Setelah Reli Panjang, Harga Emas Melemah ke $4.054 per Ons Jelang Rilis Data Inflasi AS
Jakarta, katakabar.com - Harga emas kembali melemah mendekati level terendah dalam dua minggu terakhir setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam lima tahun pada sesi sebelumnya Kamis (23/1). Aksi ambil untung investor menjadi pemicu utama koreksi ini, seiring pasar bersiap menanti rilis data inflasi utama Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter Federal Reserve selanjutnya. Harga emas spot tercatat turun 1,7 persen menjadi $4.054 per ons pada pukul 13.42 waktu New York, setelah sempat menguat hingga $4.161 per ons di awal sesi. Pergerakan ini menunjukkan sikap hati-hati pelaku pasar setelah reli panjang yang membawa emas menembus rekor baru bulan lalu, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Menurut analis pasar, penurunan harga emas kali ini wajar terjadi setelah lonjakan harga signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Investor yang telah menikmati keuntungan dari reli panjang cenderung menutup posisi menjelang publikasi data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat. Data inflasi tersebut diperkirakan menjadi indikator penting untuk menentukan seberapa cepat Federal Reserve (The Fed) dapat mulai memangkas suku bunga acuan. Jika inflasi masih menunjukkan tren yang kuat, maka peluang pemangkasan suku bunga akan semakin kecil, dan hal ini biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas, karena imbal hasil obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan aset non-yield seperti emas. “Pasar sedang berada di fase 'wait and see'. Banyak investor yang mengunci keuntungan lebih dulu karena khawatir angka inflasi bisa membuat The Fed kembali bersikap hawkish,” kata analis komoditas senior di TD Securities, Bart Melek. Selain aksi ambil untung, pelemahan emas juga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields). Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sementara imbal hasil obligasi yang meningkat menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.