Banten, katakabar.com - Hasil kebun yang melimpah ternyata tidak selalu memberikan keuntungan bagi petani. Lihat, yang terjadi di Provinsi Banten, hasil kebun kelapa sawit yang meningkat justru belum memberikan keuntungannya bagi petani.

Ketua Aspek-PIR Banten, M Nur mengatakan, kebun kelapa sawit di Banten beberapa pekan belakangan produksinya meningkat. Tak main-main, peningkatan yang terjadi bisa sampai 200 persen.

"Siklus ini memang terjadi setiap tahunnya, biasanya kenaikan terjadi pada musim penghujan. Saat ini di Banten mulai turun hujan sehingga tanaman kelapa sawit berbuah lebih banyak ketimbang di musim kemarau," ujarnya dilansir dari laman EMG, Selasa (24/12).

Sayangnya, tingginya produksi tadi tidak seimbang dengan penghasilan yang diperoleh petani. Soalnya, banyak TBS terpaksa dijual dengan harga yang tidak maksimal.

Salah satu penyebabnya, yakni di wilayah Banten hanya sedikit pabrik kelapa sawit atau PKS yang beroperasi. Persisnya hanya dua PKS, yakni milik PTPN di Lebak dan PKS milik PT GAL di Pandeglang.

"Jadi, TBS tak tertampung oleh dua PKS itu, belum lagi mereka mengutamakan hasil kebun sendiri. Alhasil, terjadi antrean panjang bahkan sampai berhari-hari. Kalau sudah begitu, maka kualitas sawit tidak lagi bagus. Kualitas turun, harga tentu akan semakin rendah," paparnya.

Menurut Nur, dua bulan belakangan ini petani harus memutar otak agar hasil kebunnya terjual dengan harga bagus. Sehingga harus mengirim hasil kebunnya ke wilayah Provinsi Lampung. Tentu saja petani harus menanggung ongkos kirimnya.

"Di Banten harga TBS hanya berkisar Rp2.200 per kilogram. Paling tinggi hanya menyentuh angka Rp2.400 per kilogram. Kalau di Lampung bisa lebih tinggi," ceritanya.

Kita ingin kondisi ini menjadi perhatian pemerintah, harap Nur, k depan ada penambahan PKS untuk menampung lonjakan TBS yang dihasilkan dari panen PSR yang sudah mulai produksi.