Minyak Sawit Petensial Jadi Sumber Bahan Pangan Global Sawit
Sawit
Rabu, 17 Desember 2025 | 17:00 WIB

Minyak Sawit Petensial Jadi Sumber Bahan Pangan Global

katakabar.com - Minyak sawit sangat potensial dikembangkan jadi salah satu sumber bahan pangan dunia. Pangan kebutuhan dasar masyarakat di seluruh dunia. Lantaran itu, aspek ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) menjadi sangat penting ketika suatu komoditas digunakan sebagai sumber bahan pangan global. Menurut jurnal PASPI Monitor (2024) berjudul Industri Sawit Bagian Strategis Ketahanan Pangan dan Energi Nasional yang Berkelanjutan, minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu sumber bahan pangan dunia. Ada beberapa hal yang membuat minyak sawit sangat potensial yakni harga kompetitif, tersedia sepanjang tahun, dan aplikasi penggunaan sangat luas. Berikut ini ulasan mengenai potensi pendukung minyak sawit sebagai sumber bahan pangan global tersebut. Harga Kompetitif: Harga minyak sawit lebih rendah atau lebih kompetitif apabila dibandingkan dengan minyak nabati utama lain. Kondisi tersebut disebabkan oleh produktivitas minyak sawit yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lain seperti minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari (PASPI, 2023). Harga yang lebih kompetitif ini memberikan manfaat bagi masyarakat dunia. Dalam konteks pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan pangan, keberadaan minyak sawit sebagai substitusi bagi minyak nabati lain juga dapat berkontribusi positif untuk mencegah kenaikan harga pangan dunia secara berlebihan (Kojima et al., 2016). Tersedia Sepanjang Tahun: Produksi minyak sawit tersedia sepanjang tahun dengan pasokan yang stabil. Selama sinar matahari tetap tersedia, proses produksi minyak sawit akan terus berlangsung secara berkesinambungan (PASPI Monitor, 2024a). Komoditas ini tidak mengenal pola musiman dengan volume produksi yang relatif konsisten dari bulan ke bulan serta dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut memberikan kepastian dan kenyamanan bagi masyarakat di berbagai wilayah. Perlu diketahui, minyak sawit dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang memiliki tingkat produktivitas minyak per hektare sekitar 8-10 kali lebih tinggi apabila dibandingkan dengan produktivitas minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak biji bunga matahari. Dengan komposisi tanaman yang ideal, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak secara konsisten setiap bulan hingga mencapai usia produktif sekitar 25 tahun. Stabilitas pasokan tersebut menjadikan minyak sawit sebagai sumber minyak nabati yang andal dan memberikan kepastian dalam penyediaan minyak nabati bagi kebutuhan pangan global. Aplikasi Penggunaan Sangat Luas: Minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk pangan seperti minyak goreng, margarin, mentega putih (shortening), dan krimer nabati. Penciptaan produk pangan berbasis minyak sawit dapat memenuhi kebutuhan konsumen terkait kualitas, stabilitas, dan kesehatan. Selain itu, minyak sawit memiliki keunggulan nutrisi yang menjadikannya bahan baku unggulan dalam produk pangan. Terkait aspek kesehatan, minyak sawit memiliki kandungan betakaroten, vitamin E, dan asam lemak tak jenuh yang bermanfaat positif bagi tubuh manusia. Pengembangan minyak sawit akan menghasilkan produk minyak sawit merah (red palm oil atau RPO) yang kaya nutrisi dan tinggi gizi. Minyak sawit merah diproses khusus agar kandungan gizi tetap bertahan meski melalui proses pemurnian. Beberapa keunggulan lain dari minyak sawit yakni memiliki kandungan antioksidan alami yang berfungsi sebagai pengawet alami, kemampuan memberikan tekstur yang halus dan lembut pada makanan, serta sifatnya yang bebas lemak trans, tidak berbau, tidak berasa, dan dapat meningkatkan cita rasa produk pangan secara keseluruhan.

Bukan Komoditas Monokultur Dunia: Minyak Sawit Jawaban Lestarikan Keanekaragaman Hayati Default
Default
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:58 WIB

Bukan Komoditas Monokultur Dunia: Minyak Sawit Jawaban Lestarikan Keanekaragaman Hayati

katakabar.com - Perkebunan kelapa sawit bukan komoditas pertanian monokultur terluas di dunia. Umumnya komoditas pertanian utama dunia dibudidayakan secara monokultur. Misalnya gandum, jagung, kacang-kacangan, padi, dan tanaman lain yang ditanam di berbagai negara dibudidayakan secara monokultur. Budidaya komoditas pertanian menggunakan sistem monokultur karena dinilai lebih menguntungkan, produktif, efisien, dan mampu mencapai skala ekonomi atau economic of scale (PASPI, 2023). Menurut data USDA (2022), secara global luas areal gandum mencapai 221 juta hektare, luas areal jagung mencapai 202 juta hektare, dan luas areal padi mencapai 167 juta hektare. Budidaya tanaman minyak nabati utama dunia juga menggunakan sistem monokultur dengan luas areal terbesar adalah kedelai (130 juta hektare), kemudian diikuti rapeseed (37,8 juta hektare), bunga matahari (28,4 juta hektare), dan kelapa sawit (25 juta hektare). Sedang, jurnal PASPI (2023) berjudul Kelapa Sawit dan Biodiversitas, mengatakan perkebunan kelapa sawit bukan komoditas pertanian monokultur yang terluas di dunia. Berdasarkan data tersebut di atas, luas perkebunan kelapa sawit dunia masih jauh di bawah komoditas pertanian lain. Dengan luas areal paling hemat di antara berbagai komoditas lain maka perkebunan kelapa sawit memiliki biodiversity loss yang jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai komoditas lain. Alhasil, penggunaan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global justru turut berkontribusi positif pelestarian keanekaragaman hayati. Berikut ini beberapa hal yang membuat kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap pelestarian biodiversitas yakni bukan tanaman monokultur terluas di dunia, tingkat biodiversity loss rendah, serta biodiversitas bertumbuh. Bukan Tanaman Monokultur Terluas: Seperti disampaikan sebelumnya, perkebunan kelapa sawit bukanlah tanaman monokultur yang terluas di dunia. Apalagi, perkebunan sawit sebetulnya tidak dapat dikategorikan sebagai monokultur murni seperti tanaman minyak nabati lain. Diketahui pada fase penanaman dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) di sela-sela tanaman kelapa sawit ditanam tumbuhan cover crop berupa tanaman kacang-kacangan (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 2021ª). Selain itu, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengembangkan berbagai pola integrasi seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/immature dan integrasi sawit-ternak pada fase tanaman menghasilkan/mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Utomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013). Dengan demikian cukup jelas bahwa budidaya monokultur pada perkebunan kelapa sawit hanya terjadi pada fase land clearing dan penanaman. Setelah fase tersebut, perkebunan kelapa sawit justru berkembang menjadi polikultur baik melalui integrasi sawit-tanaman pangan, sawit-sayuran, sawit-buah, sawit-ternak, dan pola integrasi lain maupun pertumbuhan alamiah biodiversitas. Sistem budidaya integrasi (polikultur) kelapa sawit dengan komoditas pertanian yang demikian mendukung kelestarian biodiversitas di dalam areal perkebunan kelapa sawit (Ghazali et al, 2016) sekaligus juga menjadi solusi dari upaya untuk mencegah degradasi lahan dan penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK (Khasanah et al., 2020). Tingkat Biodiversity Loss Rendah: Beyer et al. (2020) dan Beyer & Rademacher (2021) melakukan studi tentang komparasi kehilangan keanekaragaman hayati atau biodiversity loss global pada produksi minyak nabati dunia. Indikator yang digunakan untuk mengukur jejak biodiversity loss adalah species richness loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan. Secara relatif dengan SRL minyak sawit sebagai pembanding menunjukkan bahwa indeks SRL minyak kedelai 284 persen, indeks SRL minyak rapeseed 179 persen, dan indeks SRL minyak bunga matahari 144 persen. Artinya, minyak sawit adalah minyak nabati dengan tingkat biodiversity loss paling rendah, sedangkan minyak nabati yang memiliki tingkat biodiversity loss paling besar adalah minyak kedelai. Biodiversitas Bertumbuh: Secara alamiah seiring dengan pertambahan umur maka tanaman kelapa sawit juga mengalami pertumbuhan biodiversitas. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun memungkinkan perkembangan kembali biodiversitas seperti pada hutan (PASPI Monitor, 2021ª). Studi Santosa et al. (2017) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah apabila dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (ecosystem benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (high conservation value/HCV). Itu sebabnya, tidak mengherankan jika species richness loss per liter minyak nabati dari perkebunan kelapa sawit jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai tanaman minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, hingga minyak zaitun

Aspek Keberlanjutan Produksi Minyak Sawit Utama Dukung Kelestarian Lingkungan Sawit
Sawit
Sabtu, 15 November 2025 | 16:00 WIB

Aspek Keberlanjutan Produksi Minyak Sawit Utama Dukung Kelestarian Lingkungan

katakabar.com - Aspek keberlanjutan produksi dan pengelolaan minyak sawit jadi faktor utama mendukung kelestarian lingkungan. Pemanfaatan minyak sawit yang luas dalam industri pangan global dengan tingkat konsumsi yang mencakup hampir seluruh negara di dunia menjadikan masyarakat internasional semakin bergantung pada komoditas tersebut (Shigetomi et al., 2020). Itu sebabnya, aspek keberlanjutan (sustainability) dalam produksi dan pengelolaan minyak sawit jadi faktor yang sangat krusial untuk diperhatikan dalam mendukung kelestarian lingkungan. Perkembangan industri minyak sawit global yang sangat pesat sering dikaitkan dengan perubahan tata guna lahan (land use change), termasuk di dalamnya isu deforestasi (Vijay et al., 2016; European Union, 2013), serta hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss) sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah penelitian (Koh & Wilcove, 2008; Fitzherbert et al., 2009; Foster et al., 2011; Savilaakso et al., 2014; Austin et al., 2019). Menurut PASPI Monitor (2022) lewat jurnal berjudul Ketahanan Pangan Minyak Nabati Global Berkelanjutan, permasalahan deforestasi, perubahan tata guna lahan, emisi, dan penurunan keanekaragaman hayati pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan industri minyak sawit melainkan relevan pada berbagai komoditas, sektor, dan negara, bahkan lintas peradaban. Pada konteks penyediaan minyak nabati dan lemak dunia, pertanyaan utama terkait keberlanjutan bukanlah sekadar apakah deforestasi atau emisi terjadi atau tidak, melainkan lebih pada komoditas tanaman penghasil minyak nabati mana yang paling efisien dalam penggunaan lahan, menghasilkan emisi dan polusi paling rendah, serta memiliki dampak biodiversity loss paling kecil? Berikut ini ulasan mengenai keunggulan minyak sawit dalam hal keberlanjutan apabila dibandingkan dengan berbagai minyak nabati utama lain. Ulasan mengenai aspek keberlanjutan ditinjau dari berbagai indikator yang meliputi indeks deforestasi, keanekaragaman hayati, emisi karbon, serta kebutuhan air. Indeks Deforestasi: data mengenai luas areal dan produktivitas berbagai jenis minyak nabati dunia maka dapat diidentifikasi secara implisit perbandingan intensitas deforestasi antar-komoditas minyak nabati utama dunia. Dengan asumsi bahwa semua ekspansi minyak nabati merupakan suatu deforestasi maka indeks deforestasi minyak kedelai mencapai 956 persen, minyak rapeseed 614 persen, minyak biji bunga matahari 827 persen, dan minyak sawit 150 persen. Temuan tersebut menunjukkan konteks produksi minyak nabati global maka tingkat deforestasi yang terkait dengan minyak sawit relatif paling rendah apabila dibandingkan dengan minyak nabati lain. Jadi, keberadaan minyak sawit dalam rantai pasok minyak nabati global berkontribusi terhadap penghematan lahan dan berpotensi mencegah deforestasi dalam skala yang lebih luas (PASPI Monitor, 2021e). Indeks Keanekaragaman Hayati: Studi yang dilakukan oleh Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) membandingkan biodiversity loss secara global antar-berbagai jenis minyak nabati. Studi tersebut menilai perubahan biodiversitas berdasarkan perbandingan tutupan lahan sebelum dan sesudah dikonversi menjadi lahan perkebunan tanaman penghasil minyak nabati. Sebagai indikator, penelitian tersebut menggunakan ukuran footprint Species Richness Loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan untuk menggambarkan tingkat kehilangan keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan SRL minyak sawit sebagai tolok ukur (benchmark), studi tersebut menunjukkan bahwa SRL minyak kedelai mencapai 184 persen lebih tinggi dibandingkan dengan SRL minyak sawit. Selanjutnya, SRL minyak rapeseed tercatat 179 persen lebih tinggi. Adapun, SRL minyak biji bunga matahari mencapai 144 persen lebih tinggi dibandingkan dengan minyak sawit. Hasil tersebut menunjukkan bila SRL dijadikan indikator untuk mengukur biodiversity loss maka minyak sawit merupakan jenis minyak nabati dengan tingkat kehilangan keanekaragaman hayati paling rendah (PASPI Monitor, 2021g). Sebaliknya, minyak kedelai tercatat sebagai minyak nabati dengan biodiversity loss tertinggi. Jadi, untuk setiap liter minyak yang dihasilkan maka minyak sawit memiliki dampak kehilangan keanekaragaman hayati paling kecil di dunia. Indeks Emisi Karbon: Studi yang dilakukan oleh Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) menemukan bahwa pada tingkat ekosistem global, perkebunan kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati dengan tingkat emisi terendah apabila dibandingkan dengan sumber minyak nabati lain (PASPI Monitor, 2021h). Dibandingkan dengan emisi karbon yang dihasilkan perkebunan sawit untuk setiap liter minyak maka emisi minyak kedelai tercatat 425 persen lebih tinggi, emisi minyak rapeseed 242 persen lebih tinggi, dan emisi minyak biji bunga matahari 225 persen lebih tinggi. Indeks emisi berbagai jenis minyak nabati lain tercatat juga jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan minyak sawit. Indeks emisi minyak kacang tanah mencapai 424 persen, minyak kelapa 337 persen, dan minyak zaitun (olive oil) sebesar 342 persen (PASPI Monitor, 2021h). Bila diurutkan berdasarkan tingkat emisi terendah hingga tertinggi maka peringkat minyak nabati adalah sebagai berikut: (1) minyak sawit, (2) minyak biji bunga matahari, (3) minyak rapeseed, (4) minyak zaitun, (5) minyak kelapa, (6) minyak kedelai, dan (7) minyak kacang tanah. Indeks Kebutuhan Air: Gerbens-Leenes et al. (2009) serta Mekonnen & Hoekstra (2010) mengemukakan bahwa tanaman penghasil minyak nabati dengan kebutuhan air tertinggi adalah tanaman rapeseed, diikuti oleh kelapa, ubi kayu, jagung, kedelai, dan bunga matahari. Untuk menghasilkan setiap satu giga joule (GJ) bioenergi berupa minyak, tanaman rapeseed memerlukan sekitar 184 meter kubik air. Sementara, tanaman kelapa yang banyak dibudidayakan di Indonesia, Filipina, dan India memerlukan rata-rata sekitar 126 meter kubik air, sedangkan tanaman ubi kayu yang menjadi sumber etanol membutuhkan rata-rata sekitar 118 meter kubik air. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kelapa sawit termasuk salah satu tanaman penghasil bioenergi yang paling efisien dalam penggunaan air, menempati posisi kedua setelah tebu. Tanaman kedelai membutuhkan rata-rata sekitar 100 meter kubik air untuk menghasilkan setiap satu GJ bioenergi. Sedang, kelapa sawit hanya memerlukan sekitar 75 meter kubik air untuk menghasilkan jumlah energi yang sama. Makanya, minyak sawit dapat dikategorikan sebagai minyak nabati paling efisien dalam penggunaan air (PASPI Monitor, 2021f). Dari data di atas bisa disimpulkan minyak sawit merupakan komoditas minyak nabati yang paling berkelanjutan apabila dibandingkan dengan berbagai jenis minyak nabati lain.

Optimalkan Potensi Vitamin A dari Minyak Sawit Solusi Masalah Gizi Mikro Sawit
Sawit
Senin, 20 Oktober 2025 | 17:19 WIB

Optimalkan Potensi Vitamin A dari Minyak Sawit Solusi Masalah Gizi Mikro

katakabar.com - Minyak sawit di antara sumber daya yang memiliki potensi besar menyediakan vitamin A atau pro-vitamin A. Ini bisa atasi permasalahan gizi mikro yang masih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia adalah kekurangan vitamin A (KVA). Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), jumlah penduduk Indonesia yang mengalami KVA mencapai sekitar 10 juta jiwa yang terdiri dari 37 persen anak balita, 17 persen wanita hamil, dan 13 persen ibu menyusui (Wahyuniardi et al., 2017). Kekurangan vitamin A khususnya pada kelompok balita dan anak-anak berpotensi untuk menimbulkan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan penglihatan hingga kebutaan serta hambatan pertumbuhan yang dapat berujung pada stunting, yakni kondisi tubuh pendek dan rendahnya fungsi kognitif. Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan individu, tetapi juga dapat mengancam produktivitas dan daya saing generasi penerus bangsa. Dalam jangka panjang, risiko KVA berpotensi untuk menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan angka kemiskinan, serta memperlebar kesenjangan sosial di masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin A yang cukup besar, Indonesia masih bergantung pada impor dari dua perusahaan internasional, yaitu BASF (Jerman) dan Roche (Prancis). Berdasarkan data, volume impor produk vitamin A dan turunannya (HS 29362100) di Indonesia tercatat sebesar 227 ton pada tahun 2001 dan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 603 ton pada tahun 2018. Sejalan dengan peningkatan volume tersebut, nilai impor produk vitamin A dan turunannya juga mengalami lonjakan signifikan yakni dari US$4,38 juta (sekitar Rp72,7 miliar) menjadi US$40,75 juta (Rp677,6 miliar) pada periode yang sama. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan vitamin A dan pro-vitamin A yang terus meningkat, baik untuk keperluan farmasi maupun pangan, Indonesia perlu mengembangkan produksi vitamin A dan pro-vitamin A di dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Sumber daya tersebut harus memiliki ketersediaan melimpah dan berkelanjutan untuk menjamin kontinuitas suplai dan produksi. Menurut jurnal PASPI Monitor (2019) berjudul Potensi Penyediaan Pro-Vitamin A Berbasis Minyak Sawit mengatakan bahwa salah satu sumber daya lokal yang memiliki potensi besar dalam menyediakan vitamin A atau pro-vitamin A adalah minyak sawit. Selama ini minyak sawit dikenal sebagai sumber terkaya karotenoid alami (richest source of natural carotenoid) dengan kandungan beta-karoten yang tinggi (Nagendran et al., 2000; Dauqan et al., 2011). Secara ekuivalen, kandungan vitamin A dalam minyak sawit bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan sumber alami lain seperti jeruk, pisang, tomat, dan wortel. Selain itu, minyak sawit mengandung beta-karoten dalam jumlah melimpah yang berfungsi sebagai antioksidan sekaligus prekursor alami vitamin A (Krinsky, 1993). Sejumlah penelitian merekomendasikan virgin red palm oil (VRPO) atau minyak sawit merah sebagai sumber fortifikan yang kaya akan beta-karoten. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1963–1965 menunjukkan penggunaan minyak sawit merah dapat meningkatkan status vitamin A yang ditunjukkan melalui peningkatan kadar vitamin A dalam serum anak-anak (Oey et al., 1967). Kandungan karoten (alfa dan beta) dalam VRPO mencapai 300–500 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian Yuliasari et al. (2017), metode mikroenkapsulasi dengan bahan pengapsul yang terbuat dari kombinasi maltodekstrin dan xanthum gum direkomendasikan untuk melindungi kandungan beta-karoten dalam VRPO sekaligus memperluas aplikasi fortifikan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa VRPO dapat dimanfaatkan sebagai sumber pro-vitamin A dan fortifikan pada minyak goreng sawit (MGS). Penelitian Hariyadi (2019) mengungkapkan, campuran 10 persen VRPO yang mengandung beta-karoten sebanyak 300 ppm dengan 90 persen MGS yang tidak mengandung beta-karoten akan menghasilkan MGS kaya karoten sebesar 30 ppm atau setara dengan kandungan vitamin A (pro-vitamin A) sebesar 50 IU. Kandungan tersebut melampaui standar yang ditetapkan dalam SNI MGS, yakni 45 IU. Penggunaan VRPO sebagai fortifikan MGS dalam rangka implementasi SNI MGS juga dinilai lebih aman bagi kesehatan mengingat VRPO merupakan fortifikan alami. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kupan et al. (2016) yang menunjukkan bahwa ekstraksi beta-karoten dari minyak sawit merupakan langkah strategis dalam menghadapi perubahan preferensi pasar global terhadap produk vitamin dan pro-vitamin A alami yang sehat, aman untuk konsumsi jangka panjang, serta ramah lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa minyak sawit memiliki potensi besar sebagai sumber pro-vitamin A yang dapat dimanfaatkan oleh industri di Indonesia, baik untuk produk kesehatan maupun fortifikasi pangan.

Lewat AIFTA Kurangi Bea Masuk, Keran Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Meningkat Sawit
Sawit
Minggu, 05 Oktober 2025 | 15:33 WIB

Lewat AIFTA Kurangi Bea Masuk, Keran Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Meningkat

Jakarta, katakabar.com - Keran ekspor minyak sawit Indonesia ke India bisa meningkatnlewat ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) berlaku dari 1 Januari 2010 lalu. Indonesa-India Preferential Trade Agreement (PTA) dari 2021 sedang berlangsung hingga saat ini diharapkan bakal lebih meningkatkan ekspor. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Wijayanto menuturkan, lewat AIFTA, negara-negara ASEAN dan India sepakat menghilangkan, dan mengurangi bea masuk 74,6 persen barang yang diperdagangkan. "Saat ini sedang proses review. Di mana nilai ekspor dengan menggunakan Certificate of Origin menggunakan AIFTA tahun 2021 USD13,34 juta CPO USD10,76 juta; 2022 ekspor USD23,37 juta CPO USD19,11; 2023 ekspor USD20,29 juta CPO USD19,54 juta; 2024 ekspor USD20,34 juta CPO USD16,22 juta. Sekitar 79,76 persen ekspor Indonesia ke India, termasuk minyak sawit menggunakan mekanisme AIFTA," ujar Wijayanto, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Ahad (5/10). Diketahui, India importir minyak sawit terbesar dunia, kemudian China, Pakistan, Amerika Serikat dan Bangladesh. Impor minyak sawit India tahun 2020 7,2 juta ton, 2021 8,17 juta ton, 2022 9,17 juta ton, 2023 9,35 juta ton, 2024 8,62 juta ton. Dari tahun 2020-2024 ekspor minyak sawit India bertumbuh 5,06 persen sedang dunia -2,15 persen. Impor minyak sawit India tahun 2024 sebesar 8,62 juta setara 20 persen dari produksi minyak sawit dunia. Ekspor itu 50 persen berasal dari Indonesia, 31 persen Malaysia, 8 persen Thailand, 7 persen Singapura, 2 persen dari PNG, dan 2 persen dari negara-negara lain. Sebagai importir minyak sawit, India adalah eksportir produk turunan sawit, paling besar ke UEA yang pada tahun 2024 ekspornya 1,77 juta ton, Malaysia 410.000 ton, Amerika Serikat 320.000 ton, Bangladesh 260.000 ton, Korea Selatan 210.000 ton. Sepanjang 2020-2024 ekspor produk turunan sawit India tumbuh 14,51 persen mencapai 4,53 juta ton tahun 2024. Paling significant adalah ke UEA yang tumbuh 59,42 persen. Produk turunan sawit India adalah biofuel, POME/Palm Acid Oil, Fatty Alcohol Derivatif/bioplastk/bio fine chemical. Minyak sawit Indonesia mampu memenuhi kebutuhan domestik India dan mendukung ekspor produk turunannya.

Sentral Minyak Sawit Global di Kawasan ASEAN Sawit
Sawit
Selasa, 30 September 2025 | 20:16 WIB

Sentral Minyak Sawit Global di Kawasan ASEAN

katakabar.com - Sentral minyak sawit global di kawasan ASEAN, sehingg punya peran signifikan di sektor industri minyak sawit. Bersama dua negara lain dari kawasan Asia Tenggara, yakni Malaysia dan Thailand, Indonesia menduduki posisi tiga besar sebagai negara dengan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Menurut data USDA (2025), total produksi CPO dari ketiga negara tersebut mencapai 68,7 juta ton pada periode 2024/2025 atau setara dengan 87 persen dari total produksi CPO global. Sedang, jurnal PASPI Monitor (2022) berjudul Kawasan Asia sebagai Pusat Pertumbuhan Konsumsi Minyak Sawit Dunia menyebutkan, kawasan ASEAN punya andil signifikan di sektor industri minyak sawit global. Selain berperan sebagai produsen utama, kawasan ASEAN merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi minyak sawit tertinggi di dunia. Berikut ini ulasan mengenai peran dan posisi kawasan ASEAN sebagai pusat produksi sekaligus konsumsi minyak sawit dunia yang dirangkum dari jurnal PASPI (2022). Sentra Produksi CPO Global: Selama periode 2010–2021, produksi minyak sawit dunia mengalami peningkatan signifikan, yakni dari 49 juta ton pada tahun 2010 menjadi sekitar 75 juta ton pada tahun 2021. Jadi, kurun waktu tersebut telah terjadi penambahan produksi sekitar 27 juta ton atau setara dengan rata-rata 2,7 juta ton per tahun (PASPI, 2022). Sekitar 87-89 persen dari total produksi minyak sawit dunia di periode 2010-2021 dihasilkan di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Empat negara utama produsen minyak sawit di kawasan tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Selain berperan di kawasan ASEAN, negara-negara produsen minyak sawit di kawasan Asia Tenggara tersebut juga menjadi anggota dalam organisasi lain, seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Secara kolektif, keanggotaan ini memperkuat peran strategis kawasan dalam penyediaan minyak nabati, baik untuk memenuhi kebutuhan regional maupun global. ASEAN sebagai produsen terbesar minyak sawit sekaligus minyak nabati di dunia memiliki peran strategis tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan oleofood complex global, tetapi juga dalam oleochemical complex dan bioenergy/biofuel complex dunia. Minyak sawit yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN menjadi penopang utama berbagai sektor ekonomi di banyak negara. Hal tersebut mengingat tingginya ketergantungan industri global terhadap pasokan minyak sawit dari kawasan ini (Shigetomi et.al., 2020). Kawasan Konsumsi Minyak Sawit Dunia: tidak hanya jadi pusat produksi minyak sawit di dunia, kawasan ASEAN juga berperan sebagai konsumen utama minyak sawit global (PASPI, 2022). Kawasan ini mencatat konsumsi sekitar 30 persen dari total konsumsi minyak sawit global.

Sangat Vital Posisi Minyak Sawit Bahan Bakar Nabati Global Sawit
Sawit
Senin, 29 September 2025 | 17:00 WIB

Sangat Vital Posisi Minyak Sawit Bahan Bakar Nabati Global

katakabar.com - Sangat vital penggunaan biodiesel kelapa sawit bagi lingkungan hidup dan ekonomi. Kurun dua dekade belakangan ini, banyak negara telah kembangkan bahan bakar nabati atau biofuel. Faktor-faktor pendorong pengembangan produk biofuel antara lain upaya penghematan energi fosil (energy security), pengurangan emisi sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim (climate change mitigation), serta pengembangan sektor pertanian dan pedesaan (FAO, 2008). Produksi biodiesel di setiap negara berbeda dan sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku (feedstock) di negara tersebut. Negara-negara yang memiliki surplus produksi minyak kedelai, seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina, mengembangkan biodiesel berbahan baku minyak kedelai (soybean-based biodiesel). Uni Eropa sebagai salah satu produsen utama minyak rapeseed banyak mengembangkan biodiesel berbahan baku minyak rapeseed (rapeseed-based biodiesel). Adapun, negara Indonesia dan Malaysia yang merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia melakukan pengembangan biodiesel berbahan baku minyak sawit (palm oil-based biodiesel). Penggunaan biodiesel kelapa sawit sangat vital bagi lingkungan hidup dan ekonomi, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara, meningkatkan kemandirian energi nasional, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi (PASPI, 2025). Peran dan manfaat biodiesel berbahan baku kelapa sawit tidak hanya memberikan dampak pada tingkat nasional, tetapi juga berkontribusi dalam ranah global melalui mekanisme perdagangan internasional. Jurnal PASPI Monitor (2021) berjudul Minyak Sawit Menyediakan Bahan Bakar Nabati (Biofueling) bagi Dunia mengatakan, minyak sawit berperan signifikan dalam mendukung produksi biodiesel dunia melalui penyediaan bahan baku (feedstock). Berdasarkan data USDA (2020), jenis feedstock yang paling banyak digunakan oleh industri biodiesel global meliputi minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, used cooking oil (UCO), tallow, hingga minyak kelapa. Peran minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Hal tersebut tercermin dari peningkatan volume minyak sawit yang digunakan oleh industri biodiesel global, yaitu dari 6,2 juta ton pada tahun 2015 menjadi 13,9 juta ton pada tahun 2020. Tak hanya mengalami peningkatan volume, pangsa minyak sawit dalam pasar feedstock industri biodiesel global juga mengalami kenaikan dari 23 persen menjadi 36 persen selama periode tersebut (PASPI, 2021). Peningkatan pangsa pasar minyak sawit dalam penyediaan bahan baku biodiesel dunia didorong oleh beberapa faktor keunggulan minyak sawit, seperti harga lebih kompetitif, volume pasokan relatif besar, serta ketersediaan pasokan lebih stabil apabila dibandingkan dengan minyak nabati lain (PASPI, 2021). Selain minyak sawit, minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) yang merupakan limbah dari penggunaan minyak goreng berbahan dasar sawit menjadi salah satu feedstock penting bagi industri biodiesel global, khususnya di Uni Eropa, Tiongkok, dan India. Volume penggunaan UCO sebagai feedstock biodiesel global mengalami peningkatan dari 3,3 juta ton menjadi 3,9 juta ton pada periode 2015-2020 (PASPI, 2021).

Kesepakatan IEU-CEPA Terjadi Ekspor Minyak Sawit Indonesia Terbuka ke Pasar UE Sawit
Sawit
Kamis, 04 September 2025 | 12:00 WIB

Kesepakatan IEU-CEPA Terjadi Ekspor Minyak Sawit Indonesia Terbuka ke Pasar UE

Selain itu, ekspor Indonesia ke Uni Eropa bakal meningkat sekitar 57,7 persen. Demikian ekspor Uni Eropa ke Indonesia meningkat sekitar 76 persen. Uni Eropa di antara pasar tradisional untuk ekspor produk sawit Indonesia, ditunjukkan dengan pangsa ekspor sebesar 11,8 persen selama periode tahun 2020-2024 (ITC Trademap, 2025). Diketahui, selama ini kebijakan non-tariff barrier yang diberlakukan oleh Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit telah menekan volume ekspor minyak sawit dan turunannya sehingga terjadi penurunan dari sekitar lima juta ton pada tahun 2020 menjadi hanya sekitar 3,4 juta ton pada tahun 2024 lalu (ITC Trademap, 2025).

Minyak Sawit Berkontribusi Dukung Industri Kuliner dan Skincare di Daerah Destinasi Wisata Sawit
Sawit
Kamis, 06 Maret 2025 | 20:09 WIB

Minyak Sawit Berkontribusi Dukung Industri Kuliner dan Skincare di Daerah Destinasi Wisata

Denpasar, katakabar.com - Minyak sawit berkontribusi dukung industri kuliner dan skincare daerah destinasi wisata. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner yang banyak menggunakan produk pangan berbasis minyak sawit atau oleofood, di antara daerah destinasi wisata, yakni Bali terkenal dengan sektor pariwisata, dan identik dengan kulinernya. Produk tersebut sering digunakan, meliputi minyak goreng, margarin, shortening, vegetable ghee/vanaspati, confectioneries fat, filling/cream, spread fat, filled milk, Cocoa Butter Alternatves (CBE/CBS/CBR) dan berbagai produk emulsifier lainnya.

Produsen Minyak Sawit Paling Sustainable di Dunia Indonesia Sawit
Sawit
Senin, 03 Maret 2025 | 22:12 WIB

Produsen Minyak Sawit Paling Sustainable di Dunia Indonesia

katakabar.com - Dari sekian banyak minyak sawit dunia yang telah tersertifikasi RSPO, sekitar 56 persen minyak sawit yang diproduksi dan berasal dari Republik Indonesia. Nusatara (Indonesia) sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, telah menunjukkan komitmen dan tanggungjawabnya untuk selalu melakukan perbaikan tata kelola industri minyak sawit yang berkelanjutan. Indonesia menyadari sebagian besar minyak sawit ditujukan untuk masyarakat global (feeding the world), sehingga harus dipastikan bahwa minyak sawit yang dihasilkan dari Indonesia telah memenuhi prinsip-prinsip sustainability (keberlanjutan). Dari laporan PASPI (2021) berjudul Indonesia Produsen Terbesar Minyak Sawit yang Bersertifikasi Berkelanjutan di Dunia merangkum, komitmen Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi keberlanjutan global termasuk di bidang perkebunan sawit telah dimuat dalam Undang Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lalu, amanat perkebunan berkelanjutan dimuat dalam Undang Undang Perkebunan Nomor 18/2004 yang kemudian diubah menjadi Undang Undang Perkebunan Nomor 39/2014. Sebagai tindak lanjut dari Undang Undang tersebut, melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/2011 ditetapkan bahwa perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (Indonesia Sustainable Palm Oil/ISPO) bersifat wajib/mandatori untuk setiap pelaku perkebunan sawit. Standar keberlanjutan pada perkebunan sawit ditetapkan melalui sistem sertifikasi ISPO yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11/2015. Pemerintah Indonesia kembali melakukan penyesuaian ISPO yang kemudian regulasinya ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 44/2020 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38/2020.