Binjai, katakabar.com - RSUD Djoelham Binjai kembali jadi sorotan publik. Dua pasien seorang lansia dan bayi meninggal dunia dalam waktu berdekatan, diduga akibat kelalaian serius dalam pelayanan medis. Ombudsman Sumatera Utara turun tangan dan menemukan adanya maladministrasi berat di rumah sakit milik Pemko Binjai itu.
Kasus pertama menimpa R br Ketaren (75), yang meninggal saat menjalani cuci darah. Alarm mesin menunjukkan peringatan "no water", namun tak ada penanganan cepat. Keluarga korban melaporkan kejadian ini ke Polda Sumut dan DPRD Binjai.
Sementara kasus kedua dialami bayi MAP (11 bulan) yang meninggal dunia karena terlalu lama menunggu dokter spesialis anak. Sang bayi bahkan sempat bermalam tanpa penanganan medis hingga akhirnya wafat keesokan siangnya.
Kepala Ombudsman Sumut, Herdensi, mengungkap manajemen RSUD lalai memastikan pasokan air untuk mesin cuci darah dan abai dalam menyediakan fasilitas dasar, seperti sabun di wastafel, AC, hingga kesiapan tenaga medis. “Mesinnya bagus, tapi airnya mati. Ini bentuk kelalaian,” tegasnya.
Hasil investigasi sudah disampaikan ke Wali Kota Binjai disertai saran korektif. Namun hingga kini, Direktur RSUD dr Romy Ananda bungkam, tak memberi tanggapan atas temuan tersebut.
Wakil Wali Kota Binjai juga sudah turun langsung ke lokasi setelah pelayanan rumah sakit menjadi perbincangan luas. Namun publik mendesak tindakan tegas agar nyawa tak lagi jadi taruhan akibat sistem yang abai.
RSUD Djoelham Binjai Disorot Dua Pasien Meninggal, Ombudsman Temukan Maladministrasi Fatal
Diskusi pembaca untuk berita ini