Bekasi, katakabar.com - Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dr.-Ing. Evita H. Legowo, menekankan pentingnya peran kelapa sawit sebagai komoditas strategis harus dijaga keberlanjutannya.
"Penting peran kelapa sawit sebagai komoditas strategis harus dijaga keberlanjutannya," tegas Evita, saat Kuliah Umum mahasiswa baru Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek CWE), awal Oktober 2025 angkat tema“Sawit untuk Negeri: Investasi SDM Menuju Indonesia Emas 2045", dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Ahad (5/10).
Menurut Evita, meski dunia sempat terguncang oleh pandemi Covid 19, industri sawit tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional. Indonesia bahkan tercatat sebagai produsen biodiesel terbesar di dunia melalui program mandatori B40.
“Sawit adalah minyak nabati dengan produktivitas tertinggi. Bahkan Uni Eropa pun mengakui keunggulan sawit Indonesia,” jelasnya.
Tetapi, Evita mengingatkan masih banyak tantangan. Produktivitas kebun rakyat baru 3,5 ton CPO per hektare per tahun, padahal potensi optimalnya 6 hingga 8 ton. Isu tata kelola lahan, dan kampanye negatif internasional masih menghantui.
Untuk itu, terangnya, BPDP terus mendorong peremajaan sawit rakyat (PSR), hilirisasi produk, serta penyediaan benih unggul, pupuk, dan mekanisasi pertanian.
Pada konteks transisi energi, limbah sawit tengah dikaji untuk menghasilkan bioetanol.
“Krisis energi global tidak bisa hanya dijawab dengan fosil. Sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih,” ucapnya.
Evita menjabarkan, keberlanjutan sawit tidak hanya bergantung pada pohon dan pabrik, melainkan pada manusia yang mengelolanya. Dari 2016, BPDP telah menjalankan program beasiswa sawit bagi anak pekebun, ASN, hingga pengurus koperasi. Skema ini mencakup biaya kuliah, biaya hidup, buku, hingga praktik lapangan dan sertifikasi.
Hingga Agustus 2025, program tersebut telah melahirkan ribuan lulusan, yakni 3.200 lebih lulusan D1/D2, 3.345 lulusan D3, serta 2.727 lulusan D4/S1. Mereka kini tersebar di perusahaan perkebunan, koperasi, maupun kembali mengelola kebun keluarga.
“Kami ingin generasi sawit tidak hanya menjadi pekerja, tapi juga pemimpin, peneliti, bahkan pengusaha,” kata Evita.
Tahun ini, BPDP menargetkan 11 ribu penerima manfaat melalui beasiswa, pelatihan vokasi, dan program manajerial. Bidang studinya beragam, mulai dari pembibitan, teknik mesin, manajemen logistik, hingga teknologi informasi.
Selain pendidikan formal, ulas Evita, BPDP perluas pelatihan vokasi sesuai Keputusan Dirjen Perkebunan Nomor 40 Tahun 2025. Materinya meliputi teknis panen, pascapanen, standar ISPO, kewirausahaan, hingga kepemimpinan. Beberapa alumni bahkan telah mendirikan koperasi, mengakses dana PSR, hingga mengembangkan usaha pengolahan sawit skala kecil.
“Kalau tidak disiapkan sejak dini, kita akan tertinggal. Pendidikan vokasi harus menjawab skill-gap industri sawit yang makin modern,” tutur Evita.
BPDP Jaga Keberlanjutan Lewat SDM Sawit Unggul Menuju Indonesia Emas 2045
Diskusi pembaca untuk berita ini