Jakarta, katakabar.com - Program Tanam Padi Perkebunan Nusantara (Tampan) yang diinisiasi Sub Holding Perkebunan PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Provinsi Riau, menunjukkan perkembangan memuaskan, di penghujung 2024 lalu.
Bersama Riset Perkebunan Nusantara, Institut Pertanian Bogor (IPB), serta didukung penuh Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian BUMN, hamparan padi di tengah tanaman sawit muda itu tumbuh subur dan diproyeksikan segera panen.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa mengatakan, hingga kini, tim pengembangan budidaya padi gogo di sela-sela areal hamparan sawit muda terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dalam pilot project tersebut. Hasilnya, tanaman padi gogo yang identik di lahan kering itu tumbuh subur dan berpotensi memproduksi gabah secara optimal.
"Alhamdulillah, teman-teman di lapangan terus memantau perkembangan tanaman padi gogo di sela-sela sawit muda masyarakat di Kabupaten Siak. Hasilnya sangat baik sekali dan sesuai dengan proyeksi kita semua. Insya Allah dalam waktu dekat akan segera panen," jelasnya lewat keterangan tertulis, dilansir dari laman EMG, Rabu (22/1).
Kick Off Program 'Tampan' bagian kontribusi nyata perusahaan mendukung Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto ini dilaksanakan di lahan petani peserta program peremajaan sawit rakyat (PSR) PTPN IV PalmCo di akhir November 2024.
Dari luas 60 hektar sawit milik petani yang tergabung dalam Koperasi Produsen Karya Maju tersebut, seluas 20 hektar areal sela berhasil dimaksimalkan menjadi hamparan padi melalui skema intercropping atau tumpang sari.
Menurut Jatmiko, berdasarkan pertumbuhan padi yang sangat baik ini, diproyeksi 50 ton gabah kering segera dipanen pada April mendatang. Dengan begitu, petani memperoleh tambahan pendapatan mencapai Rp250 juta untuk satu siklus panen, atau setengah miliar rupiah untuk satu tahun menjelang sawit mereka mulai menghasilkan tandan buah segar (TBS).
"Insya Allah, rekan-rekan petani, selain fokus utama kita untuk membantu penguatan ketahanan pangan, juga akan mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp8 juta per kepala keluarga untuk satu kali siklus panen," bebernya.
Dijabarkan Jatmiko, program yang berhasil membuat petani sawit kian tersenyum bangga karena dilibatkan menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional tersebut akan terus diperluas.
Data yang dirilis Kementerian Pertanian menunjukkan, ulas Jatmiko, total perkebunan sawit rakyat di Indonesia mencapai 6,94 juta hektar di seluruh Indonesia. Di mana sebesar 40 persen diantaranya atau sekira 2,8 juta hektar telah memasuki fase tanaman tua dan harus segera diremajakan.
"Dari 2,8 juta sawit yang memasuki usia renta di Indonesia, terdapat potensi PSR nasional seluas 400 ribu hektar per tahun. Dari angka tersebut, PTPN diharapkan dapat berkontribusi sebesar 40 ribu hektar per tahun. Artinya, terdapat potensi program intercropping seluas 206 ribu hektare selama lima tahun mendatang," terangnya.
Jika luasan areal 'Tampan' selama lima tahun mendatang dapat terwujudkan, tutur Jatmiko, petani PSR yang menanam padi intercropping sawit berpeluang menghasilkan sedikitnya setengah juta ton gabah atau 258.491 ton padi untuk masyarakat Indonesia.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Irwan Perangin-Angin aminkan Jatmiko. Program Tampan ini, timpalnya, memberikan pendapatan produktif kepada Petani.
"Sebelumnya lahan PSR pada masa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) 1 dan 2 yang berstatus idle, dapat dimanfaatkan guna menanam padi gogo selama dua tahun pertama. Ini menjadi peluang besar untuk mendukung swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," ucap pria berkacamata itu.
Kata Irwan, PTPN IV PalmCo sangat fokus khittahnya untuk terus tumbuh dan berkembang bersama petani. Kolaborasi dengan banyak pihak mulai dari pemerintah, BPDPKS, dan ekosistem MAKMUR BUMN, PTPN mendorong agar petani dapat memperoleh berbagai dukungan dalam memperkuat para petani sawit Indonesia.
Untuk itu, ia pun mengimbau kepada petani yang sedang dilema saat sawitnya memasuki usia renta untuk menjadi bagian dari gerakan akselerasi PSR dan penguatan ketahanan pangan.
"Kemitraan ini benar-benar kita bangun untuk memberikan rekan-rekan petani terus bertumbuh. Bermitra, berarti kami akan membantu semaksimal mungkin. Saat telah telah menjalin kemitraan, maka petani dapat segera mengurus CPCL untuk mendapatkan bantuan benih dan pestisida dari Kementerian Pertanian. Hal ini mempercepat proses produksi dan meningkatkan hasil panen," harapnya.
Seorang petani plasma PTPN IV PalmCo, Heri Suyono, pemilik areal PSR seluas 2 hektar mulai merasakan manfaat kemitraan tersebut. Diakuinya beruntung KUD tempat ia bernaung menjadi bagian dari pilot project penting itu.
"Pada masa transisi peremajaan sawit, kami membutuhkan pendapatan. Program ini sangat baik dan penting. Dengan adanya program Tampan, lahan yang sebelumnya tidak produktif kini dapat menghasilkan padi gogo. Saya sangat bersyukur karena insya Allah pendapatan dari hasil panen padi ini akan membantu memenuhi kebutuhan keluarga," sebutnya.
Program Tampan Dongkrak Pendapatan Petani Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini