PT RPN

Sorotan terbaru dari Tag # PT RPN

PT RPN bersama BPDP Dukung Pengembangan UMKM Lewat Workshop Pangan Sehat Berbasis Minyak Sawit Sawit
Sawit
Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:07 WIB

PT RPN bersama BPDP Dukung Pengembangan UMKM Lewat Workshop Pangan Sehat Berbasis Minyak Sawit

Medan, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit, anak usaha dari Holding Perkebunan Nusantara sukses taja Workshop Pangan Sehat Berbasis Minyak Sawit untuk UMKM dan Masyarakat Umum pada 22 hingga 23 Juli 2026 lalu, di Hotel Le Polonia Medan dan AVROS Guest House PPKS. Kegiatan ini terlaksana atas dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai sponsor utama, yang terus berkomitmen mendukung pengembangan sumber daya manusia, inovasi, serta hilirisasi komoditas perkebunan Indonesia. Workshop diikuti oleh 46 pelaku UMKM yang berasal dari Kota Medan dan sekitarnya. Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan komprehensif mengenai pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku pangan sehat, teknologi pengolahan produk, peluang usaha, perizinan pangan, branding, hingga strategi pemasaran digital dengan materi yang disampaikan oleh para peneliti PPKS, akademisi Universitas Sumatera Utara, praktisi bisnis, serta narasumber dari berbagai instansi terkait. Penyelenggaraan workshop ini merupakan bagian dari upaya PT Riset Perkebunan Nusantara melalui PPKS dalam mendorong hilirisasi kelapa sawit melalui pengembangan produk pangan bernilai tambah. Selain meningkatkan kompetensi teknis peserta, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran para pelaku UMKM mengenai besarnya potensi produk turunan kelapa sawit sebagai bahan baku untuk menghasilkan pangan yang sehat, bergizi, aman, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Diharapkan peserta mampu mengembangkan inovasi produk yang dapat meningkatkan daya saing usaha sekaligus memberikan nilai tambah bagi komoditas sawit Indonesia. Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Dr. Winarna, menegaskan hilirisasi merupakan salah satu strategi utama untuk meningkatkan daya saing industri sawit nasional. "Kelapa sawit memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah tinggi. Melalui workshop ini kami ingin memastikan bahwa hasil-hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan oleh masyarakat dan UMKM menjadi peluang usaha yang nyata," jelasnya. Selama workshop, peserta mendapatkan materi mengenai hilirisasi minyak sawit sebagai produk lemak pangan sehat, pemanfaatan berbagai produk turunan seperti minyak makan merah, margarin, shortening, dan cocoa butter substitute (CBS), konsep pangan sehat berbasis minyak sawit, peluang bisnis UMKM, perizinan produk pangan, serta branding dan digital marketing. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan penyampaian informasi hasil riset PPKS yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Galeri Riset Sawit dan demo penggunaan produk minyak sawit padat dan minyak sawit merah di Oil Palm Education Center (OPEC) PPKS sebagai sarana memperkenalkan inovasi hasil penelitian kepada masyarakat. Sebagai penutup, Anwar Sadat, Senior Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan, menyampaikan BPDP memiliki berbagai program yang ditujukan untuk mendukung masyarakat, khususnya melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. "BPDP memiliki banyak program dukungan kepada masyarakat, mulai dari peningkatan kapasitas SDM melalui berbagai pelatihan, fasilitasi kegiatan, hingga berbagai bentuk dukungan lainnya. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut agar semakin banyak UMKM yang mampu berkembang dan menghasilkan produk-produk bernilai tambah berbasis kelapa sawit," terangnya. Melalui workshop ini, PT Riset Perkebunan Nusantara bersama BPDP berharap semakin banyak pelaku UMKM yang memahami besarnya potensi produk turunan kelapa sawit sebagai bahan baku pangan sehat dan bergizi, serta mampu mengembangkannya menjadi usaha yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sinergi antara lembaga penelitian, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha diharapkan menjadi penggerak percepatan hilirisasi kelapa sawit Indonesia, sehingga manfaat ekonomi komoditas strategis nasional ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education Nasional
Nasional
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:03 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Terima Kunjungan Duke Corporate Education

Bogor, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menerima kunjungan delegasi Duke Corporate Education (Duke CE) dalam rangka company visit yang bertujuan memperkuat kolaborasi di bidang pengembangan kepemimpinan, inovasi, serta implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) pada sektor perkebunan. Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan transformasi yang tengah dilakukan PTPN Group melalui RPN, khususnya dalam pengembangan riset, inovasi, digitalisasi, dan praktik bisnis berkelanjutan yang mendukung daya saing industri perkebunan di tingkat global. Delegasi Duke CE disambut oleh jajaran manajemen PT RPN dan mengikuti berbagai sesi, mulai dari pemaparan profil perusahaan, demonstrasi teknologi digital seperti Chat OPA, e-Hara, dan NusaGIS, hingga diskusi interaktif mengenai tantangan dan peluang industri perkebunan masa depan. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Unit Bogor Getas serta Kebun Percobaan Kopyor Ciomas untuk melihat secara langsung aktivitas riset dan inovasi yang dikembangkan RPN. SEVP Riset, Inovasi & Sustainability PT RPN, Dr. Misnawi, menegaskan industri perkebunan menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan dinamis seiring dengan pertumbuhan pasar global bisnis sektor perkebunan yang senantiasa berubah. “Perkebunan semakin berkembang dan semakin besar. Tantangan yang kita hadapi pun semakin besar. Karena itu, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci. Pertemuan antara Duke Corporate Education, PT RPN, dan PTPN Group merupakan kesempatan berharga untuk mempererat kerja sama dalam membangun industri perkebunan yang lebih maju, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga memperluas jejaring dan dampaknya di tingkat global,” kata Misnawi. Managing Director for Middle East & APAC Duke Corporate Education, Mr. Dennis Foo, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari PTPN Group dan PT RPN. “Terima kasih kepada PTPN Group dan seluruh panitia yang telah menerima kami hari ini. Berbagi wawasan mengenai ESG menjadi sangat penting karena keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kita membutuhkan ESG hari ini, besok, dan di masa depan sebagai fondasi bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Dennis. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara dunia industri dan institusi pendidikan global. Pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik diharapkan mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, mempercepat inovasi, dan mendorong transformasi sektor perkebunan menuju industri yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini, PT Riset Perkebunan Nusantara sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri perkebunan Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem perkebunan berkelanjutan di tingkat dunia.

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:39 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026

Bali, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Karet, entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, bekerja sama dengan International Rubber Research and Development Board (IRRDB) gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026 di Hotel Aryaduta, Kuta, Bali. Usung tema "Strengthening Economic Resilience and Value Addition in the Global Natural Rubber Supply Chain", seminar ini menjadi forum internasional yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan industri karet alam global. Seminar ini dihadiri sejumlah tamu yang mewakili pemerintah, asosiasi industri, dan organisasi internasional, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Wan Abdul Rahaman, Direktur Hasil Hutan dan Industri Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Direktur Sabah Rubber Industry Board (Malaysia), Ketua International Rubber Consortium (IRCo), Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), dan Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong kemajuan industri karet alam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Seminar dibuka dengan sambutan dari Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Dr. Iman Yani Harahap, yang menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini memengaruhi industri karet, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga meningkatnya biaya produksi. Dr. Iman Yani Harahap menyampaikan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak nyata terhadap pasar energi dunia, yang berujung pada kenaikan harga minyak serta meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor. "Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia, Indonesia menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya logistik, transportasi, serta harga pupuk yang semakin membebani sektor perkebunan karet. Melalui seminar ini, kami berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan solusi praktis untuk menjawab tantangan sosial ekonomi yang terus berkembang dalam industri karet global," ujar Dr. Iman Yani Harahap. Seminar ini diikuti lebih dari 80 peserta yang berasal dari negara Jepang, Malaysia, Thailand, India, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk lembaga penelitian, perusahaan perkebunan dan industri karet, asosiasi petani, organisasi internasional, lembaga pembangunan, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah dan perbankan. Kehadiran beragam institusi tersebut mencerminkan kuatnya sinergi kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mendukung pengembangan industri karet alam yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing. Selama tiga hari pelaksanaan seminar, peserta mengikuti pemaparan materi utama, sesi teknis, diskusi ilmiah, dan berbagi pengalaman yang menghadirkan para pakar dari negara-negara anggota IRRDB, organisasi internasional, akademisi, serta pelaku industri karet. Melalui penyelenggaraan seminar ini, IRRDB bersama PT Riset Perkebunan Nusantara berharap dapat memperkuat sinergi internasional dalam merumuskan strategi yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi, keberlanjutan, nilai tambah, serta daya saing industri karet alam di tingkat global.

Lewat PT RPN, Holding PTPN Hidupkan Kembali Kawasan Heritage P3GI Pusat Edukasi dan Ekonomi Nusantara
Nusantara
Minggu, 07 Juni 2026 | 11:07 WIB

Lewat PT RPN, Holding PTPN Hidupkan Kembali Kawasan Heritage P3GI Pusat Edukasi dan Ekonomi

Pasuruan, katakabar.com -  PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), terus menghidupkan kembali kawasan bersejarah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) sebagai pusat edukasi dan penggerak ekonomi berbasis heritage. Melalui penataan kawasan cagar budaya dan pengembangan museum gula, PT RPN mendorong pemanfaatan warisan sejarah tidak hanya sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik dan sumber nilai tambah bagi masyarakat. Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan usung tema “Adaptif Bangunan Gedung Cagar Budaya untuk Mendukung Kesejahteraan Masyarakat” yang digelar melalui sinergi dan kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di kompleks P3GI, Pasuruan. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta pegiat pelestarian budaya dalam membahas strategi pemanfaatan kawasan heritage secara berkelanjutan. Kepala P3GI, Aris Lukito, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari peran strategis PT RPN sebagai holding knowledge di sektor perkebunan. “Kami ingin P3GI tidak hanya menjadi pusat penelitian, tetapi juga tempat edukasi sejarah dan teknologi gula,” kata Aris. Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan pada 2020 dan meningkat menjadi cagar budaya tingkat provinsi pada 2021, kawasan P3GI terus dikembangkan secara bertahap. Sejak 2023, revitalisasi difokuskan pada penguatan fungsi edukasi melalui museum gula serta pengelolaan kawasan berbasis pelestarian. Pengakuan terhadap nilai historis dan intelektual P3GI juga semakin menguat, ditandai dengan arsip sejarahnya yang telah memperoleh pengakuan Memory of the World (MoW) tingkat provinsi dan tengah diajukan ke UNESCO. Pemerintah daerah turut mengapresiasi langkah tersebut. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Agus Budi Darmawan, menyebut P3GI sebagai model pemanfaatan cagar budaya yang produktif. “P3GI menjadi contoh bagaimana bangunan cagar budaya dapat dirawat dan dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat serta generasi muda,” jelasnya. Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Jawa Timur, Satria Devi Kurniawan, menegaskan keberhasilan pelestarian terletak pada kemampuannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Cagar budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan lama, tetapi bagaimana kawasan tersebut bisa hidup, bermanfaat, dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. Melalui sinergi antara PT RPN, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya, kawasan P3GI diharapkan dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan heritage yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Dukung Transformasi PT RPN Perkuat Sinergi Riset dan Operasional Nasional
Nasional
Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:10 WIB

Dukung Transformasi PT RPN Perkuat Sinergi Riset dan Operasional

Bogor, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), salah satu entitas usaha Holding Perkebunan Nusantara gelar Rapat Koordinasi (Rakor) Tahun 2026 usung tema “The Value Engine: Aligning Research, Operations, and Commercial Strategy” di Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini dihadiri Komisaris, jajaran manajemen kantor direksi (kandir) maupun lingkup pusat penelitian, serta jajaran pengurus mitra perusahaan SPBUN PT RPN. Rakor 2026 menjadi forum konsolidasi strategis perusahaan untuk selaraskan arah kebijakan, program, dan langkah operasional dalam satu orkestrasi yang sama. Dengan menempatkan riset sebagai penggerak utama penciptaan nilai perusahaan, PT RPN tidak hanya memperkuat fondasi inovasi, tetapi juga membuka ruang akselerasi investasi dan transformasi bisnis yang berkelanjutan. Ketua Panitia Rakor 2026, Yabani, melaporkan kehadiran seluruh peserta menjadi energi penting bagi perusahaan. “Kehadiran Bapak-Ibu suatu kehormatan dan energi bagi kami. Tema ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan arah dan komitmen bersama. Melalui rapat koordinasi ini, kita harapkan lahir keputusan-keputusan yang tajam serta aplikatif,” ujarnya. Komisaris PT RPN, Eman Siswanto, menekankan pentingnya adaptasi model bisnis di tengah dinamika industri serta penguatan tata kelola perusahaan. “Kita perlu mengembangkan model bisnis yang responsif terhadap perubahan, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan pemanfaatan infrastruktur dan teknologi agar pengambilan keputusan semakin akurat dan berbasis data,” jelasnya. Sementara, Direktur PT RPN menyampaikan bahwa Rakor merupakan wadah strategis untuk memastikan seluruh elemen organisasi bergerak dalam frekuensi yang sama. “Rakor ini menjadi ruang penting untuk mengomunikasikan strategi perusahaan, agar seluruh unit memahami target yang akan kita capai dan langkah yang akan kita laksanakan. Kita harus menyelaraskan frekuensi dan memperkuat sinergi,” ulasnya. Direktur juga menyoroti pentingnya penguatan three lines model bisnis sebagai pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan perusahaan, serta optimalisasi riset sebagai instrumen peningkatan investasi. “Salah satu cara untuk menambah investasi adalah dengan memaksimalkan hasil riset. Kita harus mendorong para peneliti untuk menghasilkan riset yang unggul, aplikatif, dan memiliki nilai komersial tinggi di masa mendatang," ucapnya. Melalui Rakor 2026 ini, PT RPN menegaskan komitmen menjadikan riset sebagai value engine yang mengintegrasikan inovasi, efisiensi operasional, dan strategi komersial dalam satu kesatuan arah. Hasil forum tersebut diharapkan dapat segera diimplementasikan guna memperkuat kinerja dan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Dengan semangat kolaborasi dan keselarasan strategi yang dibangun selama pelaksanaan Rakor, forum ini diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat segera dijalankan di seluruh lini organisasi. Komitmen bersama yang terbangun menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing perusahaan serta mendukung transformasi berkelanjutan di lingkungan Holding Perkebunan Nusantara.

PT RPN Lewat Pusat Penelitian Karet Salurkan Bantuan TJSL Bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Tamiang Nasional
Nasional
Senin, 26 Januari 2026 | 10:02 WIB

PT RPN Lewat Pusat Penelitian Karet Salurkan Bantuan TJSL Bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui entitasnya, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Cabang Pusat Penelitian Karet, menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kegiatan ini wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial institusi dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang telah menyebabkan terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi warga serta menimbulkan kebutuhan mendesak akan bantuan logistik dan dukungan sosial. Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Penelitian Karet berinisiatif mengambil peran aktif dalam membantu meringankan beban masyarakat terdampak. Kegiatan penyaluran bantuan ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat korban banjir, meringankan beban sosial dan ekonomi, serta memperkuat hubungan dan solidaritas antara institusi dan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata komitmen Pusat Penelitian Karet dalam menjalankan peran sosial yang berkelanjutan. “Kami berharap bantuan yang disalurkan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak banjir serta menjadi bentuk kehadiran dan kepedulian Pusat Penelitian Karet di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” ujar Perwakilan Tim TJSL Pusat Penelitian Karet. Penyaluran bantuan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain aparat pemerintah daerah setempat, perangkat desa, relawan, serta perwakilan masyarakat terdampak. Seluruh kegiatan sepenuhnya didukung melalui Program TJSL Pusat Penelitian Karet. “Kegiatan ini tidak hanya sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara institusi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penanganan bencana,” tambahnya. Meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala seperti keterbatasan akses akibat genangan air hingga kondisi cuaca yang kurang mendukung, kegiatan tetap dapat terlaksana dengan baik melalui koordinasi intensif dengan pihak-pihak terkait di lapangan. Melalui pelaksanaan Program TJSL ini, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Pusat Penelitian Karet menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan bencana. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta kepercayaan antara institusi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ke depan, PT Riset Perkebunan Nusantara sebagai bagian dari ekosistem Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) berharap sinergi dan kolaborasi lintas pihak dapat terus terjalin secara berkelanjutan dalam mendukung upaya penanggulangan bencana, pemulihan sosial, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

PT RPN, Entitas Holding PTPN Taja Pelatihan Pengendalian OPT Berbasis Lingkungan Nasional
Nasional
Kamis, 11 Desember 2025 | 16:33 WIB

PT RPN, Entitas Holding PTPN Taja Pelatihan Pengendalian OPT Berbasis Lingkungan

Surabaya, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), anak usaha Holding Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) gelar pelatihan tentang Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Tebu Ramah Lingkungan, selama empat hari di Pertengahan November 2025 lalu. Pelatihan ini bertujuan memberikan solusi atas tantangan OPT yang sering dihadapi petani, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menerapkan teknik budidaya yang ramah lingkungan, menjaga kesehatan tanah serta mengatasi hama dan penyakit pada tanaman tebu. Pelatihan ini dimulai dengan pengenalan dasar mengenai tantangan pengelolaan OPT di tingkat lapangan dan pentingnya penerapan prinsip pertanian berkelanjutan. Peserta, meliputi petani dan praktisi perkebunan, mendapat kesempatan untuk mempelajari teknik-teknik terbaru dalam pengendalian hama uret dan pengerek batang, metode penanganan penyakit luka api serta pemilihan varietas unggul yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan dalam pertanian. Selama empat hari, peserta menerima kombinasi materi teoritis dan praktik lapangan. Pada sesi praktik, peserta mempelajari langsung analisis usaha tani serta penerapan teknik pengendalian OPT yang sesuai standar. Selain itu, peserta mengikuti tes pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman serta memberikan gambaran mengenai efektivitas pelatihan. “Kami menyambut baik pelatihan ini, karena pengendalian OPT adalah tantangan besar yang dihadapi petani setiap hari. Pemahaman yang lebih baik mengenai teknik pengendalian ramah lingkungan akan sangat membantu para petani dalam meningkatkan produktivitas tanaman tebu mereka sekaligus menjaga keberlanjutan lahan. Saya berharap, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan ini dapat diaplikasikan oleh peserta dan membawa dampak positif di wilayah masing-masing,” ujar Dydik Rudy Presty, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, turut hadir di acara pembukaan. Pelatihan ini dirancang untuk membantu petani mempersiapkan diri menghadapi tantangan budidaya di masa depan, terutama di tengah perubahan iklim dan meningkatnya serangan OPT. Dengan mengadopsi teknik budidaya yang lebih ramah lingkungan, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan tanaman tebu, meningkatkan produktivitas, serta menjaga keberlanjutan lahan pertanian. Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, PT RPN berharap pelatihan ini dapat menjadi contoh bagi sektor pertanian lainnya, terutama dalam penerapan pendekatan berbasis solusi ramah lingkungan akan semakin penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Holding PTPN Dorong Hilirisasi, PT RPN Luncurkan 28 Inovasi Riset Menuju Pasar Komersial Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 30 November 2025 | 10:36 WIB

Holding PTPN Dorong Hilirisasi, PT RPN Luncurkan 28 Inovasi Riset Menuju Pasar Komersial

Bogor, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menegaskan komitmennya untuk memperkuat perannya dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan nasional. Melalui konferensi pers yang digelar di Kantor Direksi PT RPN, Bogor Selasa (28/10), RPN umumkan keberhasilan mengembangkan 28 produk riset unggulan sepanjang 2023–2025 yang siap menuju tahap komersialisasi. Direktur PT RPN, Dr. Iman Yani Harahap, menjelaskan inovasi terbagi dalam enam kategori utama. Pemuliaan dan bioteknologi tanaman mendominasi dengan 15 produk, termasuk klon unggul kelapa sawit Nusaklon 1 dan 2, varietas tebu PS 08, klon kakao Monika 01 dan 02, serta klon karet IRR 309 dan IRR 310. Selain itu, RPN mencetak inovasi di bidang mekanisasi dan otomasi dengan produk Digiteks dan Digimost; pangan dan energi seperti minyak makan merah dan specialty tea Gambung; lingkungan dan dekarbonisasi dengan Vulkasol dan Lead Rubber Bearing, serta aplikasi digital berbasis teknologi, termasuk e-Hara, Nusaklim, dan OPA (Oil Palm Assistant). “Capaian ini membuktikan riset perkebunan Indonesia tidak berhenti di laboratorium, tetapi diarahkan agar mampu memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing di pasar global,” tegas Iman. Iman melanjutkan RPN saat ini tengah mengembangkan produk baru, antara lain Biodiesel B50, Palm Vision, Rubber Seal, dan Rubber Flooring. Sepanjang 2021–2025, perusahaan telah mengantongi 103 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mulai dari paten, merek dagang, hingga perlindungan varietas tanaman. Sebagai lembaga riset hasil transformasi Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), RPN menjalankan fungsi riset, pengembangan, dan layanan untuk mendukung industri perkebunan nasional, yang mengelola lima Pusat Penelitian dengan komoditas utama yaitu kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, kopi dan kakao serta didukung oleh 4.068 karyawan, termasuk 274 peneliti aktif. Selain menghasilkan produk inovatif, RPN juga turut berkontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional. Sejak 2020-2025, RPN telah menerbitkan 31 naskah akademik yang mencakup tema hilirisasi perkebunan, ekonomi sirkular, hingga pembentukan Badan Pengelola Dana Komoditas Non-Sawit. PT RPN melayani berbagai segmen mitra, mulai dari PTPN Group, petani, swasta, hingga pemerintah. Layanan yang ditawarkan meliputi produk benih unggul dan pupuk, perusahaan juga menyediakan jasa sertifikasi ISPO, pengujian laboratorium terakreditasi KAN, serta pelatihan dan capacity building. Program hilirisasi perkebunan merupakan agenda strategis nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. PT RPN turut mengambil peran dalam riset terapan dari hulu hingga hilir, untuk memastikan Indonesia unggul dalam industri perkebunan global. “Sebagai bagian dari ekosistem PTPN Group, RPN terus menegaskan posisinya sebagai pusat keunggulan perkebunan Indonesia. Inovasi riset, penyediaan benih unggul, dan kajian kebijakan yang kami lakukan diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri,” sebut Iman.

PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas Nusantara
Nusantara
Jumat, 28 November 2025 | 20:01 WIB

PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas

Bogor, katakabar.com – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) gelar Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Aula PT RPN Bogor secara hybrid. Acara tahunan ini menjadi forum penting untuk memetakan tren produksi, harga, serta tantangan dan peluang sektor perkebunan Indonesia di tahun mendatang. Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap, menekankan peran strategis perkebunan sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan penggerak ekonomi pedesaan. “Meski menjadi tulang punggung ekonomi, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti perubahan iklim, fluktuasi harga, produktivitas yang belum optimal, dan tuntutan keberlanjutan dari pasar global,” ujarnya. Ia mengatakan, forum ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat untuk merumuskan strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan. Acara dihadiri perwakilan Kementerian, lembaga riset, perusahaan perkebunan negara dan swasta, perguruan tinggi, serta Forum Wartawan Pertanian, yang menunjukkan sinergi lintas sektor untuk kemajuan industri perkebunan nasional. Direktur Bisnis Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir. “Kalau semua stakeholder terlibat sejak hulu hingga hilir, sinergi ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” tegas Ryanto, yang optimistis industri perkebunan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sesi outlook menghadirkan lima narasumber yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Lingkup PT RPN dengan komoditas utama: kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, serta kopi dan kakao. Tungkot Sipayung dari PASPI bertindak sebagai moderator sekaligus membuka diskusi tentang risiko global sektor perkebunan 2026. Fokus utama outlook tahun ini adalah peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman dan benih unggul, penguatan hilirisasi untuk menambah nilai, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar produk Indonesia makin diterima pasar global. Kelapa Sawit: Tantangan Tata Kelola dan Arah Perbaikan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia menghadapi tantangan dalam tata kelola lahan dan industri. Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Rizki Amalia, menyebut isu utama meliputi legalitas lahan, penyelesaian sawit di kawasan hutan, dan penerapan standar keberlanjutan. Meski begitu, outlook sawit 2026 tetap positif. Produksi dan harga diperkirakan stabil, didorong program biodiesel B40 dan pemulihan ekonomi negara importir. Empat strategi utama yang direkomendasikan PPKS mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi pasar dan hilirisasi, perbaikan tata kelola berkelanjutan, serta efisiensi biaya untuk memperkuat daya saing. Karet: Produktivitas Turun, Pabrik Tutup Peneliti Pusat Penelitian Karet (PPK), Lina Fatayati Syarifa, menyampaikan kekhawatirannya atas menurunnya kinerja industri karet nasional. “Produktivitas karet kita terus turun dari tahun ke tahun, sementara negara kompetitor seperti Vietnam, India, dan Kamboja justru meningkat. Ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang harus segera diatasi,” ujarnya. Penurunan produksi disebabkan tanaman tua, penyakit gugur daun, perubahan iklim, dan konversi lahan. Solusi jangka pendek meliputi pengendalian penyakit, subsidi pupuk, dan akses pembiayaan, sedankang jangka panjang menekankan peremajaan, hilirisasi, serta pembentukan Badan Karet Nasional. Teh: Perkuat Daya Saing Lewat Hilirisasi dan Inovasi Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Kralawi Sita, menyampaikan bahwa prospek teh Indonesia pada 2026 masih positif meski menghadapi tantangan seperti penurunan produksi dan persaingan global. “Nilai teh Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kualitas, keberlanjutan, dan cerita di balik setiap proses produksinya,” ujarnya. Tren teh fungsional, matcha, dan kombucha membuka peluang besar untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. Revitalisasi teh bukan sekadar perbaikan di kebun, tetapi juga transformasi cara pandang terhadap teh sebagai produk budaya, ekonomi, dan lingkungan. Kopi dan Kakao: Harga Stabil, Hilirisasi Jadi Peluang Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Diany Faila, menyebut Prospek kedua komoditas ini tetap cerah meski menghadapi tantangan produktivitas dan sertifikasi berkelanjutan. “Konsumsi kopi global terus meningkat, ini peluang besar untuk ekspor kita,” jelasnya. Produksi kopi diperkirakan naik dengan harga robusta sekitar $4,2/kg dan arabika $7/kg, sementara kakao diproyeksikan stabil di $5–6/kg meski sempat menyentuh $12,9/kg awal tahun ini. Strategi ke depan menekankan pengembangan produk olahan, peremajaan tanaman, dan perluasan sertifikasi guna memperkuat daya saing kopi dan kakao Indonesia di pasar global. Gula: Produksi Naik, Harga Petani Turun Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Danang Permadhi, menyebut produksi gula nasional diperkirakan meningkat dari 2,6 juta ton pada (2025) menjadi 2,8 juta ton (2026). Namun, kenaikan harga tidak diikuti perbaikan harga “Harga gula turun ke Rp14.500 per kilo, bahkan tetes tebu hanya Rp1.500 per kilo karena lemahnya permintaan,” ujarnya. Ia menyoroti dampak dari kemarau basah, menyebabkan kebun tergenang, menurunkan kualitas tebu dan meningkatkan biaya angkut. Sementara itu, kebijakan impor yang longgar dan dugaan kebocoran gula rafinasi memperburuk situasi. P3GI merekomendasikan evaluasi aturan impor, penguatan peran Bulog, pengawasan distribusi, serta membentuk badan khusus pengelola dana pengembangan tebu nasional. Sinergi Masa Depan Perkebunan Indonesia Dengan berbagai paparan dari lima komoditas utama, Outlook Komoditas Perkebunan 2026 menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kunci agar komoditas nasional tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jutaan keluarga petani.

Holding PTPN Dorong Sinergi Riset dan Regulasi Lewat Kolaborasi PT RPN dan BKI Sawit
Sawit
Jumat, 21 November 2025 | 08:00 WIB

Holding PTPN Dorong Sinergi Riset dan Regulasi Lewat Kolaborasi PT RPN dan BKI

Bogor, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), entitas riset di bawah Holding Perkebunan Nusantara, terus memperkuat peran strategis pengembangan industri kelapa sawit nasional melalui kolaborasi riset, kebijakan publik, dan penguatan biosekuriti. Bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin), PT RPN taja Talkshow Karantina Day 2025 angkat tema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia” di IPB International Convention Center, Bogor. Kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan sektor sawit. Diskusi berfokus pada peningkatan produktivitas, penguatan sistem biosekuriti, serta penerapan riset terapan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia. Edy Suprianto, Senior Executive Vice President Business Support PT RPN, menyampaikan apresiasi atas kemitraan strategis yang terbangun dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Karantina Indonesia. "Kemitraan riset dan kebijakan merupakan kunci dalam memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kolaborasi dengan Barantin ini menjadi langkah strategis untuk menjamin keamanan hayati sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan. Riset tidak bermakna tanpa regulasi yang kuat. Sebaliknya, regulasi lebih tajam jika dibangun atas basis data kuat. Di sinilah kolaborasi antara Badan Karantina Indonesia, Ditjen Perkebunan, BPDP, GAPKI, dan PT RPN menemukan relevansinya," jelasnya. Sedang, Kepala Badan Karantina Indonesia, Dr. Sahat M. Panggabean, menegaskan kerja sama dengan lembaga riset seperti PT RPN sangat diperlukan untuk menjawab tantangan produktivitas. "Kolaborasi sudah tersusun dengan baik, lembaga riset ada, pendanaan ada, peneliti pakar. Namun kenyataannya, produktivitas kelapa sawit nasional baru sekitar 4 ton per hektare per satu tahun, padahal potensinya bisa 10 ton. Ada selisih 6 ton yang harus kita capai," ujarnya tegas. Ia menambahkan, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga pada pengelolaan tanah dan lingkungan yang berkelanjutan. “Kita punya varietas unggul, namun tanah dan tata kelola budidaya juga harus diperhatikan agar produktivitas dapat terus meningkat,” ucapnya. Talkshow menampilkan dua sesi paralel yang membahas kebijakan, strategi, dan implementasi riset sawit berkelanjutan. Sesi pertama berfokus pada arah kebijakan dan strategi nasional pengembangan industri sawit. Di sesi ini, para narasumber memaparkan berbagai perspektif kebijakan dan dukungan lintas sektor, antara lain: • Baginda Siagian (Direktorat Jenderal Perkebunan) yang membahas pengembangan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan, • Antarjo Dikin (Deputi Bidang Karantina Tumbuhan) yang menjelaskan kebijakan dan regulasi karantina tumbuhan, • Dwi Asmono (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/GAPKI) yang menyoroti pentingnya biosekuriti sebagai fondasi keberlanjutan industri, serta • Arfie Thahar (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit/BPDPKS) yang memaparkan dukungan pendanaan riset sawit melalui skema grant riset. Sesi kedua menitikberatkan pada penerapan hasil riset di lapangan. Dalam sesi ini, narasumber menyampaikan berbagai capaian dan inisiatif riset yang mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan, yaitu: • Edy Suprianto (PT RPN), yang menjelaskan progres eksplorasi Sumber Daya Genetik (SDG) kelapa sawit sebagai basis peningkatan produktivitas nasional, • Agus Eko Prasetyo dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang memaparkan perkembangan introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania untuk memperkuat efisiensi penyerbukan, serta • Fitri Ujiyani (Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan) yang memaparkan sistem pengawasan karantina terintegrasi berbasis Undang Undang Nomor 21 Tahun 2019, guna memastikan introduksi spesies dilakukan secara aman, efektif, dan tidak berpotensi invasif. Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif bagi berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, dan menjalin kerja sama di bidang riset serta pengawasan biosekuriti.