Kurang

Sorotan terbaru dari Tag # Kurang

Populasi Meningkat dan Beban Peternak Berkurang di Mukomuko Lewat Integrasi S2 Sawit
Sawit
Senin, 06 Mei 2024 | 15:46 WIB

Populasi Meningkat dan Beban Peternak Berkurang di Mukomuko Lewat Integrasi S2

Mukomuko, katakabar.com - Populasi meningkat dan beban peternak di Mukomuko, Provinsi Bengkulu lewat program integrasi sapi-sawit (S2). Lantaran itu, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, terus memberikan dukungan kepada masyarakat setempat untuk menerapkan program integrasi sapi-sawit sebagai upaya meningkatkan populasi sapi dan mengurangi beban pakan ternak. Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner dan P2HP Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Yeni Misra di Mukomuko, pada Sabtu (4/4) menyatakaan program ini sangat menjanjikan. "Kami tetap dukung induk sapi kawin alam karena secara realita program integrasi sapi-sawit sangat menjanjikan," ujar Yeni, dilansir dari laman ANTARA, pada Senin siang. Menurut Yeni, salah satu bukti keberhasilan program ini adalah tingginya tingkat kelahiran sapi bali di Mukomuko. "Sapi bali yang dipelihara di Mukomuko ada 19 kali beranak, tetapi hewan ternak tersebut masih produktif," ulasnya. Program integrasi sapi-sawit, kata Yeni, telah membawa manfaat signifikan. Sapi dilepas di bawah kebun sawit, yang memungkinkan sapi untuk memakan rumput, dan kotorannya menjadi pupuk alami. Memang, sebutnya, ada kendala terkait regulasi yang melarang pengeluaran hewan ternak, tapi Distan Mukomuko telah menemukan solusi dengan melepasliarkan sapi di kebun sawit sendiri, dengan tetap menjaga dalam pagar. "Dari seluas satu hektar kebun kelapa sawit bisa menampung tiga ekor sapi, kalau lebih dari tiga ekor, sapi bisa kurus karena kekurangan pakan," tuturnya. Berdasarkan penelitian, sapi yang dilepasliarkan memiliki angka gangguan reproduksi yang jauh lebih rendah, hanya sekitar 10 persen, dibandingkan dengan sapi yang dikandangkan yang mencapai 40 persen. Meski masih ada banyak kebun kelapa sawit yang belum dimanfaatkan untuk beternak sapi, beberapa perusahaan di daerah ini telah memberikan izin kepada karyawan mereka untuk beternak sapi dan bahkan memanfaatkan kebun sawit milik perusahaan untuk melepasliarkan sapi. Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan oleh program integrasi sapi-sawit ini, Distan Mukomuko berkomitmen untuk terus mendukung dan memajukannya demi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan produktivitas pertanian.

Warga Bilang Perusahaan Sawit Ini Kurang Perhatian ke Masyarakat Riau
Riau
Senin, 08 Januari 2024 | 19:16 WIB

Warga Bilang Perusahaan Sawit Ini Kurang Perhatian ke Masyarakat

Siak, katakabar.com - PT Teguhkarsa Wanalestari (TKWL) perusahaan bergerak di sektor kelapa sawit, beroperasi di wilayah dua kecamatan. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dibangun di wilayah Kampung Buantan Besar Kecamatan Siak, dan perkebunan kelapa sawit sebagian besar di wilayah Kecamatan Bungaraya. PKS berdiri radiusnya hanya sekitar tiga kilometer dari kawasan padat pemukiman penduduk. Tapi, perusahaan kelapa sawit ini kurang memperhatikan aspek sosial masyarakat sekitar. Di akhir tahun 2023 lalu misalnya, PT TKWL cuma gelontorkan Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp1,5 juta untuk kegiatan keagamaan. Untuk mendapatkan anggaran mesti proses mesti melalui pengajuan proposal ke perusahaan lebih dulu. Manager PT TKWL diteruskan Hubungan Masyarakat (Humas) PKS, Ardani menjelaskan, di akhir tahun 2023 lalu pihaknya sudah mengeluarkan program CSR kepads dua gereja. “CSR ini sesuai proposal yang masuk, kita serahkan kepada panitia dari pengurus-pengurus gereja, untuk kegiatan akhir tahun masing-masing Rp1 juta dan Rp500 ribu,” ujar Ardani lima hari lalu, dilansir dari laman publiknews.com, pada Senin (8/1). Penghulu Jayapura, Nurhadi Budiono mengatakan, PT TKWL minim perhatian kepada masyarakt sekitar. Misalnya, perusahaan kurang peduli kepada warga terdampak musibah banjir. Padahal, Kampung Jayapura bersentuhan langsung dengan aroma diduga limbah perusahaan setiap hari. “PT TKWL minim perhatian kepada masyarakat sekitar. Saat banjir Desember 2023 lalu sumbangsih dari mereka tidak ada, kami hanya dapat aroma limbahnya saja setiap hari,” ucap Nurhadi Budiono, Senin. Penghulu Kampung Tuah Indrapura, Sodikin mengaminkan rekan sejawatnya. Selama musibah banjir melanda pihaknya belum pernah menerima bantuan untuk warganya. “Warga kami dua kali terkena dampak musibah banjir, belum ada kami terima bantuan dari PT TKWL. Katanya ada CSR, terus kemana larinya,” ulas Sodikin. Pihaknya, cerita Sodikin, sudah mengajukan permohonan bantuan bagi warganya yang terdampak banjir. Tapi, hingga kini belum ada kabar dari perusahaan. “Kami sudah mengajukan permohonan bantuan korban banjir ke PT TKWL, tapi hingga saat ini belum ada kabar,” tegas Sodikin lagi. Penghulu Buantan Lestari, Agus M Yasin mengaku selama ini sumbangsih PT TKWL hanya ala kadar saja, dan tidak tahu berapa ketentuan CSR yang disalurkan untuk masyarakat. “Ada mereka bantu untuk Kampung Buantan Lestari, tapi ala kadarnya. Berapa ketentuan CSR yang wajib diberikan ke masyarakat berada di ring satu operasional perusahaan?" tanya Agus M Yasin. Ditambahkannya, Kampung Buantan Lestari wilayahnya paling dekat dengan operasional perusahaan. Selain aroma limbah, kendaraan pengangkut TBS kelapa sawit melintas di kawasan kampung. “Kampung kami paling dekat dengan perusahaan. Aroma limbah setiap hari kami hirup, apalagi jalan di sini jadi akses masyarakat untuk menjual Tandan Buah Segar (TBS) Sawit ke mereka. Kalau jalan kami rusak, apa mereka mau perbaiki,” timpalnya.