Pekanbaru, katakabar.com - Provinsi Riau dihadapkan pada tantangan baru di sektor perkebunan dan pertambangan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Provinsi Riau, Panji Achmad menjabarkan, kedua sektor ini tengah menghadapi penurunan produksi.
"Banyak tanaman kelapa sawit di Riau yang sudah tua ditambah dengan pemupukan yang kurang optimal, terutama di perkebunan rakyat yang luasnya sekitar 60 persen dari lahan kelap sawit yang ada di Riau," jelasnya di suatu pertemuan di Pekanbaru beberapa hari lalu, dilansir dari laman EMG, Minggu (13/10).
Di saat yang sama, ujar Panji, produksi migas Riau terus mengalami penurunan hingga 8 persen-12 persen per tahun, khususnya penurunan alamiah pada sumur-sumur migas. Hal ini membuat sektor pertambangan Riau mengalami kontraksi dan menjadi tantangan besar bagi perekonomian daerah.
Meski begitu, kata Panji, BI tetap optimis perekonomian Riau akan terus tumbuh positif dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan investasi di daerah ini.
"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Riau tahun 2024 akan berada di kisaran 3,3 persen hingga 4,1 persen, sedikit melandai dibandingkan tahun 2023. Kami juga optimis inflasi akan terjaga dalam rentang 2,5 persen ± 1 persen," bebernya.
"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Riau," katanya.
Saat ini BI bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia tengah melakukan kajian terkait dampak pengembangan sektor industri pulp dan kertas terhadap perekonomian Riau.
"Diharapkan hasil kajian ini dapat memberikan masukan bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pembangunan yang efektif dan berkelanjutan," tandasnya.
Gawat Ekonomi Riau Bisa Terancam Penurunan Produksi Sawit dan Migas
Diskusi pembaca untuk berita ini