Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram
Maluku, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), subholding Perkebunan Nusantara, percepat program hilirisasi kelapa melalui rencana tanam ulang (replanting) di Kebun Awaya, PTPN I Regional 8, Pulau Seram, Maluku. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, saat kunjungan kerja ke Kebun Awaya, di pekan pertama April 2026 lalu, sekaligus mendorong percepatan implementasi program strategis perusahaan di wilayah tersebut. Pada tahap awal, PTPN I bakal melaksanakan program replanting seluas 500 hektare pada 2026. Program ini akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai total 3.100 hektare di areal Kebun Awaya. Kunjungan tersebut disambut oleh Manager Kebun Awaya, Freddy B.R. Hutahaean, yang menyampaikan kesiapan jajaran kebun mendukung agenda strategis perusahaan. Ia menegaskan Kebun Awaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi dan pengolahan kelapa terintegrasi di kawasan timur Indonesia. Dalam arahannya, Teddy Yunirman Danas mendorong seluruh karyawan untuk menjaga semangat dan optimisme dalam mengelola potensi kebun, serta menjadikan Kebun Awaya sebagai titik awal (groundbreaking) hilirisasi kelapa di lingkungan PTPN I. “Potensi Kebun Awaya harus dimaksimalkan melalui langkah konkret dan terukur. Program replanting seluas 500 hektare pada tahun 2026 dan 1.000 hektare pada tahun 2027 harus menjadi momentum peningkatan produktivitas, baik dari sisi on farm maupun off farm,” ujarnya. Teddy menekankan pentingnya penguatan budaya kerja melalui konsep 3 on 3 sebagai fondasi transformasi perusahaan. Konsep tersebut meliputi Owner's Mindset, yaitu pola pikir sebagai pemilik perusahaan dengan memahami proses bisnis secara menyeluruh serta mempertimbangkan aspek cost and benefit dalam setiap pekerjaan. Selain itu, Networking menjadi elemen penting membangun kolaborasi yang memberikan nilai tambah, serta Excellence yang menekankan pencapaian kinerja sesuai tata kelola yang baik dengan perhitungan risiko yang terukur. Penerapan nilai 3 on 3 tersebut dinilai relevan dengan karakteristik Kebun Awaya yang memiliki luas areal sekitar 4.586 hektare, terdiri dari 3.100 hektare kebun kelapa dan 1.486 hektare kebun karet. Dengan dominasi komoditas kelapa, Kebun Awaya memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan hilirisasi berbasis kawasan. Optimalisasi potensi ini akan dilakukan melalui program replanting, peningkatan produktivitas, serta penguatan proses produksi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Teddy menegaskan keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh luas areal dan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, disiplin operasional, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid. Melalui implementasi prinsip Owner's Mindset, Networking, dan Excellence, Kebun Awaya diharapkan dapat menjadi model pengembangan hilirisasi kelapa di Regional 8 sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai tambah perusahaan. Kunjungan kerja ini turut dihadiri Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan, Aris Handoyo, Head of PMO Hilirisasi Perkebunan, Tri Susanto, serta seluruh karyawan Kebun Awaya. Sejalan dengan arah transformasi Holding Perkebunan Nusantara, langkah ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong transformasi bisnis, memperkuat daya saing komoditas perkebunan, serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah dan nasional.
Siap Replanting Seluas 1.541,7 Hektar Sawit Rakyat, BPDP Gesa PSR Tahap
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tegaskan komitmennya dalam mempercepat pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui Tahap II. Komitmen ini diwujudkan lewat penandatanganan dukungan pendanaan untuk peremajaan seluas 1.541,7 hektar yang melibatkan 11 lembaga pekebun dari berbagai daerah, Aula Nusantara BPDP, Jakarta. Kegiatan penandatanganan tersebut dihadiri perwakilan lembaga pekebun sebagai penerima manfaat program. Momentum ini menjadi bagian penting dalam rangka mempercepat implementasi PSR sekaligus memastikan kesiapan kelembagaan pekebun dalam menjalankan program secara optimal. Acara dibuka oleh Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu, Normansyah H.S, yang buka kegiatan. Ia menekankan program PSR tidak hanya berorientasi pada penanaman ulang tanaman sawit yang sudah tidak produktif, tetapi diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kebun dan produktivitas hasil. Melalui PSR, jelasnya, pekebun didorong untuk terapkan praktik budidaya yang lebih baik, menggunakan benih unggul, serta memperkuat kelembagaan agar mampu meningkatkan daya saing di sektor perkebunan kelapa sawit. "Jadi, program ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga manfaat berkelanjutan bagi kesejahteraan pekebun," terangnya, awal April 2026. Penandatanganan dukungan pendanaan pada Tahap II ini menjadi salah satu langkah strategis BPDP pastikan proses penyaluran berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan akuntabel. Tidak cuma itu, keterlibatan 11 lembaga pekebun juga menunjukkan pentingnya peran kelembagaan dalam mempercepat akses pekebun terhadap program PSR. Menurut salah satu pekebun, Sita dari Koperasi Produsen Petani Kelapa Sawit Kesepakatan, Asahan, Sumatera Utara, rasa syukur dan kebahagiaannya atas kesempatan mengikuti program ini. Ia menyampaikan program PSR memberikan harapan baru bagi para pekebun untuk meningkatkan produktivitas kebun mereka. “Alhamdulillah, kami sangat senang akhirnya bisa mendapatkan program PSR dan benar-benar tanpa biaya. Walaupun prosesnya cukup panjang, kami tetap pantang menyerah untuk mengikuti seluruh tahapan yang ada. Kami sangat berterima kasih kepada BPDP atas dukungan yang diberikan kepada kami para pekebun,” ceritanya. Pengalaman tersebut mencerminkan tingginya antusiasme pekebun terhadap program PSR sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak terlepas dari komitmen dan ketekunan para pekebun dalam memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Ke depan, BPDP bakal terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya guna mempercepat pelaksanaan PSR di berbagai wilayah. Upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas, memperkuat ketahanan sektor perkebunan, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan.
Holding PTPN Perkuat Komoditas Strategis Melalui Replanting 14.000 Hektare PTPN I Regional 2
Bandung, katakabar.com - PTPN I Regional 2, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, jadwalkan program penanaman kembali (replanting) secara masif pada tahun 2026. Program ini menyasar komoditas karet, kelapa (konversi dari karet), kopi, dan teh di berbagai lokasi di Provinsi Jawa Barat. Langkah strategis ini diarahkan untuk memperbarui unit-unit kerja (kebun), meningkatkan produksi dan produktivitas, memperluas lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi kawasan guna mengurangi kemiskinan. Informasi tersebut disampaikan SEVP Operasional PTPN I Regional 2, Iyan Heryanto, di Bandung, Selasa (21/10). Ia menjelaskan Kantor Pusat PTPN I telah menyetujui proposal pembaruan tanaman untuk empat komoditas tersebut sebagai dukungan nyata terhadap percepatan transformasi di Regional 2. “Sekitar 14.000 hektare areal kebun PTPN I Regional 2 dijadwalkan dilakukan replanting pada tahun 2026. Keinginan kami, tahun 2026 kondisi unit-unit perkebunan sudah jauh lebih baik dan optimal,” ujar Iyan Heryanto. Program replanting ini mencakup sejumlah lokasi utama, antara lain Subang, Wangunreja, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Ciamis, Panglejar, serta Maswati di Cikalong Wetan. Seluruh kegiatan replanting didukung oleh pendanaan dari Danantara. “Komoditas utama lokasi replanting di Kebun Wangunreja, Subang (karet), Kebun Agrabinta dan Cikaso (kelapa), serta Kebun Panglejar dan Maswati Bandung Barat (kopi dan teh),” jelasnya. Iyan menegaskan replanting merupakan implementasi visi Hilirisasi Nasional. Penanaman kembali secara besar-besaran ini menjadi fondasi penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas, sejalan dengan strategi hilirisasi komoditas strategis yang diusung Holding Perkebunan Nusantara. Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, mengkonfirmasi rencana besar tersebut. Ia menekankan replanting adalah tahapan hulu yang menentukan keberhasilan hilirisasi perusahaan. Sebagai Subholding SupportingCo, PTPN I telah menyiapkan investasi dan sumber daya guna mempercepat hilirisasi komoditas rakyat dan perusahaan. “Fokus kami adalah mengubah komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Regulasi yang sekarang lebih progresif membuka ruang bagi kami untuk lebih kreatif,” terang Teddy. Ia tegaskan lagi replanting dan hilirisasi merupakan misi multi-sektor yang sejalan dengan visi perusahaan. “Program hilirisasi ini ibarat pepatah sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Industri tumbuh, ekonomi kawasan bergulir lebih cepat, tenaga kerja terserap, dan kemiskinan berkurang. Ini sebangun dengan visi-misi PTPN sejak awal berdiri sebagai agent of development dan agent of change, yang sangat pas dengan PTPN I sebagai entitas padat karya di pelosok negeri,” sebutnya.
BPDP dan Apkasindo Perjuangan Taja Workshop Pemanfaatan Limbah Replanting Sawit
Sulawesi Selatan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berkolaborasi dengan Apkasindo Perjuangan taja workshop Budidaya Jamur Tiram dengan media tanam tandan kosong kelapa sawit dan limbah replanting sawit, selama tiga hari dari 29 hingga 31 Oktober 2025 bertempat di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Kegiatan Workshop diikuti perwakilan petani sawit dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo. Peserta mendapatkan pengetahuan dan praktek secara langsung proses budidaya jamur. Mulai dari proses persiapan media tanam, pembungkusan baglog dan sterilisasi,pendinginan serta inokulasi dan inkubasi, serta termasuk pengenalan hasil olahan dari jamur. Sekjen Apkasindo Perjuangan, Sulaeman Andi, menyatakan Apkasindo Perjuangan akan terus terdepan dalam meningkatkan citra kelapa sawit termasuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kelapa sawit. Pembuatan jamur sawit diharapkan bisa menjadi bagian dari promosi sawit. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menjelaskan BPDP menjalin kolaborasi dengan berbagai organisasi termasuk Asosiasi Petani Sawit sebagai salah satu stakeholders dalam mempromosikan kebaikan-kebaikan sawit. "Melalui workshop ini menunjukkan bahwa sawit adalah tanaman yang istimewa semua bagian dapat dimanfaatkan. Budidaya Jamur dengan limbah replanting sawit diharapkan dapat dipraktekkan dan menjadi altenatif pengembangan usaha untuk UKM Petani Sawit“ ucap Helmi Dengan kegiatan ini, ujar Helmi, menunjukkan sawit bukan hanya bermanfaat bagi petani sawit dari hasil penjualan Tandan Buah Segar namun terdapat banyak alternatif yang bisa menjadi stream untuk meningkatkan pendapatan bagi pekebun sawit. "Budidaya jamur sawit dengan memanfaatkan limbah hasil replanting menjadi salah satu solusi untuk pemanfaatan batang hasil replanting dengan nilai tambah yang lebih tinggi," jelasnya.
Dukung Penguatan Pangan dan Energi Nasional PTPN IV Regional III Replanting Sawit Tua Seluas 949,6 Ha
Kampar, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara IV Regional III replanting perkebunan sawit inti memasuki usia tidak produktif atau tus seluas mencapai 949,6 hektare. Replanting sejalan dengan komitmen entitas di bawah Sub Holding PalmCo ini untuk menjaga keberlanjutan bisnis, dan produktivitas industri sawit nasional berlangsung di Kebun Terantam dan Berlian, Kabupaten Kampar, Riau. Region Head PTPN IV Regional III Ahmad Gusmar Harahap melalu keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Ahad (19/10), menyatakan program peremajaan sawit ini bukan sekadar mengganti tanaman tua dengan yang baru, melainkan langkah strategis untuk memastikan kesinambungan upaya PTPN IV Regional III guna memperkuat ketahanan pangan dan energi usaha sesuai asta cita serta daya saing PTPN IV di masa mendatang. “Permejaan ini bentuk komitmen perusahaan menjaga produktivitas dan efisiensi pengelolaan kebun. Dengen begitu, langkah ini selaras dengan Asta Cita untuk mendukung program penguatan pangan dan energi nasional dari sektor perkebunan sawit yang lestari," ujarnya, dilansir dari laman cakaplah.com, Minggu sore. Dari total lahan yang diremajakan, seluas 649,6 hektare berada di Kebun Terantam dan 300 hektare di Kebun Berlian. Kedua areal tersebut bagian dari core estate Regional III yang menjadi penopang utama produksi Crude Palm Oil (CPO) PTPN IV di wilayah Riau bagian barat. Di Terantam, program peremajaan berlangsung di Afdeling 7 dengan luas 187 hektare, Afdeling 8 dengan luas 138,5 hektare, dan Afdeling 9 dengan luas 324,1 hektare. Sedang, di Berlian, program peremajaan berlangsung di Afdeling 1 dengan total luas mencapai 300 hektare. Dijelaskan Gusmar, program peremajaan ini sebagai bentuk PTPN IV Regional III yang menargetkan peningkatan produktivitas sawit mencapai 7 ton CPO per hektare per tahun. "Target itu sekaligus menjadi pilot project bagi Regional III untuk menunjukkan perbaikan signifikan di tingkat teknis dan manajerial," imbuhnya. Menurutnya, peningkatan produktivitas bisa dicapai melalui pengelolaan agronomi presisi yang didukung dengan teknis budidaya yang baik serta inisiatif digitalisasi. "Fokus kami bukan hanya pada kuantitas, tetapi kualitas. Setiap hektare yang diremajakan harus dikelola dengan disiplin tinggi agar menghasilkan rendemen dan produktivitas maksimal,” terangnya. Langkah replanting ini, sambungnya, menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap Sustainable Palm Oil Management, sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance dan sertifikasi RSPO/ISPO yang terus diperkuat PTPN Group. “Menanam kembali artinya kita menanam harapan baru. Bukan hanya untuk produktivitas, tapi juga untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun,” tutur Gusmar. Pada 2025 ini, PTPN IV Regional III menargetkan untuk dapat melakukan peremajaan sawit renta dan konversi dengan total luas mencapai 2.396,45 hektare. Program peremajaan ini berlangsung di Kebun Lubuk Dalam dengan total luas mencapai 503,85 hektare, Terantam 649 hektare, dan Sei Berlian seluas 300 hektare. Selanjutnya, entitas juga ditarget melakukan konversi seluas 943 hektare di Kebun Air Molek I. “Program peremajaan ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk juga meremajakan semangat kita. Memperbarui cara kerja kita, pola kita, sebagai bagian dari semangat perbaikan yang kita usung tiga tahun terakhir ini,” harap Gusmar. Diketahui, PTPN IV Regional III saat ini menjadi pilot project mencapai produktivitas crude palm oil (CPO) sebesar 7 ton per hektare. Produktivitas CPO indikator untuk mengukur kemampuan produksi setiap hektare perkebunan sawit dalam menghasilkan minyak sawit dalam kurun waktu satu tahun.
Perusahaan Sawit Sabet Penghargaan Gold Program CSR dan Replanting Sawit Masyarakat
Jakarta, katakabar.com - Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit belakangan diketahui bernama PT Cita Mineral Investindo Tbk (CMI) sukses sabet penghargaan bergengsi di ajang CSR dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2025. Penghargaan ini digelar oleh Indonesian Social Sustainability Forum bekerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Hotel Bidakara Jakarta, di penghujung September 2025 lalu. Penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan atas komitmen jangka panjang perusahaan berkontribusi aktif pembangunan desa di sekitar wilayah operasionalnya. CMI dianugerahi penghargaan tersebut berkat keberhasilan program unggulannya yang bertajuk "Kolaborasi Pertumbuhan Ekonomi Melalui Kegiatan Peremajaan Sawit Masyarakat", yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, dan penguatan perekonomian daerah. Acara itz dihadiri Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia, Zulkifli Hasan, yang memberikan sambutan hangat menyambut perusahaan-perusahaan yang mendapatkan penghargaan pada kategori Silver, Bronze, Premium Gold, Gold, Excellent, Outstanding, dan Good. Penganugerahan penghargaan tersebut diberikan sebagai wujud apresiasi kepada perusahaan yang secara konsisten melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) dengan dampak nyata dan terukur. Pencapaian pada kategori Gold yang diraih CMI sekaligus menegaskan komitmen perusahaan menjalankan praktik keberlanjutan. Tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, tetapi berorientasi pada pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Program unggulan yang dicanangkan CMI program yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat petani sawit yang harus menghadapi tantangan dari sisi produktivitas. Melalui program ini, CMI hadir dengan memberikan dukungan berupa pendampingan teknis, akses bibit unggul, edukasi pengelolaan lahan serta penguatan kelembagaan petani. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong produktivitas perkebunan rakyat, meningkatkan pendapatan keluarga petani sekaligus menciptakan efek ganda pada pertumbuhan ekonomi lokal, sekaligus menjaga akses kepemilikan lahan masyarakat. General Manager External Relation and Corporate Social Responsibility CMI, Agus Rusli, menjabarkan keberhasilan program yang mengedepankan sisi lingkungan ini tidak terlepas dari semangat kolaborasi bersama para pemangku kepentingan. "Inisiatif peremajaan kebun sawit ini lebih dari sekadar dukungan, ini aksi konkret untuk memperkokoh daya tahan ekonomi yang berakar pada kebutuhan dan masyarakat. Kami meyakini, sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat," jelasnya, dilansir dari lama pontianakpost, Sabtu sore. Dengan penuh rasa bangga, Agus menyampaikan wujud syukur, serta apresiasi atas penghargaan tersebut. Penghargaan ini cerminan dari kerja nyata insan CMI yang terus konsisten bersinergi menempatkan tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dari strategi perusahaan," ujarnya. "Penganugerahan penghargaan ini motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan jangkauan program CSR kami, khususnya yang berfokus pada lingkungan serta peningkatan kualitas hidup masyarakat," kata Agus. Agus menekankan,.CMI berkomitmen untuk menjadikan program CSR sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya memberi manfaat kepada masyarakat saat ini, tetapi menjaga keberlanjutan untuk generasi mendatang. Sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan Indonesia, CMI terus menghadirkan program-program inovatif yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan. Melalui perolehan pencapaian itu, CMI menegaskan perannya sebagai perusahaan yang tidak hanya fokus pada kinerja bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan masyarakat.
Replanting Sukses, Bupati Paser Raih Penghargaan Predikat Bupati Sawit Rakyat
Kalimantan Timur, katakabar.com - Program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur sukses. Tercatat, hingga September 2025 sudah seluas 8.789 hektar kebun sawit rakyat berhasil direplanting. Lantaran prestasi ini, Bupati Paser, dr Fahmi Fadli diganjar penghargaan prestisius Bupati Perkebunan Sawit Rakyat. Penghargaan diberikan Pimpinan Umum SawitSetara, Eko Jaya Siallagan, di acara Setaracita 2025, di Balikpapan Sport Convention Centre pada 8 hingga 10 September 2025 lalu. Mewakili Bupati Paser, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan atau Disbunak Paser, Djoko Bawono, hadir terima penghargaan. Kata Djoko, keberhasilan ini menjadi bukti nyata keseriusan Pemkab Paser dalam mendukung keberlanjutan perkebunan sawit. “Replanting yang sudah kita capai seluas 8.789 hektar hasil kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, dan organisasi petani,” ulasnya lewata keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Kamis (11/9). Selain Pemkab Paser, capaian ini membawa berkah bagi organisasi petani sawit di daerah tersebut. DPD Apkasindo Kabupaten Paser mendapat penghargaan sebagai DPD Apkasindo Kalimantan Timur dengan capaian PSR terbanyak, sementara Koperasi Paser Sejahtera Bersama dinobatkan sebagai Koperasi Petani PSR Berkelanjutan. Ketua DPD Apkasindo Paser, Ajansyah, menegaskan, penghargaan ini hasil kerja bersama. “Ini bukan hanya kerja kami, tetapi juga dukungan penuh dari Pemkab Paser. Sinergi inilah yang membuat PSR di Paser bisa berjalan maksimal,” jelasnya. Ketua Asosiasi Petani Perkebunan Inti Rakyat atau Aspekpir Paser, Aliyadi, aminkan Ajansyah. Ia menilai keberhasilan PSR tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah daerah. “Mulai dari program peremajaan hingga dukungan sarana dan prasarana koperasi, semuanya tidak lepas dari campur tangan Pemkab Paser,” ucapnya. Penghargaan yang diraih Bupati Paser, Fahmi Fadli ini sekaligus menegaskan posisi Kabupaten Paser sebagai satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang sukses menjalankan program replanting sawit rakyat.
Program Replanting Dukung Keberlanjutan Kelapa Sawit, Ini Faktanya
katakabar.com - Program replanting atau peremajaan sawit rakyat di antara sekian upaya pencapaian keberlanjutan (sustainability) kelapa sawit Indonesia. Kelapa sawit sebagai komoditas yang telah mengubah peta minyak nabati dunia semakin menarik perhatian banyak pihak. Pada1980 lampau, minyak kedelai masih mendominasi pasar minyak nabati dunia dengan pangsa 53 persen. Tapi, pada 2016 lalu pangsa minyak kedelai hanya tersisa 33 persen, sedang minyak kelapa sawit memegang 39,4 persen pangsa minyak nabati dunia pada tahun yang sama (USDA, 2017). PASPI (2018) pada jurnal berjudul Replanting Mendukung Upaya Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit menemukan, perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai memasuki pengembangan industri tahap kedua yaitu peningkatan produktivitas kelapa sawit. Pada 2017 lalu, produktivitas perkebunan rakyat hanya 2,38 ton per hektar, sementara perkebunan negara dan perkebunan swasta masing-masing memiliki produktivitas 3,32 ton per hektar dan 3,17 ton per hektar. Produktivitas perkebunan rakyat masih rendah sementara luas areal perkebunan rakyat di Indonesia mencapai sekitar 41 persen dari total luas areal kelapa sawit Indonesia (PASPI, 2018). Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat dapat dilakukan dengan perbaikan kultur teknis (best management practices) atau penggunaan bibit unggul saat proses replanting. Dengan adanya replanting maka perkebunan yang pada awalnya tidak menggunakan bibit unggul, dapat diganti dengan bibit-bibit unggul sehingga pada akhirnya dengan luasan lahan yang sama akan dapat menghasilkan produksi minyak kelapa sawit lebih banyak (PASPI, 2018).
Dorong Hilirisasi, PBNU Dukung Percepatan Replanting Sawit
Jakarta, katakabar.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sampaika dukungan kepada pemerintah guna percepatan realisasi peremajaan sawit rakyat (PSR) dorong optimalisasi hilirisasi sawit. Dukungan itu ditegaskan Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PBNU pada acara hari lahir atau Harlah ke 102 Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta, dengan harapan dapat memperkuat ekonomi petani sawit demi terwujudnya kemandirian ekonomi Indonesia. Sekretaris LPP PBNU, Tri Candra Aprianto mengatakan, PBNU merasa perlu mendukung PSR dan hilirisasi sawit karena karena sebanyak 67 persen lahan sawit rakyat adalah milik warga Nahdliyin. "LPP PBNU amat concern terhadap agenda hilirisasi sawit karena lebih dari 67 persen lahan sawit mandiri dimiliki warga Nahdliyin. Kami sangat berkepentingan jadi bagian dari program pemerintah untuk hilirisasi,” jelasnya lewat keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Rabu (5/2). Candra sekaligus Dewan Pakar Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menyampaikan, dibutuhkan strategi dan kolaborasi bersama yang melibatkan para praktisi dan akademisi untuk mendorong hilirisasi. “Indonesia menang di WTO atas gugatan kampanye negatif Uni Eropa, saya kira ini juga momentum bagi Indonesia. Perjalanan presiden ke luar negeri juga tidak lepas bicara soal sawit. Karenanya, LPP PBNU bersama petani mandiri yang selama ini menjadi binaan harus mendapatkan benefit atas industri kelapa sawit,” ujarnya.
Realisasi Program Replanting Alami Sejumlah Kendala di 'Ranah Minang'
Padang, katakabar.com - Program Replanting atau Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di 'Ranah Minang' nama lain dari Provinsi Sumatera Barat, realisasinya alami sejumlah kendala lantaran adanya persoalan. Sekretaris Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Ferdinal Asmin menjelaskan, saat ini luas Perkebunan Sawit Rakyat (PSR) di Provinsi Sumatera Barat sekitar 251.591,14 hektar. "Dari luas itu, terdapat 98 ribu hektar kelapa sawit rakyat perlu diremajakan," ujarnya memasuki paruh dua Januari 2024 lalu, dilansir dari laman bisnis.com, pada Ahad (14/1). Menurut Ferdinal, dari laporan realisasi PSR hingga tahun 2023 lalu, total seluas 12.278,93 hektar sudah mendapatkan rekomendasi teknis. Bahkan dilaporkan sudah seluas 10.400,35 hektar sudah melakukan penanaman kembali kelapa sawitnya. "Itu artinya, masih luas lagi PSR ini yang butuh diremajakan. Ternyata, ada sejumlah persoalan di lapangan," jelasnya. Untuk melakukan replanting ini ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi para petani, misalnya harus tergabung dalam kelompok tani hingga lahan sawit yang diajukan untuk program replanting tidak di atas kawasan hutan. "Nyatanya saat ini, masih ada PSR perkebunan kelap sawit berada di kawasan hutan. Bagi PSR itu, mereka biasanya melakukan peremajaan secara mandiri dan tidak melalui program PSR yang dibiayai dari pemerintah," ucapnya. Diterangkan Ferdinal, perkebunan kelapa sawit yang perlu direplanting umur tanaman kelapa sawit sudah berumur 25 tahun. Umur tanaman kelapa sawit sudah sentuh 25 tahun itu, selain pohon telah tinggi dan sulit dipanen, produksi mulai menurun, dan kualitas kelapa sawit turut turun. "Lantaran itu, perlu di replanting, biar produksi bagus. Tapi, petani menilai penanaman kembali sawit bisa kehilangan penghasilan, sebab untuk menunggu dari masa tanam ke panen sekutar tiga hingga lima tahun," bebernya. Kita sudah usulkan para petani kelapa sawit melakukan replanting, dan melakukan penanaman jagung di antara lahan sawit. Tanaman jagung tidak mengganggu masa tumbuh bibit kelapa sawit yang ditanam. "Tanaman jagung bisa dipanen empat bulan sekali, berarti setahun bisa tiga kali panen. Jadi, seraya menunggu kelapa sawit berbuah dan panen, setidaknya hasil panen jagung bisa menggantikan pendapatan para petani," sarannya. Ke depan, persoalan replanting kelapa sawit bagi PSR ini terus diperkuat koordinasi dengan kabupaten dan kota yang memiliki lahan kebun kelapa sawit. Di tahun 2024 ini, pihaknya telah mengusulkan replanting PSR di Sumbar seluas 950 hektar. Usulan replanting ini mudah-mudahan bisa dilaksanakan tahun ini," harapnya.