Jokowi

Sorotan terbaru dari Tag # Jokowi

'Kemruyuk' di Wisata Jokowi Opini
Opini
Sabtu, 05 April 2025 | 12:18 WIB

'Kemruyuk' di Wisata Jokowi

Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Ngumpul, ngopi, ngeteh, ngemi, ngemil. Sederhana sekali untuk bahagia. Sebab untuk bahagia gak perlu negara. Untuk sejahtera gak perlu pilkada. "Mangan kupat, ngombene kopi. Entek papat, mbayare lali". "Kuat dilakoni, ora kuat ditinggal ngopi. Sing ora penting pikir keri". Begitu guyonan ibuku, pagi ini usai lebaran beberapa hari. Di teras rumah, sambil "ngapal api". Sing penting "Kemruyuk!". Mangan ora mangan, ngumpul. Dalam konteks politik kiwari, agaknya kabinet kita juga "kemruyuk". Tak perlu dijelaskan dampaknya terhadap kondisi sosial politik, dan ekonomi. Riuh, gaduh, "noise". Ruang publik dibanjiri informasi setiap hari, tapi bangsa ini semakin tak mengerti apa seharusnya dimengerti. Tugas para pendengung, memang untuk berdengung seperti lebah. "Modal tahan dibuli, sedikit nurani, dorong komedi putar opini, dapat posisi". Siklus untuk mendapatkan relasi kuasa yang sederhana sekali. Pagi ini, saya ngopi di angkringan MJ, di pinggiran kota Solo. Tak lupa bawa buku. Bukunya adalah kumpulan sketsa karya Umar Kayam berjudul, "Mangan Ora Mangan Kumpul" terbitan Pustaka Grafiti Utama (1991). Tokoh pemeran Presiden Soekarno dalam film "Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI" ini dikenal sebagai budayawan yang mumpuni, dan sangat rendah hati. Buku yang oleh ibuku terwakili dengan kata "Kemruyuk" itu, bercerita tentang Pak Ageng, seorang Profesor Fakultas Sastra UGM. Saat itu konon Pak Ageng, ya Umar Kayam itu sendiri.

'Aku dan yang bukan Aku', 'Jokowi dan yang bukan Jokowi' Opini
Opini
Kamis, 02 Januari 2025 | 15:17 WIB

'Aku dan yang bukan Aku', 'Jokowi dan yang bukan Jokowi'

Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute katakabar.com - Politik sekarang seperti membaca Tempo, rasa tempe, lalu Aguan makan tempe di Tempo. Politik bukan lagi urusan ideologi, atau gagasan-gagasan besar bernas, tapi soal kecil proyek-proyek yang "ujung-ujungnya jualan, ujung-ujungnya duit". Politik tak lagi bahasa rumit dan pelik, konstruksi narasinya lumer, tak perlu estetik, cenderung koruptif. Efek dramatisnya dibangun dari narasi itu. Paradoks, dan dibumbui teka-teki. Realitasnya, tak koheren, tak nyambung, tak dihayati. Berlindung di bawah payung demokrasi, tapi lupa bahwa bangsa ini telah lebih dulu memiliki jati diri.

Presiden Terpilih Lanjutkan RAN-KSB Sawit Era Jokowi, Ini Kata Dirut Riset Core Sawit
Sawit
Minggu, 31 Maret 2024 | 16:07 WIB

Presiden Terpilih Lanjutkan RAN-KSB Sawit Era Jokowi, Ini Kata Dirut Riset Core

Jakarta, katakabar.com - Presiden terpilih di Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024, Prabowo Subianto bakal melanjutkan program pemerintahan era Presiden RI, Joko Widodo, yakni salah satunya telah setujui keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB). Diketahui, Indonesia menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan total produksi lebih dari 56 juta ton dan ekspor mencapai 26,33 juta ton. Ini bakal menjadi salah satu komoditas strategis bagi pemerintah guna meningkatkan ekonomi nasional. Menariknya, Indonesia mencatatkan nilai ekspor kelapa sawit dan turunannya di tahun 2023 mencapai USD 28,45 miliar atau 11,6 persen terhadap total ekspor nonmigas dan menyerap lebih dari 16 juta orang tenaga kerja. Menanggapi keputusan bersama itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, menyatakan keputusan Prabowo Subianto untuk melanjutkan RAN-KSB ini adalah langkah tepat, setelah pemerintah menetapkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2019 tentang RAN-KSB Tahun 2019-2024. Inpres tersebut memberikan mandat kepada 14 kementerian atau lembaga, 26 pemerintah provinsi sentra penghasil sawit, serta 217 pemerintah kabupaten sentra penghasil kelapa sawit untuk melaksanakan program RAN-KSB sebagai peta jalan untuk perbaikan tata kelola kelapa sawit berkelanjutan secara menyeluruh. “RAN KSB adalah inisiatif pemerintah untuk memperbaiki tata kelola pengembangan industri sawit,” ujar Piter Abdullah di ujung selulernya, pada Sabtu, dilansir dari laman jawapos.com, pada Ahad (31/3). Kata Piter, Indonesia saat ini menjadi negara dengan produsen sawit terbesar di dunia dan hal ini patut mendapat perhatian serius dari pemerintahan, selanjutnya untuk meningkatkan ekonomi nasional, termasuk menjalankan inpres yang terdiri dari 5 komponen, 28 program, 92 kegiatan, dan 118 keluaran. “Sawit adalah produk andalan utama Indonesia. Perbaikan tata kelola bakal meningkatkan peran industri sawit dalam perekonomian Indonesia,” jelasnya. Ada lima komponen RAN-KSB sebagaimana Inpres Nomor 6 Tahun 2019 yakni penguatan data, penguatan koordinasi dan infrastruktur, peningkatan kapasitas dan kapabilitas pekebun, pengelolaan dan pemantauan lingkungan, tata kelola perkebunan dan penanganan sengketa, dan dukungan percepatan pelaksanaan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan peningkatan akses pasar produk kelapa sawit. Lewat kebijakan-kebijakan ini, Piter optimis betul pemerintahan baru nanti mampu mengelola kekayaan sawit Indonesia dengan baik dan bisa mendatangkan keuntungan besar bagi negara, dan hal tersebut menjadi harapan semua pihak. “Sudah tentu harapannya demikian meningkatkan ekonomi nasional,” ucapnya. Piter pun memastikan aturan terkait dengan RAN-KSB ini diharapkan menjadi pagar atau pengikat bagi para pengambil kebijakan untuk tidak semena-mena dalam mengeluarkan kebijakan terkait dengan pengelolaan kelapa sawit di Indonesia. Meski, para oknum pejabat pernah terlibat dalam masalah pengelolaan kelapa sawit. “Pelanggaran selalu ada. Berbagai aturan hukum sudah dibuat tapi pelanggaran tetap saja akan selalu ada. Tetapi itu bukan berarti aturan tidak dibutuhkan. Perlu dilakukan bagaimana meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum,” sebutnya. Pemerintahan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) sepakat melanjutkan Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN-KSB) ke pemerintahan baru 2024-2029. Berdasarkan pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemerintahan baru dimenangkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. "Arahan Bapak Presiden bahwa RAN ini dilanjutkan ke 2024-2029," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat Rapat Koordinasi Nasional tentang RAN-KSB di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, pada Kamis (28/3) lalu. Indonesia negara produsen sawit terbesar di dunia dengan total produksi lebih dari 56 juta ton dan ekspor mencapai 26,33 juta ton. Kelapa sawit telah menjadi salah satu komoditas strategis penopang perekonomian nasional. “Pemerintah terus mendorong mandatori biodiesel yang saat ini sudah mencapai B35 dan sudah diujicobakan untuk B40. Realisasi penyerapan biodiesel domestik tahun 2023 mencapai 12,2 juta kilo liter dan tentu ini sangat mempengaruhi untuk menyerap penggunaan CPO di dalam negeri," beber Airlangga.

Takdir Indonesia dan Jokowi Opini
Opini
Rabu, 03 Januari 2024 | 12:28 WIB

Takdir Indonesia dan Jokowi

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Jokowi memang fenomenon. Produk demokrasi Indonesia yang (tak) terkendali. Di periode pertama pemerintahannya ia dipuja-puji. Kini menjelang akhir periode kedua kepemimpinannya 2019-2024 ia dibenci, dicaci maki, bahkan oleh para pemuja-pemujinya sendiri. Ia dituduh berkhianat, membangun dinasti dan mencederai demokrasi. Ia matador krempeng yang membuat ketaton bu banteng. Cawe-cawe, bukan gombal Wewe! Potongan-potongan cover majalah Tempo Jokowinners dibuang di keranjang. GM meneteskan airmata, kecewa. Jokowi tak bisa dimengerti. Fotonya di ibukota bersanding dengan Kaesang, dimana-mana. Isu pemakzulan, cuma halu. Politik Dendam Indonesia Pasaribu (Masinton). Meski BEM UI sebut Jokowi, The King of Lip Service. Meski TIME menulis IKN sebagai a Darker Legacy Jokowi. Ia tak bergeming. IKN harus diamankan. Pemerintahan harus tetap berjalan. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Soal nasib para relawannya. Relawan Jokowi, bukan relawan Megawati. Seperti iklan kursi prioritas di KAI, Mohon kesadarannya untuk memberikan tempat duduk kepada relawan yang lebih membutuhkan (Please be kind to give the seat for other volunteers who need it most). Tentang petugas partai, sumpah tegak lurus, ojo pedhot oyote, hanya jadi iklan tersisa. Jokowi masih (terlalu) kuat. Ia bukan hanya Petruk Dadi Ratu. Ia sejatinya Ratu yang pura-pura jadi Petruk. Petruk yang lihai, hingga 3 capres bakal penggantinya tak kuasa menolak ajakan makan siang bersama di Istana. Makan siang gratis yang dibiayai uang negara. Petruk yang perkasa, hingga para ketua partai tersandera, 'ngeri-ngeri sedap' jika harus jadi tersangka. Petruk yang baik hati, hingga dua menterinya dibiarkan bebas berkontestasi (Menhan dan Menkopolhukam). Ia yang membuat ratusan juta rakyat terbelalak matanya, lahir kembalinya poros Indonesia-Cina. Bahaya laten yang ditakutkan bangsa, justru dijawab dengan datangnya jutaan TKA Cina ke Indonesia. Siapa yang mau audit, prahara dana covid. Jika yang akan memberi kesaksian (telah) tiada. Tak soal makin menggunungnya negara ini punya utang, ia pun tenang-tenang. Di kantongnya ada 11.000 Triliun. Masa jabatannya berakhir pada 20 Oktober 2024 mendatang. Keperkasaannya diuji situasi. Menebak-nebak peta buta, siapa yang punya password kudeta. Pilpres 2024, mengingatkan angka 14 bagi Indonesia, angka apa, takdir siapa. Masih ingat Peristiwa Malari, Malapetaka Limabelas Januari?