Medan, katakabar.com - Zayna Syahputri, bocah sembilan tahun itu, datang ke RSU Madani Medan dengan demam tinggi.
Harapan keluarga sederhana: pertolongan. Tapi satu setengah jam kemudian, tubuh mungil itu terbujur kaku. Nyawanya tak tertolong. Dan hingga kini, tak ada penjelasan yang memuaskan dari rumah sakit.
Pamannya menahan amarah yang dibalut duka. “Kami bawa jam enam sore, tapi tidak segera ditangani. Zayna meninggal jam tujuh tiga puluh malam,” ucapnya. Suaranya pelan, tapi jelas menggambarkan kepedihan dan kekecewaan.
Tuduhan sedikit lambannya pelayanan medis yang disampaikan keluarga dibalas dengan ancaman oleh dr. Tommy Hendra, direktur RSU Madani. Ketika dikonfirmasi wartawan, suaranya meninggi, bukan menjelaskan.
Kalimat yang keluar: ancaman untuk menuntut balik. Tak lama setelahnya, sambungan diputus dan kontak wartawan diblokir.
Sikap ini mengundang reaksi keras dari DPRD Medan. H. Kasman, Ketua Komisi II, menyatakan kekecewaannya. “Kalau tanggapannya seperti itu, tentu kita sangat kecewa. Seharusnya bisa lebih bijak,” tegasnya.
Di tengah duka keluarga dan keresahan publik, pihak rumah sakit tetap menutup diri. Bahkan anggota DPRD yang dirujuk untuk dikonfirmasi, dr. Ade Taufiq, belum memberikan pernyataan apa pun.
Zayna sudah pergi. Tapi kepergiannya membuka luka dan pertanyaan: sampai kapan rumah sakit menjadi tempat yang menakutkan, bukan menyelamatkan? Dan sampai kapan suara rakyat harus dibungkam dengan arogansi?.
Bocah 9 Bulan Meninggal di RSU Madani, Direktur Marah Saat Dikonfirmasi
Diskusi pembaca untuk berita ini