Ketegangan

Sorotan terbaru dari Tag # Ketegangan

Bitcoin Uji US$75.000 di Tengah Ketegangan Iran dan Lonjakan Risiko Energi Global Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 19 April 2026 | 16:10 WIB

Bitcoin Uji US$75.000 di Tengah Ketegangan Iran dan Lonjakan Risiko Energi Global

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin kembali menguji zona teknikal penting di sekitar US$75.000 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Menurut analisis terbaru dari FLOQ Trading Desk, pergerakan ini menempatkan Bitcoin pada salah satu titik penentu arah pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar US$74.458, tepat di bawah level psikologis US$75.000, sebuah area yang secara historis sering menjadi titik keputusan bagi momentum pasar. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya volatilitas di pasar global setelah konflik Iran picu lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang lebih luas. Harga minyak sempat mendekati US$100 per barel sebelum pasar kembali stabil setelah kabar gencatan senjata sementara. Bitcoin Memasuki Zona Teknis Penting Analisis tim FLOQ Trading Desk menunjukkan bahwa Bitcoin kini diperdagangkan jauh di atas Value Area High (VAH) di US$71.500 berdasarkan analisis volume profile. Breakout di atas level ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah keluar dari area distribusi utama dan memasuki zona dengan suplai yang lebih tipis. Kondisi ini sering disebut sebagai "thin liquidity zone", di mana pergerakan harga dapat berlangsung lebih cepat karena minimnya tekanan jual. Jika Bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas US$74.000, jalur menuju US$78.000 berpotensi terbuka karena minimnya resistance di atas area tersebut. Sinyal Harus Diperhatikan Bagi Trader Meski reli Bitcoin masih berpotensi berlanjut, beberapa indikator momentum mulai menunjukkan tanda-tanda kehati-hatian. Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di sekitar level 70, yang dalam beberapa reli sebelumnya sering memicu koreksi jangka pendek sekitar 3–5 persen. Selain itu, analis juga mengamati indikasi bearish divergence, di mana harga Bitcoin mencetak level tertinggi baru sementara indikator momentum mulai melemah.Jika terjadi penolakan harga di sekitar US$75.000, beberapa level support yang diperkirakan akan diuji oleh pasar meliputi: • US$73.000 • US$71.500 Level-level tersebut diperkirakan menjadi area konsolidasi jika reli Bitcoin kehilangan momentum dalam jangka pendek. Faktor Global Pengaruhi Pasar Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyoroti pentingnya Selat Hormuz, jalur energi strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Setiap potensi gangguan di wilayah ini dapat meningkatkan premi risiko energi global serta mempengaruhi inflasi dan sentimen investor secara luas. Perubahan sentimen ini terlihat jelas di pasar global yang beberapa kali berpindah dari mode risk-off menuju relief rally dalam waktu singkat.Pergerakan Bitcoin yang mengikuti dinamika ini menunjukkan bahwa aset digital kini semakin dipandang sebagai aset makro global. Founder dan CEO FLOQ, Yudhono Rawis, menyatakan pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan transformasi kripto menjadi aset yang semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global.“Pasar kripto hari ini tidak lagi bergerak secara terpisah dari dinamika global. Geopolitik, energi, dan likuiditas global kini memainkan peran penting dalam menentukan arah harga Bitcoin,” ujar Yudhono. Menurutnya, trader dan investor perlu memahami hubungan antara pasar kripto dan kondisi makro global untuk dapat menavigasi volatilitas pasar dengan lebih baik. Prospek Pasar Dalam jangka pendek, FLOQ Trading Desk memperkirakan Bitcoin akan terus bergerak dalam zona keputusan antara US$74.000 hingga US$75.000. Breakout yang kuat di atas area tersebut berpotensi membuka reli menuju US$78.000 hingga US$80.000.Namun jika momentum gagal dipertahankan, pasar kemungkinan akan kembali melakukan konsolidasi menuju area US$71.500 sebelum menentukan arah berikutnya. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang, pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan akan semakin dipengaruhi oleh kombinasi faktor makro global seperti harga energi, kebijakan moneter, dan arus likuiditas institusional. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif, dan platform berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini, FLOQ telah catat lebihdari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads, dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.

Harga Emas Terus Nanjak, Ini Level Kunci Wajib Dicermati Internasional
Internasional
Rabu, 15 April 2026 | 11:03 WIB

Harga Emas Terus Nanjak, Ini Level Kunci Wajib Dicermati

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia pada perdagangan pada pertengahan April 2026 diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan, seiring tren naik yang masih terlihat cukup solid baik dari sisi teknikal maupun fundamental. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan analis Geraldo Kofit, pergerakan XAU/USD pada timeframe harian menunjukkan bahwa momentum bullish belum mereda dan justru berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Secara teknikal, ujarnya, harga emas sebelumnya sempat mengalami fase koreksi ringan pada awal pekan. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena harga kembali bergerak naik dan berhasil menutup celah harga (gap) yang sempat terbentuk saat pembukaan pasar. Penutupan gap ini menjadi salah satu indikator penting bahwa pasar masih didominasi oleh minat beli, sekaligus menandakan bahwa tren utama masih berada dalam jalur kenaikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa fase koreksi yang terjadi sebelumnya lebih bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk mengubah arah tren secara keseluruhan. Jadi, harga emas kini berpotensi kembali membentuk tren utama baru yang mengarah ke atas atau primary trend, yang biasanya ditandai dengan pergerakan harga yang lebih konsisten. Dalam proyeksi jangka pendek, Dupoin Futures melihat bahwa harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level resistance terdekat di kisaran 4.857. Level ini menjadi titik penting yang akan menentukan apakah harga mampu melanjutkan tren naik ke level yang lebih tinggi. Jika terjadi penembusan yang kuat di atas area tersebut, maka peluang kenaikan lanjutan akan semakin terbuka. Apabila momentum bullish tetap terjaga, ulasnya, harga emas bahkan berpotensi mengarah ke level psikologis berikutnya di angka 5.000. Level ini dinilai sebagai target penting karena tidak hanya menjadi batas teknikal, tetapi juga memiliki arti khusus bagi pelaku pasar sebagai penanda level harga yang signifikan. Dari sisi fundamental, jelasnya, penguatan harga emas turut didukung oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven. Ketidakpastian global yang masih berlangsung, baik terkait kondisi ekonomi maupun dinamika geopolitik, membuat investor cenderung mencari instrumen yang lebih aman untuk melindungi nilai aset mereka. Dalam situasi seperti ini, emas menjadi salah satu pilihan utama. Selain itu, sambungnya, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan emas. Pasar mulai melihat adanya peluang bahwa Federal Reserve akan mengambil pendekatan yang lebih longgar dalam kebijakannya. Kemungkinan penurunan suku bunga atau setidaknya penghentian kenaikan suku bunga menjadi faktor yang mendorong minat terhadap emas. "Dalam kondisi suku bunga yang lebih rendah, emas menjadi lebih menarik karena tidak bersaing secara langsung dengan instrumen yang memberikan imbal hasil. Hal ini membuat aliran dana berpotensi kembali masuk ke pasar emas," tuturnya. Di sisi lain, potensi pelemahan dolar Amerika Serikat juga menjadi katalis positif. Hubungan yang berlawanan arah antara dolar dan emas membuat pelemahan dolar dapat membuka ruang bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global, sehingga permintaan dapat meningkat. Faktor tambahan yang turut memperkuat tren bullish adalah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara. Langkah ini mencerminkan bahwa emas masih dianggap sebagai aset strategis untuk menjaga stabilitas cadangan devisa, sekaligus memberikan dukungan jangka panjang terhadap harga. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai bahwa tren kenaikan harga emas masih cukup kuat dan berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Selama tidak ada perubahan signifikan dalam sentimen pasar, peluang untuk mencapai level yang lebih tinggi, termasuk area psikologis 5.000, tetap terbuka. Untuk itu, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan dinamika global yang dapat memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek. Dengan memahami level-level penting serta arah tren yang sedang berlangsung, investor diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat di tengah kondisi pasar yang terus berubah.

Ketegangan AS vs Iran Memanas, Harga Emas Siap Meledak! Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 14 April 2026 | 16:11 WIB

Ketegangan AS vs Iran Memanas, Harga Emas Siap Meledak!

Jakarta, katakabar.com - Harga emas global memiliki potensi volatilitas yang tinggi, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Kegagalan kedua negara mencapai kesepakatan gencatan senjata menjadi pemicu utama meningkatnya kekhawatiran pasar, terutama terkait stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat distribusi energi dunia. Meski akhir pekan lalu harga emas sempat mengalami pelemahan tipis, secara keseluruhan logam mulia tersebut masih mencatatkan kinerja positif sepekan belakangan ini. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Emas selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai, kembali menjadi pilihan utama ketika risiko geopolitik meningkat dan pasar keuangan berada dalam tekanan. Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat dilaporkan memulai langkah militer berupa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini tidak hanya memperburuk hubungan diplomatik kedua negara, tetapi menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas Selat Hormuz. Jalur ini salah satu choke point energi terpenting di dunia, yang dilalui oleh sekitar sepertiga distribusi minyak global. Gangguan terhadap aktivitas di Selat Hormuz berpotensi menyebabkan lonjakan harga energi secara signifikan. Kenaikan harga minyak biasanya berdampak pada meningkatnya inflasi global, yang pada akhirnya mendorong investor untuk mencari perlindungan melalui aset seperti emas. Lantaran itu, ketidakpastian di kawasan ini menjadi katalis utama yang menopang harga emas dalam jangka pendek. Tetapi, tidak semua analis melihat potensi kenaikan emas terbuka lebar. Dari sisi teknikal, harga emas saat ini masih menghadapi tantangan besar untuk menembus area resistensi kunci di kisaran US$4.800 hingga US$4.850. Level ini tidak hanya menjadi batas psikologis bagi pelaku pasar, tetapi juga merupakan area teknikal yang selama ini menahan laju kenaikan harga. Selama harga emas belum mampu menembus zona tersebut secara meyakinkan, pergerakan cenderung akan berada dalam fase konsolidasi atau sideways. Rentang pergerakan yang diperkirakan berada di kisaran US$4.400 hingga US$5.000 menunjukkan pasar masih berada dalam kondisi wait and see, menunggu kepastian arah dari perkembangan geopolitik maupun kebijakan ekonomi global. Pada kondisi seperti ini, strategi investasi jangka pendek dinilai lebih relevan dibandingkan pendekatan buy and hold. Volatilitas yang tinggi membuka peluang bagi trader untuk memanfaatkan fluktuasi harga dalam jangka waktu singkat. Tetapi di sisi lain, risiko juga meningkat, sehingga diperlukan manajemen risiko yang lebih disiplin. Selain faktor geopolitik, arah pergerakan dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang memengaruhi harga emas. Penguatan dolar cenderung menekan harga emas, sebab membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Sebaliknya, pelemahan dolar dapat menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga emas. Di tengah dinamika pasar yang kompleks ini, akses terhadap informasi dan platform investasi yang andal menjadi semakin penting bagi para investor. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat dengan mudah dipantau melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memberikan kemudahan bagi investor untuk mengakses berbagai instrumen investasi dalam satu aplikasi yang terintegrasi. Bagi masyarakat yang tertarik untuk mulai berinvestasi di saham Amerika Serikat, Nanovest dapat menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. Selain menyediakan akses ke pasar saham global, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk mengeksplorasi berbagai aset kripto yang semakin populer di kalangan investor modern. Keamanan juga menjadi salah satu keunggulan utama yang ditawarkan. Nanovest memberikan perlindungan terhadap aset pengguna dari risiko kejahatan siber melalui dukungan Asuransi Sinarmas. Hal ini tentu menjadi nilai tambah, terutama bagi investor pemula yang masih khawatir terhadap risiko keamanan dalam berinvestasi secara digital. Selain itu, Nanovest juga telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Legalitas ini menjadi indikator penting bahwa platform tersebut telah memenuhi standar regulasi yang berlaku di Indonesia, sehingga memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi para penggunanya. Bagi para investor yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, Nanovest juga menyediakan berbagai sumber edukasi dan pembaruan pasar melalui situs resminya di www.nanovest.io. Aplikasi ini juga telah tersedia secara luas dan dapat diunduh melalui Play Store maupun App Store, sehingga memudahkan akses bagi pengguna di berbagai perangkat. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar saat ini, mulai dari ketegangan geopolitik hingga dinamika ekonomi global, investor diharapkan tetap waspada dan adaptif dalam mengambil keputusan. Emas tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik, namun pergerakannya yang volatil menuntut strategi yang lebih fleksibel dan berbasis data. Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh perkembangan situasi di Timur Tengah serta kebijakan ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Selama ketidakpastian masih tinggi, emas kemungkinan besar akan tetap menjadi primadona sebagai aset lindung nilai, meskipun pergerakannya tidak selalu linear dan cenderung dipenuhi fluktuasi tajam.

Bagaimana Konflik Internasional Pengaruhi Pair Forex Utama? Ini Analisis Ketegangan Iran-AS Pada EUR-USD Internasional
Internasional
Sabtu, 11 April 2026 | 11:10 WIB

Bagaimana Konflik Internasional Pengaruhi Pair Forex Utama? Ini Analisis Ketegangan Iran-AS Pada EUR-USD

Jakarta, katakabar.com - Pasar valuta asing atau Forex dikenal sebagai pasar yang paling sensitif terhadap isu geopolitik. Konflik internasional tidak hanya memengaruhi kebijakan diplomatik, tetapi ubah peta kekuatan mata uang dunia dalam hitungan detik. Salah satu dinamika yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar global adalah bagaimana ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memberikan dampak langsung terhadap pasangan mata uang utama, EUR/USD. Sentimen pasar sering kali terjebak dalam kondisi risk-off saat konflik memanas. Dalam kondisi ini, investor cenderung menarik modal dari aset berisiko tinggi dan mengalihkannya ke aset yang dianggap lebih aman (safe-haven assets), yang memicu fluktuasi besar pada nilai tukar. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memiliki pengaruh berlapis terhadap pasangan EUR/USD. Berikut adalah beberapa faktor utama yang mendorong pergerakan harga di pasar: Dominasi Safe-Haven Dollar: Sebagai mata uang cadangan dunia, Dolar AS sering kali mengalami penguatan instan saat terjadi eskalasi militer atau politik. Hal ini secara otomatis menekan posisi Euro, menyebabkan nilai EUR/USD cenderung bergerak turun (depresiasi Euro terhadap Dolar). Lonjakan Harga Minyak: Konflik di Timur Tengah hampir selalu memicu kekhawatiran atas pasokan energi global. Kenaikan harga minyak mentah sering kali membebani ekonomi Eropa yang merupakan importir energi neto. Inflasi yang didorong oleh harga energi di Zona Euro dapat memperlemah sentimen terhadap mata uang Euro. Kebijakan Bank Sentral: Ketidakpastian akibat konflik internasional dapat membuat Bank Sentral Eropa (ECB) maupun Federal Reserve (The Fed) menyesuaikan kebijakan moneter mereka secara mendadak, yang semakin menambah volatilitas di pasar Forex. Pemahaman mengenai fundamental ini sangat penting bagi trader untuk menghindari risiko margin call saat volatilitas melonjak. Untuk analisis teknikal dan fundamental yang lebih mendalam mengenai topik ini, Anda dapat mengunjungi ulasan pakar di Market Analysis KVB Futures. Menghadapi pasar yang dipengaruhi oleh konflik memerlukan manajemen risiko yang jauh lebih ketat dibandingkan kondisi pasar normal. Para trader profesional biasanya memanfaatkan momen ini untuk mencari peluang dari pergerakan tren yang tajam, namun tetap dengan perhitungan yang matang. Memilih mitra transaksi yang tepat adalah kunci utama. Sebagai Broker Trading Futures terpercaya, KVB Futures menyediakan platform dengan eksekusi cepat dan transparansi tinggi, membantu nasabah merespons setiap berita global secara real-time. Dengan akses ke berbagai produk seperti Forex, Komoditas, dan Indeks, trader memiliki fleksibilitas untuk melakukan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global. Bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang di pasar global dengan dukungan edukasi dan sistem yang andal, pendaftaran akun dapat dilakukan melalui: Laman Registrasi KVB Futures.

Harga Emas Menguat Seiring Redanya Ketegangan Global, Tren Positif Diproyeksikan Berlanjut Internasional
Internasional
Jumat, 03 April 2026 | 10:34 WIB

Harga Emas Menguat Seiring Redanya Ketegangan Global, Tren Positif Diproyeksikan Berlanjut

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan penguatan perdagangan terkini, didorong oleh meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta pelemahan mata uang dolar Amerika Serikat. Kombinasi sentimen tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai, sekaligus memicu minat beli dari pelaku pasar global. Kondisi ini terjadi setelah muncul sinyal positif terkait kemungkinan de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan dari otoritas Iran yang membuka peluang untuk mengakhiri konflik, dengan syarat adanya jaminan keamanan, disambut optimistis oleh pelaku pasar. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga dikabarkan mempertimbangkan untuk menghentikan langkah militernya, meskipun jalur strategis seperti Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih. Harapan terhadap proses perdamaian yang semakin nyata ini turut menopang penguatan harga emas dalam beberapa sesi terakhir. Dari perspektif teknikal, Dupoin Futures melalui analisnya, Andy Nugraha, menilai bahwa tren pergerakan emas (XAU/USD) masih berada dalam fase bullish, khususnya dalam timeframe jangka pendek. Hal ini tercermin dari terbentuknya pola candlestick yang mengindikasikan dominasi tekanan beli, yang diperkuat oleh posisi harga di atas indikator Moving Average. Sinyal tersebut menjadi indikasi bahwa momentum kenaikan masih cukup kuat untuk mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level 4.482 dolar AS. Tetapi, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena pasar dengan cepat merespons sentimen positif, sehingga harga berbalik arah dan naik ke kisaran 4.648 dolar AS. Rebound ini menunjukkan adanya area support yang solid, sekaligus memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih memanfaatkan setiap pelemahan sebagai peluang untuk masuk. Andy Nugraha memproyeksikan apabila momentum bullish terus terjaga, maka harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan hingga mendekati level resistance di 4.862 dolar AS. Sebaliknya, jika terjadi koreksi akibat aksi ambil untung atau perubahan sentimen, maka penurunan diperkirakan akan tertahan di sekitar level 4.539 dolar AS yang menjadi area support terdekat. Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,31% menjadi salah satu faktor pendorong utama penguatan emas. Penurunan yield ini berimbas pada melemahnya dolar AS, yang tercermin dari penurunan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,91. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih kompetitif bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan. Di sisi lain, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan di sektor ketenagakerjaan. Laporan Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) mencatat penurunan jumlah lowongan pekerjaan, yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Tetapi, tekanan inflasi masih menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi, yang pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan moneter. Pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang menegaskan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi menunjukkan bahwa bank sentral masih akan berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga. Bahkan, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam beberapa tahun ke depan mulai berkurang. Dengan latar belakang tersebut, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap dinamis dalam jangka pendek. Meskipun tren bullish masih mendominasi, pelaku pasar tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah harga, termasuk perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik sebagai lindung nilai, sekaligus peluang investasi di tengah volatilitas yang tinggi.

Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran Internasional
Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 08:37 WIB

Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran

Jakarta, katakabar.com - Tren positif kembali menghampiri pasar komoditas global yang kini merambah kuat ke sektor aset digital, di mana harga emas dunia terpantau mulai menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat mengalami tekanan. Bertepatan dengan ini, Bittime juga mencatatkan kenaikan harga aset kripto berbasis emas yakni Tether Gold ($XAUT) hingga mencapai 4,23% (25 Maret 2026). Sebelumnya, berdasarkan data yang dihimpun dari laporan Readers.id harga emas pada perdagangan, Selasa (24/3) melonjak sebesar 1,54% ke level $4.473,59 per troy ons. Ini mengakhiri tren penurunan sembilan hari berturut-turut yang sempat menggerus nilai emas hingga 15%. Kenaikan harga di pasar aset fisik tersebut turut terjadi pada instrumen aset kripto yang dipatok 1:1 pada harga logam mulia. Mengutip data internal dari Bittime, aset kripto berbasis emas yakni Tether Gold ($XAUT) tersebut dalam beberapa hari terakhir tercatat mengalami kenaikan volume perdagangan harian hingga 2-3x pada platformnya. Sentimen positif ini tidak hanya terbatas pada emas, namun juga merambah ke aset perak digital yaitu Silver Token ($SLVON) yang juga mengalami lonjakan volume perdagangan harian hingga 5x. Hal ini mencerminkan sentimen investor yang kini semakin melirik perak digital sebagai alternatif diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh isu energi dan inflasi di Selat Hormuz. Kedua aset tersebut dapat diakses dan diperdagangkan melalui platform Bittime. Di mana, saat ini Bittime menyediakan fitur flexible staking dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% APY bagi pengguna baru. Bersama ini, sebagai platform perdagangan aset kripto yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime berkomitmen untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi para investor di Indonesia. Investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga dan risiko likuiditas yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Untuk itu, sangat penting bagi setiap investor untuk terus melakukan riset mandiri dan berdiskusi dengan komunitas terpercaya sebelum mengambil keputusan investasi.

Emas Menguat Tajam di Tengah Memanasnya Ketegangan Global Internasional
Internasional
Selasa, 06 Januari 2026 | 17:00 WIB

Emas Menguat Tajam di Tengah Memanasnya Ketegangan Global

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAU/USD) dunia kembali menguat tajam pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Emas saat ini sedang berada dalam fase penguatan yang solid, didukung oleh kombinasi faktor teknikal yang konstruktif dan sentimen fundamental yang menguntungkan. Di awal pekan, emas mencatat lonjakan lebih dari 2,6 persen dan diperdagangkan di area $4.440, setelah sempat tertekan hingga mendekati $4.345. Kenaikan tajam ini mencerminkan respons cepat investor terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang menimbulkan kekhawatiran luas mengenai stabilitas geopolitik dan potensi dampaknya terhadap perekonomian global. Dalam situasi seperti ini, Emas kembali menjadi tujuan utama investor yang mencari perlindungan nilai. Berdasarkan analisa Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa sinyal penguatan tren terlihat jelas dari pola candlestick, serta arah indikator Moving Average yang kembali mengarah naik. Struktur harga menunjukkan tekanan beli mendominasi pergerakan pasar, membuka peluang lanjutan kenaikan dalam jangka pendek. Dupoin Futures Indonesia memproyeksikan bahwa apabila momentum bullish tetap terjaga, harga Emas berpotensi melanjutkan reli menuju area $4.520. Meski demikian, risiko koreksi tetap perlu diperhitungkan. Apabila terjadi kegagalan harga untuk mempertahankan momentum penguatan, maka koreksi ke area $4.397 dapat terjadi sebagai skenario alternatif. Penguatan harga Emas juga berlanjut pada sesi Asia Selasa (6/1), dengan emas sempat bergerak di sekitar $4.440 dan mencetak level tertinggi dalam sepekan terakhir. Permintaan terhadap logam mulia ini kembali meningkat setelah ketegangan geopolitik di Amerika Latin semakin memanas. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan Amerika Serikat picu ketidakpastian baru, terutama setelah Maduro membantah tuduhan yang dilayangkan dan menyatakan akan menghadapi proses hukum internasional. Pernyataan keras dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang menyebut Amerika Serikat akan mengambil peran dalam pengelolaan sementara Venezuela, semakin memperbesar kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik yang lebih luas. Situasi ini mendorong investor untuk kembali mengalihkan dana ke aset safe-haven tradisional, di mana Emas menjadi salah satu pilihan utama. Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve turut memperkuat sentimen positif Emas. Risalah pertemuan FOMC terbaru mengindikasikan bahwa sebagian besar pejabat bank sentral AS masih membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan, seiring tren inflasi yang menunjukkan perlambatan. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah secara umum menguntungkan Emas karena menurunkan biaya peluang bagi investor untuk memegang aset tanpa imbal hasil. Pasar akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls bulan Desember yang akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan Dolar AS dan menekan harga Emas dalam jangka pendek. Tetap, dengan dukungan sentimen safe-haven yang masih kuat serta sinyal teknikal yang positif, prospek pergerakan emas dinilai tetap cenderung menguat dalam waktu dekat.

Ketegangan Trump-Powell dan Dampaknya ke Pasar Kripto Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 04 Juni 2025 | 11:38 WIB

Ketegangan Trump-Powell dan Dampaknya ke Pasar Kripto

Jakarta, katakabar.com - Rumor bakal keluarnya Jerome Powell dari jabatannya sebagai Ketua The Federal Reserve (The Fed), telah memicu perdebatan dan spekulasi di pasar ekonomi global termasuk pasar aset kripto. Hal ini, dikhawatirkan dapat memicu gejolak kondisi ekonomi, bahkan inflasi. Lebih dari sekadar spekulasi, rumor tersebut mencuat karena berbagai isu yang terjadi. Ini termasuk, perdebatan tarif suku bunga yang terjadi antara Powell dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebelumnya, Powell menghadiri pertemuan tatap muka dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Januari lalu. Pertemuan tersebut membahas perbedaan pandangan antara Trump yang menginginkan suku bunga yang lebih rendah, dengan Powell yang menekankan independensi The Fed. Lebih lanjut, Trump berpendapat Powell melakukan kesalahan dengan tidak menurunkan suku bunga, di mana menurutnya hal ini merugikan ekonomi AS dibandingkan dengan negara lain seperti Cina. Sedang Powell menekankan pentingnya independensi The Fed dan perlunya kebijakan moneter yang didasarkan pada data ekonomi. Di sisi lain, diprediksi dapat terjadi peningkatan likuiditas dan pertumbuhan pasar aset-aset berisiko termasuk aset kripto, apabila The Fed kembali memangkas suku bunga. Kondisi ini mengharuskan para investor untuk dapat memantau dengan cermat perkembangan politik dan ekonomi, serta keputusan The Fed terkait suku bunga. Sebab, volatilitas pasar aset kripto dapat kembali bergejolak apabila ketegangan dan ketidakpastian kebijakan politik global terus berlanjut.

Harga Emas Tertekan Akibat Meredanya Ketegangan AS-China Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 30 April 2025 | 13:36 WIB

Harga Emas Tertekan Akibat Meredanya Ketegangan AS-China

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) alami tekanan di awal sesi perdagangan Asia hari ini, Senin (28/4) lalu, bergerak di kisaran $3.310 setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi minggu lalu. Menurut analisis Andy Nugraha dari Dupoin Futures Indonesia, koreksi tajam pada emas dipicu oleh berkurangnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, yang menyebabkan menurunnya minat terhadap aset safe haven. Dijelaskan Andy, berdasarkan kombinasi analisis candlestick dan indikator Moving Average, tren bearish mulai menguat kembali pada XAU/USD. Harga emas menunjukkan pola pelemahan yang konsisten, terutama setelah kegagalan mempertahankan penguatan Kamis (24/4) dan anjlok di bawah $3.300. Secara teknikal, emas diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penurunan hingga ke area $3.213. Meski begitu, ujarnya, jika terjadi pantulan kuat, emas berpeluang menguji resistance di sekitar $3.367. Tekanan terhadap harga emas juga diperkuat oleh faktor fundamental, termasuk pernyataan Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, yang menyebutkan bahwa negosiasi perdagangan dengan China berjalan positif dan kesepakatan hampir tercapai. Optimisme ini meningkatkan sentimen risk-on di pasar, mengurangi permintaan terhadap emas. Selain itu, kabar mengenai kemungkinan pengecualian beberapa tarif balasan turut memperparah pelemahan harga emas hingga menembus level psikologis $3.300. Meski tekanan jual masih mendominasi, ada risiko volatilitas yang perlu diperhatikan. Presiden AS, Donald Trump, tetap bersikeras tidak akan mencabut tarif terhadap China tanpa konsesi besar, yang memicu ketidakpastian pasar. Di sisi lain, IMF mengingatkan bahwa ketegangan perdagangan yang berkepanjangan bisa mendorong Amerika Serikat menuju resesi, yang berpotensi kembali mendongkrak permintaan emas sebagai aset safe haven. Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada data ekonomi AS, termasuk laporan awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama yang dirilis Rabu (30/4), serta data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/5). Kedua data ini diperkirakan akan menjadi petunjuk penting untuk arah pergerakan emas selanjutnya, terutama terkait ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Secara keseluruhan, Andy menilai tekanan bearish masih mendominasi pergerakan emas dengan target penurunan ke area $3.213, sementara potensi rebound dibatasi di sekitar $3.367.