Tiongkok
Sorotan terbaru dari Tag # Tiongkok
Paradoks Ekspor Baja Tiongkok dan Pentingnya Perlindungan Industri Baja Nasional
Jakarta, katakabar.com - Dominasi ekspor baja Tiongkok kerap dipersepsikan sebagai bukti keunggulan daya saing global. Tetapi, analisis lebih dalam menunjukkan paradoks mendasar: ekspor baja Tiongkok justru berlangsung bersamaan dengan rapuhnya profitabilitas industri di dalam negeri. Kondisi ini menegaskan bahwa volume ekspor besar tidak otomatis mencerminkan industri yang efisien dan berkelanjutan. Bagi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group fenomena ini menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga keberlanjutan industri baja nasional. Sebagai tulang punggung pembangunan dan penopang hilirisasi industri, industri baja membutuhkan ekosistem usaha yang adil dan berimbang agar investasi jangka panjang tetap terjaga. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan persaingan harga baja global saat ini tidak sepenuhnya berlangsung dalam level playing field. “Industri baja nasional, termasuk Krakatau Steel Group, membutuhkan kepastian kebijakan agar investasi dan transformasi bisnis yang kami jalankan tidak tergerus oleh praktik perdagangan yang terdistorsi,” jelas Dr. Akbar Djohan, juga jabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Tekanan Global Akibat Harga Baja Tertekan Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, Steel dan Mining Insights menilai ekspor baja Tiongkok lebih merupakan saluran penyaluran tekanan domestik akibat kelebihan kapasitas dan melemahnya permintaan dalam negeri. “Dalam struktur industri yang mengalami tekanan profitabilitas luas, ekspor tidak lagi mencerminkan daya saing sehat, melainkan respons defensif untuk menjaga operasi tetap berjalan,” kata Widodo. Arus ekspor baja Tiongkok dalam skala besar telah berdampak nyata terhadap industri baja di berbagai negara, mulai dari Eropa hingga Asia. Penurunan utilisasi, penyempitan margin, hingga penutupan fasilitas produksi menjadi fenomena lintas negara. Kondisi ini mendorong lebih dari 60 negara menerapkan ratusan instrumen pengamanan perdagangan sebagai upaya korektif terhadap distorsi harga global. Widodo menegaskan, maraknya penerapan trade remedies menunjukkan harga ekspor baja Tiongkok dinilai tidak wajar secara ekonomi dan menimbulkan kerugian material bagi industri domestik negara pengimpor. “Ini bukan proteksionisme semata, melainkan respons sistemik atas distorsi struktural yang diekspor ke pasar global,” jelasnya. Momentum Penguatan Baja Nasional Penguatan instrumen perlindungan perdagangan sejalan dengan Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun kedaulatan ekonomi dan memperkuat industri strategis nasional. Perlindungan yang tepat sasaran bukan untuk menutup pasar, melainkan memastikan persaingan yang adil serta menjaga keberlanjutan industri dalam negeri. “Industri baja yang sehat adalah fondasi pembangunan nasional. Dengan kebijakan yang tepat, kami optimistis industri baja Indonesia mampu tumbuh berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi jangka panjang bagi negara,” sebut Dr. Akbar Djohan.
Perusahaan Konstruksi Tiongkok di Pasar Infrastruktur Indonesia
- Lisensi ini wajib dimiliki oleh BUJK lokal maupun asing agar dapat beroperasi secara legal di Indonesia. Menavigasi regulasi lokal, struktur pajak, dan hukum ketenagakerjaan di Indonesia bisa menjadi tantangan. CPT Corporate menyediakan layanan kepatuhan dan konsultasi strategis berkelanjutan untuk memastikan setiap Perusahaan Konstruksi selalu sejalan dengan peraturan nasional. Perusahaan Tiongkok telah menunjukkan keunggulan teknis dalam membangun sistem kereta cepat, kawasan industri besar, dan proyek energi berskala raksasa. Hal ini memberikan keuntungan merek ketika mengikuti tender di Indonesia.
Harga Minyak Mentah Naik, Pasokan Terbatas dan Permintaan Tiongkok Dukung Tren Positif
Jakarta, katakabar.com - Harga minyak mentah terus menunjukkan penguatan, dengan West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di level $74,25 per barel pada perdagangan memasuki pekan kedua Januari 2024, naik 69 sen atau 0,94 persen. Penguatan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan yang terbatas akibat sanksi Barat terhadap Rusia dan Iran, serta optimisme atas peningkatan permintaan dari Tiongkok. Analis Dupoin Indonesia, Andy Nugraha menjelaskan, tren Bullish masih mendominasi pergerakan WTI berdasarkan analisis teknikal menggunakan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average. "Potensi kenaikan harga minyak ini dapat mencapai level $75,8, selama momentum bullish tetap terjaga. Namun, jika harga berbalik arah (reversal), target koreksi terdekat berada di $72,7," ujar Andy.
Kadin ITH Bersama Delegasi Tiongkok Sambangi Pusat Perbelanjaan Pendopo Alam Sutera
Jakarta, katakabar.com - Di paruh Oktober 2024 lalu, Kadin Indonesia Trading House atau ITH bersama Delegasi asal Tiongkok berjumlah 20 orang sambangi gerai pusat perbelanjaan Pendopo di mall Living World, Alam Sutera, Tangerang Selatan. Pendopo adalah rumah kurasi pusat perbelanjaan yang menyajikan produk-produk lokal berkualitas tinggi, hasil kurasi dari berbagai produk budaya dan produk lokal yang telah bekerja sama dengan lebih dari 250 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM Indonesia.
Palm Kernell Expeller Sawit Sulbar Berlayar ke Tiongkok, Ekspor Pertama 5.500 Ton
Mamuju, katakabar.com - Palm Kernell kelapa sawit dari Sulawesi Barat berlayar ke Tiongkok. Ekspor pertama Bungkil kata lain dari Palm Kernell expelerr kelapa sawit banyaknya 5.500 ton dari pelabuhan Belang-Belang Mamuju. Karantina Pertanian Mamuju telah menerbitkan sertifikat kesehatan tumbuhan (Phytosanitary Certifikate) atas komoditas bungkil kelapa sawit asal Sulawesi Barat ini. Kepala Karantina Pertanian Mamuju, Agus Karyono menuturkan, sertifikat phytosanitary menjadi persyaratan wajib agar bungkil sawit senilai Rp13,4 miliar diterima negara tujuan. “Sebelum sertifikat diterbitkan, pejabat karantina melakukan pengawasan proses fumigasi dengan phospine dan pengambilan sampel yang selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bungkil sawit terbebas dari Organisme Penyakit Tumbuhan Karantina (OPTK) yang dapat mempengaruhi kualitas dan nilai jualnya,” ujar Agus, dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (1/9). Data Karantina Pertanian Mamuju menunjukkan, dari Januari hingga Agustus 2023 Sulawesi Barat telah dua kali melakukan ekspor bungkil kelapa sawit. Pada 21 Januari 2023 telah diekspor 3.800 ton PKE dengan tujuan Thailand, dan kedua ekspor ke Tiongkok ini. “Dari data sistem otomasi kami, nilai ekspor pertanian sepanjang tahun 2023 di Sulawesi Barat sudah mencapai Rp2,5 triliun dan masih didominasi komoditas sawit dan turunannya. Tren positif ini diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun,” jelasnya. Untuk capaian ekspor mengalami peningkatan signifikan di bulan Agustus 2023 dibandingkan bulan yang sama tahun 2022 (secara month to month/mtm) mencapai sebesar 95 persen. “Capaian ekspor Agustus 2023 sebesar Rp615 miliar signifikan peningkatannya dibanding Agustus 2022 sebesar Rp 315 miliar. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh volume, permintaan negara tujuan, dan harga komoditas yang terus naik," bebernya. Menurutnya, capaian ini tak lepas dari kerja sama dan sinergisitas antara Karantina Pertanian dan stakeholder terkait seperti Dinas Perkebunan, Dinas Perdagangan, Bea Cukai dan otoritas pelabuhan. "Saya optimis melalui peningkatan layanan perkarantinaan, Karantina Pertanian Mamuju mampu mendorong ekspor komoditas pertanian dan sukseskan program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (Gratieks) yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia.