Petani Kelapa Sawit
Sorotan terbaru dari Tag # Petani Kelapa Sawit
Pupuk Kimia Mahal, Petani Sawit Jangan Panik Ada 'Abu Janjang'
Bengkulu, katakabar.com - Pupuk kimia harga melambung mencekik leher bikin para petani kepala sawit kelimpungan di Provinsi Bengkulu. Sebagai pupuk alternatif, para petani kelapa sawit ramai-ramai beralih ke pupuk organik, salah satunya memanfaatkan abu janjang kelapa sawit. Seorang petani kelapa sawit di Bengkulu, Sudarto sudah memanfaatkan abu janjang kelapa sawit sebagai alternatif pengganti pupuk kimia. Abu janjang dihasilkan lewat proses penggilingan janjang kosong dalam incinerator. Meski produksi abu janjang sawit hanya sekitar 0.5 persen dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tapi kandungan hara Kalium (K) tinggi menjadikannya sebagai alternatif pengganti pupuk Muriate of Potash (MOP). "Kami harus mencari cara mengurangi biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas hasil panen. Jadi, menggunakan abu janjang memberi harapan baru," ujar Sudarto, dilansir dari laman elaeis.co, pada Kamis (31/8). Walau masih tahap eksperimen, para petani yang telah menggunakan abu janjang ini kebanyakan berhasil. Petani kelapa sawit generasi ke tiga, Yuliana mengaku telah berhasil menggunakan abu janjang untuk meningkatkan produksi tanaman kelapa sawit. "Saya awalnya skeptis tapi setelah beberapa kali mencoba, tanaman kelapa sawit terlihat lebih bagus dan menghasilkan buah yang lebih besar. Saya berharap ini bisa menjadi solusi jangka panjang bagi petani," jelasnya. Pemerintah daerah pun mendukung langkah itu dengan memberikan pelatihan dan informasi kepada para petani terkait penggunaan abu janjang kelapa sawit secara efektif. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Rosmala Dewi mengatakan, pihaknya terus mendorong petani kelapa sawit mencari alternatif pengganti pupuk kimia. "Kami selalu mendorong petani untuk mencari inovasi yang berkelanjutan. Abu janjang sawit punya potensi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya fluktuatif," ulasnya. Menurutnya, pemanfaatan abu janjang ini sangat penting untuk mengatasi masalah harga pupuk kimia yang terus meningkat. "Kita berharap solusi ini membantu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian kelapa sawit di Bengkulu," timpalnya.
BRI Luncurkan 'Kupedes', Solusi Bagi Petani Kelapa Sawit Butuh Modal
Bengkulu, katakabar com - Bank Rakyat Indonesia (BRI) luncurkan Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes) khusus petani kelapa sawit. Para petani digadang-gadang bisa pinjam hingga Rp250 juta dengan suku bunga 0,9 persen. Pimpinan BRI Cabang Bengkulu, Tunjung Yudho Wahono menjabarkan, 'Kupedes' ini program pinjaman cukup besar dengan angsuran terjangkau dimulai Rp40 ribuan. "Batas pinjaman yang diberikan mencapai Rp250 juta dengan angsuran ringan. Kupedes pilihan menarik untuk mendukung kebutuhan para petani dan sektor usaha lainnya," ulas Wahono, dilansir dari laman elaeis.co, pada Minggu (13/8). 'Kupedes' 2023 ini ujar Wahono, sebagai pinjaman alternatif dengan suku bunga yang kompetitif. Ini peluang bagi petani untuk mengakses dana dengan biaya yang lebih terjangkau, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor ekonomi. "Mari petani sawit manfaatkan 'Kupedes' ini, sebab bunganya ringan dan pinjamannya besar," serunya. Menurutnya, 'Kupedes' BRI dirancang untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, perbaikan rumah, hingga pembelian kendaraan. Tidak cuma itu, rogram ini mencakup berbagai sektor usaha, mulai dari petani hingga industri perdagangan, dengan keunggulan fleksibilitas agunan yang tidak harus bersertifikat. 'Kupedes' memang dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, perbaikan rumah, hingga pembelian kendaraan. Program ini mencakup berbagai sektor usaha, mulai dari petani hingga industri perdagangan," jelas Wahono lagi. Nah, untuk mendorong kepatuhan pembayaran, BRI memberikan bonus uang tunai kepada nasabah yang melunasi cicilan tepat waktu. Rentang suku bunga untuk 'Kupedes?' BRI 2023 bervariasi, antara 0,9 persen hingga 1,2 persen, dengan biaya administrasi yang terjangkau, cuna Rp10 ribu. Terkait persyaratan mesti dipenuhi untuk mengajukan 'Kupedes' BRI mencakup beberapa hal, yakni calon peminjam harus menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) umur minimal 21 tahun atau telah menikah. Terus, Dokumen identitas, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk suami dan istri, Kartu Keluarga (KK), serta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) diperlukan sebagai bukti identitas," bebernya.
Senyum Merekah Petani Sumbar, Harga Sawit Naik Rp2.501,92 Per Kilogram
Padang, katakabar.com - Senyum para petani kelapa sawit, khususnya petani plasma merekah di Sumatera Barat. Mereka pun senang lantaran harga kelapa sawit kini melesat Rp2.501,92 per kilogram. Dari hasil penetapan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumatera Barat, harga sawit naik sebesar Rp48,58 per kilogram dibanding periode sebelumnya harga kelapa sawit di kisaran Rp2.453,34 per kilogram. Ketua DPW APKASINDO Sumbar, Jufri Nur menuturkan, harga kelapa sawit naik pekan ini dipicu harga Crude Palm Oil (CPO). Di mana harga CPO pekan ini dibandrol Rp10.921,80 per kilogram. "Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit naik seiring harga CPO merangkak naik. Pada periode sebelumnya hasil lelang tender CPO Rp10.761,06 per kilogram," jelasnya dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (4/8). Untuk harga inti sawit kini Rp5.114 per kilogram, cangkang Rp25,33 per kilogram, dan indeks K 91,97 persen. Ini rincian harga kelapa sawit Provinsi Sumatera Barat pekan ke depan ini, yakni: Usia 3 tahun Rp1.883,65 per kilogram Usia 4 tahun Rp2.114,56 per kilogram Usia 5 tahun Rp2.240,06 per kilogram Usia 6 tahun Rp2.264,32 per kilogram Usia 7 tahun Rp2.280,20 per kilogram Usia 8 tahun Rp2.466,79 per kilogram Usia 9 tahun Rp2.499,02 per kilogram Usia 10-20 tahun Rp2.501,92 per kilogram Usia 21 tahun Rp2.426,29 per kilogram Usia 22 tahun Rp2.417,78 per kilogram Usia 23 tahun Rp2.385,29 per kilogram Usia 24 tahun Rp2.262,89 per kilogram
Kepala Negara ke Bengkulu, Ini Asa Petani Kelapa Sawit
Bengkulu, katakabar.com - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bertandang ke Provinsi Bengkulu, pada Kamis (20/7). Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKS) Bengkulu berharap kedatangan Kepala Negera mendatangkan manfaat bagi petani kelapa sawit di Bengkulu. "Ini saatnya presiden membantu petani sawit Bengkulu yang telah dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan dalam menjalankan usaha pertanian kelapa sawit," ujar Ketua APKS Bengkulu, Edy Masyhuri. Banyak petani kelapa sawit di daerah ini menghadapi kesulitan guna meningkatkan hasil panen dan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Lantaran itu Edy berharap Presiden RI, Jokowi dapat membantu mengatasi masalah-masalah ini dan memberikan solusi yang konkret bagi para petani. "Kami sangat berharap Presiden dapat melihat kondisi petani kelapa sawit. Kami menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan iklim hingga harga jual yang tidak menentu. Kehadiran beliau mudah-mudahan dapat membawa perubahan positif bagi keberlangsungan usaha tanu," katanya. Selain itu, APKS Bengkulu berharap agar pemerintah pusat dapat memberikan bantuan dalam bentuk subsidi atau program pelatihan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian kelapa sawit. Dukungan semacam ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan sektor pertanian di daerah ini. "Kami pun berharap adanya kebijakan yang lebih menguntungkan dan berpihak kepada petani sawit. Beberapa kebijakan terkait perizinan dan regulasi saat ini sangat membebani para petani. Presiden hendaknya dapat merumuskan kebijakan yang berpihak kepada petani dan mampu memberikan keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kesejahteraan petani," jelasnya. "Kami selalu berharap adanya kebijakan yang mendukung kelangsungan usaha kami sebagai petani kelapa sawit. Semoga kunjungan Presiden membawa perubahan positif dan solusi bagi kami semua," ujarnya lagi. Jika memungkinkan, harapannya Jokowi meluangkan waktu untuk berdialog dengan para petani kelapa sawit dan mendengarkan aspirasi serta tantangan yang mereka hadapi. Sehingga ada pemahaman yang lebih mendalam tentang permasalahan dan kebutuhan petani kelapa sawit di Bengkulu," bebernya. Selain membantu sektor pertanian, APKS Bengkulu berharap kunjungan Presiden dapat membawa dampak positif bagi pembangunan infrastruktur di daerah ini. Pembangunan infrastruktur yang lebih baik diharapkan dapat mempermudah akses transportasi dan distribusi hasil pertanian, termasuk kelapa sawit, serta membuka peluang pasar yang lebih luas. "Kami bersyukur atas kunjungan Presiden RI ke Bengkulu dan berharap bahwa kehadiran beliau dapat memberikan manfaat yang nyata bagi para petani kelapa sawit dan pertumbuhan ekonomi daerah kami secara keseluruhan," timpalnya.
HPMPI: Saatnya BBM Subsidi Dekat Dengan Petani Kelapa Sawit
Bengkulu, katakabar.com - Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) desak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral beri izin menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite di Bengkulu. Permintaan BBM ini cukup beralasan lantaran banyak khususnya petani kelapa sawit yang membutuhkan BBM subsidi. Ketua Umum HPMPI, Steven menuturkan, sudah seharusnya BBM subsidi didekatkan ke masyarakat desa, terutama kepada petani kelapa sawit di Bengkulu. "Mereka membutuhkan akses yang lebih mudah dan harga yang terjangkau untuk menjalankan aktivitas pertanian, ujarnya, dilansir dari elaeis.co, pada Senin (17/7). Diceritakan Steven, Hingga saat ini, Pertashop di Bengkulu hanya menyediakan BBM jenis non-subsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo. Benar saja, membuat masyarakat terutama petani kelapa sawit kesulitan mengakses BBM dengan harga terjangkau. Untuk itu, permohonan dari HPMPI untuk menyalurkan BBM subsidi jenis Pertalite diharapkan dapat mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. "Banyak yang tidak mampu beli Pertamax dan Pertamax Turbo, makanya kami minta bisa menyalurkan Pertalite juga," jelasnya. Pemerintah Pusat (Pempus) lanjutnya, perlu melakukan evaluasi permintaan ini mengingat peran strategis petani kelapa sawit di bidang perekonomian Bengkulu dan kontribusi mereka dalam sektor pertanian nasional. Ketersediaan BBM subsidi jenis Pertalite di Pertashop di Bengkulu membantu masyarakat desa, khususnya petani kelapa sawit menjalankan aktivitas pertanian dengan lebih efisien dan berkelanjutan. Itu sebabnya, pemerintah perlu mempertimbangkannya, sebab selain kelapa sawit berperan di ekonomi, ini dilakukan agar kami tidak merugi gegara peminat Pertamax dan Pertamax Turbo sangat sedikit di Bengkulu, bebernya. Pertalite jenis BBM yang memiliki oktan tinggi, tapi dengan harga yang lebih terjangkau dari pada jenis BBM non-subsidi lainnya. Ini menjadikan Pertalite pilihan yang sangat diinginkan masyarakat, terutama mereka yang mengandalkan kegiatan pertanian sebagai sumber penghasilan utama. "Kami para petani kelapa sawit sangat bergantung pada BBM untuk menggerakkan mesin-mesin pertanian kami. Adanya BBM subsidi jenis Pertalite, kami bisa lebih mampu meningkatkan efisiensi pengangkutan buah sawit kami," sebut petani kelapa sawit di Bengkulu, Budi S.
Petani Sawit Diimbau Fungsikan Perpustakaan Sumber Ilmu dan Kunci Keberhasilan
Bengkulu, katakabar.com - Petani kelapa sawit mesti ditingkatkan literasinya di Provinsi Bengkulu. Untuk itu, petani kelapa sawit harus membudayakan membaca di perpustakaan yang sudah disediakan pemerintah. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi mengaku sedih melihat masih minim pemanfaatan perpustakaan di desa-desa yang ada di Bengkulu. "Banyak perpustakaan tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, terutama para petani kelapa sawit," ujarnya. Menurut Meri, di perpustakaan terdapat beragam buku dapat memberikan inspirasi, dan pengetahuan baru bagi para petani kelapa sawit guna memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan lahan agar produksi dan kesejahteraan meningkat, "Kami imbau kepada petani kelapa sawit agar memanfaatkan perpustakaan yang tersedia. Banyak buku-buku yang dapat memberikan wawasan baru dan strategi terkini dalam pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit," serunya, pada Selasa (11/7). Dari data yang dikumpulkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, hanya sekitar 30 persen dari total perpustakaan di daerah yang aktif dimanfaatkan masyarakat. Itu mencerminkan masih minim kesadaran dan pengetahuan mengenai potensi perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan yang tak ternilai bagi para petani kelapa sawit. "Kami memiliki koleksi buku berisi beragam ilmu pengetahuan di perpustakaan yang dapat membantu petani kelapa sawit meningkatkan produktivitas dan kualitas lahan perkebunan. Itu tadi, masih banyak yang belum sadar akan hal itu," keluhnya. Buku-buku yang dimaksud lanjut Meri, mencakup berbagai aspek tentang pertanian, pengelolaan lahan, teknik bercocok tanam, pemupukan, pengendalian hama, dan strategi pengelolaan keuangan dalam sektor perkebunan. "Melalui pengetahuan yang terdapat di dalam buku tersebut, petani sawit dapat mengoptimalkan lahan dan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan," jelasnya. Kepada para petani kelapa sawit, Meri berharap dapat melihat perpustakaan sebagai sumber pengetahuan yang berharga. Buku-buku yang ada bisa memberikan ide baru dan solusi praktis untuk mengelola lahan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan pemanfaatan perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu berencana untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani kelapa sawit di desa-desa. Sosialisasi memberikan pemahaman mengenai manfaat perpustakaan dan bagaimana buku-buku yang ada dapat membantu dalam pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit. "Kami bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelompok tani untuk melaksankan sosialisasi dan pelatihan. Dengan pemahaman yang lebih baik, petani sawit dapat memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber inspirasi dan pengetahuan yang berguna," bebernya. Adanya upaya ini, kesadaran dan partisipasi petani sawit memanfaatkan perpustakaan bisa meningkat. Para petani kelapa sawit dapat mengakses pengetahuan dan informasi terkini yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha pertanian. Ditegaskan Meri, untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan persaingan global, kolaborasi antara sektor pertanian dan perpustakaan sangat penting. "Pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan bisa menjadi kunci keberhasilan para petani sawit mengelola lahan perkebunan kelapa sawit secara optimal dan lebih baik ke depan," tambahnya.
Pekebun Sawit Ikut Pelatihan Teknis ISPO di Jambi, Ini Targetnya
Jambi, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan) kerja sama dengan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB) gelar 'Pelatihan Teknis ISPO bagi Pekebun Kelapa Sawit Provinsi Jambi', dari 10 hingha 15 Juli 2023 nanti. "Kontribusi industri kelapa sawit sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Direktur Perlindungan Perkebunan Ditjenbun, Hendratmojo Bagus Hudor. Data BPS menunjukkan kata Hendratmojo, ekspor produk pertanian tahun 2022 mencapai Rp640,56 triliun. Di mana 95 persen sumbangan dari sub sektor perkebunan, dan 70 persen kontribusi dari ekspor produk kelapa sawit dan turunannya. Selain penghasil devisa yang sangat besar sambungnya, sawit menyediakan jutaan lapangan kerja. Itu sebabnya, pengelolaannya terus didorong agar lestari dan berkelanjutan, produktivitasnya meningkat demi kesejahteraan pekebun ke depan, harapnya. Dijabarkan Hendratmojo lagi, tutupan lahan sawit Indonesia mencapai 16,38 juta hektar. Seluas 6,9 juta hektar dikelola petani. Terus sekitar 2,8 juta hektar kebun sawit rakyat itu saat ini masuk usia peremajaan, sudah tua dan produktivitasnya sangat rendah. Selain peremajaan tanaman tua, peningkatan produksi dan pembangunan tata kelola sawit lestari berkelanjutan mesti dilakukan dengan mencetak petani yang handal dan kompeten. Untuk itu, perlu dilakukan pelatihan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan pengenalan Good Agricultural Practices (GAP) kepada petani. "Produktivitas kebun sawit rakyat baru mencapai 3 hingga 4 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar. Padahal potensinya 6 hingga 7 ton per hektar. Lantaran itu, perlu kerja keras untuk meningkatkan produktivitas, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang didanai oleh BPDPKS,” tegasnya. Nah, untuk meningkatkan daya saing di pasar global, pemerintah mesti dorong sertifikasi perkebunan kelapa sawit melalui ISPO. "Sertifikasi ISPO bertujuan menangkal berbagai kritikan dan kampanye hitam yang terus didengungkan Uni Eropa. Mereka terus menghadang sawit dengan berbagai regulasi, sertifikasi ISPO solusi dan menjawab tudingan mereka,” terangnya. Direktur Utama PT SIB, Andi Yusuf Akbar menimpali, para pekebun yang menjadi peserta pelatihan sesuai Rekomendasi Teknis (Rekomtek) Ditjenbun sebanyak 36 orang, yakni meliputi 31 pekebun dari Kabupaten Merangin dan 5 orang dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat,” ulasnya. ISPO kali pertama dibuat regulasinya pada tahun 2011 tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan. Sertifikasi ISPO dilaksanakan lembaga independen secara transparan yang bertujuan untuk memastikan dan meningkatkan pengelolaan sawit sesuai kriteria ISPO, imbuhnya.
Petani Kelapa Sawit Mesti Lakukan Ini Jaga Populasi Cacing Tanah
Bengkulu, katakabar.com - Petani sawit di Bengkulu harus mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Soalnya, penggunaan bahan-bahan itu bisa membunuh populasi cacing tanah yang memiliki peran penting meningkatkan kualitas tanah di lahan perkebunan sawit. Pengamat Pertanian Bengkulu, Zainal Muktamar menjelaskan, manfaat cacing tanah adalah berperan dalam menetralisir pH tanah, merubah sifat fisik tanah menjadi lebih gembur, dan meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air. Itu sebabnya, petani sawit harus pastikan tidak menggunakan bahan kimia berlebihan agar populasi cacing tanah tetap aman. Pemakaian bahan kimia secara berlebihan dan terus-menerus dapat mengurangi, dan menghilangkan populasi cacing tanah. Kalau cacing tanah hilang, partikel tanah menjadi padat dan membatu," ulasnya, pada Minggu (9/7) dilansir dari laman elaeis.co. Zainal menjabarkan, manfaat lain dari cacing tanah, yakni memiliki kemampuan untuk meningkatkan kadar unsur hara seperti Natrium, Fosfor, Kalium, Kalsium, dan Magnesium di lahan perkebunan sawit. Proses pencernaan yang dilakukan cacing tanah membantu menguraikan bahan organik di dalam tanah menjadi komponen-komponen yang lebih mudah diserap akar tanaman sawit. "Cacing tanah berperan penting dalam menjaga keseimbangan unsur hara di tanah perkebunan sawit. Mereka membantu mengurai bahan organik menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tanaman," terannya. Dengan populasi cacing tanah yang cukup banyak lanjutnya, lahan perkebunan sawit memiliki tanah yang gembur dan subur. Jika tanah yang gembur memudahkan akar tanaman sawit untuk menembus dan menyerap nutrisi dengan lebih baik. Tidak hanya itu, kemampuan tanah dalam mengikat air juga akan meningkat, sehingga tanaman sawit dapat lebih tahan terhadap kekeringan. "Keberadaan cacing tanah dalam jumlah yang cukup di lahan perkebunan sawit sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem," bebernya. Sebagai upaya menjaga kelangsungan hidup cacing tanah, petani sawit di Bengkulu disarankan untuk beralih ke praktik pertanian organik atau menggunakan pupuk dan pestisida secara bijak. Penggunaan pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang dapat membantu memperbaiki kualitas tanah secara alami dan mendukung keberadaan cacing tanah. "Praktik pertanian organik dan penggunaan pupuk organik menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan, dan dapat menjaga keberadaan cacing tanah di lahan perkebunan sawit," katanya. Untuk itu, para petani diimbau untuk melakukan rotasi tanaman guna mengurangi ketergantungan pada pestisida. Tujuannya agar populasi cacing tanah dapat dipertahankan dan perkebunan sawit akan tetap produktif secara berkelanjutan. "Rotasi tanaman salah satu langkah yang efektif dalam mengurangi penggunaan pestisida dan menjaga ekosistem tanah yang sehat," tandasnya.
Petani Sawit Disuluh Teknis Budidaya di Jambi, Ini Harapannya
Jambi, katakabar.com - Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi kembali dipercaya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) gelar delapan pelatihan kelapa sawit pada 2023 ini. Kepercayaan yang diberikan itu, bisa jadi lantaran tahun lalu Bapeltan Jambi sukses gelae sembilan angkatan pelatihan. Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Muhammad Amin yang buka pelatihan perdana kerja sama Bapeltan Jambi dan BPDPKS. Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan I dan II digelar lima hari lamanya, diikuti sebanyak 53 orang petani sawit dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani melakukan budidaya. Itu sebabnya, narasumber dan fasilitator yang dihadirkan yang kompeten, seperti dari LPP Yogyakarta. "Kelapa sawit komoditas strategis di Indonesia. Untuk mencapai produktivitas yang tinggi, petani harus mengetahui teknis budidaya kelapa sawit, ujar Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Muhammad Amin. Dijelaskan Amin, 90 persen produktivitas kuncinya bibit. Lantaran itu, perlu pemahaman mengenai benih unggul. Adanya pelatihan ini mudah-mudahan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi tentang budidaya sawit. "Insan pertanian harus mampu beradaptasi dan berinovasi di tengah derasnya arus informasi dan teknologi baru sekarang ini. Aspek kelembagaan perlu diperhatikan agar kita mempunyai bargaining position," tegasnya. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Dian Ismail Paripurna menjadi salah seorang narasumber, memabawakan materi Regulasi dan Kebijakan Budidaya Kelapa Sawit. "Pemerintah telah melakukan banyak hal mengenai pengembangan industri sawit. Dari penerapan standardisasi tentang lingkungan dan perkebunan, merangsang investasi hilirisasi sawit, bantuan petani, kemudahan investasi, hingga melakoni diplomasi perdagangan di dunia internasional," ulasnya. Dari sisi regulasi investasi sebutnya, para pengusaha sawit pun terlindungi dengan berbagai kebijakan. Untuk itu, perlu diperhatikan terdapat batasan luasan minimum dan maksimum bagi perkebunan kelapa sawit. Pedomannya Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2021, ketentuan luasan bagi perkebunan kelapa sawit, yakni minimum 6.000 hektar dan maksimum 100 ribu hektar. Selain itu, perusahaan wajib memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat seluas 20 persen dari lahan tersebut, belakangan disebut kebun plasma," bebernya. Selain pemberian materi di kelas, peserta mengikuti praktik di lahan dan kunjungan lapangan. Harapannya, dengan pelatihan ini hendaknya dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang produksi, produktivitas, serta mutu usaha kelapa sawit secara berkelanjutan.
Petani Riau Mau Dapat Cuan Tambahan Tumpang Sari di Kebun Sawit
Pekanbaru, katakabar.com - Petani kelapa sawit swadaya di Provinsi Riau, jangan hanya ketergantungan dan mengandalkan panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit untuk mendapatkan pundi-pundi cuan nama lain dari uang untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Untuk itu, petani kebun kelapa sawit mesti kreatif dan inovatif tumpang sari tanaman yang bernilai ekonomi di sela-sela kelapa sawit di areal perkebunan. Banyak pilihan tanaman bagi petani kelapa sawit swadaya yang mau tumpang sari di areal perkebunan kelapa sawit. Salah satunya jahe merah, jenis tanaman yang dinilai cocok dijadikan tanaman tumpang sari di perkebunan sawit. Lantaran itu, pola ini sangat cocok untuk dilakukan oleh petani kelapa sawit terutama di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Provinsi Riau. Dilansir laman dari website resmi Pemprov Riau, seorang penjual bibit sekaligus petani jahe, Zulkarnain, pada Sabtu (8/7) mengatakan, tanah di Riau lebih berkualitas bagi umbi jahe memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Soal rasa jahe bisa lebih pedas dan ukuran umbi sangat besar. Pengamat Pertanian, Zainal Muktamar menuturkan, jahe sebagai tanaman tumpang sari bisa menjadi tanaman alternatif bagi petani kelapa sawit untuk menambah pundi-pundi pendapatan. “Selain ada penghasilan utama dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, petani kebun dapat penghasilan tambahan dari umbi jahe yang ditanam tumpang sari,” jelasnya. Menurut Zainal, tanaman jahe tumbuh subur dan tetap menghasilkan panen optimal meski ditanam di sela-sela kelapa sawit. Dengan cara ini ujar Zainal, petani mendapatkan penghasilan tambahan dan mengangkat ekonomi petani kelapa sawit. Selain itu sambungnya, pola tanaman tumpang sari dengan memanfaatkan jahe, dapat memperluas keanekaragaman hayati di perkebunan kelapa sawit masyarakat, khususnya para petani kelapa sawit swadaya. Bila tumpang sari jahe ini dibididayakan, Ia meyakini petani kelapa sawit bisa mengurangi ketergantungan penghasilan sebelumnya hanya mengandalkan panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Pengembangan tanaman jahe di perkebunan kelapa sawit memiliki potensi yang besar untuk ditingkatkan di masa depan. Beberapa tahun belakangan ini cerita Zainal, sudah ada beberapa petani sawit di Bengkulu melakukan pengembangan tanaman jahe di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. "Jahe dan sawit sebuah kombinasi tanaman yang menjanjikan peluang keuntungan yang bagus," terangnya. Cara ini tambahnya, dapat memperkuat ketahanan petani terhadap fluktuasi pasar, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. “Sejumlah petani di Bengkulu yang sudah menanam jahe di antara tanaman kelapa sawit menerangkan kepuasan mereka terhadap hasil yang diperoleh,” sebutnya.