Hadapi Dinamika Global, Kementerian PU Dorong Resiliensi Infrastruktur Nasional
Surabaya, katakabar.com - Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, mulai dari rivalitas geopolitik, krisis energi, ketidakpastian ekonomi, hingga perubahan iklim, Kementerian Pekerjaan Umum atau PU menegaskan komitmennya untuk terus bekerja, bergerak, dan memberikan dampak nyata. Di antara fokus utamanya adalah memperkuat ketahanan nasional melalui pembangunan infrastruktur yang strategis, sejalan dengan program Asta Cita yang dicanangkan Presiden RI, H Prabowo Subianto. Di acara The 9th International Conference Postgraduate School Universitas Airlangga atau ICPS di Surabaya, Rabu (17/9) lalu, Menteri PU, Dody Hanggodo memaparkan visi pembangunan infrastruktur kini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pembangunan infrastruktur lebih dari sekadar pembangunan, ujar Dody, melalui rilis resmi diterima katakabar.com,Jumat sore kemarin, melainkan juga mendukung ketahanan sipil, mendukung ketahanan pangan, sementara hydropower dan floating solar juga mendukung ketahanan energi. “Infrastruktur menjadi lebih dari sekadar pembangunan, melainkan ketahanan. Bendungan dan irigasi mendukung ketahanan pangan, hydropower dan floating solar juga mendukung ketahanan energi. Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM, dan sistem pengendalian banjir dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan mencegah bencana. Kemudian jalan dan jembatan mendukung konektivitas serta logistik,” kata Dody di konferensi angkat tema “Geopolitical Risk and Resilience on Developing for Better World.” Menteri PU menyoroti dampak nyata dari tantangan global seperti perang di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok terhadap stabilitas pangan, energi, dan air di Indonesia. Itu sebabnya, kemandirian pada tiga sektor vital tersebut harus menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Pada konteks inilah, ucap Dody, paradigma pembangunan infrastruktur didorong untuk menjadi bagian dari sistem pertahanan negara. “Pembangunan infrastruktur harus dipandang sebagai non-military defense atau pertahanan sipil. Bendungan, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, sistem air bersih, jalan, dan jembatan tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi menjadi sistem ketahanan nasional dalam menghadapi krisis. Infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi perisai ketahanan bangsa,” jelasnya Untuk mewujudkan visi tersebut, ulas Dody, Kementerian PU telah menggulirkan program PU608. Program ini berupaya meningkatkan ketahanan infrastruktur dengan fokus pada efisiensi investasi, pengentasan kemiskinan, serta pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Tapi, bebernya, dampak yang diciptakan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Kementerian PU juga secara aktif mendukung berbagai program prioritas sosial, seperti penyediaan sekolah bagi anak-anak kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat, peningkatan sarana pendidikan tinggi, hingga pembangunan infrastruktur kesehatan dan sanitasi untuk menekan angka stunting. Untuk menyukseskan agenda besar ini, Menteri PU mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam skema pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat sipil, dan media. “Tidak ada pemerintah yang mampu berjalan sendiri. Kita butuh kolaborasi bersama akademisi, swasta, masyarakat, dan media. Bersama-sama melalui kolaborasi pentahelix ini kita dapat mengubah krisis menjadi peluang dan tantangan menjadi inovasi,” terangnya.