Medan, katakabar.com - Industri kelapa sawit dinilai telah mencapai titik jenuh di Sumatera Utara. Situasi dan kondisi atau Sikon ini tentu membuat daerah yang dipimpin Bobby Nasution sulit menarik investor baru, dan mesti mengandalkan kekuatan ekonomi sendiri.

Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin dilansir dari laman mistar.id, Ahad (26/10). Di Sumatera Utara, ujar Gunawan, industri saat ini mayoritas terfokus pada pengolahan sumber daya alam, seperti sawit, karet, kakao, dan kopi, dengan kelapa sawit sebagai primadona.

“Industri kelapa sawit saat ini sudah mengalami titik jenuh. Lantaran serapan produk minyak kelapa sawit stabil dan cenderung naik tipis belakangan ini,” ucap Gunawan, Jumat (24/10) lalu.

Kondisi ini terlihat dari produksi Crude Palm Oil (CPO) yang relatif tidak banyak berubah. Meski industri pengolahan utama tengah jenuh, Gunawan melihat adanya peluang investasi terbatas, yakni pada pengembangan biodiesel.

Ada peluang pengembangan biodiesel yang bisa ditawarkan ke investor asing karena domestic demand-nya cukup menjanjikan. Penerapan biodiesel untuk campuran BBM sangat potensial karena dibarengi dengan kebijakan politis pemerintah,” terangnya.

Ditegaskan Gunawan, bakal sulit menarik investasi baru di tengah kejenuhan industri. Ia mengutip pernyataan Menkeu RI, Purbaya yang menyebut investor datang untuk menikmati pertumbuhan, bukan menciptakan pertumbuhan.

Hal ini menandakan realisasi investasi di Sumut pada tahun ini dan tahun depan akan lebih banyak mengandalkan perusahaan yang sudah mapan atau pembiayaan dari perbankan.

“Untuk menggaet investor dengan bisnis baru saya pikir sulit terealisasi. Jadi, upaya Pak Bobby untuk menggenjot investasi tahun ini, dan tahun depan menghadapi tantangan serius. Ekonomi Sumut bakal lebih banyak mengandalkan belanja rumah tangga,” tandasnya.