Khawatir

Sorotan terbaru dari Tag # Khawatir

Kisah Haji Tahun Ini: Sempat Khawatir Pelunasan, Untung Biaya Tak Jadi Halangan Nasional
Nasional
Rabu, 22 April 2026 | 12:00 WIB

Kisah Haji Tahun Ini: Sempat Khawatir Pelunasan, Untung Biaya Tak Jadi Halangan

Boyolali, katakabar.com - Banyak kisah, dan cerita warnai penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Salah satu paling menjadi sorotan adalah persoalan biaya, terutama terkait pelunasan yang kerap menimbulkan kekhawatiran bagi calon jemaah haji dari berbagai latar belakang. Pengelolaan dana haji yang optimal kini memberikan dampak nyata. Para pelaku usaha mikro, seperti pedagang jamu, kerupuk, hingga penjual es juga merasakan manfaat berkurangnya biaya perjalanan ibadah haji berkat nilai manfaat dari pengelolaan dan pengembangan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Secara nasional, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) mencapai sekitar Rp87,4 juta. Tetapi, calon jemaah rata-rata hanya perlu membayar sekitar Rp54 juta. Angka tersebut masih dikurangi setoran awal pendaftaran sebesar Rp25 juta. Jadi, terdapat sekitar Rp33 juta yang ditopang dari nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji oleh BPKH. Nilai manfaat ini berasal dari pengembangan dana melalui penempatan dan investasi yang dilakukan BPKH secara aman dan terukur. Pengelolaan itu membuat dana setoran awal jemaah haji bukan hanya tersimpan aman, tetap berkembang, dan memberikan manfaat langsung saat pelunasan. Beberapa kisah menarik calon jemaah di Soloraya yang merasakan betapa nilai manfaat dan dana pengembangan setoran haji telah meringankan langkah mereka ke Tanah Suci. Pasangan suami-istri (Pasutri) asal Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali yang bekerja sebagai penjual jamu tradisional di Pasar Sunggingan akan berangkat haji pada 2026 ini.  Mereka adalah Hadi Wiyono 63 tahun, dan Sutiyah 55 tahun. Keduanya telah mendaftar haji sejak November 2012 kemudian dipanggil untuk berangkat ke Tanah Suci pada 2026 ini. Mereka direncanakan berangkat pada 10 Mei 2026 nanti.  Selepas dipanggil untuk berhaji, ia mengatakan lega karena hanya harus melakukan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji sekitar Rp50 juta untuk dua orang. Uang tersebut didapat dari tabungan emasnya dan tabungan ternak Hadi Wiyono. Harusnya, calon jemaah haji tahun ini harus membayar sekitar Rp87,4 juta untuk biaya penyelenggaraan ibadah haji. Tetapi jemaah hanya perlu membayar biaya perjalanan ibadah haji sekitar Rp54,1 juta. Kisah serupa datang dari Khotib Heru Ukhrodin 50 tahun, pedagang kerupuk asal Boyolali, warga Dukuh Gledegan, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolalu. Ia bersama istrinya, Nur Witri, juga sempat memperhitungkan kemampuan finansial saat menghadapi pelunasan biaya haji. “Mestinya lebih besar, tapi ada yang dibayarkan dari nilai manfaat, jadi sangat membantu,” kata Khotib. Ia bersyukur bisa berangkat ke Tanah Suci tanpa memusingkan soal biaya pelunasan karena terasa diringankan melalui pengelolaan BPKH. "Alhamdulillah, dua orang saya dan istri itu membayar total sekitar Rp53 juta. Harusnya lebih karena per orang hampir Rp87 juta. Kemarin kami membayar Rp25 juta dan pelunasan sekitar Rp26 juta. Lalu, dijelaskan oleh pihak BSI itu ada yang dibayarkan dari nilai manfaat,” ulasnya. Khotib menyampaikan rasa senangnya karena merasa diringankan dengan nilai manfaat yang ia dapatkan berkat pengelolaan dana haji yang transparan dan berkembang yang dilakukan BPKH. Lega Kekhawatiran para calon jemaah tersebut akhirnya berubah menjadi kelegaan setelah mengetahui adanya nilai manfaat dari pengelolaan dana haji oleh BPKH. Plt Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Brebes, Akhmad Nizam Baequni, menegaskan sistem pengelolaan dana haji saat ini memang dirancang untuk memberikan manfaat maksimal bagi jemaah. “Dulu total biaya bisa mencapai sekitar Rp87 juta. Tapi sekarang jemaah cukup melunasi sekitar Rp30–33 juta setelah setoran awal, karena sudah terbantu dari hasil pengelolaan dana,” jelasnya. Ia menambahkan, setiap setoran awal dari pendaftar akan dikelola oleh BPKH secara transparan dan akuntabel, sehingga memberikan manfaat luas bagi jemaah. Transparansi BPKH Berdasarkan data transparansi dari BPKH, biaya penyelenggaraan ibadah haji senilai sekitar Rp87,4 juta. Namun, calon jemaah rata-rata hanya diwajibkan membayar sekitar Rp54 juta untuk biaya perjalanan ibadah haji, yang masih dipotong dari setoran awal pendaftaran nomor porsi sebesar Rp25 juta. Sisanya, sekitar Rp33 juta, berasal dari nilai manfaat pengelolaan dana haji yang dilakukan BPKH. Jadi, dana setoran awal Rp25 juta saat pendaftaran tidak hanya aman dan utuh, tetapi juga berkembang melalui penempatan dan investasi. Jika sudah memiliki nomor porsi, calon jemaah haji hanya perlu melunasi sekitar Rp29 juta. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan dana haji oleh BPKH tidak hanya aman dan amanah, tetapi juga memberikan nilai manfaat nyata. Sementara, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Boyolali, Sauman, menambahkan, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2025, BPIH untuk Embarkasi Solo mencapai Rp86.448.981. Sementara itu, Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) sebesar Rp53.233.422. Setelah setoran awal Rp25 juta, jemaah hanya perlu melunasi sekitar Rp25.559.215, dan sisanya ditopang dari nilai manfaat dana haji yang dikelola BPKH. Dengan pengelolaan dan pengembangan dana BPKH, biaya haji kini menjadi lebih terjangkau dan ringan. Para calon jemaah pun dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, tanpa dibayangi kekhawatiran berlebih terkait pelunasan biaya

Mau Pasang Smart Home Tapi Khawatir Over Budget? Bundling Smart Home Jawabannya! Tekno
Tekno
Senin, 18 November 2024 | 15:45 WIB

Mau Pasang Smart Home Tapi Khawatir Over Budget? Bundling Smart Home Jawabannya!

Jakarta, katakabar.com - Apakah kamu sudah mulai tertarik dengan teknologi smart home, tapi merasa khawatir tentang biaya yang bisa membengkak? Jangan khawatir, ada solusi hemat yang bisa membuat rumahmu lebih pintar, aman, dan nyaman tanpa harus menguras kantong! Jawabannya adalah bundling smart home. Bagi kamu yang baru memulai perjalanan menuju rumah pintar, evomab Smart Home Starter Bundling Package bisa menjadi pilihan cerdas. Dengan harga terjangkau, kamu bisa mendapatkan berbagai perangkat pintar yang akan membuat hidupmu lebih praktis dan rumahmu lebih aman. Yuk, simak lebih lanjut tentang bundling smart home ini!

Pembalut Malam, Solusi Tidur Nyenyak Tanpa Khawatir Bocor Lifestyle
Lifestyle
Sabtu, 21 September 2024 | 10:58 WIB

Pembalut Malam, Solusi Tidur Nyenyak Tanpa Khawatir Bocor

Jakarta, katakabar.com - Apakah menstruasi sering mengganggu tidur malam? Gunakan pembalut malam untuk mencegah kebocoran selama tidur. Dirancang khusus untuk perlindungan di malam hari, pembalut malam dapat memastikan Anda tetap nyaman dan tidur nyenyak tanpa khawatir kebocoran. Apa itu Pembalut Malam? Pembalut malam adalah jenis pembalut yang dibuat khusus untuk mencegah kebocoran saat tidur di malam hari, terutama saat aliran menstruasi sedang deras. Pembalut ini dirancang untuk menampung lebih banyak darah menstruasi sehingga Anda bisa tidur nyenyak tanpa gangguan. Pembalut Malam tanpa Sayap Pembalut malam tanpa sayap mirip dengan pembalut biasa, tapi tidak dilengkapi dengan perekat tambahan di sisi kanan dan kiri. Cukup tempelkan bagian bawah pembalut ke celana dalam.

Soal DBH Sawit, Petani Kaltim Was-was Tak Sampai Pada Kepentingan Petani Nasional
Nasional
Sabtu, 11 November 2023 | 17:56 WIB

Soal DBH Sawit, Petani Kaltim Was-was Tak Sampai Pada Kepentingan Petani

Kaltim, katakabar.com -Petani Kalimantan Timur saat ini tengah dirundung rasa khawatir mengenai pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit. Soalnya, petani takut dana tidak sampai kepada kepentingan petani. Padahal, dana berasal dari perkebunan kelapa sawit. Kekhawatiran ini disampaikan Sekretaris APKASINDO Kaltim, Daru Widiyatmoko, dilansir dari laman saat elaeis.co, Sabtu (11/11). Menurutnya, sebelumnya pihak BPJS di provinsinya itu telah menggelar rapat yang berkaitan dengan jaminan sosial petani sawit melalui DBH kelapa sawit. Tapi, hasil rapat itu petani merasa Pemprov Kalimantan Timur belum menganggarkan atau memposisikan khusus untuk pekerja kelapa sawit. Baik itu mandiri atau perusahaan hingga tahun 2024. "Kita berharap DBH Sawit Kalimantan Timur tahun 2024 dapat dialokasikan ke Petani kelapa Sawit di wilayah Kalimantan Timur," ujarnya. Untuk itu, kata Daru, APKASINDO harus mengambil peran aktif dalam hal ini, karna dari hasil diskusi untuk DBH kelapa sawit Pemprov kaltim belum menganggarkan khusus untuk petani kelapa sawit itu. Seharusnya DBH tersebut, ucap Daru, disalurkan kembali ke sektor perkebunan kelapa sawit, agar petani kelapa sawit ikut menikmati DBH kelapa sawit. "Dana ini berasal dari petani setidaknya kembali disalurkan kepada petani. Misalnya untuk pengurusan ISPO, Subsidi pupuk serta bibit kelapa sawit untuk petani swadaya," jelasnya. Selain itu, Daru menyebut dana dapat disalurkan lewat pendirian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) khusus untuk petani swadaya. Pabrik Kelapa Sawit (PKS( khusus petani sangat ditunggu-tunggu petani kelapa sawit swadaya. "Bila terealisasi petani sangat terbantu dengan PKS petani. Salah satunya harga stabil dan terjamin," terangnya. Diketahui, DBH Kalimantan Timur rencananya dibagi untuk 11 wilayah, di mana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur dapat Rp43 miliar. Lalu, Balikpapan menerima sebesar Rp6,9 miliar, Kota Samarinda sebesar Rp11,8 miliar dan Kota Bontang sebesar Rp7 miliar. Terus, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menerima alokasi sebesar Rp19,7 miliar, Kutai Timur (Kutim) sebesar Rp37,4 miliar, Berau sebesar Rp20,5 miliar, Paser sebesar Rp20,3 miliar, Kabupaten Penajam Paser Utara mendapatkan pembagian sebesar Rp11,6 miliar, Kutai Barat sebesar Rp17,8 miliar dan Mahakam Ulu (Mahulu) sebesar Rp8,7 miliar.

OJK Bengkulu Khawatir Masih Banyak Petani Sawit Simpan Uang Pola 'Jadul' Sawit
Sawit
Kamis, 28 September 2023 | 22:59 WIB

OJK Bengkulu Khawatir Masih Banyak Petani Sawit Simpan Uang Pola 'Jadul'

Bengkulu, katakabar.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu khawatir masih banyak petani sawit simpan uang cara jadul (zaman dulu), yakni di rumah. Sementara, layanan perbankan sudah banyak untuk simpan uang hasil penjualan panen kelapa sawit di Provinsi Bengkulu. Itu tadi, masih banyak petani enggan memanfaatkan layanan perbankan. Perwakilan OJK Provinsi Bengkulu, Herwan Achyar menceritakan, prevalensi petani kelapa sawit yang menabung di rumah terbilang masih sangat tinggi di Bengkulu. Di Kabupaten Seluma, ada seorang petani kelapa sawit terpaksa merasakan pahitnya kehilangan uang hingga lebih dari Rp1 miliar belum lama ini. Petani kelapa sawit itu kehilangan lantaran praktik simpan uang di rumah. "Andai menabung di bank, uang aman. Bisa jadi tidak ada insiden uang hilang atau dicuri orang," ujarnya dilansir dari laman elaeis.co, pada Kamis (28/9). Untuk itu, tegas Herwan, penting menabung di bank sebagai solusi untuk melindungi dan mengamankan simpanan para petani kelapa sawit karena sudah dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Artinya, kalau terjadi sesuatu pada bank, simpanan nasabah tetap terlindungi hingga batas tertentu. "Kalau menabung di rumah tidak ada lembaga yang menjamin sewaktu-waktu uang hilang. Sedang di bank, simpanan aman ada LPS," jelasnya. Pengalaman pahit para petani kelap sawit di Kabupaten Seluma mesti menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. OJK Bengkulu berupaya untuk memberikan edukasi kepada para petani kelapa sawit mengenai manfaat menabung di bank dan konsekuensi negatif yang bisa terjadi bila uang disimpan di rumah. Tujuannya adalah untuk melindungi keamanan finansial mereka dan mencegah kasus-kasus serupa terulang di masa depan. "Kami terus memberikan edukasi kepada para petani kelapa sawit mengenai manfaat menabung di bank dan konsekuensi negatif yang bisa terjadi kalau uang disimpan di rumah," ulasnya Sebagai lembaga pengawas sektor keuangan, OJK Provinsi Bengkulu berkomitmen untuk bekerja sama dengan bank-bank lokal guna memberikan layanan perbankan yang lebih mudah diakses petani sawit. Dengan upaya tersebut, harapnya, lebih banyak petani kelap sawit memilih untuk menabung di bank, guna meningkatkan keamanan dan stabilitas keuangan. "Masalahnya, tantangan merubah perilaku keuangan petani kelapa sawit di Bengkulu tetap ada," bebernya. Untuk itu, upaya lebih lanjut dari pemerintah, OJK, dan pihak terkait untuk terus memberikan pemahaman dan insentif agar petani kelapa sawit lebih percaya diri menabung di bank, yakni guna menghindari risiko yang tidak perlu, dan melindungi finansial mereka di masa depan, tandasnya.