Peternakan

Sorotan terbaru dari Tag # Peternakan

Hilirisasi Pangan Nasional, Holding PTP Lewat PalmCo Siapkan Lahan Peternakan Ayam Terintegrasi Nusantara
Nusantara
Sabtu, 24 Januari 2026 | 15:00 WIB

Hilirisasi Pangan Nasional, Holding PTP Lewat PalmCo Siapkan Lahan Peternakan Ayam Terintegrasi

Jakarta, katakabar.com - PTPN IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menyatakan kesiapan mendukung agenda pemerintah dalam percepatan hilirisasi industri ayam terintegrasi sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional. Program industri ayam terintegrasi diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung penyediaan protein hewani, terutama daging ayam dan telur, yang kebutuhannya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk serta implementasi agenda sosial pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tahap awal, pemerintah melalui Danantara Indonesia menyiapkan investasi strategis sekitar Rp20 triliun untuk membangun ekosistem industri ayam terintegrasi, mulai dari pembibitan, pakan, budidaya, hingga pengolahan dan distribusi. Pendekatan hilirisasi dipilih untuk memperkuat kesinambungan pasokan, menekan fluktuasi harga, sekaligus mendorong pemerataan produksi protein hewani ke luar Pulau Jawa. Dalam konteks tersebut, peran badan usaha milik negara (BUMN) menjadi penting. Salah satunya PTPN IV PalmCo yang mengelola jutaan hektare perkebunan kelapa sawit di berbagai wilayah Indonesia. Dengan portofolio aset dan infrastruktur yang telah terbentuk, PalmCo dipandang memiliki posisi strategis untuk mendukung agenda hilirisasi pangan, termasuk pengembangan peternakan ayam terintegrasi. Hilirisasi sebagai Arah Kebijakan Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian, dalam forum Road to Jakarta Food Security Summit 2026, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi salah satu pendekatan utama dalam transformasi sistem pangan nasional. “Pengembangan industri ayam terintegrasi tidak hanya soal menambah kapasitas produksi, tetapi juga memastikan distribusi dan keterjangkauan pangan yang lebih merata, khususnya di luar Jawa,” ujar Sam. Pendekatan terintegrasi dinilai mampu meredam ketergantungan produksi pada wilayah tertentu serta mengurangi risiko gejolak pasokan dan harga di sektor perunggasan. Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Ali Agus aminkan Sam. Ia menekankan pentingnya menjaga posisi peternak rakyat dalam skema hilirisasi. “Hilirisasi idealnya memastikan kesinambungan dari hulu ke hilir, sekaligus membuka ruang bagi peternak rakyat untuk tumbuh bersama industri,” jelasnya. Kesiapan Lahan Jadi Kunci Salah satu tantangan utama pengembangan peternakan modern berskala besar adalah kesiapan lahan. Di luar Jawa, ketersediaan lahan yang memiliki kepastian hukum, infrastruktur dasar, dan akses logistik kerap menjadi hambatan. Lantaran itu, pemanfaatan aset negara yang telah eksisting dinilai sebagai opsi strategis. PTPN IV PalmCo berada dalam ekosistem tersebut. Dengan pengalaman panjang mengelola perkebunan sawit, perusahaan memiliki aset lahan yang relatif siap secara legal dan operasional. Tetapi, PalmCo menegaskan pendekatan bertahap tetap menjadi prinsip utama. Direktur Strategy dan Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, menimpali perusahaan memilih langkah yang terukur dan berbasis kesiapan nyata di lapangan. “Kami memahami ini adalah proyek kebijakan nasional yang besar dan lintas sektor. Karena itu, PalmCo fokus pada kesiapan yang benar-benar bisa dieksekusi,” ucap Ugun. Menurutnya, Kalimantan Timur menjadi wilayah yang saat ini telah memasuki tahap persiapan awal untuk mendukung pembangunan peternakan ayam terintegrasi, termasuk rencana groundbreaking dalam waktu dekat. Wilayah tersebut dinilai relatif siap dari sisi aset, keselarasan tata ruang, serta dukungan rencana pengembangan wilayah. “Kalimantan Timur menjadi contoh awal kesiapan. Ini bukan soal cepat, tetapi soal tepat,” katanya. Integrasi Sawit dan Pangan Harus Berhati-hati Ugun menegaskan pemanfaatan lahan perkebunan sawit untuk kegiatan pangan memerlukan kajian menyeluruh, mencakup aspek tata ruang, lingkungan, sosial, serta keberlanjutan. “Integrasi fungsi pangan di kawasan perkebunan sawit tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Semua harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” terangnya. PalmCo juga memilih tidak memberikan ekspektasi berlebihan terhadap wilayah lain yang masih dalam tahap kajian. Pendekatan ini diambil untuk menjaga kredibilitas proyek sekaligus memastikan setiap langkah dapat dipertanggungjawabkan. “Lebih baik kami berbicara berdasarkan apa yang sudah siap dan bisa dieksekusi, daripada menyampaikan rencana yang belum tentu dapat direalisasikan,” bebernya. Ke depan, PTPN IV PalmCo sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari ekosistem pendukung ketahanan pangan nasional, dengan memastikan pemanfaatan aset negara dilakukan secara optimal, bertanggung jawab, dan sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat hilirisasi pangan serta pemerataan produksi protein hewani di Indonesia.

Ini Rekomendasi CCTV Outdoor Buat Perkebunan, Peternakan dan Proyek Pembangunan Tekno
Tekno
Minggu, 27 Oktober 2024 | 10:27 WIB

Ini Rekomendasi CCTV Outdoor Buat Perkebunan, Peternakan dan Proyek Pembangunan

Jakarta, katakabar.com - Pengawasan yang efektif sangat penting mengelola perkebunan, peternakan, dan proyek pembangunan. Dengan kemajuan teknologi, penggunaan CCTV outdoor kini menjadi salah satu solusi terbaik untuk pastikan keamanan dan memantau aktivitas di area luas. Sistem ini tidak hanya memberikan perlindungan, tapi meningkatkan efisiensi operasional di berbagai aspek. CCTV outdoor modern dilengkapi dengan berbagai fitur canggih, seperti night vision, deteksi gerakan, dan kemampuan terhubung dengan aplikasi smartphone.

Kaltara Jajaki Kerja Sama Perusahaan Malaysia Soal Integrasi Sawit dan Peternakan Nusantara
Nusantara
Senin, 27 November 2023 | 19:33 WIB

Kaltara Jajaki Kerja Sama Perusahaan Malaysia Soal Integrasi Sawit dan Peternakan

Tanjung Selor, katakabar.com - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan negeri jiran, Malaysia. Sebagai negara tetangga peluang kerja sama bilateral di berbagai bidang sangat terbuka, khususnya bidang pertanian dan peternakan. Peluang kerja sama makin terbuka, Gubernur Kaltara, Drs H Zainal A Paliwang MHum saat bertandang ke Balung Beef Centre milik perusahaan sawit Kinabalu yang terletak di Tawau, Sabah. Di kesempatan itu, Orang Nomor Satu di Provinsi Kaltara melihat bagaimana proses pengolahan sapi hingga menjadi produk siap jual. “Saya datang untuk melihat langsung proses peternakan, mudah-mudahan nanti ada kerja sama antara Sawit Kinabalu dengan Pemprov Kaltara, lewat Dinas Pertanian dan Peternakan," ujarnya, lewat keterangan resmi DKISP Kaltara, dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (27/11). Kita berharap, kata H Zainal, secepatnya dibuat MoU agar bisa melaksanakan hal-hal yang saling menguntungkan. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara, Heri Rudiyono MSi menimpali, integrasi antara perkebunan kelapa sawit dan peternakan hewan menjadi sebuah benang merah yang terhubung. Soalnya, kotoran yang dihasilkan hewan dapat menjadi pupuk alami untuk tanaman sawit. “Di tengah kondisi ketersediaan pupuk yang masih sulit harus ada solusi dan solusinya, kita harus membangun integrasi dengan peternakan. Di mana dengan kesediaan lahan rumput untuk pakan ternak,” ulasnya. Saya meyakini, tutur Heri, Kaltara dengan bentangan wilayah yang masih luas, masih tersedia cukup lahan guna menerapkan sistem integrasi antara pertanian sawit dan peternakan hewan. “Jumlah sapi dan kambing yang masih sedikit. Untuk meningkatkan produksi sawit, sekaligus untuk mencukupi swasembada daging, makanya harus integrasi dengan perkebunan kelapa sawit," terangnya. Saat kunjungan itu, Gubernur bertemu dengan tenaga kerja asal Indonesia dan beberapa diantaranya telah bekerja di perusahaan sawit Kinabalu puluhan tahun lalu. Tak ayal, H Zainal menyatakan rasa kagum dan bangga karena mereka telah menjadi pahlawan devisa negara. “Pekerja-pekerja Indonesia yang ada di bawah sawit Kinabalu ini mudah-mudahan bisa terus bekerja dengan baik dan kepada perusahaan saya titip warga kami yang bekerja di sini untuk dijaga dan diberikan hak-hak mereka,” imbuhnya.

Guru Besar UGM Dorong Integrasi Peternakan Sapi Perkebunan Sawit Nasional
Nasional
Rabu, 20 September 2023 | 23:32 WIB

Guru Besar UGM Dorong Integrasi Peternakan Sapi Perkebunan Sawit

Yogyakarta, katakabar.com - Luasan lahan vegetasi di bawah tegakan perkebunan kelapa sawit berpotensi menyediakan pakan ternak ruminansia dengan cara digembalakan dengan ketersediaan rumput, forb dan legum, pakis dan tanaman lain. Itu sejalan dengan luas perkebunan sawit di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 11,2 juta hektar. Terus meningkat menjadi 14,66 juta hektar pada tahun 2021 dan pada tahun 2022 meningkat menjadi 14,99 juta hektar dengan produksi total 45,58 juta ton atau rata-rata 3,04 ton per hektar. Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, integrasi sapi dalam perkebunan sawit bentuk pertanian terpadu dimana ternak sapi memanfaatkan hijauan antar pohon dan hasil samping industri perkebunan kelapa sawit. Di pengukuhan Guru Besar dirinya di bidang Nutrisi dan Makanan Ternak, di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM, pada Selasa (19/9) kemarin, Bambang pidato berjudul Sistem Integrasi Tanaman Pakan dan Kelapa Sawit untuk Mendukung Produksi Ternak Ruminansia di Indonesia. "Sistem integrasi sapi dan kelapa sawit merupakan bentuk sistem pertanian terpadu yang ideal bila disediakan lahan untuk tanaman pakan ternak ketika umur tanaman sawit sudah melebihi 5 tahun," ujarnya. Penggembalaan ternak sapi dengan metode rotasional grazing di bawah tegakan tanaman perkebunan sawit, bisa menekan biaya pakan dan pemeliharaan. “Total 4 juta sapi bisa dipelihara dengan biaya murah,” jelasnya. Sisi lain kata Bambang, potensi vegetasi di bawah tegakan tanaman hasil samping tanaman sawit yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia adalah pelepah dan daun sawit serta hasil samping pengolahan sawit berupa lumpur sawit. "Bungkil inti sawit bisa digunakan sebagai sumber pakan ternak. Sebaliknya bagi perkebunan kelapa sawit, kotoran ternak sapi bisa sebagai penyedia unsur hara untuk meningkatkan kesuburan lahan kebun kelapa sawit dan pengendalian gulma,” terangnya. Saya menilai ternak ruminansia paling baik sambungnya, jika dipelihara dengan cara digembalakan di padang rumput sehingga ternak secara langsung dapat mengambil pakan yang diinginkan dan dibutuhkan. Tapi, tidak semua ternak dapat dipelihara di padang penggembalaan akibat terbatasnya ladang padang rumput sehingga penggembalaan ternak di area perkebunan sawit menjadi salah satu pilihan dalam mewujudkan kemandirian pangan dari produk peternakan, sebutnya.