Mutakhir
Sorotan terbaru dari Tag # Mutakhir
Dubes India Bepartisipasi DRDO di ID 2025, Tampilkan Terobosan Teknologi Pertahanan Modern
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India di Jakarta umumkan partisipasi Defence Research and Development Organisation atau DRDO India di pameran internasional Indo Defence 2025 Expo & Forum yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Indonesia, pada 11 hingga 14 Juni 2025. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty meresmikan partisipasi DRDO pada acara tersebut. Kehadiran DRDO di ajang bergengsi ini merupakan bagian integral dari Paviliun India, yang menampilkan kapabilitas teknologi pertahanan paling canggih dari India kepada komunitas global. Indo Defence Expo & Forum salah satu pameran pertahanan terbesar dan paling berpengaruh di kawasan Asia Pasifik. Digelar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, ajang dua tahunan ini mempertemukan para pemangku kepentingan strategis dari sektor pertahanan, keamanan, dan industri pertahanan global, serta menjadi wadah penting untuk mempererat kerja sama pertahanan bilateral, regional, dan internasional. Melalui partisipasinya di Indo Defence 2025, India menegaskan komitmen strategisnya mendukung stabilitas dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus memperluas peluang kerja sama industri pertahanan dengan mitra-mitra strategis, termasuk Indonesia. Sebagai lembaga penelitian dan pengembangan pertahanan utama milik Pemerintah India, DRDO memanfaatkan forum Indo Defence untuk menampilkan berbagai inovasi strategis yang lahir dari ekosistem penelitian pertahanan India yang kian maju. Beberapa sistem dan teknologi unggulan yang dipamerkan oleh DRDO meliputi: • ASTRA MK-I, rudal udara-ke-udara jarak menengah berkecepatan tinggi; • Remotely Operated Vehicle – Daksh, kendaraan robotik untuk penanganan bahan peledak; • Low Frequency Dunking Sonar (LFDS-X), sistem sonar canggih untuk operasi bawah laut; • Airborne Early Warning and Control (AEW&C), sistem peringatan dini dan kendali udara berbasis platform pesawat; • Wheeled Armoured Platform (WHAP), kendaraan tempur lapis baja serbaguna; • Varunastra Heavyweight Torpedo, torpedo berat untuk pertahanan laut dalam; • Man Portable Anti-Tank Guided Missile, sistem rudal anti-tank portabel generasi baru. Keseluruhan sistem tersebut kini dipamerkan di Hall F-46, Paviliun India, JIExpo Kemayoran, Jakarta, mengundang perhatian delegasi dari berbagai negara, pengambil keputusan, serta industri pertahanan global. Partisipasi India di Indo Defence 2025 juga selaras dengan visi Atmanirbhar Bharat (India Mandiri), yang menempatkan kemandirian teknologi sebagai fondasi pertumbuhan industri pertahanan nasional. Sejalan dengan itu, DRDO melalui unit Vehicles Research & Development Establishment (VRDE) di Ahilyanagar, Maharashtra, baru-baru ini mengambil langkah signifikan dengan melakukan alih teknologi sembilan sistem pertahanan kepada sepuluh perusahaan industri pertahanan domestik, memperkuat sinergi antara sektor publik dan swasta India.
Evolusi Mutakhir Industri Sawit Indonesia Menilik Luas Areal Perkebunan
Mitos Perkebunan kelapa sawit lebih ekspansif dari tanaman minyak nabati lainnya Fakta Di dunia internasional, terdapat 17 jenis minyak nabati sebagai sumber minyak dan lemak dunia yang diperdagangkan secara global dengan standar mutu dan keamanan pangan diatur dan diakui CODEX Alimentarius Commission (Hariyadi, 2010). Dari 17 jenis sumber minyak nabati itu, terdapat empat jenis sumber utama minyak nabati dunia, yakni minyak sawit (Crude Palm Oil, Crude Palm Kernel Oil), minyak kedelai (Soybean Oil), minyak rapeseed (Rapeseed Oil) dan minyak bunga matahari (Sunflower Oil). Lantaran perluasan perkebunan kelapa sawit dunia yang cepat sesungguhnya hanya dibesar-besarkan saja. Data menunjukkan ekspansi perkebunan kelapa sawit dunia jauh lebih rendah dibandingkan dengan ekspansi areal tahaman minyak nabati utama, seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Di tahun 2021, luas areal tanaman kedelai clunia mencapai 129.9 juta hektar. Lalu tanaman rapeseed dan tanaman bunga matahari memiliki luas areal berturut-turut sebesar 37.8 juta hektar dan 28.4 juta hektar. Sedang luas areal perkebunan kelapa sawit dunia hanya sebesar 25 juta hektar. Selain memiliki areal tanaman terluas, pertambahan luas areal tanaman kedelai selama periode tahun 1980-2021 paling besar diantara ketiga minyak nabati Iainnya. Tambahan (ekspansi) luas areal tanaman kedelai dunia mencapai 81.5 juta hektar. Untuk peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit dunia selama periode itu hanya seluas 24 juta hektar atau setara 29 persen dari tambahan luas areal kedelai dunia. Jadi, tanaman minyak nabati yang paling ekspansif adalah kedelai, terus disusul rapeseed dan bunga matahari. Sementara ekspansi perkebunan kelapa sawit yang paling kecil dibandingkan ketiga tanaman minyak nabati Iainnya. Bila diasumsikan asal usul lahan untuk tanaman minyak nabati berasal dari konversi hutan, maka perubahan tata guna lahan global, termasuk di dalamnya deforestasi (Land Use Land Use Change Forestry/LULUCF) yang terbesar, terjadi untuk ekspansi perkebunan kedelai. Berikutnya disusul untuk perkebunan rapeseed dan perkebunan bunga matahari. Mitos Perkebunan kelapa sawit dunia lebih luas dari tanaman minyak nabati utama Iainnya, sehingga produksi minyak sawit dunia lebih tinggi dari minyak nabati utama Iainnya Fakta Dalam produksi minyak nabati utama dunia telah terjadi perubahan komposisi selama periode tahun 1980-2021. Di tahun 1980, produksi minyak nabati utama dunia masih didominasi oleh minyak kedelai dengan volume sebesar 9.9 juta ton (51 persen). Kemudian diikuti oleh minyak sawit sebesar 5.4 juta ton (28 persen), minyak rapeseed sebesar 2.6 juta ton (13 persen) dan minyak bunga matahari sebesar 1.5 juta ton (8 persen). Komposisi produksi minyak nabati utama dunia mengalami perubahan di tahun 2021, yakni dengan munculnya minyak sawit sebagai sumber minyak nabati terbesar dunia dengan volume produksi sebesar 84.2 juta ton atau dengan pangsa 43 persen dari total produksi empat minyak nabati utama dunia. Selanjutnya diikuti oleh minyak kedelai sebesar 61.3 juta ton atau setara 32 persen, minyak rapeseed sebesar 27.9 juta ton atau setara 14 persen, dan minyak bunga matahari sebesar 22 juta ton atau setara 11 persen. Namun dari luas areal empat tanaman minyak nabati utama clunia, yakni sebesar 221.1 juta hektar, pangsa luas areal tanaman minyak nabati terbesar adalah kedelai yang mencapai 59 persen, disusul oleh pangsa luas areal rapeseed sebesar 17 persen, pangsa luas areal bunga matahari sebesar 13 persen dan pangsa luas perkebunan kelapa sawit sebesar 11 persen. Sehingga, sangat jelas luas areal perkebunan kelapa sawit justru paling kecil dibandingkan dengan luas areal tanaman minyak nabati lainnya. Mengenai produksi minyak, produksi minyak sawit yang terbesar. Ini berarti perkebunan kelapa sawit lebih produktif dalam penggunaan lahan dibanding dengan tanaman minyak nabati lainnya. (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung..,