya warisan kolonial dan hadirnya generasi baru yang tumbuh bersama teknologi, menjadi wajar apabila pemerintah India dan Indonesia mulai memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada pembangunan kapasitas riset dan inovasi di bidang-bidang yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Indonesia telah mengambil langkah penting melalui pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2010 dengan dana abadi sekitar 10 miliar dolar AS untuk mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan beasiswa. Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut. Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi. Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi. Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara. Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Tetapi, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri. India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang. Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar. Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara. Apabila abad ke 21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama. India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka. Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial. Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru. Untuk menjalankan peran tersebut, kedua negara perlu memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Pemerintah India dan Indonesia telah menempatkan banyak tokoh terbaiknya untuk memimpin transformasi di bidang pendidikan dan penelitian. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan melalui berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret. Universitas-universitas swasta terkemuka di India seperti BITS Pilani, yang dikenal memiliki keunggulan di bidang teknik, riset mutakhir, inovasi teknologi, dan kewirausahaan, dapat menjadi pelopor berbagai proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan konferensi ilmiah, pengembangan kurikulum baru, hingga penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan kedua negara. Peluang kerja sama riset juga sangat luas. Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan secara drastis selama empat dekade terakhir dapat menjadi bahan pembelajaran penting bagi para ekonom pembangunan dan pembuat kebijakan di negara-negara Global South. Empat puluh tahun lalu, sekitar 74 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kini angkanya telah turun menjadi kurang dari dua persen. Sebaliknya, India memiliki berbagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Industri farmasi India menjadikannya dikenal sebagai "apotek dunia", sementara infrastruktur digitalnya yang digunakan lebih dari satu miliar orang setiap hari menjadi salah satu sistem digital publik terbesar dan paling canggih yang pernah dibangun. India juga termasuk kelompok kecil negara yang berhasil mengembangkan program antariksa dengan berbagai pencapaian penting. Karena itu, bidang-bidang seperti farmasi, kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, transfer teknologi berbasis kekayaan intelektual, riset antariksa, telekomunikasi, rekayasa semikonduktor, komputasi kuantum, oseanografi, deep technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga kemaritiman seharusnya menjadi bagian dari agenda riset bersama antara India dan Indonesia. Kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat hubungan kedua negara. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan ilmuwan bekerja bersama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, hubungan India dan Indonesia akan berkembang jauh melampaui diplomasi dan perdagangan.
Indonesia dan India Saatnya Pererat Hubungan Saling Menguntungkan
Jakarta, katakabar.com - Hubungan Indonesia dan India telah melintasi ribuan tahun sejarah. Kini, saatnya kedua negara tidak hanya mewarisi masa lalu yang agung, tetapi bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik, yang membuat kedua negara memiliki pengaruh signifikan di dunia. Kunjungan Perdana Menteri India, Shri Narendra Modi ke Indonesia pada 7 Juli 2026 kiranya menjadi titik balik lahirnya kemitraan strategis baru yang saling menguntungkan. Kedatangan Perdana Menteri India, Shri Narendra Modi sebagai tamu resmi Presiden RI, H Prabowo Subianto bukanlah kunjungan kenegaraan biasa. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan atas kehadiran Presiden RI, H Prabowo sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India (Republic Day) pada 26 Januari 2024 lalu. Lebih dari itu, pertemuan kedua pemimpin menjadi momentum penting untuk membawa hubungan Indonesia–India memasuki babak baru: dari hubungan historis menuju kemitraan strategis abad ke 21. Hubungan Indonesia dan India sesungguhnya adalah hubungan peradaban. Jauh sebelum lahirnya negara modern, Nusantara dan anak benua India telah dihubungkan jalur perdagangan Samudra Hindia yang menjadikan kedua kawasan saling bertukar komoditas, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, dan filsafat. Pengaruh Hindu dan Buddha dari India kemudian berakar kuat di Nusantara, melahirkan mahakarya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, wayang, kisah Ramayana dan Mahabharata, serta berbagai nilai budaya yang hingga kini menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia. Hubungan tersebut bukan sekadar hubungan antarnegara, melainkan hubungan dua peradaban besar Asia. Tetapi, sejarah tidak boleh hanya dikenang. Sejarah harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan. Kedua negara memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara yang diperhitungkan dunia. Kuncinya adalah hubungan saling memahami dan kerjasama saling menguntungkan. Jika masa lalu Indonesia dan India ditandai oleh pertukaran rempah-rempah, agama, dan kebudayaan, maka masa depan kedua negara akan ditentukan oleh teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, keamanan siber, industri semikonduktor, pertahanan, energi bersih, dan kedaulatan data. Pergeseran inilah yang menjadikan hubungan Indonesia– India memasuki transformasi besar: dari warisan peradaban menuju kemitraan inovasi. Transformasi tersebut semakin relevan ketika dunia sedang mengalami perubahan geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah mengubah peta perdagangan, investasi, rantai pasok global, hingga perkembangan teknologi tinggi. Negara-negara menengah seperti Indonesia dan India dituntut memiliki strategic foresight —kemampuan melihat jauh ke depan— agar tidak sekadar menjadi pasar atau objek persaingan kekuatan besar, melainkan menjadi pelaku utama yang ikut membentuk tatanan ekonomi dunia yang baru Dalam konteks itulah, hubungan Indonesia dan India memiliki nilai strategis yang semakin besar. India saat ini salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Menurut proyeksi International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, India diperkirakan akan menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dalam dekade mendatang. Dengan jumlah penduduk 1,4 miliar, populasi terbesar di dunia, bonus demografi yang kuat, industri teknologi informasi yang matang, serta keberhasilan membangun Digital Public Infrastructure melalui identitas digital, sistem pembayaran digital, dan jaringan perdagangan digital, India telah menjadi salah satu pusat inovasi global. Sementara, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan sumber daya alam strategis, populasi lebih dari 285 juta jiwa, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta potensi besar dalam hilirisasi mineral kritis, transisi energi, dan ekonomi digital. Berbagai proyeksi dari OECD, PwC, dan Goldman Sachs menunjukkan Indonesia berpeluang menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada pertengahan abad ini apabila berhasil meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan teknologi. Artinya, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki karakter yang saling melengkapi. Sayangnya, hubungan ekonomi kedua negara masih belum mencerminkan potensi tersebut. Dalam perdagangan, Indonesia memang menikmati surplus yang cukup besar terhadap India. Ekspor Indonesia masih didominasi batu bara, minyak sawit, karet, mineral, serta berbagai komoditas berbasis sumber daya alam. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin, kendaraan, teknologi informasi, jasa digital, dan berbagai produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Surplus perdagangan tentu merupakan kabar baik bagi Indonesia. Tetapi, dalam perspektif ekonomi pembangunan, surplus yang bertumpu pada ekspor komoditas primer belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom pembangunan seperti Ha-Joon Chang dari Korea Selatan dan Alice H. Amsden dari Amerika Serikat. Keduanya menunjukkan bahwa hampir semua negara yang berhasil melakukan catch-up terhadap negara maju —mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan— tidak hanya mengandalkan perdagangan bebas, tetapi juga membangun industri nasional melalui kebijakan negara yang terarah, investasi pada teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta transfer pengetahuan. Menurut mereka, kemajuan ekonomi tidak lahir dari ekspor bahan mentah, melainkan dari kemampuan menciptakan produk bernilai tambah tinggi dan menguasai teknologi. Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia–India sudah saatnya memasuki babak baru. Fokus kerja sama tidak lagi hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga mendorong investasi dua arah, transfer teknologi, riset bersama, pengembangan industri manufaktur, ekonomi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, farmasi, serta pembangunan ekosistem inovasi. Dengan demikian, hubungan kedua negara tidak hanya menghasilkan surplus perdagangan, tetapi juga mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri yang lebih maju dan berdaya saing global. Ketimpangan juga masih terlihat dalam bidang investasi. Data menunjukkan investasi India di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan investasi Indonesia di India. Pada 2025, investasi India di Indonesia mencapai sekitar US$237,6 juta, sedangkan investasi Indonesia di India hanya sekitar US$9,8 juta. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa hubungan investasi kedua negara masih memiliki ruang yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih seimbang. BRICS Momentum tersebut semakin penting karena Indonesia dan India kini berada dalam satu forum strategis yang sama, yakni BRICS. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025 sebagai anggota ke 11. Bersama India, Indonesia juga merupakan anggota World Trade Organization (WTO) dan Group of Twenty (G20). Indonesia memang berbeda dengan India karena juga menjadi anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Sebaliknya, India memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam BRICS dan berbagai forum Global South. Keanggotaan bersama di BRICS seharusnya tidak dipandang sebagai simbol politik semata. BRICS merupakan wadah kerja sama Selatan-Selatan yang bertujuan memperkuat pembangunan, perdagangan, investasi, inovasi, serta reformasi tata kelola ekonomi global agar lebih inklusif. Indonesia masuk BRICS bukan untuk menjauh dari Amerika Serikat ataupun Eropa, melainkan untuk memperluas ruang diplomasi dan pilihan ekonomi. Politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas dan aktif: bersahabat dengan semua negara dan tidak menjadi bagian dari blok kekuatan mana pun. Dalam BRICS sendiri, konfigurasi kekuatan nasional menunjukkan dinamika yang menarik. Jika diukur berdasarkan kekuatan nasional secara menyeluruh, tiga negara paling berpengaruh adalah Tiongkok, India, dan Rusia. Tiongkok unggul dalam ekonomi, teknologi, industri, dan kapasitas manufaktur. India unggul dalam pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, inovasi digital, serta prospek jangka panjang. Rusia tetap menjadi kekuatan utama dalam bidang militer, energi, dan strategi keamanan. Dalam diplomasi internasasional, Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil memainkan peran paling menonjol, sementara dalam sektor energi, Arab Saudi, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab menjadi aktor utama. Indonesia memang belum termasuk tiga besar dalam kekuatan ekonomi global, teknologi, ataupun diplomasi. Namun, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain: posisi geopolitik yang sangat strategis, demokrasi yang relatif stabil, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, cadangan mineral kritis yang sangat besar, serta kemampuan memainkan peran sebagai middle power yang menjembatani berbagai kepentingan internasional. Kemitraan Strategis Mengapa Indonesia dan India perlu mempererat kemitraan strategis? Jawabannya dapat dijelaskan melalui pemikiran dua tokoh besar hubungan internasional, Hans J. Morgenthau dan Joseph S. Nye Jr. Morgenthau, pelopor teori realisme dalam hubungan internasional, menjelaskan bahwa setiap negara pada dasarnya akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Tetapi, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya militer, melainkan juga oleh ekonomi, sumber daya alam, teknologi, kualitas pemerintahan, moral bangsa, serta kemampuan berdiplomasi. Sedang, Nye memperkenalkan konsep soft power dan smart power, yakni kemampuan sebuah negara memengaruhi negara lain melalui daya tarik, inovasi, budaya, teknologi, reputasi, dan kepercayaan, bukan semata-mata melalui tekanan militer atau ekonomi. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kekuatan nasional tidak lagi hanya diukur dari besarnya produk domestik bruto (PDB) atau jumlah persenjataan, tetapi juga dari kemampuan membangun jaringan kemitraan yang produktif dan saling menguntungkan. Negara yang mampu berkolaborasi akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan negara yang berjalan sendiri. Di sinilah kemitraan Indonesia–India menemukan relevansinya. Indonesia memiliki keunggulan pada sumber daya alam strategis, posisi geopolitik, dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. India unggul dalam teknologi informasi, ekonomi digital, farmasi, inovasi, serta bonus demografi. Keunggulan tersebut bukan untuk dipertandingkan, melainkan dipadukan. Kolaborasi dalam investasi, transfer teknologi, kecerdasan buatan, industri digital, pertahanan, pendidikan, dan ekonomi maritim akan menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan jika kedua negara berjalan sendiri-sendiri. Pada akhirnya, hubungan Indonesia–India tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah atau besarnya nilai perdagangan. Kemitraan sejati adalah kemitraan yang memperkuat daya saing kedua bangsa, memperluas pengaruh diplomasi di kawasan Indo-Pasifik, serta menghadirkan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan rakyat di kedua negara. Itulah makna sesungguhnya dari kemitraan strategis yang saling menguntungkan. India bukan hanya pasar yang sangat besar, tetapi juga mitra yang dapat mempercepat transformasi digital Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi pintu masuk India menuju ASEAN, pusat hilirisasi mineral strategis dunia, serta mitra penting dalam ketahanan energi, ketahanan pangan, ekonomi maritim, dan rantai pasok Indo-Pasifik. Hubungan yang saling menguntungkan (mutually beneficial partnership) inilah yang perlu menjadi arah baru hubungan Indonesia–India. Kedua negara tidak boleh lagi hanya berbangga dengan sejarah panjang atau angka perdagangan yang terus meningkat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun nilai tambah bersama, menciptakan inovasi bersama, dan membentuk pusat pertumbuhan baru Asia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan kemakmuran dunia. Kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya hari ini, tetapi oleh siapa yang dipilihnya untuk berjalan bersama menghadapi masa depan. Indonesia dan India telah berbagi sejarah selama ribuan tahun. Kini, kedua negara memiliki kesempatan untuk berbagi masa depan.