Unilever

Sorotan terbaru dari Tag # Unilever

KOLTIVA Bersama Unilever, FCDO dan EY Dukung Sugata Transformasi Rantai Pasok Kakao Nasional
Nasional
Rabu, 12 November 2025 | 16:31 WIB

KOLTIVA Bersama Unilever, FCDO dan EY Dukung Sugata Transformasi Rantai Pasok Kakao

Aceh, katakabar.com - Sugata bersama mitra pelaksana KOLTIVA, dan didukung Unilever, FCDO, dan EY melalui Transform Bestari, pimpin penerapan model terukur produksi kakao regeneratif di Aceh. Kolaborasi ini integrasikan ketertelusuran digital, pertanian cerdas iklim, dan pelatihan inklusif gender untuk membantu petani kecil beralih menuju praktik produksi bebas deforestasi dan tangguh terhadap perubahan iklim. Melalui lima fokus kerja Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan (Demo Plot Management), Pertanian Regeneratif, Pengelolaan Limbah Kakao, dan Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring). Di mana program ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap aspek operasional pertanian. Kurun waktu setahun, proyek ini telah memberdayakan 500 produsen di 21 desa, membangun 10 lahan percontohan regeneratif, memasang unit biochar untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, serta memperkenalkan pengambilan keputusan inklusif gender di lebih dari 100 rumah tangga. Upaya ini menjadi fondasi rantai nilai kakao yang regeneratif dan bebas deforestasi di Aceh. Industri kakao Indonesia memegang peranan penting bagi ekonomi lokal dan pasar global. Tetapi, produktivitas yang menurun, usia pohon yang menua, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor ini. Untuk menjawab persoalan tersebut, Sugata (PT Kudeungoe Sugata), perusahaan kakao berorientasi keberlanjutan dan pemulihan lingkungan, memimpin upaya pengembangan produksi kakao regeneratif dengan dukungan dari KOLTIVA dan mitra global Unilever, Foreign, Commonwealth dan Development Office (FCDO) Inggris, serta EY melalui program Transform Bestari Challenge. Inisiatif ini mempercepat inovasi bagi petani kecil melalui integrasi ketertelusuran digital, pelatihan pertanian cerdas iklim, serta model pembiayaan inklusif. Dengan menggabungkan pendekatan berbasis komunitas Sugata dan ekosistem teknologi KOLTIVA termasuk KoltiTrace untuk ketertelusuran “farm-to-bar” dan KoltiSkills untuk pelatihan petani kolaborasi ini bertujuan membangun rantai nilai kakao yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mendukung pelestarian hutan. Didirikan pada tahun 2018, Sugata dikenal sebagai salah satu pionir bean-to-bar di Indonesia yang secara langsung bermitra dengan petani kecil. Misi perusahaan untuk meregenerasi lahan terdegradasi dan memulihkan mata pencaharian masyarakat menempatkannya di garis depan inovasi kakao berkelanjutan di Tanah Air. Terletak di sisi timur Ekosistem Leuser seluas 2,6 juta hektare salah satu hutan hujan tropis terakhir di dunia yang masih menjadi habitat bersama harimau, gajah, badak, dan orangutan Sumatra-Aceh menjadi jantung penting produksi kakao nasional. Dengan luas tanam lebih dari 101.000 hektare dan produksi tahunan sekitar 41.000 ton, Aceh tercatat sebagai provinsi penghasil kakao terbesar keempat di Indonesia (Invest in Aceh, 2023). Lanskap luas ini, yang menaungi sembilan sungai, tiga danau, serta 185.000 hektare lahan gambut dengan cadangan karbon mencapai 1,6 miliar ton, menyediakan air bersih bagi empat juta penduduk layanan ekosistem yang ditaksir bernilai lebih dari US$600 juta per tahun. Tetapi, pohon kakao tua, serangan hama, cuaca ekstrem, dan alih fungsi hutan menjadi monokultur terus mengancam keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat dan keseimbangan ekosistem. Kurun lima tahun terakhir, kawasan hutan dataran rendah Aceh telah kehilangan sekitar 20 persen tutupan hutannya (Global Conservation, 2023). Meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan regulasi global seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), Sustainable Development Goals (SDGs), serta komitmen zerodeforestation korporasi besar, menandai era baru bagi industri kakao. Produksi kakao regeneratif, yang dikembangkan melalui sistem agroforestri, daur ulang nutrisi, dan ketertelusuran digital, kini menjadi strategi kunci untuk mencapai keberlanjutan sekaligus profitabilitas jangka panjang. Pada 2024 lalu, program Transform Bestari Challenge yang digagas oleh Unilever, FCDO, dan EY, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan hibah hingga £300.000 bagi pemenang. Program akselerator ini memadukan pendanaan dengan dukungan bisnis strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Pada Oktober 2024, Sugata terpilih sebagai salah satu dari tiga pemenang utama, memperoleh dukungan untuk implementasikan proyek kakao regeneratif di Aceh Tenggara selama 18 bulan. Sedang, untuk mempercepat pelaksanaan di lapangan, Sugata menggandeng KOLTIVA sebagai mitra pelaksana, menghadirkan keahlian dalam penerapan sistem ketertelusuran digital, pelatihan di tingkat petani, serta pengambilan keputusan berbasis data. Melalui lima pilar kegiatan utama Gender Action Learning System (GALS), Pengelolaan Lahan Percontohan, Pertanian Regeneratif dan Agroforestri, Pengelolaan Limbah Kakao, serta Pemantauan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG Monitoring) kolaborasi ini menanamkan prinsip keberlanjutan di setiap kebun dan setiap keputusan petani. “Yang kami bangun bersama Sugata, Unilever, dan FCDO di Aceh bukan sekadar proyek, melainkan cetak biru masa depan industri kakao berkelanjutan,” ujar Joe Keen Poon, Executive Chairman of the Board KOLTIVA. “Bagi kami, petani kecil berhak mendapatkan lebih dari sekadar kepatuhan regulasi, tetapi mereka berhak atas teknologi, pelatihan, dan kesempatan yang adil untuk berkembang di pasar global. Dengan menghubungkan data lapangan secara real-time, pengambilan keputusan inklusif gender, dan pemantauan karbon dalam satu sistem, kami membuktikan regenerasi dan profitabilitas dapat berjalan beriringan bahkan, keduanya adalah satu-satunya jalan ke depan," beber Joe. Sejak akhir 2024, Sugata dan KOLTIVA telah mengembangkan kurikulum pelatihan, membangun lahan percontohan, dan melatih pelatih utama untuk mempercepat implementasi di lapangan. Satu tahun pertama, lebih dari 500 petani kakao di 21 desa telah mendapatkan pelatihan melalui KoltiSkills, 10 lahan percontohan regeneratif didirikan dengan pemantauan emisi langsung, serta lima unit biochar dipasang untuk mengubah limbah kakao menjadi kompos, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, 173 lahan telah disurvei untuk pemantauan emisi GHG, sementara lebih dari 100 rumah tangga kini menerapkan pengambilan keputusan inklusif gender melalui pendekatan GALS. “Sugata menunjukkan komitmen kuat untuk mendorong perubahan sosial dan lingkungan positif di sektor pertanian,” timpal Jessica Pauline, Country Lead Finance & Business Development Unilever Indonesia. “Perusahaan berdampak seperti Sugata berperan penting dalam menjawab tantangan keberlanjutan global. Melalui Transform, kami tidak hanya memberikan hibah, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor agar dampak sosial dan lingkungan dapat tumbuh secara berkelanjutan," jelas Jessica. Meski masih menghadapi tantangan seperti cuaca tidak menentu dan kesenjangan literasi digital, inisiatif ini telah menunjukkan bagaimana teknologi, data, dan partisipasi inklusif dapat membentuk masa depan baru bagi petani kakao menghadirkan keuntungan ekonomi, manfaat lingkungan, dan ketahanan sosial yang lebih kuat bagi komunitas petani kecil di Aceh dan sekitarnya.

Emak-emak Petani di Inhu Kini Punya Gerai Oleh-oleh Berkat Bimbingan WEI dan Unilever Sawit
Sawit
Kamis, 14 Desember 2023 | 21:09 WIB

Emak-emak Petani di Inhu Kini Punya Gerai Oleh-oleh Berkat Bimbingan WEI dan Unilever

Rengat, katakabar.com - Para istri petani kelapa sawit binaan Swadaya Karya Serumpun setahun lamanya digembleng kreatif membangun pondasi pendapat sampingan lewat pemberdayaan ekonomi okeh Widya Erti Indonesia (WEI) dan Unilever. Rupanya, buah kerja keras itu sebelas Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam unit usaha Karya Serumpun memiliki gerai oleh-oleh produk hasil dari kreativitas. Pusat perbelanjaan makanan ringan berlokasi di Jalan Lintas Timur, Desa Ringin, Kecamatan Batang Gansal, Indragiri Hulu, Riau, diresmikan pada Kamis (14/12). Kuliner yang ditampilkan berasal dari hasil pertanian lokal seperti peyek paku, stick pepaya, dodol labu, hingga keripik pisang salai dan singkong. Selain itu, ada makanan ringan stick keju, kulit ayam crispy, kerupuk ikan bilis, dan berbagai kerajinan tangan hasil tenunan istri para petani. "Ini semua dampak positif dari Widya Erti Indonesia yang berkelanjutan setelah Karya Serumpun berkembang dari Program Sekolah Lapangan Kelapa Sawit (SLKS) dari tahun 2017. Upaya itu untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga maupun kelompok," kata Ketua Karya Serumpun, Juliono dalam sambutannya. "Terima kasih kepada Widya Erti Indonesia (WEI) dan Unilever, pemerintah daerah maupun setingkat desa dan kecamatan yang telah membiarkan ruang atau dukungan dalam menjalankan kegiatan positif hingga pada titik saat sekarang ini," ujarnya. Adanya pusat oleh-oleh ini, sebut Juliono, mudah-mudahan jadi tempat ibu-ibu KWT untuk berkreasi membuat produk unggulannya. Diketahui, bermula dari program Sekolah Lapang Kelapa Sawit (SLKS), Karya Serumpun telah berkembang menjadi komunitas yang kuat. Fokus mereka tidak hanya pada pencapaian sertifikasi RSPO, tapi pada penguatan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan. Dukungan Widya Erti Indonesia dan Unilever terhadap pendampingan 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam naungan Karya Serumpun bagian penting dalam mengembangkan potensi ekonomi keluarga petani. Inisiatif ini memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga, membuka jalan bagi mereka untuk mengambil peran lebih aktif dalam ekonomi lokal. Pembukaan gerai pusat oleh-oleh hasil nyata dari usaha bersama. Komitmen perkembangan positif dalam upaya meningkatkan kualitas hidup petani dan keluarga. Asosiasi itu tidak hanya menjadi simbol keberhasilan dalam pertanian sawit berkelanjutan, tapi menjadi panutan dalam pemberdayaan perempuan di sektor pertanian. "Gerai ini mudah-mudahan mendorong lebih banyak perempuan daerah lainnya untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi lokal, dan mengambil peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan," harapnya. Di peresmian gerai oleh-oleh Karya Serumpun, hadir Camat Batang Gansal, Basuki, perwakilan dari Disperindag Inhu, Raja Tamrin, tokoh adat setempat, bhabinkamtibmas, dan beberapa kepala desa.

Unilever Bersama Mitra WEI Dorong Era Pertanian Berkelanjutan Nasional
Nasional
Jumat, 17 November 2023 | 20:47 WIB

Unilever Bersama Mitra WEI Dorong Era Pertanian Berkelanjutan

Jakarta, katakabar.com - Unilever bersama salah satu mitranya Widya Erti Indonesia (WEI) berpartisipasi dalam kegiatan "Smallholders Farm Visit and Program Discussion" di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Vuce-president and managing Director Cimate And Nature Fund di Unilever, Eric Soubeiran injakkan kaki di Indonesia, untuk melihat inisiatif pembinaan dan pengembangan petani yang dilakukan WEI dan mitra-mitra lainnya. Widya Erti Indonesia salah satu Smallholders Unilever yang telah menunjukkan dedikasi tinggi membina kelompok petani lokal dengan penerapan praktik pertanian yang baik. Tidak hanya itu, Widya Erti Indonesia fokuskan perhatian pada pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka dibimbing untuk mengembangkan berbagai produk inovatif dari bahan baku lokal, seperti pisang, singkong, kelapa, hingga lidi kelapa sawit. Produk yang dihasilkan emak-emak beragam, berupa makanan, minuman serta kerajinan tangan yang tidak hanya menciptakan nilai tambahan ekonomi, tapi membantu peluang baru bagi wanita tani untuk berkontribusi dalam peningkatan ekonomi keluarga. "Kami di WEI percaya pemberdayaan perempuan dan pengembangan pertanian berkelanjutan mesti seiring dengan membangun komunitas yang lebih kuat dan mandiri. Inisiatif ini, jalan bagi wanita di pedesaan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka menjadi terbuka," cerita Wiranatha Krisna, Executive Director WEI, dilansir dari laman elaeis.co, Jumat (17/11). Ekonomi sirkular penting, kata Krisna, WEl berhasil mengimplementasikan strategi di mana bahan baku seperti daun kelapa sawit diolah menjadi pakan ternak, dan dikonversi menjadi pupuk organik untuk digunakan kembali di lahan pertanian. Siklus ini menciptakan rantai nilai yang menguntungkan dan ramah lingkungan. Saya sangat mengapresiasi kerja sama yang tercipta dan berharap kolaborasi ini akan terus berkembang untuk mendorong pengembangan lebih lanjut komunitas-komunitas marginal dan pedesaan. "Kami sangat antusias untuk melanjutkan kerja sama ini dan berharap ada lebih banyak lagi inisiatif bersama antara Unilever, WEI, dan smalholders lainnya yang berfokus pada pengembangan masyarakat," ujarnya. Di kegiatan ini, diskusi program antara Unilever dan smallholders membuka dialog penting tentang bagaimana peranan Unilever dalam membantu smallholders mewujudkan sektor agrikultur yang bertanggung jawab di masa kini dan masa depan.