Indonesia Dilirik Jepang Lantaran Limbah Sawit Disulap Jadi Energi
Tokyo, katakabar.com - Indonesia dilirik Jepang lantaran limbah sawit disulap menjadi energi. Apalagi saat ini, transisi energi tengah jadi sorotan global. Makanya, Indonesia memilih panggung di Tokyo untuk menyampaikan satu pesan, yakni limbah sawit bukan sekadar sisa produksi, melainkan bagian dari masa depan energi bersih. Pesan itu mengemuka dalam forum bisnis usung tema “Know More about Amazing Palm Biomass of Indonesia” yang digelar di Paviliun Biomassa Indonesia pada ajang International Biomass Expo, pada 17 hingga 19 Maret 2026 lalu. Di sana, perwakilan pemerintah dan pelaku usaha Indonesia pamerkan potensi cangkang sawit, tandan kosong kelapa sawit, hingga limbah batang sawit sebagai sumber energi biomassa bernilai tambah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo menyebut promosi ini bukan sekadar pameran dagang. Ada upaya yang lebih besar, yakni membingkai ulang industri sawit Indonesia sebagai bagian dari solusi keberlanjutan global. Duta Besar RI untuk Jepang, Kartini Sjahrir, berdiri di antara para pelaku industri dan investor Jepang ketika menyampaikan arah kebijakan itu. “Indonesia berkomitmen untuk menjadi mitra yang andal dan jangka panjang bagi Jepang dalam mendukung transisi energinya, khususnya di sektor biomassa,” ujarnya, dilansir dari laman Antara, Minggu (22/3) sore. Paviliun Biomassa Indonesia, menurut Kartini, bukan hanya etalase produk, tetapi juga simbol posisi Indonesia dalam rantai pasok energi baru. Negara ini, ulasnya, ingin hadir sebagai pemain penting dalam transisi menuju energi rendah karbon. “Kami juga berupaya untuk mempromosikan Indonesia sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam rantai pasokan biomassa global,” jelasnya. Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, aminkan Kartini. Menurut Maria, forum tersebut menjadi ruang temu antara produsen Indonesia dan pembeli Jepang, sekaligus sarana membangun reputasi. Acara ini, tutur Maria, dirancang untuk “memperkuat hubungan kerja sama antarpelaku usaha, meningkatkan branding dan reputasi produk biomassa cangkang sawit serta pemanfaatan produk turunan sawit Indonesia di Jepang.” Di balik diplomasi itu, ada angka yang bergerak. KBRI Tokyo mencatat ekspor biomassa Indonesia ke Jepang meningkat 17 persen secara nilai dan 23 persen dari sisi volume. Kenaikan ini, menurut mereka, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar Jepang terhadap konsistensi pasokan dan kualitas produk Indonesia. Produk-produk seperti pelet kayu, cangkang inti sawit, hingga tandan kosong kelapa sawit kini tidak lagi dipandang sebagai limbah. Mereka menjadi komoditas energi alternatif yang diburu, terutama oleh negara-negara yang membidik target netralitas karbon pada 2050 target yang juga menjadi benang merah penyelenggaraan pameran tersebut. Momentum itu juga ditandai dengan kesepakatan bisnis. Di sela forum, Kartini menyaksikan penandatanganan kontrak pembelian cangkang sawit antara PT Tricitra Agro Perdana dan Pulp & Paper Corp Japan. Nilainya mencapai 11 juta dolar AS, setara sekitar Rp186,3 miliar, untuk volume 50 ribu metrik ton. Bagi Indonesia, kesepakatan ini lebih dari sekadar transaksi. Ia menjadi penanda narasi baru tentang kelapa sawit sebagai sumber energi bersih berbasis biomassa mulai menemukan tempatnya di pasar dunia.
Limbah Sawit Bila Dimanfaatkan Punya Potensi Besar Jadi Produk Nilai Tambah Ekonomi
Jakarta, katakabar.com - Limbah kelapa sawit punya potensi besar menjadi produk bernilai tambah ekonomi bila dimanfaatkan. Untuk itu, pemerintah disarankan mulai mengelola limbah kelapa kelapa sawit dari sekarang. Soalnya, saat ini produk akhir itu masih bisa memberikan keuntungan. “Limbah kelapa sawit memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi,” ucap Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University Yanto Santosa melalui keterangan tertulis, dilansir dari laman metroTVnews.com, Minggu (22/3 sore. Yanto menjelaskan, sudah ada penerapan teknologi untuk mengelola limbah kelapa sawit menjadi beberapa produk. Apalagi pengolahan limbah kelapa sawit juga bisa menyelesaikan masalah lingkungan yang berkelanjutan. Indonesia dinilai bisa cuan banyak bila mengelola limbah kelapa sawit. Terbilang, Indonesia merupakan negara yang mengelola kelapa sawit dengan jumlah besar per tahunnya. “Pemanfaatan limbah sawit memberikan banyak manfaat penting,” terang Yanto. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menimpali pengelolaan limbah kelapa sawit penting untuk mendorong gerakan zero waste. Dia meyakini pengelolaan yang benar bisa menguntungkan negara. “Selain itu, perhitungan emisi (carbon footprint) produk dari sawit akan semakin rendah (low carbon) sehingga industri sawit secara keseluruhan merupakan produk low carbon yang renewable,” sebut Tungkot.
Gaspoll! Kejagung Geledah Lima Lokasi Soal Kasus Korupsi Eskpor Limbah Sawit
Jakarta, katakabar.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) sebut sudah ada lima lokasi yang digeledah penyidik guna dalami kasus dugaan korupsi ekspor limbah kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) pada 2022 lalu. Di antara tempat yang disambangi penyidik adalah Kantor Ditjen Bea dan Cukai. "Lima titik itu salah satunya kantor Dirjen Bea Cukai, juga ada rumah, tetapi saya tidak hafal detailnya, yang jelas lebih dari lima titik," ujar Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna di Kantor Kejagung, Jakarta Selatan, dilansir Rabu (29/10). Kata Anang, ada juga rumah penyelenggara negara yang sudah digeledah penyidik, untuk mendalami perkara ini. Tetapi, identitas pejabat itu belum bisa dibeberkan Menurutnya, sebanyak lima lokasi yang digeledah ada di Jakarta dan beberapa kota. Tetapi, Ia enggan memerinci lokasi pastinya. Penyidik Kejagung juga sudah memeriksa pemilik lokasi atau ruangan yang digeledah. Pertanyaan yang dicecarkan belum bisa dirinci Anang. “Pokoknya ketika melakukan upaya paksa dan salah satunya penggeledahan langkah hukum ini pastinya saksi-saksi sudah ada yang diperiksa, udah pasti itu," jelas Anang.
Dukung Kejagung Usut Dugaan Korupsi Ekspor Limbah Sawit di BC, Ini Kata Menkeu
Jakarta, katakabar.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa dukung langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) geledah kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) terkait penyidikan kasus dugaan korupsi ekspor limbah minyak kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) pada 2022 lalu. Ia menegaskan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tidak akan mencampuri proses hukum tengah berjalan. Menurutnya, tindakan Kejagung sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum. “Biar saja, itu kan orang lain yang periksa,” kata Purbaya ditemui di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (24/10) lalu, dilansir dari laman salah satu media nasional, Sabtu siang. Kasus dugaan korupsi itu, ucap Purbaya, punya kompleksitas tinggi lantaran melibatkan eksportir dengan modus yang cukup canggih serta memerlukan pembuktian laboratorium lebih lanjut. “Kelihatannya eksportirnya cukup canggih, tetapi pasti bakal ada perdebatan soal buktinya. Jadi biarkan prosesnya berjalan,” jelasnya. Apakah Kemenkeu turut melaporkan dugaan praktik ilegal itu? Ia tidak menjawab. Tetapi ditegaskannya, Kemenkeu tidak toleransi pelanggaran di lingkungan internalnya, termasuk di Bea Cukai. “Kalau ada yang salah, salah saja. Tidak ada perlindungan untuk itu,” tegasnya. Diketahui, sebelumnya Tim Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung telah melakukan penggeledahan di kantor Bea Cukai, Rabu (22/10) lalu. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, menyatakan penggeledahan dilakukan untuk mencari informasi dan data yang berkaitan dengan dugaan korupsi ekspor POME “Penggeledahan dilakukan di beberapa lokasi, tetapi kami belum bisa merinci karena masih tahap penyidikan,” tuturnya di Jakarta, Jumat (24/10) lalu.
Wadah Kemasan Makanan dari Limbah Sawit dan Daun Pepaya Buatan Mahasiswa USU
Medan, katakabar.com - Tim mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), meliputi Shintia Florensia Silaban, Yeggin Damanik, Feodora Nicole Holongy Sitompul, dan Gita Triani Sinaga, dari Teknik Kimia, serta Letminda Oftavya Purba dari Ekonomi Pembangunan, dengan dosen pembimbing Ilham Perkasa Bako, lewat Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan sukses membuat wadah kemasan makanan styrofoam ramah lingkungan bernama Bioflaeis, terbuat dari limbah pelepah kelapa sawit dan daun pepaya. Dosesn Pembimbing, Ilham Perkasa Bako di Medan, dilansir dari laman Antara, Senin (13/10), mengatakan Bioflaeis bukan sekadar karya kewirausahaan, tetapi bukti ilmu pengetahuan dapat menjawab persoalan sehari-hari. "Bioflaeis menunjukkan kreativitas mahasiswa bisa menjembatani sains, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Dari bahan yang sering dianggap sampah, lahir produk bernilai yang ramah lingkungan,” jelasnya. Menurutnya, hal itu esensi pendidikan tinggi, tidak hanya melahirkan teori, tetapi solusi yang membumi, dan berdampak langsung. Ia menuturkan, produk itu sudah siap untuk dipasarkan dan mereka memanfaatkan kekuatan media sosial dan promosi langsung ke pelaku UMKM kuliner, kafe, dan restoran. Strategi itu dipilih lantara konsumen muda dan usaha makanan kecil menengah kini semakin peka terhadap gaya hidup berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, sambungnya, Bioflaeis diharapkan lebih cepat dikenal, diterima, dan membuka ruang kolaborasi dengan industri yang peduli lingkungan. Ke depannya, terangnya, tim berambisi mengembangkan Bioflaeis lebih luas dengan menggandeng lebih banyak pelaku usaha, masyarakat, serta mitra lokal. "Dukungan berbagai pihak diyakini dapat memperkuat posisi Bioflaeis sebagai solusi nyata dalam mengurangi limbah plastik, sekaligus mengoptimalkan potensi limbah pertanian Indonesia," tuturnya. Sebagai kemasan ramah lingkungan dan berkelanjutan, ucapnya lagi, ide itu lahir dari keprihatinan terhadap sampah nasional Indonesia, termasuk sampah plastik sekali pakai. Di sisi lain, penggunaan plastik jenis styrofoam tergolong tinggi padahal mengandung zat berbahaya yang bersifat karsinogenik. Tim mahasiswa melihat peluang dari limbah yang kerap terabaikan. Pelepah kelapa sawit yang biasanya hanya menumpuk ternyata kaya selulosa dan hemiselulosa, sementara daun pepaya yang produksinya melimpah, tetapi jarang dimanfaatkan menyimpan senyawa bioaktif dengan sifat antibakteri dan antijamur. Kedua bahan baku ini terus dikombinasikan menjadi Bioflaeis, kemasan makanan ramah lingkungan yang tidak hanya mudah terurai (biodegradable), tetapi mampu menjaga kualitas daya simpan makanan, menjadikannya solusi inovatif untuk menggantikan plastik dan styrofoam sekali pakai. Masih Ilham, Bioflaeis diharapkan hadir sebagai jawaban atas tumpukan sampah plastik, sekaligus memberi nilai baru pada limbah pertanian yang sebelumnya terbuang sia-sia. Rektor USU Prof. Muryanto Amin mengatakan melalui produk, seperti Bioflaeis, mahasiswa tidak hanya menunjukkan kreativitas, tetapi komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan.
Di PKS Lubuk Dalam, Holding PTPN Tunjukkan Inovasi Limbah Sawit Jadi Energi ke Mahasiswa Unilak
Siak, katakabar.com - Di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Lubuk Dalam, Holding Perkebunan Nusantara (PTPN) tunjukkan inovadi limbah sawit jari energi ke mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak). Total 60 mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi dan Agribisnis Universitas Lancang Kuning (Unilak) kunjungan lapangan ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Lubuk Dalam milik PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo Regional III, di penghujung September 2025 lalu. Kegiatan ini wadah pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai inovasi pengelolaan limbah sawit yang dikembangkan menjadi energi terbarukan. Di kunjungan itu, para mahasiswa melihat langsung proses pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO), sekaligus saksikan bagaimana limbah sawit yang sebelumnya hanya dipandang sebagai residu kini diolah menjadi energi listrik ramah lingkungan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Irwan Perangin-angin, menjelaskan keterlibatan mahasiswa di kegiatan ini strategi perusahaan dalam membangun pemahaman generasi muda mengenai industri sawit berkelanjutan. Menurutnya, sektor sawit memiliki potensi besar dalam menghadirkan solusi atas tantangan global, termasuk perubahan iklim. “Kami ingin generasi muda melihat bahwa kelapa sawit merupakan sektor strategis yang dapat menghadirkan inovasi, energi bersih, serta peluang ekonomi baru. Melalui kunjungan ini, mahasiswa bisa langsung menyaksikan bagaimana limbah sawit dapat menjadi energi terbarukan yang bermanfaat luas,” jelas Irwan. Inovasi yang dijalankan PalmCo melalui PLTBg Lubuk Dalam sebelumnya juga mendapat pengakuan dari pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memberikan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) kepada PTPN IV PalmCo, menjadikannya perusahaan perkebunan sawit pertama yang menerima sertifikat tersebut. Berdasarkan verifikasi Tim MRV KLHK, PLTBg Lubuk Dalam berhasil menekan emisi hingga 33.799 ton CO₂e dalam empat tahun terakhir. Wakil Dekan I Fakultas Pertanian Unilak, Dr. Vonny Indah Sari, yang hadir mendampingi mahasiswa, turut memberikan apresiasi kepada PTPN IV PalmCo atas kesempatan yang diberikan. “Inisiatif PTPN IV PalmCo yang memanfaatkan komoditas sawit, termasuk limbahnya sebagai energi terbarukan, adalah hal yang luar biasa. Kami menyaksikan bagaimana sawit itu pohon kehidupan. Seluruh bagiannya memiliki manfaat, bahkan hingga ke limbahnya sekalipun,” ucap Vonny. Ia menambahkan, kunjungan ini sangat berharga bagi mahasiswa. “Mereka tidak hanya belajar teori di kampus, tetapi juga mendapat pengalaman lapangan langsung tentang bagaimana industri sawit dikelola secara modern dan ramah lingkungan. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut,” tuturnya. Mahasiswa pun menilai inisiatif PTPN IV Regional III membuktikan industri kelapa sawit tidak hanya berfokus pada keuntungan bisnis, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan. Hal ini sekaligus menepis anggapan miring tentang sawit yang kerap dikaitkan dengan isu lingkungan.
Wuih! Pertama dalam Sejarah PLN Operasikan BioCNG dari Limbah Sawit
Sumatera Utara, katakabar.com - Kali perdana dalam sejarah, PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) operasikan co-firing Bio Compressed Natural Gas atau BioCNG berbahan baku limbah kelapa sawit di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap atau PLTGU Belawan, Sumatera Utara. Inovasi energi bersih ini sekaligus jadi kado spesial pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 80 Republik Indonesia. Penggunaan perdana energi terbarukan ini menjadi tonggak penting diversifikasi sumber energi ramah lingkungan, sekaligus memperkuat komitmen PLN menuju Net Zero Emissions atau NZE pada 2060 atau lebih cepat. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi atau EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Eniya Listiani Dewi hadir di peresmian itu memberikan apresiasi langkah PLN menghadirkan inovasi BioCNG pertama di Indonesia. “Saya sangat mengapresiasi co-firing BioCNG pertama di Indonesia ini sebagai upaya membangun energi baru terbarukan atau EBT di sektor pembangkitan. Ini bakal menambah bauran EBT khususnya yang berada di Sumatera Utara,” kata Eniya Kamis kemarin, dilansir dari laman manodopost.id, Jumat (12/9). Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan PLN akan terus mengoptimalkan potensi lokal untuk menghadirkan solusi energi bersih. “Melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan ini, kami tidak hanya menghadirkan listrik yang ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi dan di saat yang bersamaan menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja baru, dan membantu mengentaskan kemiskinan,” ucap Darmawan.
Kerbau Tidak Kekurangan Pakan di Kampar Ada Limbah Sawit
Bangkinang, katakabar.com - Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kampar, Provinsi Riau taja pelatihan Pengolahan Pakan. Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) Riau diwakili Yayu Zurriyati MSi dan Dwi Sisriyenni MSi menjadi narasumber di kegiatan. Pelatihan terbagi atas dua sesi, yakni materi di dalam kelas dan praktik lapangan. Peserta pelatihan meliputi pegawai penyuluh lapangan atau PPL, pegawai UPT, dan petani, serta peternak.
Periset BRIN Kembangkan Limbah Sawit Untuk Diagnosa Emboli Paru
Jakarta, katakabar.com - Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Indra Saptiama menjelaskan penegakan diagnosa yang tepat sangat penting bagi pasien yang diduga mengalami emboli paru, agar dapat dilakukan stratifikasi risiko dan pengobatan yang tepat kepada pasien. Berangkat dari situ, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk diagnosa emboli paru. "Emboli paru adalah kondisi penyumbatan darah di paru-paru yang bisa menyebabkan kematian jaringan," ujar Indra lewat keterangan resmi saat Monitoring dan Evaluasi Grant Riset Sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, dilansir dari laman medcom.id, pada Kamis (18/1). Menurutnya, pencitraan paru sebagai salah satu pencitraan ventilasi menggunakan nano aerosol karbon bertanda 99mTc yang dihasilkan dari generator komersial. Penggunaan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan aerosol karbon subsititusi bakal memberi nilai tambah secara komersial. "Tahapan riset yang dilakukan mulai dari pembuatan nanopartikel kelapa sawit, terus melakukan formulasi serbuk pembawa nanopartikel karbon dan penandaan Tc-99m pada nanopartikel karbon, serta uji cellular uptake pada sel kanker dan normal paru-paru, didapatkan pada sel kanker lebih banyak mengikat karbon dibandingkan dengan sel normal," ulasnya. Lantaran komposisi lipid yang lebih besar pada sel kanker dan penandaan nanopartikel karbon dengan 99mTc sudah sangat baik dengan perolehan persentasi penandaan sebesar 96,69 persen dengan kemurnian radiokimia diatas 99 persen. Jadi, Indra berencana melakukan optimasi lebih lanjut untuk memperoleh ukuran partikel karbon kelapa sawit yang lebih baik. Salah satunya dengan cara mengoptimasi parameter spray-dry. Selain itu, Indra melakukan pengujian sitotoksisitas in vitro untuk menguji keamanan nanopartikel karbon lebih lanjut untuk pengujian pada hewan coba. Ini untuk mengetahui pencitraan ideal pada organ paru-paru dan efeknya pada organ lain, meliputi uji biodistribusi dan uji clearance. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Zaid Burhan Ibrahim menimpali, penelitian yang diusulkan dapat mencapai keluaran sesuai dengan yang dijanjikan, dan tepat waktu agar memberikan manfaat langsung untuk kemajuan industri kelapa sawit di Indonesia.
BRIN dan UGM Teliti Aerosol Karbon Limbah Sawit Untuk Diagnosa Penyakit Paru
Jakarta, katakabar.com - Aerosol bertanda Technetium-99m (99mTc) radioperunut belum banyak digunakan dalam medis di Indonesia. Padahal, radioperunut dapat dimanfaatkan untuk pencitraan ventilasi paru guna diagnosa berbagai penyakit paru, termasuk emboli paru. Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosometri (PRTRRB) dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tita Puspitasari mengatakan, ke depan radioperunut bakal banyak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan produk radiofarmaka dari luar negeri. "PRTRRB BRIN sudah mulai mengembangkan aerosol bertanda 99mTc dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium radioisotop-radiofarmaka dan ketersediaan 99mTc yang diproduksi secara rutin. Tapi, pembuatan aerosol ini memerlukan karbon aktif memiliki kriteria khusus sehingga dapat ditandai dengan 99mTc secara optimal," ujarnya lewat keterangan resmi Humas BRIN, dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (14/11). Soal pemenuhan karbon aktif ini, kata Tita, PRTRRB BRIN lantas gandeng Fakultas Teknik (FT) UGM. "FT UGM berpengalaman dalam penelitian dan pengembangan karbon nanopori dari cangkang kelapa sawit. Karbon nanopori yang dihasilkan FT UGM diperkirakan memiliki kapasitas penandaan yang besar terhadap 99mTc, sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penelitian dan pengembangan aerosol bertanda 99mTc untuk diagnosa paru-paru,” tegasnya. Itikad baik tersebut mendapat tanggapan positif dari Selo, Dekan FT UGM. “Kolaborasi ini wujud sinergi kita untuk menghilangkan duplikasi hasil riset sehingga hasilnya maksimal,” harapnya. Kolaborasi antara dua institusi besar BRIN dan UGM yang saling support dalam hal riset bertujuan untuk kebaikan bersama, tambahnya. Periset PRTRRB BRIN, Indra Saptiama memaparkan latar risetnya terkait pengembangan nanopartikel karbon dari limbah kelapa sawit. “Riset ini berangkat dari minimnya teknologi terkait diagnosis gangguan emboli paru yang mudah dan murah. Sebagai informasi ada 75-269 kasus gangguan emboli paru pada 100.000 orang di Eropa, Amerika, dan Australia, sedangkan di Indonesia masih belum diketahui secara pasti prevalensinya dikarenakan diagnosanya yang sulit dan mahal,” tuturnya. Untuk itu, lanjut Indra, diperlukan diagnosa dan pengobatan yang tepat pada pasien, salah satunya melalui pencitraan ventilasi menggunakan nano aerosol karbon bertanda 99mTc yang dihasilkan oleh generator komersial. Ia dan timnya merekomendasikan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan aerosol karbon. “Indonesia adalah negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dan limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan aerosol karbon, akan memberi nilai tambah secara komersial,” bebernya. Menurutnya, untuk metode penelitian dilakukan dengan pembuatan treated-oil palm shell charcoal (t-OPSC) menggunakan proses hidrotermal pada suhu 200°C selama dua jam. Lalu, dengan preparasi t-OPSC nanoparticles, dikarakterisasi, dan kemudian dilakukan penandaan t-OPSC dengan 99mTc. “Tapi masih diperlukan adanya optimasi penandaan dan produksi aerosol,” imbuhnya. Diketahui, saat ini penggunaan partikel karbon bertanda 99mTc hanya dipraktikkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.