IPB University

Sorotan terbaru dari Tag # IPB University

Pakar Pertanian IPB University:  Platform PMKS Solusi Satukan Data Komoditas Sawit
Sawit
Kamis, 04 September 2025 | 15:25 WIB

Pakar Pertanian IPB University: Platform PMKS Solusi Satukan Data Komoditas

PMKS bis mengubah sistem lama ke sistem baru, dan cara lam ke cara baru, sehingga diharapkan bisa menjadi solusi untuk memotong birokrasi dan mempercepat alur izin, ekspor-impor, serta sertifikasi. Masih Sudarsono, selama ini pengelolaan data komoditas strategis berjalan terfragmentasi, membuat proses administrasi menjadi lambat dan rentan kesalahan.

Fakultas TIN FATETA IPB University Kerja Sama BPDPKS Taja Workshop Karbonisasi TKKS Tekno
Tekno
Selasa, 14 November 2023 | 16:23 WIB

Fakultas TIN FATETA IPB University Kerja Sama BPDPKS Taja Workshop Karbonisasi TKKS

Pekanbaru, katakabar.com - Fakultas Teknologi Pertanian IPB University kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) gelar workshop Karbonisasi Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik untuk Substitusi Pupuk Kimia pada Perkebunan Kelapa Sawit, di Hotel Novotel Pekanbaru, Jalan Riau, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, pada Selasa (14/11) pagi. Acara yang dipandu dua moderator, yakni Dr. Ir. Mira Rivai. STP. MSi dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), IPB University serta Dr Vonny Indah Sari, STP, MP deri Universitas Lancang Kuning ini, menghadirkan beberapa nara sumber yang kompeten dibidangnya, seperti Prof. Dr. Erliza Hambali, Kepala Divisi Teknologi Proses, Program Studi Teknik Industri Pertanian, IPB University. Lalu, Tom Zhang Beston China, Prof. Dr. Herdhata Agusta, Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University, Ir. Muhammad Mubarak, Direktur PT BGA serta Prof. Dr. Erliza Hambali Ketua Pelaksana kegiatan workshop. Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Workshop, IPB University, Prof Dr Erliza Hambali menjelaskan, pada industri perkebunan kelapa sawit, biaya terbesar yang dibutuhkan agar tanaman tumbuh dengan baik dan subur serta berbuah baik adalah pupuk. "Biaya pemupukan sekitar 80 persen dari keseluruhan biaya operasional perkebunan," ujarnya dilansir dari laman nadariau.com, Selasa sore. TKKS, kata Erliza, salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menurunkan biaya pemupukan dengan substitusi pupuk kimia dengan bahan karbon hasil dari proses karbonisasi TKKS. “Penggunaan karbon dari TKKS mampu menurunkan biaya pemupukan di perkebunan kelapa sawit sebesar 20 persen. Proses karbonisasi TKKS menghasilkan karbon atau arang sebagai produk utama 30 persen dan vinegar wood (asap cair) 6 persen dan tar 3 persen sebagai hasil samping,” terangnya. Menurutnya, kandungan hara dan mineral yang terdapat pada karbon atau arang TKKS adalah N, P, K, Mg dan mineral lainnya. Hara dan mineral ini sangat diperlukan tanaman kelapa sawit untuk dapat berkembang dengan baik dan menghasilkan buah sawit yang sehat dan relative besar. Kelebihan pemanfaatan arang TKKS sebagai substitusi pupuk kimia dibandingkan kompos adalah pada kemampuannya yang sangat cepat dalam menyerap unsur-unsur hara dan mineral tanah. Sedang, Vinegar Wood dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet produk-produk perikanan, bio desinfektan pada peternakan ayam. Sedangkan Tar dapat dimanfaatkan sebagai energy alternatif pada industri yang mampu menurunkan emisi CO2. “Secara nasional luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2022 sekitar 15,4 juta hektar mampu menghasilkan TKKS sebesar 47 juta ton. Pemanfaatan TKKS secara komersial saat ini masih sangat terbatas, diantaranya untuk pupuk kompos, bahan bakar padat dan lainnya,” bebernya. Rektor Universitas Lancang Kuning, Prof Dr Junaidi SS M Hum yang turut hadir pada workshop ini menyatakan dukungan dan mendorong dosen di Fakultas Pertanian untuk mendalami dan meneliti teknologi karbonisasi. “Kita berharap teknologi ini bisa diterapkan di Riau, sebab di Riau perkebunan sawitnya terluas di Indonesia. Dosen-dosen di Fakultas Pertanian ULK terlibat dalam penelitian karbonisasi ini,” jelasnya. Pembicara Workshop dari IPB University, Prof Herdata Agusta memaparkan penggunaan tandan kosong sebagai biocharge telah dilakukan penelitian secara mendalam baik di Indonesia maupun di luar negeri. “Tapi, untuk skala yang teraplikasi baru akan dilaksanakan di PT PGA,” tuturnya. Manfaat dari penggunaan TKKS ini, kata Agusta, selain mengurangi penggunaan pupuk unorganik, dapat pula memperpanjang umur unsur hara pada tanah. “Karbonisasi ini selain berguna untuk menyuburkan tanah, memperbaiki kondisi tanah juga dapat mengurangi emisi lingkungan,” timpalnya. Kompartemen Research GAPKI, Achmad Fathoni mengatakan, teknologi ini nanti akan menjadi sesuatu kebutuhan bukan lagi alternatif. Apalagi tujuan untuk menurunkan biaya produksi kelapa sawit. Biaya produksi paling tinggi dari pemupukan mencapai 70 persen. "Kalau kita bisa menurunkan penggunaan pupuk unorganik itu, bisa menghemat biaya pemupukan mencapai hampir 20 persen,” tandasnya.

Peningkatan Perekonomian dan Dekarbonisasi Sasaran Pengembangan Bioenergi Tekno
Tekno
Minggu, 13 Agustus 2023 | 19:21 WIB

Peningkatan Perekonomian dan Dekarbonisasi Sasaran Pengembangan Bioenergi

Jakarta, katakabar.com - Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, dan perguruan tinggi dari sejumlah negara bahas peningkatan riset bioenergi dan biomassa global di konferensi The 8th International Conference on Biomass and Bioenergy (ICBB). Indonesia, Filipina, Malaysia, Jepang, Polandia, Belanda, Amerika Serikat, Australia dan Republik Ceko peserta konferensi. Seminar internasional digelar secara hybrid dua hari lamanya, dari 7 hingga 8 Agustus 2023 lalu, di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. Konferensi The 8th ICBB kerja sama dengan Hiroshima University Jepang, Villanova University Amerika Serikat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), dan Asosiasi Biogas Indonesia. Prof Ernan Rustiadi, Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan Agromaritim menjelaskan, IPB University sudah banyak mengembangkan riset biomassa dan bioenergi, salah satunya melalui SBRC. "Penelitian IPB University di bidang bioenergi termasuk tiga besar terbanyak selain pangan dan kesehatan. Tidak hanya darat, riset bioenergi dari laut sudah banyak dilakukan IPB University," kata Rustiadi lewat keterangan resmi IPB dilansir dari laman elaeis.co, pada Minggu (13/8). Pengembangan bioenergi dilakukan dari hulu hingga hilir. Dari hulu kata Rustiadi, bagaimana pertanian dominan sebagai penyedia pangan, baru mulai mengembangkan komoditas untuk bioenergi. Untuk itu, perlu penguatan peluang usaha di pedesaan bagi mereka yang mau masuk di sektor energi. “Harus ada proporsi khusus untuk petani rakyat di bidang energi, seperti yang telah dilakukan perkebunan sawit di Indonesia, 45 persennya adalah sawit rakyat. Begitu pula dengan pertanian bioenergi,” ulasnya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM RI, Dadan Kusdiana mengaminkan Rustiadi. Memang, IPB University telah banyak membantu pengembangan bioenergi nasional. “Bicara bioenergi, ujungnya pertanian dan urusannya dengan rakyat. Kalau bioenergi ini terus didorong, semua pihak dapat manfaat dan meningkatkan ekonomi rakyat,” tegasnya. Seminar ini mudah-mudahan dapat mendukung peningkatan program biomassa dan bioenergi dalam negeri. Itu sebabnya tutur Dadan, pentingnya bioenergi sebagai strategi untuk mendorong Indonesia menuju proses dekarbonisasi dan penurunan emisi (net zero emission/NZE) serta membantu peningkatan penyediaan lapangan kerja. Soal penguatan biomassa dan bioenergi upaya mendukung zero emission, Kepala SBRC IPB University, Dr Meika Syahbana Rusli menimpali, pihaknya telah bekerja sama dengan PT PLN dalam pengembangan biomassa di tingkat masyarakat melalui model usaha rakyat bidang energi. “SBRC IPB University mengembangkan bio additive upaya membantu mengoptimalkan penggunaan biodiesel. Kami mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kembali produksi sisa minyak bumi yang tidak terangkat,” terangnya. Research and Development Division Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Arfie Thahar menyebutkan, perkebunan kelapa sawit banyak memberikan dukungan positif untuk tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), perekonomian, penanggulangan kemiskinan, energi terbarukan, serta mendorong penghapusan jejak karbon.