Rampungkan ULO di Palangkaraya, MyRepublic Tandai Kesiapan Ekspansi Nasional Layanan FWA
Palangkaraya, katakabar.com - MyRepublic Indonesia secara resmi rampungkan pelaksanaan Uji Laik Operasi (ULO) layanan MyRepublic Air di Palangka Raya. Pelaksanaan ULO ini menjadi tahapan akhir dalam rangkaian pengujian operasional layanan Fixed Wireless Access (FWA) MyRepublic Air, sekaligus menandai kesiapan layanan untuk diperluas secara nasional sebagai solusi internet unlimited berbasis teknologi True 5G-Fiber Quality dan Truly Unlimited. Pelaksanaan ULO di Palangka Raya dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital dan Plt. Direktur Layanan Ekosistem Digital, Aryo Pamoragung, Ketua Uji Laik Operasi, Falatehan, serta Chief Technology Officer ZTE Indonesia, Dennis Yu. Hadir pula Chief Executive Officer MyRepublic Indonesia, Timotius Max Sulaiman, serta Chief Sales & Marketing Officer MyRepublic Indonesia, Iman Syahrizal. Uji Laik Operasi ini dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang ditetapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai prasyarat wajib sebelum layanan FWA dapat dioperasikan secara komersial. Pengujian mencakup kesiapan jaringan, kualitas layanan, stabilitas koneksi, serta kepatuhan terhadap standar teknis dan regulasi yang berlaku. Berdasarkan hasil pengujian, MyRepublic Air dinyatakan berhasil melaksanakan Uji Laik Operasi dan memenuhi seluruh standar kualitas layanan yang ditetapkan regulator. Dengan selesainya ULO di Palangka Raya, MyRepublic Air kini telah menyelesaikan rangkaian pengujian di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari strategi ekspansi nasional layanan FWA. Selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital dan Plt. Direktur Layanan Ekosistem Digital, Aryo Pamoragung, menyampaikan ini sejalan dengan Visi Presiden RI, H Prabowo Subianto untuk dapat memberikan akses internet rakyat yang cepat dengan harga terjangkau, serta semangat T3 dari Komdigi 'Terhubung, Tumbuh dan Terjaga', harapannya MyRepublic bisa terus berkomitmen untuk terus turut andil dalam pemerataan konektivitas digital di Indonesia. Sedang, Chief Executive Officer MyRepublic Indonesia, Timotius Max Sulaiman, menuturkan selesainya ULO ini menjadi momentum penting bagi MyRepublic Air untuk menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. “Dengan diadakannya ULO di Palangka Raya ini, MyRepublic Indonesia telah berhasil menyelesaikan ULO untuk 9 zona di Region 2 dan Region 3. Dengan ini, kami juga menginformasikan bahwa MyRepublic Indonesia sudah siap untuk mulai go commercial di bulan April untuk 90 kota dari 180 kota yang sudah direncanakan,” kata Timotius. MyRepublic Air hadir sebagai solusi konektivitas berbasis FWA dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga yang terjangkau, mulai dari Rp100 ribuan per bulan. Layanan ini diharapkan dapat menjadi alternatif akses internet berkualitas, khususnya di area yang belum sepenuhnya terlayani jaringan fiber optik. Pelaksanaan ULO di Palangka Raya menjadi penegas komitmen MyRepublic Indonesia dalam memperluas pemerataan akses internet di Tanah Air. Sebagai titik akhir dari rangkaian Uji Laik Operasi MyRepublic Air, tahap ini menandai kesiapan layanan untuk melangkah ke fase ekspansi yang lebih luas di berbagai wilayah Indonesia, dengan menghadirkan konektivitas yang andal dan terjangkau. ULO ini juga menjadi kelanjutan dari pembukaan pra-registrasi MyRepublic Air kepada masyarakat. Dengan seluruh proses pengujian yang telah diselesaikan, layanan FWA ini kini semakin siap untuk diimplementasikan secara bertahap di berbagai daerah. MyRepublic Air dirancang sebagai solusi internet berbasis FWA dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga yang kompetitif, mulai dari Rp100 ribuan per bulan. Kehadiran layanan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak wilayah serta menjadi alternatif akses internet berkualitas, terutama di area yang belum sepenuhnya terlayani jaringan fiber optik. Cara Pra-Registrasi MyRepublic Air Masyarakat yang ingin menjadi bagian dari layanan ini dapat melakukan pra-registrasi MyRepublic Air dengan mudah: 1. Akses situs resmi myrepublic.co.id/air 2. Lengkapi data diri yang dibutuhkan 3. Lakukan verifikasi melalui OTP 4. Cek email konfirmasi sebagai tanda pendaftaran berhasil Dengan ini, MyRepublic Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung percepatan pemerataan akses internet di Indonesia melalui kehadiran MyRepublic Air berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Dengan kesiapan jaringan, MyRepublic Air siap tersedia secara bertahap di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara, guna menghadirkan konektivitas internet yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di lebih banyak daerah.
OTC 2026, PHR Dorong Ekspansi MNK Jadi Game Changer Ketahanan Energi Nasional
Jakarta, katakabar.com - Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan, Muhamad Arifin, menjelaskan sebagai langkah strategis PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dorong ekspansi (pengembangan) Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. "Hal ini berpotensi menjadi game changer memperkuat portofolio masa depan Pertamina sekaligus menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan lapangan migas konvensional yang semakin menua (mature fields)," ujarnya di ajang Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (2/4) lalu. Pada paparannya, Muhamad Arifin, menekankan pengembangan MNK menjadi salah satu solusi kunci untuk menjawab tantangan penurunan produksi dari lapangan konvensional. "Dengan kondisi produksi lapangan tua yang terus menurun, pengembangan migas non-konvensional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis. MNK berpotensi menjadi game changer dalam memperkuat portofolio energi masa depan Pertamina sekaligus menjaga ketahanan energi nasional," kupas Arifin. Menurutnya, PHR mengidentifikasi potensi besar pada sub-cekungan North Aman yang diperkirakan memiliki sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO). Potensi ini menjadi peluang signifikan yang selama ini belum pernah tergarap di Indonesia. Sejalan dengan upaya tersebut, ucap Arifin, PHR telah mencatatkan progres penting dalam pengembangan MNK di Wilayah Kerja Rokan. Pada struktur sub-basin North Aman mencakup Gulamo dan Kelok, "PHR berhasil membuktikan keberadaan hidrokarbon melalui sumur eksplorasi yang telah dilakukan single frac horizontal dan uji alir (flowback test), menjadikannya sebagai salah satu tonggak awal pengembangan MNK di Indonesia," tuturnya. Selanjutnya melalui proses Appraisal, sambung Arifin, PHR tengah melanjutkan perencanaan pengeboran horizontal dan dilanjutkan dengan multi-stage fracturing horizontal sebagai tonggak awal tahapan pengembangan migas non-konvensional di Rokan. "Struktur North Aman ini memang salah satu struktur penting sebagai fondasi penting dalam membuka potensi MNK yang luas pada sub-basin lainnya di Blok Rokan seperti South Aman, Rangau dan Balam," ulasnya. Tetapi, Arifin menegaskan tantangan utama pengembangan MNK tidak hanya terletak pada aspek bawah permukaan (subsurface), tetapi juga faktor di atas permukaan (above ground). “Tantangan terbesar MNK justru berada pada aspek above ground, mulai dari biaya investasi yang masih tinggi, dukungan regulasi dan fiskal yang kompetitif, hingga kesiapan infrastruktur dan penguatan kemampuan dan pengalaman. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan," imbuhnya. Untuk mencapai skala ekonomis, PHR menekankan pentingnya sinergi dalam ekosistem pengembangan MNK, yang melibatkan Pemerintah sebagai pembuat regulasi, operator sebagai pengelola asset, serta mitra strategis yang memiliki teknologi, kapabilitas operasi MNK dan atau kapasitas finansial. PHR juga telah menetapkan peta jalan pengembangan MNK secara bertahap, dimulai dari target pemberian kontrak bagi hasil ( Production Sharing Contract/PSC) pada kuartal II 2026, dilanjutkan dengan pengeboran sumur appraisal pada kuartal IV 2026. Produksi awal ditargetkan mulai pada 2028, dengan pengembangan skala besar pada 2030 ke atas dan proyeksi puncak produksi pada 2037. “Kami optimistis Indonesia siap beralih dari tahap pilot menuju pengembangan MNK yang terukur dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, MNK akan menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di masa depan,” sebut Arifin. Partisipasi Grup Pertamina dalam OTC Asia 2026 juga diperkuat oleh kehadiran sejumlah pembicara lainnya. Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Awang Lazuardi yang tampil dalam sesi Leadership Dialogue. Ia menyoroti energi berbasis hidrokarbon masih menjadi tulang punggung dalam memenuhi kebutuhan energi dunia yang terus meningkat. Tetapi, tekanan global untuk menurunkan emisi karbon juga tidak bisa diabaikan. Sebagai respons atas tantangan tersebut, PHE mengusung strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy. Pendekatan ini menggabungkan penguatan bisnis hulu migas dengan pengembangan energi rendah karbon. Direktur Pengembangan dan Produksi Pertamina Hulu Energi, Mery Luciawaty, turut berbagi pandangan mengenai strategi pengembangan bisnis hulu migas, transformasi menuju energi berkelanjutan, serta peran Pertamina Hulu Energi dalam mendukung transisi energi di tingkat regional. Tak kalah menarik, Manager Bidding & Business Performance Pertamina Drilling Services Indonesia, Ahmad Burhan Noviaris, memaparkan materi bertajuk “Pertamina Drilling Capabilities Through Integrated Project Management”. Ia menyoroti penerapan konsep Integrated Project Management (IPM) untuk meningkatkan efisiensi operasi, didukung kapabilitas 57 rig dan lebih dari 110 layanan pengeboran. Melalui forum ini dan komitmen pada inovasi, PHR menegaskan perannya sebagai motor penggerak transformasi sektor hulu migas nasional, sekaligus mendorong optimalisasi sumber daya energi. Pengembangan MNK menjadi salah satu solusi kunci untuk menjawab tantangan penurunan produksi dari lapangan konvensional. Untuk itu, PHR telah menetapkan peta jalan pengembangan MNK secara bertahap, dengan pengembangan skala besar pada 2030 ke atas dan proyeksi puncak produksi pada 2037 mendatang.
Paradoks Ekspor Baja Tiongkok dan Pentingnya Perlindungan Industri Baja Nasional
Jakarta, katakabar.com - Dominasi ekspor baja Tiongkok kerap dipersepsikan sebagai bukti keunggulan daya saing global. Tetapi, analisis lebih dalam menunjukkan paradoks mendasar: ekspor baja Tiongkok justru berlangsung bersamaan dengan rapuhnya profitabilitas industri di dalam negeri. Kondisi ini menegaskan bahwa volume ekspor besar tidak otomatis mencerminkan industri yang efisien dan berkelanjutan. Bagi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group fenomena ini menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga keberlanjutan industri baja nasional. Sebagai tulang punggung pembangunan dan penopang hilirisasi industri, industri baja membutuhkan ekosistem usaha yang adil dan berimbang agar investasi jangka panjang tetap terjaga. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan persaingan harga baja global saat ini tidak sepenuhnya berlangsung dalam level playing field. “Industri baja nasional, termasuk Krakatau Steel Group, membutuhkan kepastian kebijakan agar investasi dan transformasi bisnis yang kami jalankan tidak tergerus oleh praktik perdagangan yang terdistorsi,” jelas Dr. Akbar Djohan, juga jabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Tekanan Global Akibat Harga Baja Tertekan Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, Steel dan Mining Insights menilai ekspor baja Tiongkok lebih merupakan saluran penyaluran tekanan domestik akibat kelebihan kapasitas dan melemahnya permintaan dalam negeri. “Dalam struktur industri yang mengalami tekanan profitabilitas luas, ekspor tidak lagi mencerminkan daya saing sehat, melainkan respons defensif untuk menjaga operasi tetap berjalan,” kata Widodo. Arus ekspor baja Tiongkok dalam skala besar telah berdampak nyata terhadap industri baja di berbagai negara, mulai dari Eropa hingga Asia. Penurunan utilisasi, penyempitan margin, hingga penutupan fasilitas produksi menjadi fenomena lintas negara. Kondisi ini mendorong lebih dari 60 negara menerapkan ratusan instrumen pengamanan perdagangan sebagai upaya korektif terhadap distorsi harga global. Widodo menegaskan, maraknya penerapan trade remedies menunjukkan harga ekspor baja Tiongkok dinilai tidak wajar secara ekonomi dan menimbulkan kerugian material bagi industri domestik negara pengimpor. “Ini bukan proteksionisme semata, melainkan respons sistemik atas distorsi struktural yang diekspor ke pasar global,” jelasnya. Momentum Penguatan Baja Nasional Penguatan instrumen perlindungan perdagangan sejalan dengan Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun kedaulatan ekonomi dan memperkuat industri strategis nasional. Perlindungan yang tepat sasaran bukan untuk menutup pasar, melainkan memastikan persaingan yang adil serta menjaga keberlanjutan industri dalam negeri. “Industri baja yang sehat adalah fondasi pembangunan nasional. Dengan kebijakan yang tepat, kami optimistis industri baja Indonesia mampu tumbuh berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi jangka panjang bagi negara,” sebut Dr. Akbar Djohan.
KAI Logistik Operasikan CY 2 Merapi, Perkuat Akselerasi Distribusi Energi Nasional Tiga Juta Ton per Tahun
Jakarta, katakabar.com - PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) terus perkuat perannya dukung ketahanan, dan optimalisasi distribusi energi nasional lewat peresmian Container Yard (CY) 2 Merapi. Fasilitas mulai beroperasi sejak 3 Maret 2026 lalu ini menjadi bagian dari pengembangan layanan KALOG Pro, khususnya untuk mendukung pengelolaan angkutan batu bara berbasis moda kereta api yang efisien, andal, dan berkelanjutan. Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, menyampaikan bahwa CY 2 Merapi dirancang sebagai solusi logistik strategis yang tidak hanya meningkatkan kapasitas angkutan, tetapi menjawab tantangan distribusi logistik energi yang semakin dinamis. Hal ini juga menjadi langkah proaktif perusahaan dalam mendukung regulasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang telah memberlakukan larangan truk batu bara melintasi jalan umum sejak 1 Januari 2026, sebagaimana ditegaskan dalam Instruksi Gubernur Sumsel Nomor 500.11/004/INSTRUKSI/DISHUB/2025. “Melalui optimalisasi angkutan berbasis rel, KAI Logistik menghadirkan alternatif distribusi yang lebih aman, patuh regulasi, serta mampu mengurangi ketergantungan pada angkutan jalan raya,” kata Yuskal. Berlokasi di Desa Sirah Pulau, Provinsi Sumatera Selatan, CY 2 Merapi berdampingan langsung dengan fasilitas CY 1 Merapi yang telah lebih dahulu dioperasikan oleh KAI Logistik yang direncanakan memiliki tiga akses keluar–masuk yang terhubung langsung dengan terminal Merapi, sehingga mendukung kelancaran pergerakan kereta api dan meningkatkan efisiensi operasional bongkar muat batu bara. “Fasilitas ini dirancang dengan skema konektivitas terpadu antara area tambang dan jalur hauling yang terhubung langsung ke kawasan CY, sehingga seluruh aktivitas operasional dapat dilakukan tanpa melalui jalur jalan provinsi (lintas). Skema tersebut sejalan dengan upaya meminimalkan dampak terhadap infrastruktur jalan dan lingkungan sekitar,” jelas Yuskal. Dengan beroperasinya CY 2 Merapi, KAI Logistik menargetkan peningkatan kapasitas angkut sesuai rencana awal, yaitu melayani hingga dua rangkaian kereta api per hari. Ke depan, fasilitas ini direncanakan memiliki dua jalur bongkar muat sebagai langkah antisipatif terhadap peningkatan volume angkutan batu bara di wilayah Sumatera. Menurut Yuskal menjelaskan, CY 2 Merapi diproyeksikan mampu melayani sekitar 730 rangkaian kereta api per tahun, dan dengan pengoperasian optimal dua jalur angkut, kapasitasnya berpotensi meningkat hingga 10 rangkaian kereta api per hari. Secara keseluruhan, fasilitas ini diperkirakan dapat berkontribusi pada angkutan batu bara hingga 3 juta ton per tahun, sehingga memperkuat rantai pasok energi nasional secara berkelanjutan. Untuk mendukung peningkatan kapasitas tersebut, sambungnya, KAI Logistik akan melakukan pengembangan sarana dan prasarana secara bertahap, meliputi penambahan alat angkut, penyediaan fasilitas pendukung operasional, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Seluruh pengembangan dan operasional CY 2 Merapi dilaksanakan dengan mengacu pada standar pelayanan yang berlaku serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) guna memastikan layanan yang aman, andal, dan berkelanjutan. Melalui pengoperasian CY 2 Merapi, terangnya, KAI Logistik menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis dalam mendukung distribusi energi nasional serta menghadirkan solusi logistik yang adaptif terhadap dinamika sektor transportasi dan logistik. "Optimalisasi angkutan berbasis kereta api ini juga menjadi bagian dari upaya penerapan green logistics melalui pengurangan emisi dan peningkatan efisiensi energi," tandasnya.
Perkuat Rantai Pasok Nasional, KS Group dan Kerismas Group Teken Perjanjian Pasokan Jangka Panjang
Jakarta, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) perkokoh sinergi industri baja dalam negeri melalui penandatanganan perjanjian pasokan jangka panjang atau Long Term Supply Agreement (LTSA) dengan PT Kerismas Witikco Makmur beserta grup usahanya. Kerja sama ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan bahan baku baja jenis Cold Rolled Coil (CRC) dan Hot Rolled Pickled Oil (HRPO) dengan total sebesar 36.000 ton hingga satu tahun ke depan. Adapun penandatanganan komitmen ini dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk diwakili Hernowo selaku Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio. Sedang, PT Kerismas Witikco Makmur diwakili Lau Beng Sing selaku Presiden Direktur. Melalui kesepakatan ini, Krakatau Steel Group menjamin stabilitas pasokan CRC dan HRPO untuk mendukung kelancaran produksi hilir di seluruh unit usaha Kerismas Group, yang meliputi PT Kerismas Witikco Makmur, PT Tumbakmas Inti Mulia, PT Semarang Makmur, dan PT Poli Contindo Nusa. Keberlanjutan Strategi Penguatan Industri Langkah strategis ini merupakan manifestasi nyata dari konsistensi perusahaan dalam menjaga ekosistem industri baja nasional. Sebelumnya, Februari 2026, Krakatau Steel Group telah meresmikan kerja sama serupa dengan PT Fumira. Dalam kesepakatan tersebut, Krakatau Steel berkomitmen memasok kebutuhan CRC PT Fumira dengan volume minimum sebesar 3.500 Metric Ton (MT) per bulan sepanjang tahun 2026. Rentetan kerja sama jangka panjang ini menegaskan posisi strategis Krakatau Steel Group sebagai penopang utama kebutuhan bahan baku industri manufaktur nasional. Jamin Stabilitas Pasokan untuk Performa Terbaik Mitra Keberhasilan penandatanganan LTSA ini didorong oleh dukungan modal kerja dari Danantara. Dukungan tersebut dialokasikan secara khusus untuk mengamankan ketersediaan material bahan baku secara berkelanjutan, yang menjadi fondasi utama bagi Krakatau Steel Group dalam memproduksi produk baja bernilai tambah tinggi (high value-added products). “Dukungan modal kerja dari Danantara merupakan penggerak utama dalam memastikan rantai pasok bahan baku kami tetap terjaga dan stabil. Dengan ketersediaan material hulu yang terjamin, Krakatau Steel dapat memberikan kepastian pasokan bagi mitra loyal kami," ujar Hernowo. Ia menambahkan stabilitas pasokan ini akan berdampak langsung pada performa mitra di pasar. "Melalui dukungan produk CRC dan HRPO yang berkualitas tinggi, kami optimistis Kerismas Group dapat terus meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing produknya, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun merambah pasar internasional,” jelas Hernowo. Menurutnya, penguatan ketersediaan bahan baku ini merupakan implementasi nyata dari pilar Asta Cita Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto, khususnya dalam mempercepat hilirisasi industri domestik. Dengan memastikan bahan baku baja tersedia di dalam negeri, Krakatau Steel Group yang dipimpin Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) serta Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menyatakan siap berperan aktif dalam menciptakan ekosistem industri yang mandiri dan berdaya saing tinggi. “Kami menyelaraskan operasional perusahaan dengan visi Asta Cita untuk memperkokoh kedaulatan ekonomi melalui hilirisasi. Melalui jaminan pasokan bahan baku yang didukung Danantara, kita memastikan bahwa nilai tambah ekonomi sepenuhnya dinikmati oleh industri dan tenaga kerja nasional,” imbuh Hernowo. Komitmen Kemitraan Jangka Panjang Lau Beng Sing sambut baik kolaborasi ini sebagai fondasi utama stabilitas operasional grup. "Kami mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari Krakatau Steel. Jaminan pasokan bahan baku ini sangat krusial bagi keberlangsungan produksi di grup kami, sehingga kami bisa fokus pada pengembangan pasar dan kualitas produk akhir bagi konsumen," ulasnya. Langkah ini juga sejalan dengan upaya penguatan struktur industri baja nasional dan program substitusi impor, di mana pemanfaatan produk baja lokal menjadi prioritas utama bagi para pelaku manufaktur di Indonesia. Melalui kemitraan ini, kedua belah pihak sepakat untuk terus bersinergi menghadapi tantangan industri baja global dan memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengadaan 54 Lokomotif CC 205 Tuntas, KAI Divre IV Siap Amankan Ketahanan Energi Nasional
Lampung, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional IV Tanjungkarang kembali menerima tambahan 16 unit lokomotif baru tipe CC 205 yang diproduksi oleh Progress Rail di Alabama, Amerika Serikat. Lokomotif tersebut tiba melalui Pelabuhan Panjang, Lampung, sebagai bagian dari batch keempat dalam program pengadaan sebanyak 54 unit lokomotif. Dengan tibanya pengiriman pada batch keempat ini, seluruh rangkaian pengadaan telah terpenuhi. Dengan demikian, Divre IV Tanjungkarang kini telah menerima secara lengkap 54 unit lokomotif baru yang akan digunakan untuk mendukung peningkatan kinerja operasional perkeretaapian di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Manager Humas KAI Divre IV Tanjungkarang, Azhar Zaki Assjari, menyampaikan penambahan sarana lokomotif ini diharapkan dapat semakin meningkatkan kelancaran layanan angkutan barang, khususnya untuk komoditas batubara serta berbagai kebutuhan logistik lainnya yang terus mengalami pertumbuhan di wilayah Sumatera Bagian Selatan. “Selain meningkatkan efisiensi operasional, pemanfaatan kereta api sebagai moda angkutan barang juga menjadi solusi yang efektif dalam menekan polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Dalam satu perjalanan, rangkaian KA angkutan batu bara yang menarik 61 gerbong dengan kapasitas sekitar 3.050 ton mampu menggantikan hingga 120 truk kontainer berukuran 40 kaki,” ujar Zaki. Ia menjelaskan satu rangkaian KA angkutan batu bara menghasilkan emisi sekitar 10.766 kg CO₂ per perjalanan, jauh lebih rendah dibandingkan emisi yang dihasilkan oleh 120 truk kontainer yang mencapai 65.645 kg CO₂ per perjalanan. Dengan efisiensi penggunaan bahan bakar yang lebih baik serta kapasitas angkut yang jauh lebih besar, kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mendukung distribusi barang. Selain berdampak pada aspek lingkungan, penggunaan kereta api sebagai moda angkutan barang juga memberikan kontribusi positif terhadap kelancaran lalu lintas. Berkurangnya volume kendaraan berat di jalan tol maupun jalan nasional dapat membantu memperlancar arus kendaraan sekaligus memperpanjang umur layanan infrastruktur jalan. Di sisi lain, pengalihan angkutan barang ke moda rel juga berpotensi menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan besar. Transportasi barang melalui jalur rel memiliki tingkat kecelakaan yang relatif lebih rendah serta risiko kerusakan barang yang lebih kecil, sehingga menjadi pilihan yang lebih aman dan andal bagi dunia usaha. Dengan dukungan sarana yang semakin memadai, KAI Divre IV Tanjungkarang terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai sektor industri dan pelaku logistik untuk memanfaatkan layanan angkutan barang berbasis rel. “Kami terus mendorong sinergi antara operator logistik, pelaku industri, dan pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan kereta api untuk distribusi barang. Hal ini merupakan langkah strategis untuk membangun ekosistem logistik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan,” ulas Zaki.
Holding PTPN Dorong Integrasi Pemasaran Gula Nasional
Jakarta, katakabar.com - Guna perkuat strategi pemasaran komoditas gula nasional, PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) gelar pertemuan koordinasi bersama PT Perkebunan Nusantara III (Persero), PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), dan PT KPBN Niaga pada Selasa (3/3) lalu. Pertemuan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penguatan sinergi antar entitas dalam lingkup PTPN Group guna merumuskan strategi pemasaran gula yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berdaya saing. Fokus pembahasan mencakup evaluasi kinerja pemasaran periode sebelumnya, proyeksi pasar gula domestik, skema distribusi, optimalisasi pola penjualan, serta langkah-langkah tindak lanjut untuk meningkatkan efektivitas penyerapan pasar. Pada diskusi tersebut, para peserta juga menekankan pentingnya penyelarasan kebijakan antara holding, subholding gula, dan entitas pemasaran guna memastikan tata kelola niaga yang transparan, akuntabel, serta responsif terhadap dinamika pasar. Strategi penguatan komunikasi pasar dan pengelolaan risiko fluktuasi harga turut menjadi agenda penting dalam pembahasan. Lewat pertemuan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama dalam mendorong optimalisasi pemasaran gula secara berkelanjutan, sehingga mampu mendukung peningkatan kinerja perusahaan sekaligus memperkuat peran PTPN Group dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga gula nasional.
Mampukah Pengembangan DME Perkuat Ketahanan Energi Nasional?
Jakarta, katakabar.com - Ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) mengharuskan pemerintah mempercepat pengembangan dimethyl ether (DME) sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga. Konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, sedang sekitar 75 persen kebutuhan masih dipenuhi melalui impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor LPG Indonesia pada 2024 mencapai US$3,8 miliar atau setara Rp64,1 triliun (kurs Rp16.888 per dolar AS). Proyek DME bahkan telah masuk dalam daftar proyek prioritas hilirisasi nasional dan direncanakan mulai digarap pada tahun ini di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. MIND ID bersama Pertamina berkolaborasi dalam percepatan hilirisasi batu bara menjadi menjadi produk energi alternatif seperti Synthetic Natural Gas (SNG), Dimethyl Ether (DME) dan Methanol melalui penguatan rantai mineral, batu bara, dan energi nasional. Dalam kolaborasi ini Pertamina berperan sebagai offtaker dan agregator infrastruktur distribusi. Hasil hilirisasi batu bara, seperti Dimethyl Ether (DME), Synthetic Natural Gas (SNG), dan metanol nantinya akan terserap dan tersalurkan secara efektif kepada masyarakat dan industri sebagai substitusi energi impor. Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menilai pengembangan DME menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Menurutnya, konflik di Timur Tengah dapat mengganggu distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia yang melewati jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Amerika Serikat menjadi pemasok utama dengan nilai impor sekitar US$2,03 miliar atau sekitar 53 persen dari total impor. Sementara, Qatar menyumbang sekitar 11 persen, disusul Uni Emirat Arab sekitar 10 persen. Besarnya ketergantungan tersebut membuat pasokan LPG domestik rentan terhadap dinamika pasar energi global, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia. “Ketika terjadi eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak maupun gas dari kawasan Teluk Persia yang melewati Selat Hormuz, ini menjadi alasan kuat kenapa kita perlu melakukan hilirisasi batu bara menjadi DME,” ujarnya. Ia mengatakan pengembangan DME salah satu upaya untuk mencari sumber energi substitusi yang dalam jangka panjang dapat menggantikan sebagian kebutuhan LPG impor. Selain mendukung ketahanan energi, pengembangan DME juga berpotensi membuka pasar baru bagi batu bara berkalori rendah. Indonesia dinilai memiliki modal sumber daya untuk mengembangkan industri tersebut. Hal ini mampu mendorong efektifitas PTBA dalam operasional sehingga produksi batubara kalori rendah juga bisa teroptimalisasi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki sumber daya batu bara sekitar 97,96 miliar ton dengan cadangan mencapai 31,95 miliar ton. Sebagian besar cadangan tersebut merupakan batu bara berkalori rendah atau low rank coal, yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif rendah di pasar ekspor. Menurut Bambang, hilirisasi batu bara juga menjadi kewajiban bagi pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang kontraknya telah diperpanjang. “Hilirisasi batubara wajib dilakukan oleh pemegang PKP2B yang diperpanjang. Soal apakah ini akan membawa gairah baru atau tidak tergantung dari niatan para pelaku industrinya,” jelasnya. Ketua Komite Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, menilai pengembangan DME perlu dihitung secara cermat agar tidak kalah bersaing dengan LPG impor yang selama ini dipasok dari negara dengan biaya produksi gas lebih rendah. “DME ini industrinya relatif masih baru dan dari sisi keekonomian juga tidak murah. Karena itu feasibility study-nya harus benar-benar dicermati,” ucapnya. Ia menilai pemerintah perlu memastikan harga produksi DME dapat bersaing dengan LPG impor agar proyek tersebut tidak justru menambah beban biaya energi. “Kalau ternyata produksi DME lebih mahal daripada impor LPG, maka harus dihitung kembali manfaatnya,” tegasnya. Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno juga menilai pengembangan DME berpotensi membantu mengurangi ketergantungan impor LPG, namun tetap memerlukan kajian yang mendalam. Menurutnya, proyek serupa pernah direncanakan sebelumnya namun tidak berlanjut sehingga aspek teknologi dan keekonomian perlu dihitung secara hati-hati. “Proyek ini tentu bisa mengurangi impor LPG, tetapi membutuhkan kajian yang mendalam, khususnya terkait keekonomiannya. Teknologi yang digunakan juga harus mampu membuat biaya produksi lebih efisien dibandingkan impor LPG,” tandasnya.
Dorong Pemerataan Internet Nasional, MyRepublic Air Sukses ULO di Lampung
Lampung, katakabar.com - Proses Uji Laik Operasi (ULO) telah sukses dijalankan oleh layanan MyRepublic Air, diakhir Februari 2026 lalu. Upaya memperluas akses internet berkualitas di Sumatra terus dilakukan MyRepublic Indonesia. Proses Uji Laik Operasi (ULO) pada akhir Februari telah sukses dijalankan oleh layanan MyRepublic Air. Pelaksanaan ULO yang dilakukan secara daring ini menandai kesiapan MyRepublic Air untuk segera beroperasi sebagai layanan internet unlimited berbasis Fixed Wireless Access (FWA) dengan teknologi True 5G–Fiber Quality dan Truly Unlimited. Uji Laik Operasi merupakan tahapan penting yang harus dilalui sebelum layanan dapat dioperasikan secara komersial. Proses ini dilakukan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang ditetapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia guna memastikan kesiapan jaringan, kualitas layanan, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, layanan MyRepublic Air di Lampung sukses uji laik operasi dan memenuhi standar kualitas layanan serta persyaratan teknis yang ditetapkan regulator. Pada pengujian tersebut, layanan ini juga mampu melampaui standar minimum kecepatan unduh yang dipersyaratkan, dengan capaian hingga 100 Mbps. Chief Executive Officer MyRepublic Indonesia, Timotius Max Sulaiman, mengatakan keberhasilan pelaksanaan ULO ini menjadi langkah penting dalam upaya memperluas akses internet berkualitas bagi masyarakat dan mendukung pemerataan internet nasional. “Lampung wilayah dengan potensi pertumbuhan ekonomi digital yang sangat besar. Melalui kehadiran MyRepublic Air, kami ingin menghadirkan solusi konektivitas yang cepat, stabil, dan terjangkau agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati akses internet berkualitas untuk berbagai aktivitas digital,” ucapnya. MyRepublic Air hadir sebagai solusi konektivitas berbasis Fixed Wireless Access (FWA) dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan harga yang terjangkau, mulai dari Rp100 ribuan per bulan. Layanan ini diharapkan dapat menjadi alternatif akses internet berkualitas, khususnya bagi masyarakat di area yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan fiber optik. Pelaksanaan ULO di Lampung juga menjadi bagian dari strategi ekspansi MyRepublic Indonesia dalam memperluas jangkauan layanan MyRepublic Air di berbagai wilayah Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi FWA, layanan ini memungkinkan penyediaan internet berkecepatan tinggi secara lebih cepat dan fleksibel di berbagai daerah. Sebelumnya, MyRepublic Indonesia telah membuka pra-registrasi MyRepublic Air bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi dan kesempatan lebih awal untuk menikmati layanan ini. Melalui langkah ini, MyRepublic Indonesia terus menegaskan komitmennya untuk mendukung percepatan pemerataan akses internet nasional. Ke depan, MyRepublic Air akan diperluas secara bertahap ke berbagai wilayah di Indonesia guna menghadirkan konektivitas yang andal dan terjangkau bagi lebih banyak masyarakat. Cara Pra-Registrasi MyRepublic Air Masyarakat yang ingin menjadi bagian dari layanan ini dapat melakukan pra-registrasi MyRepublic Air dengan mudah: 1. Akses situs resmi myrepublic.co.id/air 2. Lengkapi data diri yang dibutuhkan 3. Lakukan verifikasi melalui OTP 4. Cek email konfirmasi sebagai tanda pendaftaran berhasil Dengan ini, MyRepublic Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung percepatan pemerataan akses internet rakyat di Indonesia melalui kehadiran MyRepublic Air berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Dengan kesiapan jaringan, MyRepublic Air siap tersedia secara bertahap di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara, guna menghadirkan konektivitas internet yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di lebih banyak daerah.
WRGI 2026 Kompetisi Tata Kelola Investasi Nasional Resmi Diluncurkan
Jalarta, katakabar.com - WRGI 2026 Kompetisi Tata Kelola Investasi Nasional (WRGI 2026) resmi diluncurkan sebagai kompetisi investasi berbasis dana riil berskala global yang bertujuan mengukur dan membandingkan kemampuan tata kelola investasi jangka panjang di berbagai negara. Kompetisi ini dirancang untuk mengidentifikasi individu profesional dan tim institusi yang mampu mengelola modal jangka panjang secara disiplin, transparan, dan berkelanjutan. Penilaian tidak hanya berfokus pada kinerja investasi, tetapi mencakup manajemen risiko, kepatuhan regulasi, integritas tata kelola, serta kesiapan untuk membangun kerja sama jangka panjang. Berbeda dari ajang perdagangan jangka pendek, WRGI 2026 dijalankan dalam kondisi pasar nyata dengan sistem evaluasi terstruktur dan pengawasan independen. Seluruh peserta berkompetisi dalam kerangka akun yang seragam, dengan batasan leverage dan parameter risiko yang telah ditetapkan secara jelas. Sistem Penilaian Berbasis Tata Kelola WRGI 2026 menggunakan sistem penilaian komprehensif berbasis 100 poin yang meliputi: Kinerja Investasi (35%) Manajemen Risiko dan Drawdown (25%) Tata Kelola, Kepatuhan, dan Transparansi (15%) Presentasi Profesional dan Potensi Kerja Sama Jangka Panjang (10%) Indeks Kepercayaan Publik (15%) Pendekatan ini menekankan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko serta konsistensi perilaku investasi, dibandingkan pencapaian keuntungan jangka pendek yang bersifat spekulatif. Di setiap negara peserta, peserta dengan skor tertinggi akan ditetapkan sebagai Perwakilan Nasional dan melanjutkan ke Babak Final Global. Struktur dan Pengawasan WRGI 2026 diinisiasi oleh institusi dengan mandat pengelolaan modal jangka panjang dan didukung oleh berbagai organisasi industri serta penyedia layanan global. Pengawasan operasional dilakukan oleh kustodian independen untuk memastikan seluruh transaksi dan pencatatan dana dapat diverifikasi. Kompetisi ini beroperasi secara independen dan bukan merupakan program resmi lembaga multilateral mana pun. Metodologi evaluasinya mengacu pada prinsip-prinsip internasional terkait stabilitas keuangan dan tata kelola investasi institusional. Potensi Kerja Sama Pengelolaan Modal Selain memberikan pengakuan, WRGI 2026 membuka peluang kolaborasi nyata. Juara Global berpotensi dipertimbangkan untuk menerima mandat pengelolaan modal secara bertahap hingga USD 1 miliar, dengan tetap tunduk pada proses uji kelayakan, kepatuhan regulasi, dan perjanjian resmi. Selain itu, sejumlah peserta terbaik dapat memperoleh mandat uji coba atau masuk dalam daftar observasi untuk peluang kerja sama institusional di masa mendatang. Kriteria dan Partisipasi Kompetisi ini terbuka bagi: Perusahaan manajemen aset berlisensi Tim investasi dari dana kekayaan negara, dana pensiun, dan perusahaan asuransi Investor profesional individu yang memenuhi syarat Seluruh peserta wajib memenuhi standar kepatuhan yang ketat, menjalani verifikasi identitas dan pemeriksaan anti-pencucian uang (AML), serta tidak diperkenankan menghimpun dana publik atas nama kompetisi. Pernyataan Kepatuhan WRGI 2026 inisiatif pembandingan tata kelola dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi, jaminan imbal hasil, atau bentuk dukungan regulasi. Setiap penyalahgunaan nama kompetisi untuk promosi yang menyesatkan atau penggalangan dana akan dikenakan sanksi diskualifikasi. Tentang WRGI 2026 WRGI 2026 Kompetisi Tata Kelola Investasi Nasional menghadirkan pendekatan baru dalam menilai keunggulan investasi berlandaskan disiplin institusional, transparansi, dan tanggung jawab jangka panjang. Dengan mengintegrasikan praktik pasar nyata dan prinsip tata kelola modal berkelanjutan, kompetisi ini bertujuan memperkuat dialog global mengenai pengelolaan investasi yang bertanggung jawab. Informasi lebih lanjut akan diumumkan melalui saluran resmi yang telah ditetapkan.