Terkoreksi
Sorotan terbaru dari Tag # Terkoreksi
Bitcoin Terkoreksi ke US$81.000, Volume Trading XAUT di Bittime Naik 8 Persen
Jakarta, katakabar.com - Gejolak kondisi ekonomi global seminggu terakhir berdampak cukup besar terhadap sentimen psikolog pasar aset digital, termasuk saham, dan aset kripto. Di mana, terdapat tekanan drastis pada harga aset kripto Bitcoin ($BTC) hingga menyentuh level $81.000, Kamis (29/1) lalu. Sebelumnya, dampak koreksi harga ini tidak hanya menekan nilai aset para investor selama beberapa minggu terakhir, tetapi juga memicu gelombang kepanikan di kalangan pelaku pasar yang tidak siap menghadapi volatilitas ekstrem ini. Gejolak pasar yang penuh ketidakpastian tersebut, selanjutnya memicu pergeseran strategi yang signifikan di kalangan investor guna mengamankan nilai aset nya. Banyak investor yang mulai mengalihkan fokus dari aset yang fluktuatif seperti Bitcoin ($BTC) menuju aset yang memiliki landasan nilai nyata di dunia fisik, dan cenderung lebih stabil. Hal ini terlihat pada volume trading aset Tether Gold ($XAUT) di Bittime yang naik hingga 8 persen pada Kamis. Kehadiran aset kripto $XAUT dipandang memiliki daya tarik tersendiri bagi investor, sebab $XAUT menggabungkan nilai emas murni yang cenderung bergerak lebih stabil dengan keunggulan teknologi blockchain. Memandang fenomena ini, Bittime platform pertukaran aset kripto yang resmi dan diawasi di Indonesia menghadirkan fitur fleksibel staking untuk aset $XAUT dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 15% bagi pengguna baru. Hal ini tentu memberi manfaat lebih bagi para investor yang mengutamakan strategi investasi jangka panjang, sekaligus memberi kemudahan dalam mengakses atau memperdagangkan aset nya kapan saja. Selain itu, Bittime juga gelar kampanye Bonus Pengguna Baru yang menawarkan bonus insentif hingga Rp150.000 dalam Tether Gold ($XAUT) atau iShares Silver Trust ($SLVON). Kampanye yang berlangsung dari 30 Januari hingga 28 Februari 2026 ini, dirancang untuk memberikan peluang bagi pengguna baru yang ingin memulai langkah investasi pada aset kripto. Langkah ini diharapkan dapat menjadi memberikan menjawab kebutuhan pasar, sekaligus dapat menjadi langkah alternatif investasi berkelanjutan. Tentu bersamaan dengan ini para investor diharapkan untuk terus meningkatkan literasi dan memilih instrumen yang tepat sesuai dengan risiko investasi masing-masing. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime.
Emas Terkoreksi dari Rekor, Pasar Masuk Fase Konsolidasi
Jalarta, katakabar.com - Harga Emas (XAU/USD) global memasuki fase pelemahan pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan hingga ke level tertinggi sepanjang masa. Pergerakan Emas saat ini menunjukkan tanda-tanda melemahnya kekuatan tren bullish dalam jangka pendek, seiring meningkatnya tekanan korektif di pasar. Menurut analisis Dupoin Futures, Andy Nugraha, emas telah mengalami penurunan sekitar 80 dolar dari puncak harga di area $4.550 yang tercapai pada pekan lalu. Tekanan jual berlanjut pada awal pekan, di mana harga Emas sempat bergerak di bawah area $4.360 dan menyentuh kisaran $4.330. Andy Nugraha menjelaskan pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan pergerakan indikator Moving Average, mengindikasikan berkurangnya dominasi buyer, meskipun struktur tren utama masih cenderung positif. Andy juga memproyeksikan dua kemungkinan pergerakan harga dalam jangka pendek. Jika minat beli kembali muncul dan harga mampu mempertahankan area support, maka Emas berpeluang melakukan pemulihan menuju area $4.420 sebagai target kenaikan terdekat. Apabila tekanan jual berlanjut dan harga gagal rebound, maka potensi penurunan berikutnya mengarah ke area $4.308 yang menjadi level support penting. Dari sisi fundamental, pelemahan harga Emas dipicu oleh aksi ambil untung investor di tengah likuiditas pasar yang menurun menjelang libur akhir tahun. Selain itu, penguatan Dolar AS turut memberikan tekanan tambahan, karena membuat harga Emas menjadi kurang menarik bagi pembeli global. Sentimen geopolitik juga sempat mereda setelah muncul harapan terkait pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina, sehingga mengurangi permintaan aset safe haven dalam jangka pendek. Meski demikian, prospek Emas dalam jangka menengah masih dinilai konstruktif. Ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun depan tetap menjadi faktor pendukung utama. Ketidakpastian politik global, kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan moneter AS, serta risiko geopolitik yang masih berlangsung dinilai akan terus menjaga daya tarik Emas sebagai aset lindung nilai. Lantaran itu, koreksi yang terjadi saat ini dipandang sebagai fase penyesuaian teknikal setelah reli kuat, bukan sebagai sinyal perubahan tren jangka panjang.
Harga Emas Koreksi Setelah Rekor Tertinggi, Tren Kenaikan Masih Terjaga
Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia (XAU/USD) tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan terbaru setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran mendekati US$4.526, pada Rabu (24/12) lalu. Di awal pekan ini, Senin (29/12) sesi Asia, pergerakan emas terlihat melemah dan diperdagangkan di area US$4.470. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar akibat menurunnya likuiditas menjelang libur Natal. Meski mengalami koreksi, emas masih membukukan penguatan hampir 3 persen secara mingguan, yang mencerminkan bahwa tren bullish masih tetap mendominasi. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pelemahan harga emas saat ini lebih dipicu oleh aksi ambil untung jangka pendek setelah lonjakan harga yang cukup signifikan. Menurutnya, dari sudut pandang teknikal, struktur pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan naik. Analisis berbasis pola candlestick yang dikombinasikan dengan indikator Moving Average memperlihatkan bahwa XAU/USD masih bergerak dalam jalur uptrend yang kuat. Andy Nugraha menjelaskan selama harga emas mampu bertahan di atas zona support utama, dominasi tekanan beli masih relatif terjaga. Ia menambahkan koreksi yang terjadi saat ini merupakan hal yang wajar secara teknikal, mengingat kenaikan harga yang berlangsung cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir. Dalam proyeksi pergerakan harian, Dupoin Futures Indonesia memperkirakan bahwa jika momentum bullish kembali menguat, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area US$4.575 sebagai target terdekat. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan penguatan gagal berlanjut, maka potensi penurunan diperkirakan mengarah ke level US$4.470 yang berfungsi sebagai support jangka pendek. Dari sisi fundamental, reli emas sepanjang tahun ini tercatat sebagai salah satu yang paling kuat dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 70%, menempatkannya pada jalur performa tahunan terbaik sejak 1979. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya minat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global, risiko perlambatan ekonomi, serta derasnya aliran dana institusional ke logam mulia. Faktor lain yang turut menopang pergerakan emas adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap mata uang AS dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan proteksionis Presiden AS Donald Trump serta sikap kebijakan moneter Federal Reserve yang cenderung dovish. Sepanjang 2025, The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin, dan pasar masih memproyeksikan adanya dua kali pemangkasan tambahan pada tahun depan. Lingkungan suku bunga rendah ini meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil. Sementara, rilis data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam. Klaim pengangguran awal tercatat menurun menjadi 214 ribu, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Namun, klaim pengangguran berkelanjutan justru meningkat ke level 1,923 juta. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga tercatat cukup solid di angka 4,3 persen, melampaui perkiraan sebelumnya. Ke depan, Andy Nugraha memperkirakan harga emas berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek, seiring terbatasnya katalis baru serta meningkatnya kecenderungan profit taking menjelang akhir tahun. Meski demikian, prospek kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang dinilai masih tetap terbuka, dengan peluang berlanjutnya reli emas hingga 2026 selama ketidakpastian global dan kebijakan moneter longgar masih menjadi faktor utama di pasar.
Terkoreksi di AkhirTahun, Tren Naik Emas Dinilai Masih Kuat pada 2026
Jakarta, karakabar.com - Harga emas diperkirakan tetap menjadi salah satu aset yang paling diperhatikan pasar global pada tahun mendatang, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik dunia. Dupoin Futures Indonesia melalui analis pasar, Andy Nugraha, menilai emas akan mengalami tekanan koreksi di akhir 2025, prospek pergerakan XAU/USD pada 2026 masih menunjukkan kecenderungan positif dengan peluang mencetak rekor harga baru. Menurut analisis teknikal yang dipaparkan Andy Nugraha pada 13 November 2025 lalu, harga emas tercatat mengalami penurunan sekitar 10 persen pada pertengahan kuartal IV 2025. "Koreksi tersebut muncul setelah reli kuat yang berlangsung sepanjang tahun, sehingga dinilai sebagai proses normal dalam siklus pasar. Dari sisi struktur tren, pergerakan XAU/USD masih berada dalam tren naik jangka menengah hingga panjang, yang membuka peluang kelanjutan penguatan pada tahun berikutnya," jelasnya. Andy Nugraha menyampaikan selama harga emas mampu bertahan di atas zona support krusial, potensi kenaikan menuju level psikologis 5.000 pada 2026 masih sangat memungkinkan. Target tersebut dianggap realistis apabila didukung oleh kondisi global yang kondusif, khususnya terkait arah kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi makro dunia. Meski demikian, ia mengingatkan fluktuasi harga diperkirakan tetap tinggi sehingga kewaspadaan tetap diperlukan. Andy menekankan penting mempertimbangkan skenario alternatif. Jika terjadi pembalikan tren akibat tekanan jual yang signifikan atau perubahan sentimen global secara mendadak, harga emas berpeluang mengalami pelemahan lanjutan. Pada skenario negatif, XAU/USD diproyeksikan dapat turun menuju area 3.500 pada 2026. Untuk itu, Dupoin Futures Indonesia mengimbau pelaku pasar untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat dalam menyikapi pergerakan emas ke depan. Dari perspektif fundamental, proyeksi Dupoin Futures Indonesia sejalan dengan pandangan sejumlah institusi keuangan internasional. HSBC memperkirakan harga emas berpotensi menembus 5.000 dolar AS per ounce pada paruh pertama 2026. Proyeksi tersebut didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, serta pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral dunia. Selain itu, potensi pelemahan dolar AS akibat penurunan suku bunga turut menjadi faktor pendukung penguatan emas. Sementara, JP Morgan menilai tren penguatan emas masih akan berlanjut dalam jangka panjang. Bank tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai 6.000 dolar AS per ounce dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya risiko stagflasi, kebijakan pelonggaran moneter The Fed, serta lonjakan permintaan emas global yang diperkirakan melampaui 500 ton per kuartal pada 2026. JP Morgan menilai emas kini semakin diposisikan sebagai instrumen diversifikasi terhadap dolar AS. Adapun Bank of America memperkirakan rata-rata harga emas pada 2026 berada di kisaran 4.400 dolar AS per ounce, dengan peluang menembus 5.000 dolar AS apabila permintaan investasi terus menguat. Ketiga proyeksi tersebut mempertegas pandangan Andy Nugraha emas berpotensi memasuki fase “super cycle” baru, meski risiko koreksi tetap perlu menjadi perhatian utama investor dan trader sepanjang tahun mendatang.
XRP Kembali Terkoreksi di Tengah Debut ETF dan Lonjakan Investor Institusi
Jakarta, katakabar.com - XRP baru-baru ini mengalami penurunan harga yang cukup signifikan, mencapai $2.00 dengan koreksi sebesar 6 persen dalam tujuh hari. Penurunan ini terjadi meski ekosistem Ripple secara keseluruhan mencatatkan kinerja institusional terkuatnya dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu alasan utama di balik penurunan harga ini terkait erat dengan peristiwa keuangan yang terstruktur, yakni berakhirnya sejumlah besar kontrak opsi XRP. Ketika kontrak-kontrak derivatif ini mencapai masa kadaluarsa, harga yang terjadi di pasar berada di bawah level yang dikenal sebagai harga max pain. Kondisi ini seringkali memaksa banyak trader untuk menjual aset mereka guna membatasi kerugian, yang secara instan menciptakan tekanan jual yang cepat dan signifikan. Selain faktor internal ini, aset digital ini juga terseret oleh sentimen pasar yang lebih luas. Terlihat adanya pergeseran minat investor secara umum ketika pasar aset kripto secara keseluruhan mengalami kontraksi, altcoin seperti XRP ini cenderung kehilangan perhatian, sementara aset utama seperti Bitcoin justru semakin mendominasi, menunjukkan bahwa modal mengalir keluar dari sektor altcoin. Menariknya, pelemahan harga ini berlawanan secara tajam dengan kondisi fundamental XRP yang sedang berada di puncaknya. Minat dari kalangan investor besar dan institusi terhadap ekosistem Ripple terlihat sangat jelas. Misalnya, peluncuran produk investasi yang diperdagangkan di Exchange Traded Fund XRP pertama di Amerika Serikat yang menarik perhatian finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Volume perdagangan hari pertama produk ini menjadi yang terbesar sepanjang tahun untuk kelas aset sejenis, dan nilai aset yang dikelolanya melonjak pesat, menandakan kepercayaan yang kuat dari investor institusional. Selain itu, ekosistem XRP semakin diperkaya dengan hadirnya stablecoin baru dari Ripple yang dengan cepat mencapai kapitalisasi pasar yang besar, menambah utilitas dan likuiditas. Secara keseluruhan, total dana institusional yang masuk melalui produk ETF terkait XRP terus bertumbuh, menggarisbawahi adopsi yang solid dari pihak-pihak dengan modal besar. Meskipun fondasi ekosistemnya kukuh, harga XRP kini berada di sebuah persimpangan teknis yang sangat penting. Para analis pasar menaruh perhatian pada sebuah level support yang sangat krusial. Level ini akan menjadi batas penentu apakah harga akan melanjutkan penurunan atau memulai pemulihan. Apabila harga mampu mempertahankan posisinya di atas batas support ini, maka para pembeli diperkirakan akan mendapatkan momentum untuk mendorong harga kembali naik, berpotensi memulai sebuah tren bullish baru. Jika batas support vital ini gagal dipertahankan, maka aset ini kemungkinan besar akan mengalami penurunan nilai yang lebih dalam sebelum akhirnya menemukan pijakan yang kuat untuk memulai pemulihan. Oleh karena itu, langkah selanjutnya bagi XRP akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pasar merespons di level teknis yang sangat signifikan ini. Pada konteks ini, investasi bukan hanya tentang memaksimalkan potensi keuntungan, tetapi yang lebih fundamental adalah tentang strategi cerdas untuk membangun dan memelihara nilai aset yang sudah dimiliki di tengah pergerakan pasar. Selaras dengan ini, literasi dan edukasi investasi juga menjadi fondasi utama dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Sehingga sangat penting untuk memilih platform investasi yang aman, berizin dan diawasi di Indonesia. Bittime, platform pertukaran aset kripto terdepan, berizin merupakan top 3 crypto exchange di Indonesia berdasarkan Coingecko, dan telah resmi beroperasi sejak 2022. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya
Bitcoin Terkoreksi di $109.000, Investor Bersiap Sambut Listing Token MET di Bittime
Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto global saat ini sedang berada dalam fase koreksi, di mana harga Bitcoin BTC terpantau bergerak di sekitar $109.000 setelah sempat mencapai puncak yang lebih tinggi. Koreksi minor ini merupakan bagian alami dari siklus pasar, sering terjadi setelah periode kenaikan yang kuat, dan mengindikasikan adanya aksi profit-taking sementara oleh para investor. Meski ada sedikit penurunan, level harga saat ini masih menunjukkan upaya serius dari para bull untuk mempertahankan posisi dukungan penting. Pergerakan harga di kisaran $109.000 ini juga tercermin pada indikator relative srength index atau RSI. Pada grafik jangka pendek, pasar menunjukkan sinyal kehati-hatian atau bahkan potensi penurunan lanjutan sebelum tren naik dapat kembali berlanjut. Menjelang pengumuman penting dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mengenai kebijakan suku bunga, sentimen terhadap aset seperti saham dan aset kripto sering kali menghadapi tekanan. Meskipun demikian, secara umum, para pakar melihat adanya alasan kuat untuk tetap optimistis. Secara keseluruhan, meski pasar mungkin mengalami gejolak jangka pendek karena faktor makroekonomi, prospek jangka panjang untuk aset berisiko, termasuk Bitcoin, tetap cerah. Di tengah situasi pasar saat ini, sebuah perkembangan penting datang dari ekosistem decentralized finance atau DeFi, khususnya dengan munculnya token baru yang menjadi bagian dari inovasi likuiditas. Token tersebut adalah MET, aset digital utama yang dimiliki oleh Meteora. Meteora merupakan platform decentralized exchange atau DEX yang dibangun di atas jaringan berkecepatan tinggi, Solana. Proyek ini secara khusus fokus untuk menyediakan infrastruktur likuiditas yang modern, aman, dan efisien, yang sangat vital untuk mendukung pertumbuhan ekosistem Solana dan komunitas DeFi. Dengan fitur-fitur canggih seperti Dynamic AMM Pools yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan smart vaults, Meteora membantu pengguna mengelola dana mereka untuk likuiditas dengan lebih baik, sekaligus meningkatkan potensi keuntungan secara transparan. Sebagai kabar gembira bagi para investor di Tanah Air, bursa aset kripto terkemuka di Indonesia, Bittime, telah mengumumkan akan segera melakukan listing token MET, memungkinkan para pengguna untuk memperdagangkan aset inovatif ini di platform mereka. Melihat hal tersebut Bittime, platform crypto exchange yang resmi dan berlisensi di Indonesia, resmi melisting token tersebut pada platformnya. Dengan menghadirkan token ini, Bittime tidak hanya menyediakan beragam pilihan bagi para investor, tetapi juga memperlihatkan evolusi aset kripto yang terus berinovasi, menggabungkan teknologi canggih dengan ekspresi budaya yang unik. Langkah ini menjadi bukti Bittime terus mengikuti perkembangan industri kripto global, menghadirkan aset-aset dengan potensi pertumbuhan jangka panjang dan peran yang jelas dalam ekosistem digital. Tentu perlu dipahami seperti bentuk investasi lain, memilih aset kripto yang akan diinvestasikan, sebaiknya berdasarkan literasi dan pemahaman yang memadai, bukan sekadar euforia pasar.
Pasca SEC Tarik Banding, XRP Naik Tajam Lalu Terkoreksi Tapi Bitcoin Ikut Tertekan
Jakarta, katakabar.com - Langkah mengejutkan datang dari Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) yang secara resmi menarik banding atas putusan hakim terkait penjualan XRP. Keputusan ini spontam guncang pasar kripto. Harga XRP sempat melesat lebih dari 10 persen hanya dalam waktu singkat, memicu optimisme investor akan masa depan Ripple. Euforia itu tak bertahan lama XRP kembali terkoreksi, dan Bitcoin pun ikut terseret turun ke bawah level $85.000, meski sebelumnya sempat mencatatkan reli singkat. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik pergerakan ini? Langkah SEC menarik banding atas keputusan hakim terkait penjualan programatik XRP di bursa publik disambut positif oleh pelaku pasar. Ini dinilai sebagai langkah awal menuju kejelasan hukum yang selama ini membayangi Ripple. Dampaknya langsung terasa, nilai tukar kurs XRP meroket tajam hanya dalam hitungan jam. Kegembiraan itu cepat mereda. Ripple justru mengajukan banding silang (cross-appeal) untuk memperjelas interpretasi hukum terkait “kontrak investasi”. Ripple ingin memastikan bahwa aset digital seperti XRP tidak bisa dikategorikan sebagai sekuritas tanpa adanya kontrak dengan hak dan kewajiban yang jelas. Jika gugatan ini berakhir dengan penyelesaian damai, Ripple bisa kembali jual XRP kepada institusi, membuka peluang adopsi yang jauh lebih luas. Berdasarkan market Bittime, harga XRP terpantau berada di level Rp40.143, turun 1.06 persen dalam 24 jam terakhir.
Kelapa Sawit Terkoreksi Cukup Dalam, Ini Pemicunya
Jakarta, katakabar.com - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, fluktuasi harga komoditas global saat ini terkoreksi cukup dalam per November 2023, bila dibandingkan pada 2022 lalu. Kementerian Keuangan mencatat, harga komoditas global mengalami fluktuasi dipicu geopolitik dan faktor cuaca yang buruk. Menkeu RI merinci, seperti harga minyak mentah global jenis brent mengalami kontraksi 5,9 persen (year to date/ytd). “Harga minyak ini terkoreksi hampir 6 persen, sempat meningkat (di level US$ 80,85 per barel) tapi melemah kembali,” ujarnya saat Konferensi Pers APBN KITA, dua hari lalu, dilansir dari laman kontan.co.id, pada Ahad (26/11). Dari catatan Menkeu RI, harga natural gas harganya mengalami kontraksi 30,8 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Harga batubara pun mengalami kontraksi 69,7 persen ytd. Harga batubara ini termasuk salah satu yang mempengaruhi perekonomian domestik. Untuk minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO), kata Sri, mengalami penurunan harga 10,1 persen ytd, dan gandum demikian mengalami penurunan harga 29 persen ytd. “Berbagai komoditas pangan lain, yakni wheat, soybean dan rice semuanya juga mengalami penurunan. Meski untuk rice, kita lihat cukup tinggi naiknya 2 bulan terakhir. Hal ini dipengaruhi El nino dan dan mempengaruhi inflasi di berbagai negara. Termasuk Indonesia jadi faktor kenaikan inflasi yang perlu diwaspadai,” bebernya. Harga komoditas wheat atau gandum mengalami kontraksi 29 persen ytd, soybean atau kedelai mengalami kontraksi 3,4 perse ytd, dan beras mengalami kontraksi 3,2 persen ytd, tambahnya.