Uji Area

Sorotan terbaru dari Tag # Uji Area

Harga Emas Berpotensi Penguatan, Dupoin Futures Perkirakan XAU/USD Uji Area $5.250 Internasional
Internasional
Jumat, 27 Februari 2026 | 13:42 WIB

Harga Emas Berpotensi Penguatan, Dupoin Futures Perkirakan XAU/USD Uji Area $5.250

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global pada perdagangan hari ini menunjukkan kecenderungan yang masih positif, didukung kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang perkuat daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. Dari analisis yang disampaikan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, emas saat ini masih bergerak dalam tren bullish pada timeframe H1, dengan peluang kenaikan lanjutan selama level support utama tetap terjaga. Kalau di perdagangan sebelumnya, emas mencatatkan kenaikan signifikan dengan penguatan lebih dari 1 persen, sebelum akhirnya diperdagangkan di sekitar level $5.204 setelah sempat menyentuh titik terendah di kisaran $5.121. Sementara, pada sesi perdagangan Asia hari ini, harga emas terpantau bergerak stabil di sekitar level $5.165. Kondisi ini mencerminkan bahwa sentimen positif terhadap emas masih cukup kuat, meskipun pasar tetap diwarnai oleh dinamika global yang kompleks. Secara teknikal, Andy Nugraha, menjelaskan struktur pergerakan harga saat ini mengindikasikan dominasi tren naik yang masih solid. Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan posisi harga yang bergerak di atas indikator Moving Average, memberikan sinyal bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih memiliki kepercayaan terhadap potensi kenaikan emas dalam jangka pendek. Menurut Andy Nugraha, selama harga emas mampu bertahan di atas area support penting, peluang untuk melanjutkan penguatan tetap terbuka. Level resistance terdekat saat ini berada di sekitar $5.250, yang menjadi target potensial jika momentum bullish terus berlanjut. Penembusan di atas level tersebut dapat membuka ruang bagi penguatan yang lebih luas dan memperkuat tren naik yang sudah terbentuk dalam beberapa waktu terakhir. Tetapi, pelaku pasar juga perlu mempertimbangkan kemungkinan koreksi sebagai bagian dari pergerakan harga yang wajar. Jika emas gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka terdapat potensi penurunan menuju area support terdekat di sekitar level $5.149. Area ini diperkirakan akan menjadi titik penting yang dapat berfungsi sebagai zona pertahanan bagi harga emas untuk menahan tekanan jual yang lebih dalam. Dari sisi fundamental, penguatan harga emas saat ini turut didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian yang muncul akibat potensi eskalasi konflik telah meningkatkan minat investor terhadap aset safe-haven, termasuk emas. Dalam situasi ketidakpastian global, emas secara historis sering menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki nilai yang relatif stabil dibandingkan instrumen investasi lainnya. Selain faktor geopolitik, ketidakjelasan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga memberikan kontribusi terhadap penguatan harga emas. Kebijakan tarif yang terus mengalami perubahan telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi harga emas untuk tetap berada dalam tren positif. Pasar saat ini tengah menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yakni Indeks Harga Produsen (PPI), yang akan memberikan gambaran mengenai kondisi inflasi di tingkat produsen. Data ini menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika tekanan inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, maka peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin besar, yang berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Sebaliknya, apabila data inflasi menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi dari perkiraan, maka hal tersebut dapat memperkuat nilai dolar AS, yang berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian dari data ekonomi tersebut. Secara keseluruhan, prospek harga emas masih didominasi oleh sentimen positif, baik dari sisi teknikal maupun fundamental. Tren bullish yang masih terjaga menunjukkan bahwa emas memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, terutama jika didukung oleh kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Dupoin Futures menilai bahwa selama harga tetap berada di atas level support kunci, potensi kenaikan menuju area resistance berikutnya masih terbuka. Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan faktor global dan pergerakan teknikal sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Level support di sekitar $5.149 dan resistance di kisaran $5.250 menjadi area penting yang perlu diperhatikan dalam perdagangan emas hari ini, seiring dengan potensi volatilitas yang masih cukup tinggi di pasar komoditas global.

Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berpotensi Uji Area Resistance 5.041 Internasional
Internasional
Kamis, 19 Februari 2026 | 11:37 WIB

Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berpotensi Uji Area Resistance 5.041

Jakarta, katakabar.com - Harga emas global kembali perlihatkan performa positif pada perdagangan Kamis (19/2), setelah sebelumnya mengalami tekanan signifikan. Pemulihan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik global. Kondisi tersebut memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia untuk mempertahankan momentum penguatannya, dengan prospek kenaikan yang masih terbuka selama tren bullish tetap dominan. Di sesi awal perdagangan Asia, emas dengan pasangan XAU/USD bergerak stabil di sekitar level $4.985 per ounce. Posisi ini mencerminkan adanya dukungan beli yang cukup kuat dari pelaku pasar setelah emas sempat terkoreksi lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya. Rebound yang terjadi didorong oleh langkah investor yang mulai kembali mengakumulasi emas menjelang publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Dokumen tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai pandangan para pembuat kebijakan terkait arah suku bunga ke depan. Di pertemuan terakhirnya, bank sentral Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Tetapi, perbedaan pandangan di antara pejabat The Federal Reserve terkait waktu dan besaran pelonggaran kebijakan moneter masih menjadi perhatian utama pasar. Ketidakpastian ini menciptakan volatilitas di berbagai instrumen keuangan, termasuk emas, yang sering kali menjadi pilihan utama investor saat kondisi pasar tidak menentu. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menyampaikan dari perspektif teknikal, pergerakan emas saat ini menunjukkan kecenderungan tren naik yang semakin solid. Indikasi ini didukung formasi candlestick yang positif, serta posisi indikator Moving Average yang mengonfirmasi keberlanjutan tren bullish dalam jangka pendek. "Struktur teknikal tersebut menunjukkan tekanan beli masih mendominasi, sehingga membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan kenaikan," ujarnya. Menurut Andy Nugraha, selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, potensi penguatan emas masih cukup besar. Ia memproyeksikan bahwa jika momentum bullish tetap terjaga, XAU/USD berpeluang melanjutkan kenaikan hingga menguji level resistance berikutnya di sekitar 5.041. Level ini menjadi target penting yang dapat menjadi penentu arah pergerakan emas selanjutnya. Meski demikian, ia mengingatkan risiko koreksi tetap perlu diperhatikan. Area support terdekat saat ini berada di kisaran 4.911. Apabila harga turun dan menembus level tersebut, maka emas berpotensi mengalami tekanan lanjutan sebelum kembali menemukan arah yang lebih stabil. Oleh karena itu, level support dan resistance menjadi referensi penting bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan perdagangan. Selain faktor teknikal, sentimen fundamental juga turut memainkan peran penting dalam mendukung pergerakan harga emas. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar global. Pernyataan pejabat tinggi AS terkait kemungkinan langkah tegas apabila negosiasi diplomatik tidak mencapai kesepakatan telah memicu peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas. Situasi ini memperkuat posisi emas sebagai instrumen yang diminati saat ketidakpastian global meningkat. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed juga terus memengaruhi arah pergerakan emas. Risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa beberapa pejabat masih mewaspadai risiko inflasi dan tidak menutup kemungkinan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Kondisi ini sempat memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS, yang secara umum dapat membatasi kenaikan harga emas karena hubungan keduanya yang cenderung berlawanan arah. Tetapu, data ekonomi AS yang dirilis baru-baru ini menunjukkan gambaran yang beragam. Penurunan inflasi memberikan harapan bagi kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang, sementara kondisi pasar tenaga kerja yang tetap kuat mencerminkan ketahanan ekonomi AS. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan dinamika yang kompleks di pasar keuangan dan memicu fluktuasi harga emas dalam jangka pendek. Andy Nugraha menambahkan perhatian pasar saat ini tertuju pada sejumlah data ekonomi penting yang akan segera dirilis, seperti klaim pengangguran awal, data sektor perumahan, Produk Domestik Bruto, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi. Data-data tersebut akan menjadi indikator utama yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan arah pergerakan emas selanjutnya. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih cenderung positif selama sentimen safe-haven tetap kuat dan dukungan teknikal masih terjaga. Dengan level resistance di kisaran 5.041 dan support di sekitar 4.911, emas memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatannya dalam waktu dekat. Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan pasar secara seksama serta menerapkan manajemen risiko yang tepat, mengingat volatilitas harga masih berpotensi tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.