Malioboro

Sorotan terbaru dari Tag # Malioboro

Pariwisata Malioboro Saat Ramadhan dan Lebaran: Tren Wisata Kota dan Alternatif Berbasis Komunitas Wisata
Wisata
Jumat, 13 Maret 2026 | 23:08 WIB

Pariwisata Malioboro Saat Ramadhan dan Lebaran: Tren Wisata Kota dan Alternatif Berbasis Komunitas

Yogyakarta, katakabar.com - Kawasan Malioboro kembali menjadi salah satu pusat aktivitas wisata di Yogyakarta selama periode Ramadhan 1447 Hijriah Tahun 2025 Masehi hingga libur Lebaran. Selain dikenal sebagai ikon wisata kota, kawasan ini juga menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif yang meningkat signifikan menjelang hari raya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat periode libur Lebaran secara konsisten menjadi salah satu puncak kunjungan wisatawan ke wilayah ini. Data dari Dinas Pariwisata DIY menunjukkan bahwa pada masa libur Lebaran beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta dapat mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang dalam satu periode liburan, dengan Malioboro menjadi salah satu destinasi yang paling ramai dikunjungi. Menurut Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, kawasan Malioboro memiliki daya tarik yang relatif stabil bagi wisatawan domestik sebab lokasinya yang strategis? serta keberadaan berbagai fasilitas wisata di sekitarnya. “Malioboro tetap menjadi magnet wisatawan ketika datang ke Yogyakarta, terutama saat musim libur panjang seperti Lebaran, karena kawasan ini mudah diakses dan memiliki banyak aktivitas wisata dalam satu area,” ujarnya lewat keterangan kepada media. Kurun beberapa tahun terakhir, kawasan Malioboro mengalami penataan yang cukup signifikan. Relokasi pedagang kaki lima ke Teras Malioboro serta pengaturan jalur pedestrian membuat kawasan ini lebih ramah bagi pejalan kaki. Wisatawan yang datang ke Malioboro umumnya melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di sepanjang Jalan Malioboro, mengunjungi pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo, menikmati kuliner malam, hingga berfoto di titik-titik ikonik seperti Titik Nol Kilometer dan Tugu Yogyakarta. Selama bulan Ramadhan, kawasan ini juga memiliki suasana yang berbeda. Menjelang waktu berbuka puasa, sejumlah pedagang kuliner musiman muncul di sekitar Malioboro dan kawasan sekitarnya, menawarkan berbagai makanan tradisional yang menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa masyarakat Yogyakarta. Di malam hari, aktivitas wisata biasanya berlanjut dengan wisata kuliner dan pertunjukan seni jalanan yang kerap muncul di sekitar kawasan tersebut. Tren Wisata Lebaran di Yogyakarta Selain Malioboro, wisatawan yang datang ke Yogyakarta pada periode Lebaran biasanya juga mengunjungi berbagai destinasi populer seperti kawasan Keraton Yogyakarta, Taman Sari, hingga desa wisata di wilayah Sleman dan Bantul. Terapi beberapa tahun terakhir, tren wisata di Yogyakarta juga mulai bergerak ke arah pengalaman yang lebih personal dan berbasis komunitas. Wisatawan tidak hanya mencari tempat wisata populer, tetapi juga kegiatan yang memberi pengalaman langsung dengan kehidupan masyarakat setempat. Salah satu bentuk wisata alternatif yang berkembang di Yogyakarta adalah wisata susur gang, yang memperkenalkan sisi kota melalui lorong-lorong kecil, kampung tua, dan cerita sejarah lokal. Beberapa komunitas yang aktif mengembangkan kegiatan ini antara lain: Gang-Gangan, yang mengajak peserta menjelajahi gang-gang kecil di pusat kota sambil mendengar cerita sejarah kawasan kampung. Mlampah Ziarah, yang memadukan perjalanan kaki dengan narasi sejarah tokoh dan situs budaya di Yogyakarta. Walk The Past, komunitas tur sejarah yang fokus pada kisah masa lalu kota melalui rute-rute bersejarah. Alon Mlampah, yang menawarkan tur jalan kaki santai untuk mengenal kehidupan masyarakat dan dinamika ruang kota. Kegiatan ini biasanya dilakukan dalam kelompok kecil sehingga peserta dapat lebih memahami cerita lokal yang jarang ditemukan dalam tur wisata konvensional. Selain tur sejarah, wisata berbasis komunitas juga berkembang melalui kegiatan eksplorasi kuliner lokal. Salah satu komunitas yang cukup aktif adalah Krida Kuliner, yang kerap mengadakan tur kuliner tradisional di berbagai sudut kota Yogyakarta. Kegiatan ini biasanya mengajak peserta mencicipi makanan khas lokal sekaligus mengenal cerita di balik warung atau pedagang legendaris. Bagi wisatawan yang datang saat libur Lebaran, kegiatan semacam ini dapat menjadi alternatif untuk menikmati kuliner Yogyakarta dengan pendekatan yang lebih kontekstual, sekaligus mendukung pelaku usaha kecil di tingkat lokal. Sebagai pusat wisata kota, kawasan Malioboro memiliki berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel skala besar hingga penginapan kecil yang berada di sekitar pusat kota. Kedekatan kawasan ini dengan berbagai objek wisata utama membuat banyak wisatawan memilih menginap di area sekitar Malioboro agar lebih mudah menjangkau berbagai destinasi. Salah satu hotel yang berada di kawasan tersebut adalah Liberta Malioboro, yang menjadi salah satu opsi akomodasi di sekitar pusat wisata kota dengan akses yang relatif dekat ke Malioboro, Stasiun Tugu, serta sejumlah destinasi budaya di Yogyakarta. Meski kunjungan wisatawan meningkat setiap tahun, sejumlah pihak menilai pentingnya pengelolaan pariwisata kota yang tetap memperhatikan kenyamanan ruang publik dan keberlanjutan budaya lokal. Pengembangan wisata berbasis komunitas, seperti tur susur gang dan eksplorasi kuliner tradisional, dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas pengalaman wisata sekaligus menyebarkan manfaat ekonomi ke berbagai kampung di Yogyakarta.

Tampilan Slasar Malioboro Kian Menarik, Ciptakan Pengalaman Wisata Mankjubkan Wisata
Wisata
Rabu, 25 Juni 2025 | 13:45 WIB

Tampilan Slasar Malioboro Kian Menarik, Ciptakan Pengalaman Wisata Mankjubkan

Yogyakarta, katakabar.com - Kawasan Slasar Malioboro kini tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan tertata. Dikelola KAI Properti, anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), area ini disulap menjadi ruang publik yang lebih modern dan nyaman, sekaligus tetap mempertahankan nuansa khas Yogyakarta. Slasar Malioboro kini jadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang datang ke Kota Gudeg. Letaknya strategis, hanya beberapa langkah dari Stasiun Tugu dan tepat di jalur utama wisata Malioboro. "Penataan barunya keren, tempat makan jadi lebih nyaman dan bersih. Sekarang enggak hanya buat lewat, tapi asyik buat nongkrong," kata Diah 26 tahun, wisatawan asal Jakarta, Senin (23/6). Kini, pengunjung bisa menikmati berbagai fasilitas baru yang membuat pengalaman wisata semakin lengkap. Mulai dari deretan tenant kuliner lokal dan kekinian, ruang komersial tertata rapi, hingga fasilitas umum seperti penitipan barang dan hotel transit. Semua dibuat senyaman mungkin, termasuk jalur pedestrian yang lebih lebar dan ramah untuk penyandang disabilitas. Konsep pedestrian friendly diterapkan secara menyeluruh. Area jalan kaki kini berpaving halus, dengan pencahayaan malam yang estetik, dan penataan landscape yang asri. Hal ini membuat Slasar Malioboro cocok dijadikan tempat bersantai, ngopi sore, hingga berfoto untuk kebutuhan media sosial. Soal kuliner, pilihan menunya beragam. Mulai dari makanan tradisional,.seperti Gudeg Yu Djum, Pempek, dan Asinan Mangga, hingga makanan kekinian seperti Chick Away dan Ice Cream n Cream. Tak ketinggalan, tenant kopi lokal seperti Laju Kopi turut meramaikan suasana. Fasilitas pendukung lainnya, seperti Shower dan Locker, mini market, dan Transit Hotel menjadikan kawasan ini bukan hanya sekadar tempat jajan, tapi juga solusi bagi wisatawan yang ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.