Penulis: Liliana Nindariati*)
"Saya ditipu oleh keluarga! Mereka tidak bilang bahwa saya akan melakukan rehabilitasi!"
"Saya bisa berhenti sendiri! Kenapa keluarga tidak mengerti?"
Kalimat ini seringkali diungkapkan pasien terutama pada masa awal rehabilitasi. Penyangkalan, kemarahan, bahkan rasa dikhianati seringkali muncul karena mereka belum memahami bahwa dirinya sedang berhadapan dengan adiksi dan sedang membutuhkan pertolongan.
"Salah satu ciri khas kecanduan adalah penurunan insight, yakni ketidakmampuan menyadari bahwa dirinya butuh pertolongan. Di sinilah keluarga berperan penting untuk tetap hadir dan ikut mendampingi,” ujar dr. Ria Lestari Rahayu selaku Kepala Instalasi Napza di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.
Penjelasan serupa disampaikan oleh dr. Ihsan Fadhillah, Sp.KJ selaku dokter penanggung jawab pasien di rumah sakit yang sama.
“Narkoba ini menyerang sistem otak manusia. Narkoba mampu melemahkan kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan tidak mampu mengendalikan diri. Banyak pasien merasa cukup dengan niat berhenti, padahal yang butuh diperbaiki bukan hanya perilaku, tapi juga sistem otaknya. Tanpa perawatan yang komprehensif, termasuk rehabilitasi, risiko kambuh akan tetap tinggi,” ujarnya.
Zat adiktif bekerja pada sistem otak yang mengatur motivasi, kontrol diri, dan pengambilan keputusan. Inilah mengapa banyak penyalahguna merasa yakin bisa berhenti, tetapi kembali menggunakan dalam waktu singkat ketika menghadapi tekanan emosional atau sosial (Goldstein & Volkow, 2011; Verdejo-Garcia et al., 2018).
Persoalan narkoba menjadi urgensi bagi masyarakat seperti yang terlihat dari Survei Nasional 2023 yang dilakukan oleh BRIN dan BNN menunjukkan bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 1,73% dari total populasi usia 15–64 tahun, atau sekitar 3,3 juta jiwa (Badan Riset dan Inovasi Nasional, 2025).
Angka ini mencerminkan bahwa adiksi bukan masalah individu semata, tetapi tantangan sosial yang memerlukan penanganan sistemik dan penuh empati.
Di sisi lain, masih banyak orang yang menganggap rehabilitasi adalah tempat hukuman, bukan sebagai tempat pemulihan.
Menjalani pemulihan masih dianggap tabu di kalangan masyarakat. Ketakutan akan stigma dan dijauhi oleh masyarakat menjadi alasan untuk menolak melakukan rehabilitasi.
Pandangan ini diperkuat oleh penelitian Yang et al. (2017) yang menunjukkan bahwa stigma sosial terhadap penyalahguna narkoba dapat menghambat keinginan mereka untuk mencari pertolongan secara formal. Semakin kuat stigma yang diterima, semakin rendah kemungkinan seseorang untuk menerima perawatan rehabilitasi (Yang et al., 2017).
Padahal, yang mereka butuhkan bukan penghakiman, melainkan dukungan dan komunikasi yang empatik untuk memulihkan diri.
Dalam proses pemulihan, komunikasi yang harus dibangun adalah komunikasi empatik. Komunikasi empatik adalah proses berinteraksi yang menekankan pemahaman dan perhatian penuh terhadap perasaan serta pandangan orang lain tanpa sikap menghakimi.
Dalam komunikasi ini, seseorang tidak hanya mendengarkan kata-kata, tetapi juga berusaha memahami makna dan emosi yang tersirat di balik ucapan melalui mata, telinga, dan hati. Tujuannya adalah untuk benar-benar merasakan dan memahami pengalaman orang lain secara utuh.
Pendekatan ini membantu mengurangi kesalahpahaman, menghindari sikap saling menyalahkan, dan mencegah konflik, sehingga membangun hubungan sosial yang lebih harmonis dan efektif.
Selain itu, komunikasi empatik juga meningkatkan kemampuan mendengarkan secara efektif, sehingga pesan dapat dipahami dengan baik oleh semua pihak yang terlibat. (Arsyah et al., 2025; Masturi, 2010).
Dalam proses rehabilitasi, tenaga kesehatan dan konselor adiksi juga memegang peran penting dalam membangun hubungan empatik dengan pasien.
Bukan hanya memberi instruksi medis, mereka juga harus menjadi pendengar yang hangat, yang mampu memahami latar belakang pasien tanpa menghakimi. Pendekatan ini dapat mempercepat penerimaan pasien terhadap kondisi dirinya dan membangun motivasi dalam diri untuk pulih.
"Komunikasi yang kami bangun bertujuan untuk membantu pasien mengurai pikiran kacau mereka. Ini bukan soal memberi nasihat, tapi membangun kepercayaan agar pasien bisa bicara jujur dan memiliki motivasi untuk mulai berubah," ujar Ellyzabet Sihol Marito selaku Koordinator Rehabilitasi di Instalasi Napza di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.
Penjelasan serupa dipaparkan oleh Yulia Wardani, M.Psi selaku Psikolog Klinis di rumah sakit yang sama. "Saya turut menyaksikan bagaimana pasien yang awalnya menolak menjalani rehabilitasi, perlahan mulai membuka diri saat mereka merasa benar-benar didengar. Empati memberi mereka harapan, bahwa mereka masih dihargai sebagai manusia, bukan sekedar dilabeli sebagai ‘pecandu’. Inilah titik awal dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. Mereka juga akan dibekali dengan kemampuan untuk menerima dan menghadapi kehidupan pasca menjalani rehabilitasi agar mampu beradaptasi dan membangun kepercayaan diri untuk terlibat kembali di masyarakat” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan pendekatan Motivational Interviewing, di mana empati bukan hanya sikap, tetapi metode strategis dalam membangun keterbukaan dan motivasi perubahan pada pasien dengan gangguan adiksi (Lord et al., 2015).
Komunikasi empatik bukan sekadar pendekatan yang ‘ramah’. Komunikasi empatik merupakan metode klinis untuk menciptakan ruang aman psikologis bagi pasien. Ketika seorang pasien merasa dipahami tanpa dihakimi, sistem pertahanan diri mereka mulai melemah. Mereka tidak lagi merasa harus berbohong atau menyangkal.
Komunikasi empatik membuka pintu bagi kejujuran dan keterbukaan, yang merupakan prasyarat utama bagi proses penyembuhan yang efektif.
Realitanya, tidak ada orang yang bercita-cita menjadi pecandu narkoba termasuk sang penyalahguna itu sendiri. Setiap orang memiliki hak untuk pulih. Rehabilitasi bukanlah sebuah hukuman, namun tempat untuk kembali menemukan diri yang telah lama menghilang.
Semua itu dimulai dari hal sederhana yaitu hadirnya komunikasi yang dipenuhi dengan empati agar mampu membuka jalan bagi harapan serta pemulihan.
Mari kita mulai dari diri sendiri, dengan mendengarkan tanpa menghakimi dan memahami tanpa menyalahkan. Karena sering kali, yang paling dibutuhkan bukanlah solusi instan, tetapi uluran empati yang tulus.
Referensi:
Jurnal
Masturi, A. (2010). MEMBANGUN RELASI SOSIAL MELALUI KOMUNIKASI EMPATIK (PERSPEKTIF PSIKOLOGI KOMUNIKASI).
Arsyah, M., Poernomo, A. M., & Ruhimat. (2025). Pengaruh Pendekatan Komunikasi Empatik dalam Bimbingan Konseling terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Siswa. SABER : Jurnal Teknik Informatika, Sains Dan Ilmu Komunikasi, 3(2), 190–197. https://doi.org/10.59841/saber.v3i2.2607
Goldstein, R. Z., & Volkow, N. D. (2011). Dysfunction of the prefrontal cortex in addiction: Neuroimaging findings and clinical implications. In Nature Reviews Neuroscience (Vol. 12, Issue 11, pp. 652–669). https://doi.org/10.1038/nrn3119
Lord, S. P., Sheng, E., Imel, Z. E., Baer, J., & Atkins, D. C. (2015). More Than Reflections: Empathy in Motivational Interviewing Includes Language Style Synchrony Between Therapist and Client. Behavior Therapy, 46(3), 296–303. https://doi.org/10.1016/j.beth.2014.11.002
Verdejo-Garcia, A., Chong, T. T. J., Stout, J. C., Yücel, M., & London, E. D. (2018). Stages of dysfunctional decision-making in addiction. In Pharmacology Biochemistry and Behavior (Vol. 164, pp. 99–105). Elsevier Inc. https://doi.org/10.1016/j.pbb.2017.02.003
Yang, L. H., Wong, L. Y., Grivel, M. M., & Hasin, D. S. (2017). Stigma and substance use disorders: An international phenomenon. In Current Opinion in Psychiatry (Vol. 30, Issue 5). https://doi.org/10.1097/YCO.0000000000000351
Buku
Miller, W. R., & Rollnick, S. (2013). Motivational interviewing: Helping people change (3rd ed.). Guilford Press.
Website
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2025, Mei 21). BRIN dan BNN ukur prevalensi penyalahgunaan narkoba 2025. https://www.brin.go.id/berita/brin-dan-bnn-ukur-prevalensi-penyalahgunaan-narkoba-2025
*)Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Riau
Kenali Otakmu, Pahami Adiksimu Rehabilitasi dan Jalan Menuju Pemulihan
Diskusi pembaca untuk berita ini