Meureudu, katakabar.com - Selamat tinggal tanaman kakao, petani terpaksa beralih ke tanaman kelapa sawit bisa jadi lebih menjanjikan secara ekonomi.
Pantas tanaman kakao menurun drastis beberapa tahun belakangan ini di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, rupanya itu penyebabnya.
Memang, masi ada petani kakao yang bertahan di Gampong Reuleuet, Kecamatan Ulim. Tapi sebagian besar petani kakao berih ke tanaman keras lainnya, itu tadi salah satunya lebih memilih tanaman kelapa sawit.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pidie Jaya, Abubakar bercerita, paling menonjol jadi penyebab petani tinggalkan tanaman kakao ada dua, yakni umur tanaman sudah tua dan sangat sulit melawan serangan hama.
"Tupai hama utama paling sering serang tanaman kakao saat mulai berbuah. Tidak cuma itu, monyet dan kelelawar sama saja menghantui para petani," ujarnya dilansir dari lama elaeis.co, pada Selasa (25/7).
Kata Abubakar, bila tanaman kakao perlahan habis lumrah di Kecamatan Panteraja. Boleh jadi kecamatan tetangga, seperti Bandarbaru dan Trienggadeng alami nasib sama. Padahal, kakao sepuluh tahun silam cukup menjanjikan.
Kabid Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Pidie Jaya, Ir Ratna Mutia menuturkan, luasan tanaman kakao yang belum menghasilkan mencapai 4.665 hektar saat ini. Sedang tanaman yang sudah menghasilkan seluas 6.909 hektar dan tanaman kakao yang rusak mencapai 3.640 hektar.
"Di mana produktivitas rata-rata 800 kilogram per hektar," rincinya singkat.
Ketua Forum Kakao Aceh, Ir Teuku Iskandar mengaminkan tanaman kakao luas perlahan berkurang di Pidie Jaya.
Ini disebabkan, tanaman kakao sudah tua, dan kurang produktif petani pun terpaksa menebangnya.
Sisi lain, perawatan tanaman kakao sangat kurang lantaran ekonomi atau terkendala modal disebabkan kemiskinan, jelasnya.
Sayonara Kakao, Petani Beralih ke Tanaman Kelapa Sawit di Pidie Jaya
Diskusi pembaca untuk berita ini