MITOS
Produktivitas minyak dari perkebunan kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas tanaman minyak nabati lain sehingga tidak ekonomis untuk dijadikan sebagai sumber minyak nabati utama dunia
FAKTA
Dengan semakin terbatasnya lahan pertanian dunia, masyarakat dunia memerlukan sumber minyak nabati yang memiliki produktivitas minyak yang lebih tinggi. Sehingga dengan lahan yang semakin terbatas dapat dihasilkan minyak nabati dengan volume yang lebih besar.
Berdasarkan data produktivitas tanaman minyak nabati utama dunia tahun 2021 menunjukkan produktivitas tanaman kelapa sawit dalam menghasilkan minyak nabati mencapai 3.36 ton minyak per hektar per tahun.
Artinya dari satu hektar perkebunan kelapa sawit mampu menghasilkan minyak dengan volume sebesar 3.36 ton per tahun. Sedang produktivitas tanaman minyak nabati lainnya jauh lebih rendah dibandingkan kelapa sawit, Produktivitas minyak bunga matahari sebesar 0.78 ton per hektar, produktivitas minyak rapeseed sebesar 0.75 ton per hektar, dan produktivitas minyak kedelai hanya sebesar 0,47 ton per hektar. Hal ini menunjukkan produktivitas minyak per hektar yang dihasilkan kelapa sawit hampir 4 hingga 7 kali lipat produktivitas tanaman minyak nabati utama lainnya.
Berdasarkan data itu sangat jelas dari segi produktivitas minyak per hektar, produktivitas kelapa sawit adalah tertinggi dibandingkan tanaman minyak nabati lain. Perkebunan kelapa sawit tanaman minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan Iahan dibandingkan tanaman minyak nabati lain (IUCN, 2018).
Selain produktivitas minyak paling tinggi, tanaman kelapa sawit memiliki sejumlah keunggulan produksi, yakni (1) tergolong tanaman tahunan t'erennial plant) dengan siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun, dan (2) pemanenan minyak yang dilakukan setiap dua minggu sekali sepanjang tahun.
Keunggulan itu menjadikan minyak sawit sebagai sumber minyak nabati utama dunia dengan availability tinggi (volume relatif besar dan pasokan stabil sepanjang tahun) dan affordability tinggi (terjangkau dengan harga paling kompetitiD dibandingkan dengan minyak nabati lain (PASPI Monitor, 2021u).
Berbagai keungguan tersebut membuat minyak sawit memenuhi syarat sebagai minyak nabati dunia paling efisien.
MITOS
Perkebunan kelapa sawit merupakan tanaman monokultur terluas di dunia
FAKTA
Pada umumnya, komoditas pertanian utama dunia dibudidayakan secara monokultur. Gandum, jagung, kacang-kacangan, padi, dan tanaman lainnya yang ditanam di berbagai negara dibudidayakan secara monokultur. Menurut data USDA (2022), luas areal gandum dunia mencapai 221 juta hektar, luas area) jagung dunia mencapai 202 juta hektar, dan luas areal padi dunia mencapai 167 juta hektar. Demikian juga dengan tanaman minyak nabati dunia yakni kedclai, rapesecd, bunga mataharí dan kelapa sawit juga dibudidayakan sccara monokultur.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan perkebunan kelapa sawit dunia bukanlah tanaman monokultur yang terluas di dunia. Tanaman gandum, jagung dan padi masih jauh lebih luas dibandingkan kelapa sawit.
Budidaya secara monokultur pada sektor pertanian dinilai rasional karena memiliki keunggulan yakni mampu mencapai economic ofscale dan menghasilkan produktivitas tinggi. Memang harus diakui bahwa budidaya secara monokultur juga memiliki kelemahan antara lain resiko penyakit dan isu keanekaragaman hayati.
Perkebunan kelap. sawit sebetulnya tidak dapat dikategorikan sebagai monokultur murni seperti tanaman minyak nabati lainnya. Pada fase penanaman dan pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), di sela-sela tanaman kelapa sawit ditanam tanaman cover crop berupa tanaman kacang-kacangan (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 20219
Tidak hanya itu, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengembangkan berbagai pola integrasi, seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/lmmature dan integrasi sawit-ternak pada fase Tanaman Menghasilkan/Mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Ułomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013).
Secara alamiah seiring dengan bertambahnya umur, tanaman kelapa sawit juga mengalami pertumbuhan biodiversitas. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25 hingga 30 tahun memungkinkan tumbuh berkembangnya kembalf biodiversitas seperti pada hutan seiring dengan pertambahan umur tanaman kelapa sawit (PASPI Monitor, 2021). Studi Santosa et al. (2017) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (ecosystem benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (High Conservation Value/HCV), akibat dari pertumbuhan biodiversitas kebun sawit seiring dengan meningkatnya umur kebun sawit.
Lantaran itu, tidak mengherankan bila studi Beyer et al. (2020) dan PASPI Monitor (2021 a) mengungkapkan dalam konteks ekosistem global, Species Richness Loss (SRL) per liter minyak nabati dari perkebunan kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan pada tanaman minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, dan minyak zaitun.
Dengan demikian cukup jelas bahwa budidaya monokultur pada perkebunan kelapa sawit hånya terjadi pada fase land clearing dan penanaman.
Setelah fase tersebut, perkebunan kelapa sawit justru berkembang menjadi polikultur baik melalui integrasi sawit-tanaman pangan, sawit-sayuran, sawit-buah, sawit-ternak, dan pola integrasi lainnya maupun pertumbuhan alamiah biodiversitas.
Sistem budidaya integrasi (polikultur) kelapa sawit dengan komoditas pertanian yang demikian mendukung kelestarian biodiversitas di dalam areal perkebunan kelapa sawit (Ghazali et al., 2016) sekaligus juga menjadi solusi dari upaya untuk mencegah degradasi lahan dan penurunan emisi GRK (Khasanah et al. 2020).
Hal yang demikian, apakah ditemukan pada tanaman minyak nabati yang lain? (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung...
Evolusi Mutakhir Industri Sawit Indonesia, Kelapa Sawit Paling Efisien Penggunaan Lahan
Diskusi pembaca untuk berita ini