Bitcoin Jebol Support US$64.000, Tiga Tekanan Besar Ini Bisa Picu Volatilitas Baru Internasional
Internasional
Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Bitcoin Jebol Support US$64.000, Tiga Tekanan Besar Ini Bisa Picu Volatilitas Baru

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan setelah harga Bitcoin atau BTC turun ke kisaran US$63.900, di penghujung Juli 2026. Dalam tujuh hari terakhir, aset kripto terbesar tersebutterkoreksi sekitar 2,7% dan sempat menyentuh level terendah US$62.785, sekaligus menembus area support penting di US$64.000.  Berdasarkan laporan Market Outlook FLOQ, pelemahan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Setidaknya terdapat tiga tekanan utama yang membayangi pasar, yaitu meningkatnya ekspektasi kenaikansuku bunga Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta melemahnya struktur teknikal BTC setelah support US$64.000 ditembus.  CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.  “Pasar sedang menghadapi kombinasi tekanan makroekonomi, geopolitik, dan teknikal secara bersamaan. Penembusan level US$64.000 menjadi penting karena menunjukkan sentimen pasar belum cukup kuatuntuk mempertahankan momentum pemulihan Bitcoin,” jelas Yudho.  The Fed Tahan Suku Bunga Tetapi Pasar Justru Makin Hawkish  Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% pada pertemuan 29 Juli 2026 lalu. Keputusan tersebut merupakan penahanan suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut.  Tetapi, keputusan tersebut tidak serta-merta dibaca sebagai sinyal pelonggaran oleh pelaku pasar. Tiga pejabat regional The Fed justru memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.  Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72,3%, lebih tinggi dibandingkan kisaran 54–63% dalam dua pekan sebelumnya. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekananterhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.  Menurut Yudho, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar keputusan The Fed untuk menahan suku bunga. “Kata ‘menahan’ tidak selalu berarti dovish. Dalam pertemuan kali ini, komposisi voting dan pernyataan The Fed justru memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga masih tinggi, ruang penguatan aset kripto kemungkinan tetap terbatas,” jelasnya.  Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak Melonjak  Tekanan tambahan datang dari meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jeda serangan yang dimulai pada 27 Juli hanya bertahan sekitar dua hari sebelum kembali terjadi eskalasi.  Pada 29 Juli 2026, Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania. Amerika Serikat dan Arab Saudi kemudian membalas dengan menyerang kelompok pro-Iran di Irak timur.  Ketegangan tersebut turut mendorong harga minyak dunia. Harga Brent meningkat sekitar 3,42% menjadi US$86,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate atau WTI naik sekitar 3,58% menjadi US$82,09 per barel.  Kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat kembali mendorong tekanan inflasi global dan memperkuat alasan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.  “Dalam jangka pendek, harga minyak kini menjadi salah satu indikator eksternal yang perlu diperhatikan investor kripto. Apabila konflik terus mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, kekhawatiran inflasidapat meningkat dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko,” jelas Yudho.  Meski demikian, pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz masih menjadi salah satu saluran diplomatik yang dapat membantu meredakan tekanan harga minyak.  Arus Dana ETF Bitcoin Belum Stabil  Dari sisi institusional, produk exchange-traded fund atau ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat masih mencatatkan arus dana masuk selama tiga pekan berturut-turut. Pada pekan hingga sekitar 24 Juli 2026 lalu, ETF Bitcoin mencatatkan net inflow sekitar US$33,8 juta.  Tetapi, tren tersebut kehilangan momentum pada akhir pekan. ETF Bitcoin mencatatkan arus keluar sekitar US$225,1 juta pada Kamis dan US$240 juta pada Jumat, memutus rangkaian tujuh hari arus dana masuk.  Sementara itu, ETF Ethereum membukukan arus masuk mingguan sekitar US$104 juta, atau sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan total arus masuk mingguan ETF Bitcoin. Data tersebut mengindikasikan adanyarotasi modal ke Ethereum, meskipun belum dapat dipastikan sebagai tren jangka panjang.  “Arus dana ETF menunjukkan minat institusional belum menghilang, tetapi tingkat sensitivitasnya terhadap kebijakan suku bunga masih sangat tinggi. Investor besar terlihat lebih selektif dan cepat melakukanpenyesuaian menjelang rilis data ekonomi penting,” ucap Yudho.  Bitcoin Berpotensi Bergerak di Rentang US$62.800–US$65.700  Dari sisi teknikal, level US$62.800 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan setelah Bitcoin menembus US$64.000. Sementara itu, area US$65.700 hingga US$66.500 menjadi zona resistensi yang perlu dilewatiuntuk membuka peluang pemulihan lebih lanjut.  Menurut Yudho, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek kemungkinan masih berada dalam rentang konsolidasi yang lebar. “Selama Bitcoin belum mampu kembali dan bertahan di atas US$65.700, pasar masih berisikomengalami tekanan lanjutan. Di sisi lain, area US$62.800 menjadi level penting karena penembusan yang konsisten di bawah area tersebut dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam,” imbuhnya.  Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda penting pada awal Agustus, termasuk data ISM Manufacturing PMI, ADP Employment Report, ISM Services PMI, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikatpada 7 Agustus.  Rilis data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur apakah kebijakan hawkish The Fed mendapat dukungan dari kondisi ekonomi Amerika Serikat.  “Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan arah pasar hanya berdasarkan satu indikator. Kondisi saat ini membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih disiplin karena data tenaga kerja, harga minyak, dan perkembangan geopolitik dapat memicu perubahan sentimen secara cepat,” sebut Yudho.  Sebagai bagian dari komitmennya dalam meningkatkan literasi aset digital, FLOQ juga menyediakan platform edukasi yang dapat diakses oleh siapa saja melalui kanal FLOQ Academy. Kanal ini menghadirkan berbagaimateri untuk membantu masyarakat memahami pergerakan pasar, strategi investasi aset kripto, serta perkembangan teknologi blockchain dan Web3 secara lebih mudah, terstruktur, dan relevan dengan kondisi pasar terkini. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 30 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruhinformasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu.   FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Tekan Harapan Suku Bunga Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 26 Maret 2026 | 09:06 WIB

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Tekan Harapan Suku Bunga

Jakarta, katakabar.com - Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan risiko inflasi, membatasi ruang The Fed untuk memangkas suku bunga. Pasar keuangan global memasuki fase yang semakin kompleks seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Wall Street menutup pekan perdagangan di zona merah, dengan pelemahan pada indeks utama seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average. Kondisi ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang kini lebih fokus pada peningkatan risiko global dibanding sekadar data ekonomi. Sejak eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari, tekanan jual terjadi secara konsisten di pasar saham. Penurunan indeks yang berlangsung hingga empat minggu berturut-turut serta pergerakan di bawah level teknikal penting, seperti rata-rata 200 hari, menunjukkan pasar tengah memasuki fase risk-off yang lebih dalam. Investor mulai melakukan penyesuaian harga (repricing) terhadap risiko geopolitik yang meningkat tajam. Salah satu faktor utama yang mendorong perubahan ini adalah gangguan pada rantai pasok energi global. Ketegangan di kawasan strategis, seperti Selat Hormuz jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan suplai. Dalam banyak kasus historis, gangguan di wilayah ini sering diikuti lonjakan harga minyak yang signifikan serta volatilitas pasar energi yang tinggi. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi baru secara global. Berbeda dengan inflasi berbasis permintaan yang sebelumnya mulai mereda, inflasi akibat kenaikan harga energi cenderung lebih sulit dikendalikan. Risiko efek lanjutan (second-round effect) juga meningkat, di mana kenaikan biaya produksi dapat mendorong harga barang dan jasa secara lebih luas. Dampak langsung dari kondisi ini terlihat pada ekspektasi kebijakan moneter. Federal Reserve kini menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan potensi inflasi yang kembali meningkat, ruang untuk pemangkasan suku bunga menjadi semakin terbatas. Pasar pun mulai mengadopsi skenario “higher for longer”, di mana suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama dari yang sebelumnya diharapkan. Di sisi geopolitik, ketidakpastian semakin meningkat seiring belum jelasnya arah resolusi konflik. Pernyataan dari Donald Trump terkait potensi negosiasi dengan Iran belum diikuti perkembangan signifikan di lapangan. Aktivitas militer yang masih berlangsung serta peningkatan pengerahan pasukan menunjukkan risiko eskalasi tetap tinggi. Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik AS. Data sentimen konsumen mulai menunjukkan pelemahan, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga di tengah tekanan harga energi. Jika tren ini berlanjut, konsumsi domestik yang menjadi pilar utama ekonomi AS berpotensi melambat. Sementara, pasar tenaga kerja masih relatif solid dengan tingkat klaim pengangguran yang rendah. Namun kondisi ini juga berpotensi memperlambat proses penurunan inflasi, sehingga memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Di tengah dinamika global yang kompleks ini, investor perlu memantau pergerakan pasar secara lebih cermat. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat diakses melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memungkinkan investor Indonesia untuk memantau dan berinvestasi di berbagai instrumen global dalam satu aplikasi yang praktis. Nanovest aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman, serta telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Setelah Koreksi, Harga Emas Bangkit Tembus $3.000 Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 20 Maret 2025 | 21:27 WIB

Setelah Koreksi, Harga Emas Bangkit Tembus $3.000

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) mengalami koreksi setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di $3.005 di akhir pekan lalu. Pada Senin (17/3), harga emas diperdagangkan di bawah $3.000, tepatnya di sekitar $2.990. Koreksi ini dipicu oleh aksi profit-taking yang dilakukan investor setelah lonjakan signifikan sebelumnya. Tapi, tren bullish masih mendominasi berdasarkan analisis teknikal dan faktor fundamental yang mendukung pergerakan harga. Menurut Andy Nugraha, analis dari Dupoin Indonesia, formasi candlestick dan indikator Moving Average saat ini mengindikasikan momentum bullish pada XAU/USD tetap kuat. Proyeksi harga emas hari ini berpotensi naik hingga level $3.025 sebagai target utama, seiring meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Jika terjadi pembalikan arah (reversal), emas diperkirakan akan mengalami koreksi ke level $2.978 sebagai target terdekatnya. Pada Selasa (18/3), harga emas melonjak dan mencetak rekor tertinggi di atas $3.000 untuk kedua kalinya dalam sepekan. Kenaikan ini menunjukkan tren bullish tetap dominan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Kenaikan ini terjadi karena investor semakin mencari perlindungan dari ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

Stres di Tempat Kerja Picu Merokok? Kenali Gejalanya dan Alternatif Mengatasinya Nasional
Nasional
Jumat, 01 November 2024 | 19:13 WIB

Stres di Tempat Kerja Picu Merokok? Kenali Gejalanya dan Alternatif Mengatasinya

Jakarta, katakabar.com - Tuntutan lingkungan kerja yang tinggi berkorelasi terhadap masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut berpotensi mendorong seseorang untuk terus melakukan kebiasaan berisiko, salah satunya merokok dengan alasan untuk mengurangi stres. Kebiasaan buruk tersebut dapat ditekan dengan menerapkan konsep pengurangan risiko bagi perokok dewasa melalui pemanfaatan produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin. Psikolog, Sukmayanti Rafisukmawan, M.Psi, Psikolog menjelaskan, lingkungan kerja dengan tekanan yang tinggi memicu seseorang untuk mengalami kesehatan mental, salah satunya stres.

XRP Hadapi Tekanan Jual: Apa yang Memicu Penurunan Harga? Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 15 Oktober 2024 | 07:23 WIB

XRP Hadapi Tekanan Jual: Apa yang Memicu Penurunan Harga?

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto sedang memperhatikan XRP dengan cermat, sebab tanda-tanda penurunan harga semakin jelas. Aliran 32 juta token XRP yang dikirim ke bursa pada awal Oktober memicu spekulasi bahwa tekanan jual bisa membawa harga turun hingga 15 persen. Tapi, meski risiko penurunan cukup besar, ada potensi pemulihan, terutama jika adopsi ETF XRP mulai meningkat. Apakah kurs tukar XRP benar-benar akan anjlok, atau masih ada secercah harapan untuk kebangkitan? Mari kita lihat lebih dalam analisisnya.