Pecah Monopoli: Indonesia Penting Rangkul Kemitraan Otomotif dengan India
Oleh: Sachin V. Gopalan, CEO Indonesia Economic Forum katakabar.com - Perdebatan di Indonesia mengenai rencana pengadaan kendaraan komersial dari produsen India, Tata Motors dan Mahindra, telah picu reaksi kuat dari sebagian pelaku industri otomotif dalam negeri. Para kritikus berpendapat impor kendaraan dapat mengancam manufaktur lokal. Tetapi, pertanyaan yang lebih besar bagi Indonesia adalah apakah mempertahankan struktur industri otomotif saat ini benar-benar melayani kepentingan ekonomi jangka panjang negara. Selama lebih dari lima dekade, industri otomotif Indonesia didominasi oleh produsen Jepang seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Honda, Suzuki, dan Isuzu. Perusahaan-perusahaan ini beroperasi melalui usaha patungan dengan konglomerat Indonesia serta telah membangun jaringan perakitan, pemasok, dan distribusi yang luas. Meskipun ekosistem ini berkontribusi terhadap pertumbuhan industri, kondisi tersebut juga menciptakan pasar yang sangat terkonsentrasi, di mana tingkat persaingan terbatas dan harga kendaraan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar berkembang lainnya. Lantaran itu, masuknya kendaraan dari produsen India seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk menghadirkan persaingan dalam pasar yang selama ini didominasi oleh satu ekosistem industri. Perusahaan India, seperti Tata Motors dan Mahindra dikenal memproduksi kendaraan yang tangguh dan terjangkau, yang dirancang khusus untuk pasar negara berkembang. Filosofi rekayasa mereka menekankan pada daya tahan, kesederhanaan, dan efisiensi biaya. Kendaraan ini telah digunakan secara luas di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin, sering kali dalam kondisi lingkungan yang serupa dengan wilayah pedesaan di Indonesia. Biaya menjadi faktor penting dalam perdebatan saat ini. Kendaraan yang bersumber dari India diperkirakan memiliki harga sekitar Rp120 juta hingga Rp150 juta lebih murah per unit dibandingkan alternatif sejenis yang saat ini tersedia di Indonesia. Untuk program pemerintah berskala besar yang bertujuan memperkuat logistik pedesaan dan rantai pasok pertanian, penghematan ini dapat mencapai triliunan rupiah. Faktor penting lain yang sering terlewatkan dalam diskusi mengenai pengadaan ini berkaitan dengan kebutuhan operasional program Koperasi Merah Putih (KMP), yang bertujuan memperkuat koperasi tingkat desa serta meningkatkan jaringan distribusi pedesaan di seluruh Indonesia. Program ini membutuhkan ribuan kendaraan yang harus segera didistribusikan ke berbagai desa untuk mengangkut hasil pertanian, pupuk, dan barang kebutuhan pokok. Produsen dalam negeri belum mampu menyediakan jumlah kendaraan yang dibutuhkan dalam jangka waktu yang ketat untuk peluncuran program KMP. Oleh karena itu, impor kendaraan menjadi solusi pragmatis agar program dapat berjalan secara efisien tanpa penundaan. Di luar kebutuhan operasional KMP, perdebatan ini juga perlu dilihat dalam konteks hubungan ekonomi Indonesia–India yang lebih luas. Perdagangan bilateral antara kedua negara meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan kini telah melampaui sekitar US$30 miliar per tahun. Tetapi, struktur perdagangan tersebut masih sangat didominasi oleh komoditas mentah. Ekspor Indonesia ke India sebagian besar berupa batu bara dan minyak sawit, sementara India mengekspor barang manufaktur, produk farmasi, serta layanan teknologi. Kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan membutuhkan diversifikasi di luar komoditas. Tidak realistis maupun tidak diinginkan jika India hanya terus meningkatkan impor batu bara dan minyak sawit dari Indonesia. Perluasan kerjasama ke sektor seperti manufaktur otomotif, teknologi digital, peralatan industri, dan farmasi akan menciptakan hubungan ekonomi yang lebih seimbang. Peran India dalam sektor farmasi memberikan contoh yang relevan. Perusahaan farmasi India seperti Sun Pharma, Dr. Reddy's Laboratories, Cipla, Lupin, Hetero, dan Aurobindo Pharma termasuk produsen obat generik berkualitas terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan ini menyediakan pengobatan terjangkau untuk berbagai penyakit umum seperti diabetes, hipertensi, dan infeksi. Versi generik dari obat-obatan seperti metformin, atorvastatin, dan amlodipine telah secara signifikan menurunkan biaya pelayanan kesehatan di banyak negara berkembang. Secara global, perusahaan India memproduksi hampir 20 persen dari seluruh obat generik di dunia dan memasok sekitar 60 persen vaksin global. Kehadiran mereka menghadirkan persaingan dalam pasar farmasi, sehingga membantu memastikan obat-obatan penting tetap terjangkau dan mudah diakses. Manfaat serupa juga dapat muncul di sektor lain ketika persaingan diperluas. Indonesia dan India merupakan mitra strategis alami. Keduanya adalah demokrasi besar dan ekonomi berkembang utama di kawasan Indo-Pasifik. India telah menunjukkan kemampuan dalam mendemokratisasi akses terhadap teknologi, mulai dari obat-obatan yang terjangkau hingga sistem infrastruktur digital publik berskala besar. Filosofi yang sama juga terlihat dalam pendekatan rekayasa otomotif India. Dengan memprioritaskan keterjangkauan dan fungsionalitas, produsen India berhasil membuat transportasi lebih mudah diakses oleh pengusaha kecil, petani, dan operator logistik di berbagai negara berkembang. Bagi Indonesia, kerja sama dengan India di sektor seperti manufaktur otomotif dapat membantu memperkuat rantai pasok pedesaan, mendukung usaha mikro, serta memperluas akses terhadap teknologi yang terjangkau. Alih-alih memandang perdebatan ini sebagai pilihan antara impor atau industri domestik, para pembuat kebijakan seharusnya fokus pada pembangunan ekosistem otomotif yang lebih beragam dan kompetitif. Impor dapat memenuhi kebutuhan segera untuk program nasional seperti KMP, sementara kebijakan jangka panjang dapat mendorong produsen India untuk membangun fasilitas perakitan lokal serta menjalin kemitraan dengan perusahaan Indonesia. Pendekatan ini akan menggabungkan keunggulan biaya dari rekayasa otomotif India dengan penciptaan lapangan kerja domestik dan pengembangan jaringan pemasok lokal. Yang lebih penting, langkah ini akan mengurangi ketergantungan pada satu ekosistem industri saja dan mendorong lingkungan persaingan yang lebih sehat.
India Perluas Jejak Investasi di Jateng Fokus Ekonomi Hijau hingga Industri Medis
Semarang, katakabar.com - Hubungan ekonomi India dan Indonesia terus menunjukkan dinamika positif. Saat kunjungan kehormatan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng), Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan komitmen India untuk memperluas kerjasama investasi, khususnya di sektor ekonomi hijau, industri padat karya, serta layanan kesehatan dan tenaga medis profesional. Pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Kamis (19/2) kemarin, menjadi momentum penting untuk menjajaki peluang kolaborasi yang lebih strategis dan berjangka panjang. Dalam pernyataannya, Dubes Sandeep, menyampaikan apresiasi atas stabilitas dan iklim investasi di Jawa Tengah yang dinilai kondusif bagi pertumbuhan usaha. “Saya mengapresiasi iklim investasi di Jawa Tengah yang stabil, baik secara sosial maupun ekonomi. Perusahaan kami merasa sangat nyaman di Jawa Tengah, seperti di rumah sendiri,” ujarnya. Ia menilai kesamaan karakteristik antara India dan Indonesia, khususnya Jawa Tengah yang memiliki jumlah penduduk besar, menjadi potensi penting baik dari sisi pasar maupun tenaga kerja. Saat ini, realisasi investasi India di Jawa Tengah tercatat sekitar Rp646,52 miliar dan menempati peringkat ke 17 di antara investor asing di provinsi tersebut. Investasi tersebut tersebar di sektor tekstil, hotel dan restoran, perdagangan dan reparasi, industri kayu, serta sektor lainnya. Sementara, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan pemerintah daerah membuka ruang lebih luas bagi ekspansi investasi India, terutama di sektor yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dan keberlanjutan. “Ke depan kami menawarkan green economy, kemudian tenaga medis profesional dan rumah sakit, serta industri-industri padat karya terutama garmen,” kata Ahmad Luthfi lepas pertemuan. Ia menegaskan investasi memiliki peran krusial dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat sebesar 5,37 persen dengan angka kemiskinan turun menjadi 9,39 persen. “Investasi baru sangat dibutuhkan untuk menjaga tren pertumbuhan ini. Baik penanaman modal asing maupun dalam negeri sangat berperan dalam stabilitas ekonomi daerah,” tambahnya. Pemerintah Provinsi (Pemprov, Jawa Tengah juga berencana melakukan studi komparatif ke India guna memperkuat keyakinan investor terhadap daya saing dan keramahan investasi di wilayahnya. Ekspansi dan Rencana Investasi Baru Komitmen perluasan kerja sama juga diwujudkan melalui rencana groundbreaking salah satu perusahaan India di Jawa Tengah pada Agustus 2026 mendatang dengan nilai investasi sekitar 30 juta dolar AS. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi bilateral yang telah terjalin erat selama ini. India melihat Jawa Tengah sebagai salah satu simpul penting dalam memperluas jejaring industri dan rantai pasok di Indonesia. Dengan dialog yang semakin intensif antara pemerintah daerah dan dunia usaha India, kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperbesar arus investasi, tetapi juga memperkuat fondasi hubungan ekonomi India–Indonesia dalam jangka panjang.
India Rayakan Hari Republik ke 77 di Jakarta, Tegaskan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India di Jakarta gelsr perayaan Hari Republik India ke 77 di JW Marriott Hotel Jakarta, Selasa (27/1) malam. Acara ini jadi momentum penting bagi India untuk menegaskan kembali komitmennya terhadap nilai-nilai demokrasi sekaligus memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai sesama negara demokrasi besar dan kekuatan utama Global South. Perayaan tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi Indonesia, korps diplomatik, serta komunitas India di Indonesia, mencerminkan erat dan hangatnya hubungan bilateral kedua negara. Dalam sambutan pembuka, Duta Besar India untuk Republik Indonesia, Sandeep Chakravorty, menekankan bahwa Hari Republik India bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan refleksi atas nilai-nilai dasar yang membentuk perjalanan India sebagai sebuah bangsa. “Peringatan ini mengajak kita mengenang pengesahan Konstitusi India, sekaligus menegaskan kembali komitmen abadi kami terhadap demokrasi, kebebasan, dan supremasi hukum,” ujar Duta Besar Sandeep Chakravorty. Ia mengingatkan kembali sejarah kedekatan India dan Indonesia sejak awal kemerdekaan, termasuk peran Presiden Soekarno sebagai Tamu Kehormatan pada perayaan Hari Republik India pertama pada tahun 1950. Menurutnya, Konstitusi India dirancang sebagai dokumen hidup yang mampu mempersatukan bangsa dalam masa damai maupun masa sulit, serta menjadi landasan bagi kebijakan luar negeri India yang berbasis persahabatan dan saling menghormati. Tahun Penting bagi Hubungan India–Indonesia Duta Besar Sandeep menyoroti tahun 2025 merupakan periode yang sangat bersejarah bagi hubungan bilateral India–Indonesia. Kunjungan kenegaraan Presiden RI, H Prabowo Subianto ke India dan partisipasi perdana kontingen TNI dalam Parade Hari Republik India menjadi simbol kuat kemitraan yang kian erat. “Partisipasi 352 personel TNI, termasuk pasukan defile dan marching band, dalam Parade Hari Republik India untuk pertama kalinya mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat India,” jelasnya. Ia juga menyinggung bergabungnya Indonesia ke dalam forum BRICS, yang menurut India menambah dimensi baru dalam hubungan kedua negara. India menyatakan kesiapan untuk menyambut kehadiran Presiden Prabowo dalam KTT BRICS mendatang. Kerja Sama Ekonomi, Pertahanan, dan Global South Di bidang ekonomi, India menilai Indonesia sebagai mitra strategis utama di kawasan. Nilai perdagangan bilateral kedua negara hampir mencapai 30 miliar dolar AS pada 2025, dengan Indonesia menjadi mitra dagang terbesar kedelapan India dan India sebagai salah satu tujuan ekspor utama Indonesia. “Sebagai negara demokrasi terbesar dan ketiga terbesar di dunia, serta sesama pemimpin Global South, India dan Indonesia memiliki potensi besar untuk saling melengkapi dan memperkuat kisah pertumbuhan masing-masing,” tegas Duta Besar Sandeep. Selain ekonomi, kerja sama pertahanan, konektivitas, teknologi digital, energi terbarukan, hingga kecerdasan buatan juga terus mengalami penguatan. India turut menyampaikan apresiasi atas peran aktif Indonesia dalam berbagai forum global, termasuk kerja sama AI dan inisiatif maritim. AHY: India dan Indonesia Memilih Berjalan Bersama Hadir sebagai tamu kehormatan, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah dan rakyat India atas peringatan Hari Republik ke-77. “Malam ini kita tidak hanya merayakan sebuah konstitusi dan bendera, tetapi sebuah gagasan hidup bahwa bangsa yang besar dan beragam dapat memilih demokrasi, menjunjung pluralisme, dan melangkah maju dengan penuh keyakinan,” ucap AHY. AHY menekankan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, hubungan Indonesia–India memiliki arti strategis yang semakin besar. “Di dunia yang terasa semakin terpecah, Indonesia dan India memilih untuk berjalan bersama. Kita berbagi tanggung jawab sebagai negara demokrasi dan negara maritim besar untuk menjaga kawasan tetap terbuka, stabil, dan sejahtera,” tuturnya. Ia juga menyatakan kesiapan Indonesia untuk memperdalam kerja sama dengan India, khususnya di bidang infrastruktur, logistik, energi bersih, manufaktur, dan inovasi digital. Perayaan Hari Republik India ke 77 ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional Indonesia, antara lain Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, Menteri PPN, Rachmat Pambudy, Kepala BRIN, Arif Satria, Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, Wakil Menteri Kemenimipas, Silmy Karim, Wakil Menteri Kemenpar, Ni Luh Enik Ermawati, Wakil Menteri Kemenham, Mugiyanto, serta Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria. Hadir pula Duta Besar India untuk ASEAN, Srinivas Gotru bersama anggota korps diplomatik. Mitra Selamanya Menutup sambutannya, Sandeep Chakraborty, menegaskan bahwa India memandang Indonesia sebagai mitra yang tangguh dan sejalan dalam visi menciptakan dunia yang lebih inklusif dan adil. “Dalam visi ini, kami melihat Indonesia sebagai mitra yang kuat dan tangguh. India dan Indonesia adalah mitra selamanya,” ujarnya.
Kedubes India Dorong Kolaborasi AI Inklusif India–Indonesia Lewat AI Pre-Summit 2026
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India di Jakarta, bekerja sama dengan MicroSave Consulting (MSC), India Indonesia Chamber of Commerce (IndCham), serta Women Entrepreneurship Platform (WEP) di bawah NITI Aayog, gelar acara resmi Pra-KTT AI Impact Summit 2026 bertajuk People, Planet, Progress: Dialog India–Indonesia tentang AI Inklusif di Le Meridien Jakarta, Rabu (21/1) lalu. Forum ini mempertemukan pejabat pemerintah senior, pemimpin industri, mitra pembangunan global, serta pakar teknologi dari India dan Indonesia untuk memperdalam kerja sama dalam pengembangan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, berpusat pada manusia, dan berlandaskan tata kelola etis. Duta Besar India untuk Indonesia menegaskan peran strategis kecerdasan buatan dalam mendorong kemaslahatan sosial dan pembangunan berkelanjutan. “Kecerdasan buatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan. Tantangan kita bersama adalah memastikan bahwa AI benar-benar melayani masyarakat,” ujar Duta Besar India. Indonesia dan India saat ini bekerja sama erat, termasuk melalui peran Indonesia sebagai negara ketua bersama dalam kelompok kerja AI untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kemaslahatan Sosial. Dialog di Jakarta ini menjadi pondasi penting menuju AI Impact Summit 2026 yang akan diselenggarakan di New Delhi pada 19 hingga 20 Februari 2026 di bawah koordinasi Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi), Nezar Patria, menyoroti besarnya peluang yang muncul dari pertumbuhan ekonomi digital kedua negara. “Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 330 miliar dolar AS pada 2030, sementara ekonomi digital India berada pada jalur menuju 1 triliun dolar AS. Pertumbuhan paralel ini membuka peluang strategis untuk memanfaatkan AI dalam menjawab tantangan publik, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya penguatan komitmen terhadap konsep Sovereign AI di tengah dinamika geopolitik global. “Kemampuan negara untuk membangun, mengatur, dan menerapkan AI dengan memanfaatkan data, talenta, dan infrastrukturnya sendiri merupakan kunci dalam menjaga kedaulatan digital,” tambahnya. Diskusi juga menyoroti pentingnya pendekatan menyeluruh terhadap pengembangan AI, termasuk aspek perangkat keras dan rantai pasok semikonduktor. “Indonesia dengan kekayaan sumber daya mineralnya, dan India dengan misi semikonduktornya yang ambisius, berada pada posisi yang unik untuk membangun rantai pasok teknologi yang terintegrasi dan tangguh,” kata Nezar. Ia menegaskan kolaborasi ini penting agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen dan inovator teknologi dasar abad ke 21. AI Impact Summit 2026 Fokus Dampak Nyata Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan AI Impact Summit 2026 di India akan menempatkan dampak nyata sebagai fokus utama. “Forum ini tidak hanya akan membahas bagaimana memanfaatkan AI, tetapi bagaimana AI dapat secara konkret meningkatkan kualitas hidup dan menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi. Tantangan terbesar pengembangan AI saat ini adalah memastikan inklusivitas,” ucapnya. Ia menambahkan posisi India sebagai representasi Global South memungkinkan terjadinya pembelajaran multidimensi antarnegara, termasuk dari pengalaman Indonesia. President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan pentingnya kolaborasi lintas industri dalam menerjemahkan visi kebijakan AI menjadi dampak ekonomi yang nyata. “Interoperabilitas sistem AI, kemitraan bisnis India dan Indonesia, serta penguatan ekosistem startup dan UMKM merupakan fondasi agar AI tidak berhenti pada inovasi teknologi, tetapi benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing,” tuturnya. Sementara, Programme Director dan Mission Director Women Entrepreneurship Platform, Anna Roy, menyoroti komitmen India mendorong inovasi AI yang dipimpin oleh perempuan. “Ekosistem AI yang inklusif harus menjamin akses yang setara terhadap keterampilan, perangkat, dan peluang bagi perempuan serta inovator muda di kawasan,” jelasnya. Acara ini juga menghadirkan diskusi panel strategis yang melibatkan pembuat kebijakan, sektor swasta, lembaga filantropi, dan organisasi pembangunan multilateral. Panel membahas penguatan kerja sama Selatan–Selatan, interoperabilitas data, digital public goods, serta peran AI dalam pemberdayaan tenaga kerja dan UMKM. Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Kementerian PPN Bappenas, Andianto Haryoko, menegaskan AI dan transformasi digital merupakan pilar penting pembangunan jangka menengah dan panjang Indonesia. “AI harus mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat layanan publik, dengan memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, pekerja informal, dan UMKM,” tukasnya. Acara ditutup dengan sambutan penutup dari Grace Retnowati, Partner dan Country Head MSC Southeast Asia, yang menegaskan komitmen MSC dalam mendorong pengembangan AI yang berpusat pada manusia di kawasan Asia Tenggara. “Nilai sejati AI terletak pada kemampuannya menjunjung martabat manusia, memperluas kesempatan, dan memberdayakan komunitas. Kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan industri untuk memastikan sistem AI dirancang secara bertanggung jawab dan dapat diakses secara luas,” terangnya. Melalui AI Pre-Summit 2026 ini, India dan Indonesia menegaskan kembali komitmen bersama untuk membangun ekosistem kecerdasan buatan yang inklusif, etis, dan berdampak nyata, sejalan dengan aspirasi negara-negara Global South dan prinsip people, planet, dan progress.
India dan Global South: Perkuat Kemitraan Demi Masa Depan Bersama
Jakarta, katakabar.com - India terus tegaskan komitmen sebagai mitra utama negara-negara Global South melalui pendekatan yang berlandaskan solidaritas historis, kerja sama konkret, serta visi bersama untuk pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Hubungan India dengan Global South berakar pada pengalaman sejarah yang sama, perjuangan kolektif melawan kolonialisme, serta aspirasi bersama untuk kemandirian dan keadilan global. Seiring waktu, peran India berkembang dari kepemimpinan dalam Gerakan Non-Blok menjadi salah satu penggerak utama kerja sama Selatan–Selatan di era kontemporer. Kemitraan India dengan Global South mencapai momentum baru di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi dengan diselenggarakannya Voice of the Global South Summit (VOGSS) pertama pada 12 hingga 13 Januari 2023 lalu, tidak lama setelah India mengambil alih Presidensi G20. Keberhasilan KTT ini mendorong penyelenggaraan dua KTT lanjutan pada tahun yang sama dan pada tahun 2024. Melalui VOGSS, India secara konsisten mengangkat kepentingan, prioritas, dan tantangan Global South ke dalam berbagai forum internasional. Komitmen ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi diwujudkan melalui berbagai bentuk dukungan nyata yang berdampak langsung bagi negara-negara mitra. India memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, fondasi demokrasi yang kuat, serta posisi geopolitik strategisnya untuk memperjuangkan tata kelola global yang lebih adil dan representatif. Program Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) menjadi salah satu pilar utama kontribusi India, dengan menyediakan pelatihan, pengembangan kapasitas, dan bantuan teknis kepada lebih dari 160 negara. Program ini mencakup sektor-sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan teknologi informasi, yang berkontribusi langsung pada pembangunan sumber daya manusia di Global South. Filosofi Vasudhaiva Kutumbakam, Dunia adalah Satu Keluarga, telah menjadi landasan kebijakan luar negeri India selama lebih dari satu dekade. Prinsip ini mencapai perwujudan nyata selama Kepemimpinan India di G20 tahun 2023 melalui moto “One Earth, One Family, One Future.” India memastikan seluruh keputusan dan kesepakatan G20 mencerminkan semangat inklusivitas, keberlanjutan, serta kepentingan negara-negara berkembang. Salah satu pencapaian diplomatik utama India selama Presidensi G20 adalah diterimanya Uni Afrika sebagai anggota penuh G20, yang mewakili 54 negara Afrika. Langkah bersejarah ini mencerminkan komitmen nyata India dalam memperkuat suara Global South dalam tata kelola global. Seiring meningkatnya kapasitas ekonominya, India juga memainkan peran penting sebagai mitra yang andal dalam situasi krisis. Selama pandemi Covid 19, India menyalurkan obat-obatan ke lebih dari 150 negara serta menyediakan lebih dari 300 juta dosis vaksin kepada lebih dari 100 negara melalui inisiatif Vaccine Maitri. India juga memberikan bantuan keuangan dan kemanusiaan kepada Sri Lanka, Afghanistan, Maladewa, dan negara-negara lainnya, serta secara konsisten bertindak sebagai first responder dalam situasi bencana alam. Empat Pilar Utama Keterlibatan India dengan Global South 1. Infrastruktur Publik Digital India mendorong perluasan solusi digital seperti Unified Payments Interface (UPI) ke berbagai negara Global South serta mendukung pembangunan sistem identitas dan pembayaran digital melalui Dana Dampak Sosial. 2. Kepemimpinan Kesehatan dan Farmasi Sebagai “Apotek Dunia”, India menyediakan obat generik berkualitas tinggi dan terjangkau, sekaligus membangun kapasitas regulasi farmasi di negara-negara mitra. 3. Global Development Compact Diusulkan pada akhir 2024, inisiatif ini menekankan perdagangan untuk pembangunan dan pembiayaan konsesional berbasis hibah, sebagai alternatif pembiayaan yang berkelanjutan. 4. Keadilan Iklim dan Transisi Energi India mempromosikan prinsip tanggung jawab bersama namun dibedakan, memperkuat International Solar Alliance, serta mendorong Mission LiFE untuk gaya hidup berkelanjutan. Keterlibatan proaktif India dengan Global South menegaskan komitmennya terhadap tatanan dunia multipolar yang lebih adil dan inklusif. Sebagai pemimpin sekaligus mitra, India akan terus bekerja bersama negara-negara Global South untuk menghadapi tantangan global dan memanfaatkan peluang abad ke 21.
Kedutaan Besar India Tegaskan Komitmen Perluasan Kerja Sama Strategis dengan Sumsel
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India untuk Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperluas kerja sama strategis dengan pemerintah daerah di Indonesia melalui dialog langsung dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Komitmen tersebut tercermin dalam kunjungan kehormatan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, didampingi Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, kepada Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru di Griya Agung, Palembang, Rabu (14/1) kemarin. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan konstruktif, menjadi platform penting untuk memperdalam pemahaman bersama, serta menjajaki peluang kerja sama konkret yang berorientasi pada manfaat jangka panjang. Diskusi mencakup sektor pertambangan batu bara, penguatan komoditas ekspor unggulan Sumatera Selatan, serta pengembangan kerja sama di bidang pendidikan dan pertukaran pemuda. Gubernur Sumatera Selatan, H Herman Deru, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan ketertarikan India terhadap potensi daerah, serta menegaskan kesiapan Sumatera Selatan untuk bermitra secara aktif. “Sumatera Selatan memiliki sumber daya alam yang kuat dan terus mendorong peningkatan nilai tambah komoditas ekspor. Kami memandang kerja sama dengan India sebagai peluang strategis, termasuk melalui pertukaran pemuda untuk mempererat hubungan budaya dan memperluas wawasan generasi muda,” ujar Herman Deru. Duta Besar Sandeep Chakravorty menyambut positif pandangan tersebut dan menegaskan bahwa India melihat Sumatera Selatan sebagai mitra penting dalam penguatan hubungan bilateral di tingkat daerah. “India memandang Sumatera Selatan sebagai provinsi dengan potensi besar, baik dalam hal sumber daya alam maupun kapasitas sumber daya manusia. Kami ingin membangun kemitraan yang konkret, saling menguntungkan, dan berkelanjutan, sejalan dengan eratnya hubungan India dan Indonesia,” timpal Dubes Chakravorty. Pada konteks pengembangan sumber daya manusia, Kedutaan Besar India juga menegaskan keterbukaan terhadap partisipasi pemuda Sumatera Selatan dalam program pertukaran dan peluang beasiswa pendidikan tinggi di India, dengan mekanisme seleksi yang akan disepakati bersama. “Investasi terbaik adalah investasi pada generasi muda. Melalui pertukaran dan pendidikan, kami berharap dapat memperkuat hubungan antar masyarakat yang menjadi fondasi utama kemitraan jangka panjang kedua negara,” tambahnya. Kedutaan Besar India memandang pertemuan ini sebagai langkah signifikan dalam memperdalam kerja sama antara India dan Indonesia di tingkat subnasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi baru yang lebih terstruktur dan berdampak. Pertemuan turut dihadiri oleh para kepala OPD dan pejabat terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Perkuat Kerja Sama Pertahanan, Kepala Staf Pertahanan India Kunjungan Resmi ke Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Kepala Staf Pertahanan India (Chief of Defence Staff/CDS), Jenderal Anil Chauhan, tiba di Indonesia pada Minggu (26/10) untuk memulai kunjungan resmi selama enam hari, dari 26 hingga 31 Oktober 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan memperdalam kemitraan strategis antara India dan Indonesia sebagai dua negara Mitra Strategis Komprehensif di kawasan Indo-Pasifik. Selama kunjungan, Jenderal Chauhan dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin serta Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Agus Subiyanto. Selain itu, ia juga akan bertemu dengan para Kepala Staf TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara untuk membahas peluang peningkatan kerja sama di bidang pertahanan, keamanan maritim, dan pembangunan kapasitas militer. Sebagai bagian dari agenda, Jenderal Chauhan akan mengunjungi Bandung dan Surabaya untuk meninjau sejumlah industri pertahanan dan galangan kapal utama di kedua kota tersebut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperluas kolaborasi di sektor industri pertahanan, produksi bersama, serta pengembangan teknologi antara India dan Indonesia. Selain pertemuan resmi, Jenderal Chauhan melakukan diskusi strategis dengan para eksekutif perusahaan pertahanan Indonesia serta berinteraksi dengan lembaga kajian pertahanan dan keamanan (think tank) guna memperdalam dialog kebijakan dan memperkuat hubungan kelembagaan antara kedua negara. Menurut pernyataan resmi, kunjungan ini menunjukkan peningkatan hubungan pertahanan antara India dan Indonesia serta menjadi tindak lanjut atas hasil-hasil kerja sama pertahanan yang disepakati dalam kunjungan kenegaraan Presiden RI, H Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025. Sebagai dua negara maritim yang memiliki posisi strategis di Indo-Pasifik, India dan Indonesia terus memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas kawasan, keamanan maritim, dan perdamaian regional.
Kedutaan Besar India di Jakarta Rayakan Diwali Bersama Komunitas Indo-Indians
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India di Jakarta bersama komunitas Indo-Indians gelar Indo-Indian Diwali Bazaar 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (5/10) lalu. Perayaan tahun ini menjadi istimewa karena sekaligus menandai 25 tahun berdirinya Indo-Indians, komunitas yang selama seperempat abad telah menjadi penghubung antara masyarakat India dan Indonesia dalam bidang budaya, bisnis, dan persahabatan masyarakat. Acara dibuka dengan sambutan dari Poonam Sagar, pendiri Indo-Indians sekaligus Ketua Indonesia India Business Forum (IIBF), yang menyampaikan apresiasinya kepada Kedutaan Besar India atas dukungan berkelanjutan terhadap kegiatan komunitas. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan Kedutaan Besar India. Kolaborasi ini terus tumbuh dan memperkuat hubungan antara diaspora India di Indonesia dan masyarakat lokal,” ujar Poonam. Perayaan dilanjutkan dengan prosesi penyalaan lampu Diya, simbol kemenangan cahaya atas kegelapan. Prosesi ini dilakukan Srinivas Gotru, Duta Besar India untuk ASEAN, Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Poonam Sagar; dan Rajat Sagar, Direktur Utama PT Infotech Solutions. Momen ini menandakan dimulainya rangkaian perayaan Diwali Bazaar 2025 secara resmi. Bijay Selvaraj menyampaikan rasa bahagia atas antusiasme masyarakat dalam merayakan Diwali di Indonesia, sekaligus menegaskan nilai-nilai universal yang terkandung dalam festival cahaya tersebut. “Melihat warga India dan Indonesia berdiri berdampingan dalam perayaan ini adalah bukti nyata persahabatan yang tulus di antara kedua bangsa,” ujar Bijay. “Seperti cahaya Diwali yang mengusir kegelapan, kerja sama kita membawa terang bagi masa depan hubungan India–Indonesia,” ucapnya. Bijay berikan penghargaan kepada Giring Ganesha, yang dikenal memiliki minat mendalam terhadap filsafat India serta budaya dan sinema Bollywood. “Kami sangat menghargai pemahaman Bapak Giring terhadap nilai-nilai India. Ini menunjukkan bagaimana budaya dapat menyatukan dua bangsa melalui seni dan inspirasi,” ujarnya. Pesan Persahabatan dari Pemerintah Indonesia Giring Ganesha menyoroti kesamaan nilai antara filosofi Diwali dan kearifan lokal Tri Hita Karana dari Bali, yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Ia menegaskan pentingnya kerja sama budaya antara kedua negara yang kini diperkuat melalui program pertukaran budaya 2025–2028 antara Kementerian Kebudayaan Indonesia dan India, termasuk kolaborasi dalam pelestarian Candi Prambanan. “Kerja sama ini mencerminkan kepercayaan dan visi bersama untuk memperkuat hubungan budaya kedua negara,” ujarnya. Selain seremoni resmi, Diwali Bazaar 2025 menghadirkan suasana meriah dengan berbagai stan yang menampilkan kuliner khas India dan Indonesia, busana dan perhiasan tradisional, produk seni dan dekorasi rumah, serta pameran budaya dan wellness. Rangkaian acara turut dimeriahkan dengan penampilan musik dan tari tradisional India, yang disambut meriah oleh para pengunjung. Festival ini menjadi wadah pertemuan lintas budaya yang menggambarkan keakraban antara dua masyarakat yang terhubung oleh sejarah, seni, dan nilai spiritual bersama. Puncak acara, dilakukan pemotongan kue peringatan 25 tahun Indo-Indians, yang menjadi simbol perjalanan komunitas dalam memupuk persahabatan lintas bangsa dan generasi.
Lewat AIFTA Kurangi Bea Masuk, Keran Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India Meningkat
Jakarta, katakabar.com - Keran ekspor minyak sawit Indonesia ke India bisa meningkatnlewat ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) berlaku dari 1 Januari 2010 lalu. Indonesa-India Preferential Trade Agreement (PTA) dari 2021 sedang berlangsung hingga saat ini diharapkan bakal lebih meningkatkan ekspor. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Wijayanto menuturkan, lewat AIFTA, negara-negara ASEAN dan India sepakat menghilangkan, dan mengurangi bea masuk 74,6 persen barang yang diperdagangkan. "Saat ini sedang proses review. Di mana nilai ekspor dengan menggunakan Certificate of Origin menggunakan AIFTA tahun 2021 USD13,34 juta CPO USD10,76 juta; 2022 ekspor USD23,37 juta CPO USD19,11; 2023 ekspor USD20,29 juta CPO USD19,54 juta; 2024 ekspor USD20,34 juta CPO USD16,22 juta. Sekitar 79,76 persen ekspor Indonesia ke India, termasuk minyak sawit menggunakan mekanisme AIFTA," ujar Wijayanto, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Ahad (5/10). Diketahui, India importir minyak sawit terbesar dunia, kemudian China, Pakistan, Amerika Serikat dan Bangladesh. Impor minyak sawit India tahun 2020 7,2 juta ton, 2021 8,17 juta ton, 2022 9,17 juta ton, 2023 9,35 juta ton, 2024 8,62 juta ton. Dari tahun 2020-2024 ekspor minyak sawit India bertumbuh 5,06 persen sedang dunia -2,15 persen. Impor minyak sawit India tahun 2024 sebesar 8,62 juta setara 20 persen dari produksi minyak sawit dunia. Ekspor itu 50 persen berasal dari Indonesia, 31 persen Malaysia, 8 persen Thailand, 7 persen Singapura, 2 persen dari PNG, dan 2 persen dari negara-negara lain. Sebagai importir minyak sawit, India adalah eksportir produk turunan sawit, paling besar ke UEA yang pada tahun 2024 ekspornya 1,77 juta ton, Malaysia 410.000 ton, Amerika Serikat 320.000 ton, Bangladesh 260.000 ton, Korea Selatan 210.000 ton. Sepanjang 2020-2024 ekspor produk turunan sawit India tumbuh 14,51 persen mencapai 4,53 juta ton tahun 2024. Paling significant adalah ke UEA yang tumbuh 59,42 persen. Produk turunan sawit India adalah biofuel, POME/Palm Acid Oil, Fatty Alcohol Derivatif/bioplastk/bio fine chemical. Minyak sawit Indonesia mampu memenuhi kebutuhan domestik India dan mendukung ekspor produk turunannya.
India dan EFTA Resmikan TEPA: Babak Baru Kerja Sama Perdagangan dan Investasi
kedua belah pihak. Pertemuan bisnis ini dianggap penting untuk mempercepat kerja sama konkret, termasuk di bidang teknologi bersih, manufaktur bernilai tambah, dan digitalisasi layanan. Dengan berlakunya TEPA, India menegaskan posisinya sebagai ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia, sekaligus memperkuat ambisi menjadi ekonomi terbesar ketiga secara global. Di sisi lain, negara-negara EFTA yang dikenal sebagai pemimpin perdagangan barang dan jasa melihat India sebagai mitra strategis jangka panjang.