Rantau Kopar, katakabar.com - Kawasan sentra kelapa sawit di sebelah barat nun jauh puluhan kilometer dari pusat keramaian Duri kota dilanda banjir. Para petani kelapa sawit nelangsa dan kelimpungan terpaksa tunda panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit meski sudah saat panen hingga banjir surut.

Adalah para petani kelapa sawit swadaya wilayah Kecamatan Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir dan dua desa, yakni Desa Petani dan Buluh Manis Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Riau, sudah hampir dua bulan ini berhadapan dengan musibah banjir lantaran meluapnya sungai Rokan.

Salah seorang pekebun kelapa sawit, S Rais 47 tahun kepada katakabar.com, di Duri, Kecamatan Mandau, pada Selasa (9/1) menuturkan, musibah banjir yang melanda beberapa desa di Kecamatan Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir dan Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis sudah mulai berdampak kepada perekonomian masyarakat, terutama pekebun kelapa sawit swadaya yang mengandalkan ekonomi keluarga dari penghasilan kebun kelapa sawit.

"Musibah banjir yang melanda kawaan perkebunan kelapa sawit dan pemukiman masyarakat  sudah hampir dua bulan belakangan ini terjadi, dari pertengah November 2023 lalu hingga memasuki pekan kedua Januari 2024," ujar warga Desa Petani, Kecamatan Mandau pemilik kebun kelapa sawit seluas 10 hektar di kawasan Desa Sekapas, Kecamatan Rantau Kopar, Rokan Hilir

Kondisi banjir, kata S Rais, membikin pekebun kelapa sawit dilema dan kelimpungan, mau panen TBS kelapa sawit tinggi muka air sudah mencapai dada orang dewasa. Para pekebun kelapa sawit terpaksa tunda panen TBS kelapa sawit hingga banjir surut yang tak bisa diprediksi lamanya.

"Mestinya pekan pertama Januari 2024  sudah bisa memanen TBS di kebun kelapa sawit. Tapi, kondisi banjir makin meluas dengan tinggi muka air semakin tinggi terpaksa ditunda panen TBS kelapa sawit. Terakhir, memanen TBS di kebun kelapa sawit Desember 2023 lalu meski kondisinya sudah banjir. Saat itu, tinggi muka air belum begitu tinggi nasih bisa dengan menggunakan perahu mengangkut TBS kelapa sawit keluar untuk dipasarkan," ulas Rais, seraya menarik nafas dalam-dalam cemas TBS kelapa sawit busuk kalau tidak segera dipanen.

Rencananya dua hari lalu, cerita Rais, dengan mengendarai sepeda motor mau ke kebun kelapa sawit melihat kebun kelapa sawit, sekaligus melihat kondis banjir di Desa Sekapas. Tapi, baru tiba di kawasan Jalan Rangau kilometer 23, Desa Petani Kecamatan Bathin Solapan, permukaan air sudah setinggi lutut orang dewasa.

"Saya coba terobos makin lama semakin dalam, dan setelah melihat truk colt diesel melintas bannya sudah tenggelam saya urungkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Saya terpaksa balik kanan, sebab banjir makin meluas cukup dalam menggenangi ruas jalan dan kebun kelapa sawit milik pekebun swadaya dan kebun kelapa sawit milik perusahaan terbentang mengapit Jalan Lintas Rangau," jelasnya.

Melihat cuaca dengan intensitas hujan yang tinggi saat ini, ucap Rais, banjir bukannya surut kemungkinan semakin meluas dan permukaan air akibat banjir semakin tinggi.

"Saya dan para pekebun kelapa sawit yang berada di dua kecamatan beda kabupaten, saat ini cuma bisa pasrah terima keadaan sembari berharap banjir yang melanda hamparan perkebunan kelapa sawit segera surut dan intensitas hujan rendah, agar para pekebun swadaya bisa memanen TBS di kebun kelapa sawit," harapnya.

Mengungsi ke Tempat Keluarga

Masyarakat Kecamatan Rantau Kopar, khusus pekebun kelapa sawit sebagian terpaksa mengungsi ke rumah keluarga, bahkan ada sejumlah pekebun kelapa sawit yang tidak memiliki keluarga harus sewa rumah di Desa Petani dan Buluh Manis Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, lantaran rumah mereka tidak bisa ditempati akibat musibah banjir makin parah.

"Sebagian masyarakat, termasuk pekebun kelapa sawit rumah tergenang banjir mengungsi keluarga dan ada yang sewa rumah di Desa Petani dan Buluh Manis, Kecamatan Bathin Solapan," kata Jhoni kepada katakabar.com di Duri, Selasa siang.

Kondisi banjir yang melanda Rantau Kopar yang terletak tak jauh dari sungai Rokan cukup memprihatinkan. Intensitas hujan yang tinggi dari Desember 2023 hingga Januari 2024 ini bisa jadi pemicu volume air yang menggenangi kawasan pemukiman dan perkebunan kelapa sawit masyarakat semakin bertambah dan meningkat.

"Musim penghujan mudah-mudahan segera berlalu agar banjir surut, masyarakat kembali bisa beraktivitas normal seperti merawat dan memanen TBS kelapa sawit di kebun," sebutnya.