Oleh Agung Marsudi
Solo, katakabar.com - Siapa yang mau diduakan. Siapa yang mau dimadu. Meski partai politik tak berjenis kelamin perempuan, ia pun tak mau dimadu, tak mau duakan. Dalam konteks koalisi, Nasdem apalagi, tak mau dianaktirikan.
Semua "Ketua-ketua" diundang ke istana, kecuali Bang Surya. Buntutnya ada "slilit" di gigi geraham koalisi, sehingga tak bisa menggigit lagi.
Meski kabar-kabari menyebut, Jokowi membantah hubungannya dengan Surya Paloh di titik nadir, tapi air sudah mendidih. Kopi siap saji, si brownies Anies duluan dideklarasikan.
Katanya, beda itu biasa di alam demokrasi. Tapi sakit hatinya, dibawa ke istana. Hasilnya, meski Ganjar kemudian diumumkan oleh Ibu, tapi burung-burung "Musra" gagal menyuarakan secara langsung jagonya di Istora. Jokowi hanya banyak menyebut kata "rakyat" dalam pidatonya yang menyala.
Rakyat relawannya.
Kabarnya, arah dukungan para relawan Jokowi mengerucut, tapi masih kecut. Meminjam istilahnya PAK NDUL, core of the core, ahlinya ahli. Hasilnya hasil Musra, "Tunggu Komando Jokowi".
Jadi terbayang, Gibran ada peluang.
Rakyat Relawan Tak Rela
Diskusi pembaca untuk berita ini