Bengkulu, katakabar.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu rilis data penggunaan teknologi digital di kalangan petani kelapa sawit milenial. 

Dari total 96.639 petani kelap sawit milenial berumur 19 hingga 39 tahun di Bengkulu, baru 45.578 orang yang telah adopsi teknologi digital, sisanya sebanyak 51.061 orang lainnya masih belum terbiasa menggunakan teknologi digital.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal menjelaskan, masih cukup banyak petani kelapa sawit milenial yang belum menggunakan teknologi digital di Bengkulu. Itu mencerminkan tantangan dalam menggerakkan sektor pertanian menuju era digital. 

"Petani milenial yang sudah menggunakan teknologi digital baru mencapai 45.578 orang, sisanya sebanyak 51.061 orang masih tertinggal," kata Win, kemarin, dilansir dari laman elaeis.co. pada Kamis (14/12).

Kata Win, petani kelapa sawit milenial yang adaptif teknologi digital melibatkan penggunaan alat dan mesin pertanian modern (alsintan), pemanfaatan internet, telepon pintar, teknologi informasi, hingga penggunaan drone dan kecerdasan buatan. 

Tapi, sepertinya masih banyak yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan teknologi di kalangan petani muda Bengkulu.

"Masih banyak yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan teknologi di kalangan petani sawit muda Bengkulu," tutue Win.

Sebagai upaya meningkatkan literasi teknologi di kalangan petani sawit milenial, harap Win, pemerintah daerah setempat bersama dengan lembaga terkait harus meluncurkan program pelatihan. 

Dengan begitu, ucap Win, dapat membantu petani milenial memahami manfaat teknologi digital dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.

"Pemda harus meluncurkan program pelatihan ke petani milenial agar mereka bisa menggunakan teknologi digital," harap Win.

Masyarakat Bengkulu pun diharapkan turut serta dalam mendukung pemahaman teknologi di kalangan petani milenial. 

Untuk itu, pesan Win, perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan teknologi di sektor pertanian.

"Kami rasa perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan teknologi di sektor pertanian, tanpa itu mustahil adopsi teknologi berjalan dengan baik di Bengkulu," ulasnya.

Salah satu petani kelapa sawit milenial di Kota Bengkulu, Zainal Arif 34 tahun menimpali, saya sukses setelah mengadopsi teknologi digital. Bahkan dengan teknologi mampu meningkatkan hasil panen dan efesiensi waktu.

"Dengan teknologi, saya bisa meningkatkan hasil panen dan efisiensi waktu. Ini membuat pertanian lebih menarik dan berpotensi memberikan kontribusi lebih besar pada perekonomian daerah," terang Arif.

Seluruh petani sawit milenial di Bengkulu, harap Arif, mudah-mudahan bisa mengadopsi teknologi digital. Karena dengan teknologi ini mereka akan semakin mudah meraih kesuksesan.

"Harapannya, apa yang saya lakukan dapat menginspirasi rekan-rekan sesama petani milenial untuk lebih terbuka terhadap teknologi digital," sebutnya.