Ngawi
Sorotan terbaru dari Tag # Ngawi
'Malawu Pagi di Ngawi'
Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Healing di segitiga perbatasan, kaki gunung Lawu, Karanganyar, Sragen, Ngawi, adalah menikmati oksigen bebas polusi, sejuk tiada henti. Apalagi dinikmati dalam suasana mendung, tanpa hujan. Dengan segelas _Liberica_ asli, dan Sego thiwul khas Ngawi. Rindu jadi melawu. Diskusi kecil tentang polemik ijasah palsu makin seru. Bahkan diskusi hanya jeda makan siang, sebab sudah menunggu nasi dan rendang asli Padang. Lalu dialektika meski kelas girli (pinggir kali) berlanjut dengan dokumen pernyataan sikap para purnawirawan prajurit TNI, yang menginginkan negara dan bangsa ini kembali ke Undang Undang Dasar 1945 asli. Bukan yang palsu. Kata "asli" dalam tulisan ini untuk membumikan betapa pentingnya kejujuran, dan keotentikan dalam berpikir, bersikap dan bertindak, terutama para petinggi dan pengelola negeri. "Buka dulu topengmu?" Dan ucapkan selamat tinggal kepalsuan. Bukan hanya berdalih di Pengadilan, ketika dibutuhkan, tapi juga dihadapan pemilik asli kedaulatan, yaitu rakyat. Palsu, dipalsukan, memalsukan, kepalsuan, adalah kosakata yang semestinya hilang dari kepala para petinggi negeri. Cinta rakyat untuk Indonesia, tidak pernah palsu. Kata seorang mahasiswi, inilah negara ajaib, "ijasah boleh palsu, tapi korupsinya kan gak palsu". Dalam skenario film, "Yogya, Rindu, Cinta" itu semua asli, digali dari kearifan lokal kebanggaan negeri. "Tidak ada yang palsu". Sebab sebagai bangsa, seharusnya kita punya "malu". Meneladani sosok putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Di mesin pencari ketika diketik nama "Jokowi" yang muncul pertama di top stories atas kiri, berjudul, "Jokowi Beri Arahan Peserta Sespimen Polri di Rumahnya" "Alamak!"
Diskusi di Malawu Omah Kopi
Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Usai melakukan sebuah perjalanan mengikuti kata hati. Setelah menempuh jarak sekitar 45 kilometer, kami bertandang ke sebuah rumah unik, bergaya rumah panggung, di pinggir sungai Ngipik, Ngrambe, Ngawi. Di samping rumah yang dikepung pepohonan rimbun, rumpun-rumpun bambu dan kopi itu, terdengar gemericik air seperti ada tarian dan musik. Yang punya rumah, mbak Malika, menyebutnya "Malawu Omah Kopi". Dalam diskusi kecil di meja bulat, kursi empat. Kami disuguhi gethuk pelangi khas Ngrambe, dan segelas kopi hasil panen sendiri dari beberapa batang _Liberica_ yang ditanam di halaman rumahnya. Beberapa teguk saja, kami merasa makin candu pada kesejatian. Kami menikmati kopi mbak Malika, dengan kesadaran, tentang jati diri yang tak sebatas data-data pribadi, tapi sebuah laku hidup di dunia kiwari. "Tuhan itu bukan sosok atau entitas. Tuhan mewujud dalam diri kita," ujar Malika. Kamipun merasa, untuk ngopi kami tak harus belajar perkopian. Nikmati. Mengalir seperti kata-kata para petani di Ngawi, "Sing ora penting pikir keri. Kuat dijalani, ra kuat tinggal ngopi". Mbak Malika, seorang wanita paruh baya, bukan wanita biasa. Pernah merasakan nikmatnya menjalani "sustainable living".