Volatilitas

Sorotan terbaru dari Tag # Volatilitas

Bittime Exclusive VIP Experience, Layanan Premium Investor di Tengah Volatilitas Geopolitik Internasional
Internasional
Minggu, 15 Maret 2026 | 08:10 WIB

Bittime Exclusive VIP Experience, Layanan Premium Investor di Tengah Volatilitas Geopolitik

Jakarta, katakabar.com - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, konflik regional, serta dinamika ekonomi yang semakin tidak menentu, investor diharap dapat memperkuat strategi pengelolaan portofolio mereka. Bertepatan dengan ini, Bittime menghadirkan Bittime Exclusive VIP Experience, layanan premium yang dirancang bagi investor dengan jumlah investasi yang lebih tinggi, sekaligus mendukung strategi diversifikasi aset digital di tengah volatilitas pasar global. Bagi investor dengan portofolio lebih besar, kebutuhan untuk mengelola risiko dan menjaga fleksibilitas likuiditas menjadi semakin penting. Kondisi geopolitik dan ekonomi global yang dinamis mendorong semakin banyak investor mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke berbagai kelas aset, termasuk aset digital seperti Bitcoin ($BTC) dan Tether ($USDT). Di mana, dalam beberapa tahun terakhir Bitcoin ($BTC) dan Tether ($USDT) mulai dipandangan sebagai alternatif aset diversifikasi dalam menghadapi ketidakpastian pasar. Mengingat ketahanan yang bergerak di kisaran $69.000-$70.000 di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik, hal ini memperkuat sinyal $BTC yang dipandang sebagai salah satu aset pelindung nilai atau “safe haven”. Melihat kondisi ini, Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Bittime Exclusive VIP Experience. Hadir dengan minimum transaksi yang lebih rendah mulai dari Rp1M, guna memperluas kesempatan bagi investor untuk menikmati berbagai layanan eksklusif tanpa minimum transaksi yang terlalu tinggi. Menurut Presiden Direktur Bittime, Ronny Prasetya, kondisi pasar global yang penuh dinamika seperti saat ini dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengelola portofolio mereka dengan pendekatan yang lebih adaptif. Dan program Bittime Exclusive VIP Experience ini dirancang untuk menjawab kebutuhan para investor di Indonesia. “Melalui Bittime Exclusive VIP Experience, Bittime berupaya menghadirkan layanan yang dapat mendukung investor dalam memperluas diversifikasi aset secara lebih efisien, dan dengan biaya transaksi yang relatif murah. Sehingga investor dapat dengan nyaman membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi.” jelas Ronny. Dalam komitmennya, Bittime berharap untuk dapat terus menghadirkan berbagai inovasi layanan yang relevan dengan dinamika pasar, serta kebutuhan investor di Indonesia, dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, kepatuhan terhadap regulasi, dan penguatan ekosistem aset keuangan digital di dalam negeri. Tetapi, tentu investor perlu memahami bahwa dinamika pasar memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap strategi portofolio masing-masing. Mengingat, kondisi volatilitas pasar yang dapat menciptakan peluang, sekaligus risiko lebih tinggi bagi para trader. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Sebab, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Prospek Emas Masih Positif Meski Dihadapkan Volatilitas Pasar Global Internasional
Internasional
Jumat, 06 Februari 2026 | 12:00 WIB

Prospek Emas Masih Positif Meski Dihadapkan Volatilitas Pasar Global

Jalarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan dinamika yang cukup signifikan dalam perdagangan terakhir, seiring pengaruh kuat dari faktor teknikal dan sentimen fundamental internasional. Di sesi perdagangan Amerika Utara hari Rabu, logam mulia ini sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Harga emas tercatat melemah lebih dari 1 persen setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga hari di area USD 5.091. Koreksi tersebut terjadi di tengah penguatan Dolar AS yang moderat serta kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian, sehingga mendorong XAU/USD bergerak turun dan bertahan di kisaran USD 4.901. Meski mengalami penurunan dalam jangka pendek, tekanan tersebut dinilai belum mengubah arah tren utama emas. Berdasarkan kajian teknikal yang dilakukan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam jalur bullish. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan sinyal dari indikator Moving Average, menunjukkan bahwa kecenderungan tren naik pada XAU/USD tetap terjaga. Koreksi harga yang terjadi lebih dipandang sebagai bagian dari fluktuasi jangka pendek yang wajar di tengah volatilitas pasar, bukan sebagai indikasi perubahan tren secara menyeluruh. Andy Nugraha menjelaskan selama harga emas mampu bertahan di atas level support penting, potensi penguatan lanjutan masih cukup terbuka. Untuk perdagangan hari ini, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa apabila sentimen bullish kembali menguat dan minat beli meningkat, maka harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area resistance di sekitar USD 5.142. Level tersebut dinilai sebagai titik teknikal krusial yang berpotensi menguji kekuatan pasar. Namun demikian, jika tekanan jual kembali mendominasi dan harga gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka koreksi lanjutan dapat membawa emas turun mendekati area support terdekat di kisaran USD 4.899, yang berperan penting dalam menjaga struktur tren naik jangka pendek. Dari sisi fundamental, pergerakan emas juga masih sangat dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Pada sesi perdagangan Asia hari Kamis, harga emas tercatat kembali menguat hingga mendekati USD 5.005. Penguatan ini mencerminkan upaya pemulihan setelah periode volatilitas yang cukup tinggi sebelumnya. Sentimen kehati-hatian investor kembali meningkat seiring berkembangnya isu geopolitik, khususnya setelah laporan mengenai militer Amerika Serikat yang menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Laut Arab. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran, meskipun kedua pihak telah mengonfirmasi rencana pertemuan diplomatik di Oman. Selain faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Perubahan kepemimpinan di Federal Reserve serta ekspektasi kebijakan yang cenderung lebih hawkish dinilai dapat membatasi ruang kenaikan harga emas ke depan. Sedang, berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga Fed pada pertemuan Juni berada di sekitar 46 perse . Di sisi lain, penguatan Dolar AS turut menjadi faktor penekan bagi emas, tercermin dari kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 97,67. Lalu, rilis data ekonomi Amerika Serikat memberikan gambaran yang beragam. Laporan ADP menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta berada di bawah ekspektasi, mengindikasikan perlambatan tertentu di pasar tenaga kerja. Tetapi, data PMI Jasa AS justru mencatatkan angka yang lebih kuat, menandakan aktivitas sektor jasa yang masih ekspansif. Kombinasi data tersebut memperkuat pandangan bahwa volatilitas harga emas masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Dengan mempertimbangkan keseluruhan faktor teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures menilai bahwa harga emas masih memiliki peluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat. Investor dan trader disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global, rilis data ekonomi AS, serta pergerakan Dolar AS sebagai acuan utama dalam menentukan strategi perdagangan emas ke depan.

Prospek Emas Tetap Positif di Tengah Volatilitas Pasar Global Internasional
Internasional
Jumat, 23 Januari 2026 | 15:39 WIB

Prospek Emas Tetap Positif di Tengah Volatilitas Pasar Global

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAUUSD) dunia kembali bergerak dinamis pada perdagangan terkini, mencerminkan tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Di sesi Amerika Utara hari Rabu (21/1), XAU/USD berhasil mencatat kenaikan moderat sekitar 0,25 persen, dan diperdagangkan di area $4.772 per troy ounce. Penguatan ini terjadi setelah emas sempat menyentuh rekor tertinggi baru di 4.888 dolar AS, sebelum terkoreksi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan opsi militer terkait isu Greenland tidak akan ditempuh. Klarifikasi tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar, tetapi belum cukup untuk menghapus daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Berdasarkan analisa teknikal Dupoin Indonesia yang disampaikan oleh analis Andy Nugraha, struktur pergerakan emas saat ini masih mencerminkan tren naik yang kuat. Formasi candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan posisi harga di atas indikator Moving Average utama, menunjukkan tekanan beli masih mendominasi pasar. Andy menilai koreksi yang terjadi lebih bersifat sehat dalam tren bullish yang lebih besar. Selama harga mampu bertahan di atas zona support penting, peluang kelanjutan kenaikan masih terbuka. Dalam proyeksi jangka pendeknya, jika sentimen positif tetap terjaga, emas berpotensi menguji area $4.900. Sebaliknya, apabila terjadi tekanan jual lanjutan, area $4.756 dipandang sebagai support terdekat yang krusial untuk menjaga struktur tren naik. Dari sisi fundamental, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh perubahan sikap Gedung Putih terkait kebijakan perdagangan dan geopolitik. Di sesi Asia Kamis (22/1), harga emas sempat memangkas kenaikannya dan bergerak di sekitar $4.790 setelah Presiden Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa dan mengumumkan adanya kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan NATO telah menyepakati suatu kerangka kerja, yang memicu harapan akan penyelesaian diplomatik dan mengurangi risiko eskalasi dalam waktu dekat. Situasi ini sempat menekan permintaan emas sebagai aset safe-haven, meski dampaknya cenderung terbatas. Ketidakjelasan detail kesepakatan tersebut membuat pasar tetap waspada. Sejumlah pejabat Eropa menilai bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan meredanya ketegangan secara permanen. Selama risiko politik dan potensi friksi antara AS dan Uni Eropa masih membayangi, emas dinilai tetap memiliki peran penting dalam portofolio investor global. Selain itu, pelaku pasar kini menanti serangkaian rilis data ekonomi Amerika Serikat, seperti pertumbuhan ekonomi kuartalan, klaim pengangguran mingguan, serta data inflasi berbasis PCE. Data yang menunjukkan perlambatan ekonomi atau tekanan inflasi yang mereda berpotensi melemahkan dolar AS dan mendukung penguatan emas. Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi terhadap Federal Reserve juga menjadi faktor kunci. Meski mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga akan dipertahankan dalam waktu dekat, pasar masih memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga ke depan. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS, menyusul tekanan politik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, turut menambah lapisan ketidakpastian di pasar keuangan. Secara keseluruhan, Andy Nugraha memandang prospek emas masih cenderung positif. Selama volatilitas geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global belum benar-benar mereda, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish, dengan potensi fluktuasi jangka pendek yang wajar di tengah tren naik yang lebih luas.

CLIK Biro Kredit Perkenalkan Portfolio Risk Insight Bantu Industri Hadapi Volatilitas Risiko Kredit Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 10 Desember 2025 | 21:36 WIB

CLIK Biro Kredit Perkenalkan Portfolio Risk Insight Bantu Industri Hadapi Volatilitas Risiko Kredit

Jakarta, katakabar.com - Sepanjang 2024–2025, industri perbankan mencatat dinamika risiko yang cukup kuat. NPL gross yang sempat mencapai titik terendah 2,08% pada Desember 2024 kembali meningkat menjadi 2,24 persen pada April dan 2,29 persen pada Mei 2025, sebelum turun ke 2,22 persen di Juni. Di saat yang sama, kredit terus tumbuh dari Rp7.478 triliun (Juni 2024) menjadi Rp8.059 triliun (Juni 2025), dengan komposisi terbesar berasal dari kredit modal kerja, konsumsi, dan investasi. Pertumbuhan tersebut menunjukkan kepercayaan pasar masih terjaga, tatapi memperbesar urgensi bagi lembaga keuangan untuk memantau risiko secara lebih tajam terlebih ketika banyak institusi masih menghadapi tantangan serupa: deteksi risiko yang terlambat, collection yang belum tersegmentasi, serta keputusan intervensi yang cenderung reaktif karena bergantung pada data internal saja. Menanggapi kondisi itu, CLIK (PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan) hari ini memperkenalkan Portfolio Risk Insight, solusi analitik berbasis data biro kredit yang memberikan visibilitas menyeluruh terhadap perilaku debitur, baik dari data internal (on-us) maupun eksternal (off-us). Solusi ini dirancang untuk membantu lembaga keuangan mengidentifikasi perubahan risiko lebih awal dan memprioritaskan collection melalui tujuh kategori risiko yang tervalidasi. PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) resmi meluncurkan produk Portfolio Risk Insight, sebuah produk analitik berbasis data kredit yang dirancang untuk memperkuat strategi penagihan (collection strategy) lembaga keuangan. Produk ini disusun berdasarkan metodologi pemeringkatan risiko terstruktur yang memungkinkan lembaga keuangan untuk dengan cepat mengidentifikasi debitur berdasarkan tingkat risiko, dari rendah hingga tinggi, secara cepat dan akurat. Peluncuran produk tersebut ditandai dengan penyelenggaraan acara Mini Workshop CLIK Biro Kredit pada 4 Desember 2025, dan dihadiri praktisi keuangan dari kalangan perbankan, multifinance, dan fintech peer to peer lending. Dalam diskusi tersebut, terungkap persoalan sama yang dihadapi dalam proses collection antara lain: keterlambatan dalam mendeteksi risiko, upaya collection yang belum tersegmentasi dan masih dilakukan secara manual yang membebani, serta keputusan intervensi dan recovery yang sering bersifat reaktif dan tidak berbasis data. Data terbaru dari Statistik Perbankan Indonesia, pada Juni 2025 menunjukkan bahwa kinerja risiko industri perbankan bergerak cukup fluktuatif sepanjang 2024–2025. NPL gross sektor perbankan sempat mencapai titik terendah 2,08 persen pada Desember 2024, namun kembali meningkat menjadi 2,24 persen pada April 2025, naik ke 2,29 persen pada Mei, sebelum turun kembali ke 2,22 persen pada Juni 2025. Di sisi lain, kredit perbankan bertumbuh kuat, dari Rp7.478 triliun pada Juni 2024 menjadi Rp8.059 triliun pada Juni 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan pasar yang tetap terjaga, juga menandakan perlunya pemantauan portofolio yang lebih cermat agar potensi lonjakan risiko dapat diantisipasi lebih cepat. Dilihat dari komposisi, struktur kredit Juni 2025 masih didominasi oleh kredit modal kerja sebesar 43,93.persen, disusul kredit investasi 27,28 persen, dan kredit konsumsi 28,81 persen. Pola konsumsi yang tinggi dan perilaku pinjaman yang semakin tersebar di banyak lembaga membuat kemampuan memonitor risiko lintas institusi menjadi semakin krusial. Leonardo Lapalorcia, Direktur Utama CLIK mengatakan di sela-sela acara bahwa dalam lanskap industri jasa keuangan yang semakin kompetitif, kemampuan mengelola risiko dan menjaga kualitas portofolio kini menjadi penentu utama keberlanjutan bisnis dan bukan sekadar kemampuan menyalurkan pinjaman. “Keunggulan hanya dapat dicapai ketika lembaga keuangan memiliki gambaran risiko menyeluruh dan mampu menyeimbangkan antara ekspansi dan kehati-hatian. “Di sinilah CLIK berperan menyediakan solusi data dan analitik yang memperkuat akurasi pemetaan risiko, ketajaman segmentasi, dan kemampuan prediktif, sehingga keputusan kredit dapat diambil dengan dasar yang lebih kuat dan terukur,” tambahnya. Lebih jauh Leonardo mengatakan bahwa dalam kondisi pasar bergerak cepat dan risiko berkembang dinamis, mengandalkan data internal saja tidak lagi memungkinkan lembaga keuangan memahami perilaku peminjam secara utuh. “Mereka perlu melihat apa yang terjadi di luar portofolio mereka untuk mengambil langkah yang lebih tepat. Portfolio Risk Insight memberikan fondasi tersebut menyediakan visibilitas menyeluruh, memperkuat kualitas portofolio, dan membantu lembaga keuangan mengambil keputusan yang lebih percaya diri, proaktif, dan bertanggung jawab,” tegasnya. Portfolio Risk Insight dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menggabungkan informasi Off-Us (data eksternal) dan On-Us (data internal). Dengan pendekatan segmentasi perilaku dan indikator prediktif, Portfolio Risk Insight membantu lembaga mengenali pola risiko yang mungkin luput dari pantauan internal. Dalam banyak kasus, segmen yang tampak stabil secara internal menunjukkan gejala penurunan justru ketika dilihat melalui perilaku nasabah di lembaga lain. Chief Digital Transformation Officer CLIK, Lucky Herviana, menjelaskan bahwa Portfolio Risk Insight dikembangkan sebagai panduan navigasi bagi lembaga keuangan dalam mengelola risiko, bukan sekadar alat yang menampilkan angka. “Lembaga keuangan kini dapat memanfaatkan data biro kredit untuk memperoleh visibilitas yang tidak mungkin diperoleh dari data on-us saja. Solusi ini menghilangkan blind spot, mendeteksi risiko lebih awal, dan memprioritaskan upaya penagihan melalui tujuh kategori risiko yang tervalidasi,” ujarnya. Menurut Lucky, kekuatan utama Portfolio Risk Insight terletak pada kemampuannya menerjemahkan data menjadi arahan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti. “Ini bukan tentang menambah data baru, tetapi tentang membaca data dengan lebih tepat. Insight off-us sangat penting untuk memahami arah pergerakan risiko. Dengan itu, lembaga dapat merespons lebih cepat dan menjaga portofolionya tetap sehat,” jelas Lucky menutup keterangannya.

Bittime Tekankan Pentingnya Literasi Aset Kripto di Tengah Volatilitas Pasar Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 08 November 2025 | 07:59 WIB

Bittime Tekankan Pentingnya Literasi Aset Kripto di Tengah Volatilitas Pasar

Jakarta, katakabar.com - Dunia pasar aset kripto terus menunjukkan perkembangan yang tinggi, tawarkan potensi keuntungan besar sekaligus tantangan khas. Bittime, platform crypto exchange berizin dan diawasi di Indonesia mengingatkan pentingnya memperhatikan sentimen pasar dan literasi aset kripto. Kondisi volatilitas pada pasar aset kripto kembali menarik perhatian investor, di mana terdapat berbagai sentimen pasar yang tersebar. Hal tersebut berupa sinyal bull atau kenaikan harga pada aset kripto, dan sinyal bear yang berarti tekanan harga aset. Dalam latar belakangnya, mekanisme pasar aset kripto sangat berbeda jika dibandingkan dengan pasar aset konvensional. Sebab, aset kripto bergerak di atas jaringan teknologi blockchain yang merupakan teknologi terdesentralisasi dan bergerak tanpa perantara. Sehingga dapat menciptakan lingkungan perdagangan yang bergerak lebih cepat, dan bisa diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Tentu, hal ini pada akhirnya menuntut kejelian dari para pelaku pasar. Sebab, kombinasi antara perdagangan tanpa henti dan leverage yang tinggi juga dapat memicu kondisi naik-turun nilai aset, dan besar kecilnya kebutuhan pasar. Sehingga dapat memicu pergerakan harga yang cepat dan tajam dalam waktu singkat. Hal tersebut, seringkali memicu pola harga yang disebut bull trap dan bear trap, yang merupakan bagian dari proses alami pasar untuk mencapai keseimbangan. Dengan demikian, bull trap dan bear trap sebenarnya menjadi indikator penting tentang area di mana leverage berlebihan sedang dihilangkan. Fenomena bull trap terjadi ketika harga aset tampak menembus batas atas atau resistensi namun kemudian berbalik arah. Sementara itu, bear trap muncul saat harga bergerak di bawah batas support dan secara tiba-tiba melonjak kembali. Bagi para investor di Indonesia, pergerakan pasar aset kripto ini memiliki dampak signifikan yang perlu dicermati. Sifat pasar yang selalu aktif menuntut para investor untuk memiliki manajemen risiko, disiplin waktu, dan perluasan literasi seputar aset kripto. Bersama dengan hal ini, Bittime melalui platformnya yang inovatif dan berorientasi pada pengguna, berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan ekosistem aset kripto di Indonesia sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk berinvestasi secara cerdas. Melalui program Begin Investing Today, Bittime bertujuan menjadi wadah investasi yang aman, dan berorientasi pada pertumbuhan aset. Selaras dengan ini, literasi dan edukasi investasi juga menjadi fondasi utama dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Investasi bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi tentang melindungi nilai aset yang sudah dimiliki. Tentu, perlu dipahami investasi aset kripto mengandung risiko yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Oleh karena itu, sangat penting mengetahui tingkat toleransi risiko, serta strategi dan metode investasi yang sesuai bagi masing-masing investor.

Volatilitas Pasar dan Koreksi Harga Bitcoin Jadi Momentum Adopsi Aset Kripto? Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 01 November 2025 | 10:30 WIB

Volatilitas Pasar dan Koreksi Harga Bitcoin Jadi Momentum Adopsi Aset Kripto?

Jakarta, katakabar.com - Volatilitas pasar aset kripto kembali menarik perhatian, menyusul koreksi harga Bitcoin (BTC) yang tercatat mengalami penurunan lebih dari 13 persen. Di mana, sebelumnya harga Bitcoin sempat mencapai All Time High (ATH) $126.000 pada 6 Oktober lalu, sebelum saat ini terkoreksi hingga ke level $115.000. Koreksi harga yang terjadi, yang membawa BTC yang sebelumnya $110.000 ke level sekitar $115.000 dari puncaknya, justru didampingi oleh peningkatan aliran masuk Bitcoin. Fenomena ini diinterpretasikan sebagai aktivitas pengambilan untung oleh pedagang jangka pendek atau fase sementara, di mana para trader mempersiapkan diri menghadapi potensi volatilitas harga. Tetapi, yang menjadi perhatian adalah minimnya pergerakan Bitcoin yang telah disimpan selama lebih dari enam bulan. Keraguan para long-term holders untuk menjual aset mereka, ditengah penurunan harga baru-baru ini, mengindikasikan tingginya tingkat keyakinan para investor. Dinamika harga aset Bitcoin ini secara langsung mempengaruhi para investor aset kripto di Indonesia. Bagi trader harian, penurunan harga dapat meningkatkan risiko, tetapi bagi investor jangka panjang, koreksi ini justru dapat menjadi kesempatan emas untuk diversifikasi dan dollar-cost averaging atau DCA. Di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan potensi pelemahan mata uang fiat akibat inflasi, aset kripto menawarkan alternatif perlindungan nilai serta potensi keuntungan yang signifikan, menjadikannya komponen penting dalam portofolio investasi modern. Menyadari pentingnya momentum dan peluang akumulasi di pasar yang sedang terkoreksi, Bittime, platform perdagangan aset kripto terdepan dan berizin di Indonesia secara aktif menawarkan kampanye dan program yang dirancang untuk memberikan nilai tambah bagi para penggunanya, salah satunya Bittime Pay Day Gain Day. Program ini bertujuan memanfaatkan periode gajian atau upah bulanan para pekerja untuk disisihkan pada investasi. Hal ini, guna mendorong para investor muda untuk secara disiplin mengalokasikan sebagian pendapatan bulanan pada alternatif investasi, seperti aset kripto. Dengan program Bittime Pay Day Gain Day, Bittime tidak hanya memfasilitasi adopsi aset kripto yang transparan, aman dan berizin, tetapi juga secara efektif mengedukasi masyarakat mengenai disiplin investasi. Apalagi, Bittime turut menawarkan fitur staking yang menjadi salah satu pilihan strategi jangka panjang para investor muda, terutama investor dengan tujuan investasi jangka panjang. Sebab, fitur staking, memungkinkan para investor untuk mendapatkan penghasilan pasif dari asetnya, tanpa harus secara aktif bertransaksi jual-beli. Selain itu, Bittime juga memberikan annual percentage yield atau APY tertinggi di Indonesia, dan dengan berbagai pilihan aset yang dapat distaking, salah satunya Bitcoin. Di tengah fluktuasi kondisi pasar, mengunci aset dengan fitur staking dalam periode waktu tertentu dapat diartikan sebagai strategi untuk “mengamankan” nilai aset. Sebab, aset tersebut akan “dikunci” dan tetap memberikan pasif income dari jumlah APY yang profitable. Dengan ini, Bittime berharap agar pengguna tidak hanya menjadi investor yang reaktif terhadap harga, tetapi juga partisipan cerdas dalam ekosistem keuangan digital. Investor yang memiliki pemahaman kuat terhadap mekanisme pasar akan lebih mampu menghadapi ketidakpastian jangka pendek dan fokus pada potensi jangka panjang aset digital.

Hadapi Volatilitas Pasar, BRI Finance Perkuat Strategi Captive Market Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 17 April 2025 | 10:00 WIB

Hadapi Volatilitas Pasar, BRI Finance Perkuat Strategi Captive Market

Jakarta, katakabar.com - Ketidakpastian ekonomi global lantaran perang dagang, inflasi tinggi, dan tekanan geopolitik menuntut pelaku industri pembiayaan untuk semakin cermat susun strategi bisnis. Di tengah tantangan ini, fokus pada captive market menjadi langkah strategis yang dinilai mampu menjaga pertumbuhan sekaligus mengendalikan risiko pembiayaan. Dengan pendekatan yang lebih terarah dan berbasis ekosistem, perusahaan pembiayaan dapat memperkuat kualitas portofolio sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar. Sebagai anak usaha dari BRI Group, PT BRI Multifinance Indonesia ataunBRI Finance memaksimalkan sinergi ekosistem induk usahanya untuk memperluas penyaluran pembiayaan multiguna secara lebih efektif dan efisien. Didukung infrastruktur digital, integrasi data, serta jaringan yang luas hingga ke pelosok, strategi captive market memungkinkan BRI Finance menjangkau segmen yang tepat sasaran, mulai dari pegawai BRI hingga pelaku UMKM. Pendekatan ini mendukung pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi BRI Finance sebagai mitra pembiayaan yang adaptif dan relevan dalam berbagai kondisi ekonomi. Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan menyampaikan, di tengah tantangan global yang dinamis, kami percaya bahwa strategi captive market merupakan langkah proaktif untuk menjaga kualitas pembiayaan dan memperluas jangkauan bisnis secara terarah. Dengan dukungan penuh dari ekosistem BRI Group, BRI Finance optimis dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan segmen pasar yang kami layani.