Medan, katakabar.com - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Provinsi Sumatera Utara kurun 2018 hingga 2019 lalu, sudah mengembangkan riset rancang bangun Mobile Oil Palm Trunk Sawmill (Mobile Sawmill).

Mobile Sawmill salah satu upaya untuk memanfaatkan batang sawit menjadi kayu gergajian bakal digunakan buat bahan baku Produk Laminasi Sawit (PLS), lewat pendanaan Grant Riset Sawit (GRS) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Swit (BPDPKS) tahun 2018 hingga 2019.

Sebelumnya, ada produk laminasi sawit telah berhasil dikembangkan lewat pendanaan GRS-2015-2016. Di mana telah menghasilkan berbagai jenis produk laminasi untuk penggunaan baik interior maupun eksterior dengan menerapkan teknologi Sandwich Laminated Lumber (SLL).

Ketua Tim Periset, Dr. Erwinsyah yang pimpin riset menjelaskan, Mobile Sawmill yang  dirancang bangun bisa jadi solusi bagi pemanfaatan batang sawit hasil peremajaan (replanting) kebun sawit. Mesin ini beroperasi secara mobile dari satu areal replanting ke areal replanting lainnya.

"Batang sawit gergajian yang dihasilkan digunakan sebagai bahan baku produk laminasi sawit dengan berbagai tujuan penggunaan. Hasil akhir dari riset yang didanai oleh BPDPKS ini tidak hanya unit Mobile Sawmill tapi Mobile OPT Mill atau pabrik batang sawit bersifat mobile," ujarnya dilansir dari website resmi BPDPKS, pada Minggu (30/7).

Menurut Erwinsyah, luas lahan perkebunan kelapa sawit lebih dari 300 ribu hektar perlu diremajakan setiap tahunnya di Indonesia, ini mulai dari tahun 2016. Rinciannya, lebih dari 30 juta m3 batang sawit dihasilkan per tahunnya dari kegiatan peremajaan ini, dan hingga kini pemanfaatannya masih sangat terbatas, baik sebagai bahan produk perkayuan maupun sebagai sumber energi.

Hal itu kata Ketua Tim Periset PPKD Medan ini disebabkan karena keunikan karakteristik batang sawit yang punya keragaman densitas dalam satu batang sawit.

Jadi, dengan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap produk-produk perkayuan dan energi terbarukan. Justru menjadikan pemanfaatan batang sawit sebagai sumber material alam menjadi semakin atraktif. Apalagi dengan ketersediaannya yang tersedia sepanjang tahun. Otomatis, ini dapat mendukung industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi Indonesia.

Masih Dr. Erwinsyah, teknologi SLL yang diterapkan mesti memperhatikan aspek lingkungan. Di mana batang sawit yang digunakan mencapai 52,5 persen dari total biomasa tanaman sawit untuk setiap hektarnyaatau sekitar 164 m3/hektar. Jadi, masih tersisa di areal perkebunan sekitar 47,5 persen sekaligus bisa sebagai sumber bahan organik tanah untuk menjaga kesuburan lahan kelapa sawit, bebernya.