Terancam

Sorotan terbaru dari Tag # Terancam

Kami Hidup dari Sungai Mata Pencaharian Terancam, Nelayan Tiga Desa Tolak Proyek Kanal di Inhil Lingkungan
Lingkungan
Kamis, 05 Juni 2025 | 20:11 WIB

Kami Hidup dari Sungai Mata Pencaharian Terancam, Nelayan Tiga Desa Tolak Proyek Kanal di Inhil

Indragiri Hilir, katakabar.com - Rencana pembangunan kanal sebagai solusi banjir di Desa Lahang Hulu, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, tuai penolakan dari masyarakat tiga desa sekitar, Teluk Merbau, Batang Tumu, dan Sepakat Jaya. Kekhawatiran utama warga mengenai pencemaran lingkungan, dan hilangnya mata pencaharian nelayan akibat masuknya limbah sawit ke perairan mereka. Sosialisasi proyek digelar Senin (2/6) lalu di Aula Dusun Simpang Buluh, Desa Teluk Merbau, dihadiri Camat Gaung, Ns. Matzen, Kapolsek Gaung, Iptu Andrianto, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Kanit Intelkam, tokoh masyarakat, serta ratusan warga. Camat Gaung, Ns. Matzen menyampaikan, proyek kanal tindak lanjut rapat bersama Bupati Inhil pada 26 Mei 2025 terkait penanganan banjir di Lahang Hulu. Dua titik kanal direncanakan di Parit 9 dan Parit 14 yang akan disambungkan ke Parit Basian Desa Teluk Merbau, dilengkapi tanggul di kedua sisi. Meski sudah melalui kajian teknis oleh Dinas PUPR, DLHK, Perkebunan, dan Satgas Banjir, warga tetap menolak rencana tersebut. Arsyad, nelayan asal Batang Tumu yang hadir langsung menyuarakan keresahan kolektif nelayan Menurut Arsyad, air sungai Batang Tumu akan menjadi tawar atau payau. Ikan dan udang akan hilang. Kami ini hidup dari sungai. Kalau sungai tercemar, apa yang kami makan? Apakah perusahaan siap bertanggung jawab kalau kami kehilangan mata pencaharian? Ia lantas mempertanyakan kebijakan pemerintah dan perusahaan. Mengapa pembuangan kanal diarahkan ke wilayah mereka? Kata Arsyad, Kamis (5/6) kepada wartawan, Apakah tidak ada solusi lain? Mengapa harus ke sungai daerah sini? Mengapa tidak ke daerah Gaung saja? Dijelaskan Arsyad, kasus serupa pernah terjadi di Desa Belaras, Desa Bantayan, dan Concong, yang ekosistemnya rusak akibat limbah kanal perusahaan. Nelayan Sepakat Jaya menyampaikan, arus kanal saat hujan deras akan menghanyutkan ikan, dan tanggul di atas tanah gambut rawan jebol. “Kami ini tidak punya kebun, laut dan sungai adalah kebun kami. Kalau air asin bercampur tawar karena kanal, semua ikan dan udang habis," terang seorang warga.

Program B40 Bisa Bikin Indonesia Terancam Defisit Sawit, Lo Kok! Sawit
Sawit
Senin, 13 Januari 2025 | 21:21 WIB

Program B40 Bisa Bikin Indonesia Terancam Defisit Sawit, Lo Kok!

Jakarta, katakabar.com - Menteri Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 2 tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 26 Tahun 2024 tentang Ketentuan Ekspor Produk Turunan Kelapa Sawit pada 8 Januari 2025 lalu. Dengan beleid baru itu, pemerintah melakukan pengetatan ekspor limbah pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), residu minyak sawit asam tinggi (High Acid Palm Oil Residue/HAPOR), dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO). Menurut Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, pengetatan ekspor limbah sawit dan jelantah dipicu oleh defisit minyak sawit akibat peningkatan konsumsi domestik. Di mana kebutuhan dalam negeri meningkat disebabkan oleh peningkatan permintaan untuk kebutuhan program biodiesel B40 dan kebutuhan program makan bergizi.

Gawat! Ekonomi Riau Bisa Terancam Penurunan Produksi Sawit dan Migas Sawit
Sawit
Minggu, 13 Oktober 2024 | 19:51 WIB

Gawat! Ekonomi Riau Bisa Terancam Penurunan Produksi Sawit dan Migas

Pekanbaru, katakabar.com - Provinsi Riau dihadapkan pada tantangan baru di sektor perkebunan dan pertambangan. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Provinsi Riau, Panji Achmad menjabarkan, kedua sektor ini tengah menghadapi penurunan produksi.