Tapanuli Selatan

Sorotan terbaru dari Tag # Tapanuli Selatan

Cerita Hatabosi Kearaifan Lokal dan Sawit Berkelanjutan Masuk Top 10 Nasional I-SIM Nasional
Nasional
Rabu, 01 November 2023 | 20:47 WIB

Cerita Hatabosi Kearaifan Lokal dan Sawit Berkelanjutan Masuk Top 10 Nasional I-SIM

Jakarta, katakabar.com - Hatabosi komunitas masyarakat yang mendiami Desa Haunatas, Tanjung Dolok, Bonan Dolok, dan Dusun Siranap di Desa Aek Sabaon, berada di hulu Sungai Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Hatabosi sebuah kearifan lokal dari 120 tahun lampau masih memanfaatkan dan mengelola air untuk persawahan di Kabupaten Tapanali Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Di sana, Forum Komunikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FoKSBI) menjalankan program Sawit Berkelanjutan. Berkat capaian itu mengantarkan Kabupaten Tapanuli Selatan top 10 nasional integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) for Regency Award 2023. Itu setelah melewati proses validasi dan verifikasi lapangan. Tim juri I-SIM Award mengundang Bupati Tapani Selatan, Dolly Pasaribu ke Jakarta untuk mempersentasikan program unggulan sedang dijalankan daerahnya. Presentasi berlangsung di Gedung Graha Surveyor Indonesia, pada Senin (30/10) lalu. Di momen itu, Dolly memaparkan integrasi pelestarian hulu hingga hilir Sungai Batangtoru lewat kearifan lokal masyarakat Hatabosi dan Program Sawit Berkelanjutan yang dijalankan Forum Komunikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FoKSBI). Hatabosi komunitas masyarakat yang mendiami Desa Haunatas, Tanjung Dolok, Bonan Dolok, dan Dusun Siranap di Desa Aek Sabaon. Hatabosi berada di hulu Sungai Batangtoru. FoKSBI Tapanuli Selatam sudah berhasil membina 597 petani kelap sawit mandiri di kawasan hilir Sungai Batangtoru hingga memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Mereka mengelola 859,51 hektar lahan sawit secara berkelanjutan. “Terimakasih kepada panitia I-SIM yang telah memberikan kesempatan kepada Tapanuli Selatan. Inilah Hatabosi dan FoKSBI sebagaimana yang kami bersama masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya lakukan selama ini di sana,” ujar Dolly lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Rabu (1/11). Hatabosi, cerita Dolly, kearifan lokal sejak 120 tahun lalu memanfaatkan dan mengelola air untuk persawahan. “Pemanfaatan Sungai Batangtoru lewat pengaturan air Hatabosi ini mengairi sawah seluas 300 hektar. Secara otomatis moyang kami menjaga 5000 hektar hutan cagar alam Sibual-buali habitat keanekaragaman hayati termasuk satwa endemik, orang utan pongo Tapanuliencies,” jelasnya. Menurutnya, untuk pelestarian penanaman Sawit Berkelanjutan di Kecamatan Muara Batang Toru, sekitar 33 perswn dari lebih 16 ribu hektar lahan gambut sudah ditanami sawit petani mandiri. Tapi, masyarakat bersama pemerintah tetap berkomitmen bahwa keberadaan kelapa sawit tetap menjaga kelestarian gambut. Lahan gambut dijaga tetap basah di tengah kebun sawit yang ada. Ini menjadi solusi untuk mengatasi ketersedian air di daerah dan sangat berpengaruh pada sektor pertanian lainnya. “Guna penjagaan lingkungan dan produktivitas sawit, masyarakat menerapkan 3R. Pertama Rewetting dengan tujuan membuat lahan tetap basah dan diatur ketinggian airnya agar akar sawit tidak tergenang. Terus, Revegetation dengan menanam jelutung di sela-sela tanaman kelapa sawit, dan Revitalitation dengan usaha masyarakat seperti ternak lele,” bebernya. Diketahui, I-SIM adalah gerakan untuk meningkatkan akselerasi ketercapaian Sustainable Development Golds (SDGs) kabupaten dan kota pada tahun 2030 serta mendorong kapasitas pemerintah daerah untuk menerapkan standar keberlanjutan internasional. Untuk masuk ke posisi top 10, Tapanuli Selatam bersaing dengan 400 kabupaten se Indonesia yang terdaftar dalam program I-SIM for Regencies 2023. Di mana 9 kabupaten lain yang lolos ke penjurian akhir I-SIM for Regencies 2023, meliputi Tapanuli Utara, Karo, Sinjai, Bandung, Temanggung, Bantul, Bogor, Gowa, dan Magelang. Tim juri I-SIM 2023, yakni DR (Cand) Billy Mambrasar (duta DGs/Staf Presiden), Dr Hendricus A. Simarmata (Presiden of Indonesian Association of Urban and Regional Planners/IAP), Prof. Zuzi Anna, MSi (Direktur SDGs Center Universitas Padjajaran), dan Dr Vivi Yulaswati (Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam) selaku Ketua Tim Pelaksana Nasional SDGs.

Pabrik Diresmikan, Cisadane Sawit Raya Kini Punya Dua PKS di Tapanuli Selatan Sawit
Sawit
Minggu, 29 Oktober 2023 | 17:38 WIB

Pabrik Diresmikan, Cisadane Sawit Raya Kini Punya Dua PKS di Tapanuli Selatan

Jakarta, katakabar.com - Cisadane Sawit Raya (CSRA) kini sudah punya dua Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Hal ini dengan diremikannya pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) persisnya berada di daerah Desa Muara Upu itu, lewat anak usahanya PT Samukti Karya Lestari (PT SKL) emiten produsen sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), pada Sabtu (28/10). Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA, Seman Sendjaja menuturkan, alasan perseroan membangun PKS kedua mereka di daerah Tapanuli Selatan, lantaran perseroan sudah memiliki kebun di wilayah yang sama dan pohon sawit pun sudah tertanam 5000 hektar di kawasan ini. “Di sini sudah tertanam (pohon sawit) 5.000 hektar, produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelap sawit sudah mencapai 400 ton lebih per hari. Jadi, memang sudah saatnya bangun pabrik di kebun ini,” ujar Seman, dilansir dari laman Kontan.co.id, pada Minggu (29/10). Soal besar investasi untuk membangun pabrik ke dua ini, kata Seman, perseroan menghabiskan dana hampir Rp180 miliar. “Yang ini (pabrik sawit PT SKL) habis hampir Rp180 miliar. Tapi, itu sudah termasuk jalan, perumahan karyawan dan pelengkap lainnya. Kalau pabriknya tok sih gak sampai segitu ya. Ya sekitar Rp130 miliar,” ceritanya. "Kalau pabriknya tok sih gak sampai segitu ya. Ya sekitar Rp 130 miliar,” jelasnya lagi. Terkait kapasitas produksi pabrik terbaru ini memiliki kapasitas produksi yang didesain sebesar 45 ton per jam. “PKS yang ini didesain 45 ton per jam, tapi sekarang jalan 30 ton per jam. Nanti kalau saatnya dibutuhkan kita akan tambah beberapa alat lagi,” bebernya. Vice President Engineering CSRA, Totok Pratikno menimpali, proyek PT SKL ini sejatinya telah dimulai pada Januari 2022 lalu, dilanjutkan kemudian dengan test plant di tahun Juni 2023. “Ini (PKS PT SKL) sudah produksi kurang lebih 3,5 bulan, dan sudah memproduksi TBS lebih dari 57.000 ton,” bebernya. Dengan dibukanya PKS ini, sebut Totok, lapangan pekerjaan terutama untuk warga sekitar PKS terbuka lebih lebar. “Sebesar 80 persen pekerja kami putra daerah, sisanya 20 persen pendatang. Pendatang ini bukan berarti orang baru, tapi dari pabrik kami di Negeri Lama atau Pabrik Labuhan Batu,” terangnya. Disamping itu, melalui penambahan pabrik baru ini Seman mengharapkan angka sales atau angka penjualan Crude Palm Oil (CPO) dari perseroan naik. “Lantaran, dari yang tadinya kami hanya jual buah (sawit) sekarang kami jadi jual CPO. Jadi, ada ekstra margin yang selama ini dinikmati oleh pabrik-pabrik yang beli buah kami, sekarang kami sendiri yang menikmati hasil buah tersebut,” ucapnya. Melalui SKL ini, CSRA berencana membeli TBS kelapa sawit milik masyarakat, dimaksudkan bisa membantu perekonomian dari petani kelapa sawit di sekitar pabrik. Pembelian TBS kelapa sawit ni direncanakan mulai dilakukan tahun 2024 mendatang. “Adanya pabrik ini, kita bisa beli buah masyarakat di sekitar kami yang bisa meningkatan hasil CPO. Kalau pembelian CPO buah masyarakat sekarang sih masih nihil, kita mulai (pembelian) di tahun depan,” tandasnya. Diketahui, CSRA saat ini tengah mempersiapkan ekspansi pabrik ke-3 mereka yang berada di Sumatra Selatan (Sumsel), pasnya di Kabupaten Banyuasin. Untuk kapasitas dan luas pabrik sama persis dengan PT SKL. Dan terkait besar investasi pabrik ke 3 ini diprediksi bisa lebih rendah dari pabrik ke 2 PT SKL, sebab menggunakan sistem swakelola.