Jakarta, katakabar.com - Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK), pekebun sawit, perangkat desa, akademisi, mahasiswa dan komunitas Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bagian dari stakeholder di Bandung, datang mengikuti sosialisasi temanya, 'Manfaat Minyak Makan Merah untuk Kuliner dan Kesehatan'.
Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB University yang menggelar sosialisasi, pada Jumat (11/8) lalu.
Di kegiatan itu, peserta diberi pemahaman materi tentang teknologi produksi minyak sawit mentah atau CPO dan minyak makan merah, manfaat kesehatan dan penyajian minyak makan merah.
Tidak hanya itu, peserta dicekoki pengembangan produk turunan minyak makan merah, potensi dan analisa usaha minyak makan merah, dan terakhir praktek pembuatan produk turunan minyak makan merah.
Kepala SBRC IPB University, Meika Syahbana Rusli menjelaskan, pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit jadi minyak makan merah dukung peningkatan nilai tambah sawit, bisa dirasakan manfaatnya para petani kelapa sawit.
"Produksi minyak makan merah solusi meningkatkan kesejahteraan para petani kelapa sawit sekaligus mendukung program sirkular ekonomi yang direncanakan pemerintah," ujarnya dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (14/8).
Kata Meika, proses pengolahan buah sawit jadi minyak makan merah bisa dijalankan kapasitas olah yang lebih kecil sehingga terjangkau para petani sawit, dan bisa dijual langsung.
Tapi perlu diperhatikan saat konsumsi bagaimana menjaga agar kandungan karoten dan fitonutrien lainnya di dalam minyak makan merah tetap terjaga selama pengolahan. Di mana salah satunya dengan mencegah pemanasan yang berlebih.
Harapannya kegiatan sosialisasi ini mampu membuka peluang potensi baru pemanfaatan minyak makan merah untuk berbagai produk olahan, jelasnya.
Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansyah menimpali, kegiatan ini jadi salah satu upaya BPDPKS sosialisasikan dan promosikan kebaikan sawit hadapi kampanye negatif terhadap sawit Indonesia.
"Minyak makan merah salah satu produk hasil riset yang berpotensi untuk dikomersialisasikan. BPDPKS siap memberikan support agar minyak makan merah dirasakan manfaatnya lebih luas oleh masyarakat, termasuk pemanfaatan untuk peluang pengembangan usaha bagi UKMK," ulasnya.
Memang lanjut Helmi, minyak makan merah masih menemui tantangan terutama terkait pemahaman masyarakat. Padahal di dalam minyak makan merah terkandung berbagai nutrisi penting, seperti Vitamin A, Vitamin E, dan beta karoten yang masih tinggi. Tidak hanya itu, minyak makan merah relevan dengan kebijakan jangka pendek pemerintah untuk menekan stunting pada tahun 2024.
Anggota Komite Riset BPDPKS, Tatang Hernas Soerawidjaja menuturkan, proses pemurnian minyak sawit selama ini dilakukan dengan menghilangkan warna merahnya atau pigmen beta karoten. Itu sebabnya, sesudah pemurnian, produsen minyak goreng diwajibkan melakukan fortifikasi dengan vitamin A yang bahan bakunya masih diimpor.
"Beta karoten dapat diuraikan oleh tubuh menjadi dua molekul vitamin A yang sangat penting dalam pencegahan berbagai penyakit seperti gangguan penglihatan dan stunting," bebernya.
Potensi isolasi beta karoten sendiri dari minyak sawit atau CPO sebelum diproses mejadi biodiesel sangat besar. Ini mengingat sebanyak 10 juta ton CPO dikonversi menjadi biodiesel saat ini," sebutnya.
Manfaat Minyak Makan Merah Dipromosikan di Bandung
Diskusi pembaca untuk berita ini