Siap-siap! Petani di Nagan Raya Tanam Kelapa Sawit Masif di Lahan Luas Kedepan
Medan, katakabar.com - Para petani kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, berencana kembangkan perkebunan kelapa sawit secara masif, dan...
Halo Robotics Melawan Hama Tanaman Eukaliptus Pakai Drone Pertanian DJI Agras
Jakarta, katakabar.com - Halo Robotics, perusahaan teknologi drone terdepan, menghadirkan solusi inovatif untuk mengatasi hama tanaman eukaliptus dengan menggunakan drone pertanian DJI Agras T20P. Eukaliptus, tanaman yang banyak dimanfaatkan di berbagai industri, tak luput dari serangan hama seperti semut putih, belatung, jangkrik mol, cacing kayu, dan kumbang kulit kayu.
Tanaman Sawit Bisa Lambat Berbuah, Ini Penyebabnya
Bengkulu, katakabar.com - Tanaman kelapa sawit pekebun swadaya terkadang bisa lambat berbuah meski tanaman sudah tiba masanya untuk berbuah, tapi belum menunjukkan tanda-tanda tersebut. Pengamat Pertanian Bengkulu, Prof Dr Zainal Muktamar menjabarkan, tanaman kelapa sawit bisa lambat berbuah disebabkan pemilihan bibit yang salah, dan cahaya matahari yang sedikit, serta kondisi tanah yang tidak sesuai. "Cepat atau lambatnya tanaman kelapa sawit berbuah pertama lantaran kualitas bibit yang digunakan, cahaya matahari, dan kondisi tanah," ujar Zainal dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabtu (13/4). Kalau petani sudah menanam bibit kelapa sawit berkualitas di tanah subur, ulas Zainal, tapi berbuah permasalahannya cahaya matahari. "Kekurangan cahaya matahari bisa sebabkan tanaman kelapa sawit lambat berbuah," jelasnya. Diceritakan Zainal, kelapa sawit butuh cahaya matahari minimal 5 hingga 7 jam per hari agar tumbuh optimal. Jadi, pemilihan lokasi tanam yang cocok wajib diperhatikan petani. "Tanaman kelapa sawit sangat sensitif terhadap cahaya matahari. Bila lokasi tanam tidak memberikan paparan matahari yang cukup, pertumbuhan tanaman terhambat, akhirnya mempengaruhi produktivitas buah," terangnya. Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, M Rizon SHut MSi menimpali, selain cahaya matahari yang cukup, pemilihan tanah penting untuk pertumbuhan buah pada tanaman kelapa sawit. "Tanah yang gembur dan subur dengan pH yang tepat bisa memberikan nutrisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Hal ini berdampak langsung pada kecepatan dan kualitas buah yang dihasilkan," ucapnya. Tapi, tutur Rizon, tantangan muncul saat para petani menghadapi keterbatasan lahan yang sesuai dengan kriteria ideal tersebut. Untuk itu, petani untuk melakukan pembenahan tanah dengan menggunakan pupuk organik atau melakukan penyesuaian pH tanah secara terencana. "Lokasi tanam yang tepat dapat meningkatkan produktivitas kelapa sawit hingga 30 persen. Tapi, mesti dilakukan perawatan yang tepat, seperti pemberian pupuk organik. Bila ini tidak dilakukan para petani manfaat dari pemilihan lokasi yang ideal bisa sia-sia," tandasnya.
Sumut Paling Besar Terkena Ganoderma Tanaman Kelapa Sawit, Ini Langkah Kementan RI
Jakarta, katakabar.com - Provinsi Sumatera Utara paling besar terkena Ganoderma pada tanama kelapa sawit, sudah masuk generasi ke lima seluas 34.000 hektar. Guna mencegah sekaligus antisipasi penyakit pangkal busuk batang disebabkan Ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit. Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia lewat Ditjen Perkebunan melakukan sejumlah langkah antisiapasi dan pencegahan, Menurut Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Kementan RI, Ardi Praptono dalam Simposium Internasional Ganoderma di Bandung, pada Rabu kemarin menyatakan, penyakit pangkal busuk batang yang disebabkan Ganoderma dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produktivitas tanaman, khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat. "Pemerintah melakukan pemantauan dan pelaporan Ganoderma di semua provinsi dengan aplikasi sistem informasi pelaporan dan rekap data organisme pengganggu tanaman (sipereda OPT) serta Informasi pengendalian OPT melalui aplikasi sistem informasi kesehatan tanaman (sinta)," ujarnya dilansir dari laman ANTARA, pada Kamis (1/2). Diceritakan Ardi, perkebunan rakyat yang terkena Ganoderma mencapai 46.767 hektar, paling besar di Sumut sudah masuk generasi ke lima, 34.000 hektar. "Perkebunan rakyat yang terkena tersebar di 12 provinsi, meliputi Nangroe Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat," jelasnya. Kata Ardi, pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit masih menjajikan dan jadi tumpuan untuk menjaga perekonomian nasional terjaga apalagi ekspor pertanian didominasi minyak kelapa sawit yang nilainya mencapai 34,94 miliar dolar AS atau setara Rp600 triliun pada 2022 lalu. "Untuk itu, kami mengharapkan semua pihak bersinergi untuk mengendalikan penyakit ini dan meminta masukan konkrit kepada pemerintah," serunya. Penyakit busuk pangkal batang disebabkan Ganoderma, ulas Ketua Umum GAPKI, Edy Martono, salah satu ancaman keberlanjutan kelapa sawit Indonesia. "Sering terjadi baik di perusahaan dan perkebunan rakyat, terlambat menyadari sehingga harus dieridikasi," bebernya. Banyak upaya untuk melakukan mitigasi Ganoderma, sebut Edy, seperti sanitasi, deteksi dini dan rekayasa tanaman tahan ganoderma tapi hasilnya belum memuaskan sehingga harus dilakukan berbagai upaya. Kalau semakin banyak tanaman yang terkena dan eridikasi banyak yang dilakukan maka populasi tanaman berkurang dan produksi dan produktivitas menurun. "Penelitian Ganoderma perlu diperbanyak dengan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sehingga menghasilkan mitigasi baru yang selama ini tidak terpikirkan," terangnya. Komite Riset BPDPKS, Tony Liwang menimpali, BPDPKS sudah membiayai beberapa riset terkait Ganoderma seperti penggunaan drone untuk deteksi dini. "BPDPKS sangat berkepentingan untuk menjaga keberlanjutan sawit Indonesia, termasuk dari ancaman ganoderma," ucapnya. Dewan Pakar Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Karyudi menuturkan, pengendalian Ganoderma mengembalikan kondisi tanah seperti pada masa lalu dengan memasukan organisme antagonis seperti mikoriza dan trichoderma. Kepala Dinas Perkebunan Jambi, Agus Rizal menjelaskan, selama ini Disbun Jambi membantu dengan trichoderma yang dibuat oleh UPT Perlindungan Perkebunan Disbun. "Jambi siap berkolaborasi dengan semua pihak sebagai percontohan pengendalian ganoderma, terutama untuk perkebunan rakyat," imbuhnya.
Mencolok Umur 10 tahun, Harga TBS Sawit Naik Signifikan di Kaltim
Kalimantan Timur, katakabar.com - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit naik signifikan di Provinsi Kalimantan Timur. Data teranyar menunjukkan paling mencolok trend naiknya kelapa sawit umur tanaman sepuluh tahun. "Kenaikan harga TBS kelapa sawit paling mencolok tercatat di kelompok umur sepuluh tahun sebesar Rp2.304,41 per kilogram," kata Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir, lewata keterang resmi, dilansir dari laman kaltimtoday.com, pada Selasa (16/1). Menurut Muzakkir, faktor utama kenaikan harga TBS kelapa sawit ini dikaitkan dengan lonjakan harga jual Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel. Harga CPO tertimbang saat ini sebesar Rp10.906,46, dan Kernel dihargai Rp4.944,97 per kilogram, dengan indeks K mencapai 87,60 persen. Dirincikan Muzakkir, harga TBS kelapa sawit di kelompok umur tiga tahun Rp2.032,37 per kilogram. Harga meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Umur empat tahun Rp2.171,67 per kilogram, dan hingga umur sembilan tahun Rp2.277,40 per kilogram. Dijelaskan Muzakkir, harga-harga ini menjadi acuan bagi petani yang menjalin kemitraan dengan perusahaan pengolahan kelapa sawit di Kalimantan Timur, khususnya mereka yang terlibat dalam kebun plasma. "Kerja sama ini diharapkan dapat mengamankan harga TBS kelapa sawit yang adil bagi petani, guna menghindari manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu, dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan kelompok tani kelapa sawit," ucapnya. Kondisi pasar yang menguntungkan ini, tambah Muzakkir, diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, khususnya dalam sektor perkebunan kelapa sawit.