BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial Nusantara
Nusantara
3 jam yang lalu

BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), BLU Kementerian Keuangan telah menggelar Webinar sebagai panduan pendaftaran proposal pendanaan penelitian melalui program Grant Riset BPDP 2026 Transformasi lembaga saat ini meliputi pengelolaan dana untuk komoditas Kelapa Sawit, Kakao, dan Kelapa ini menjadi tonggak baru memperkuat kedaulatan sektor perkebunan nasional melalui inovasi dan teknologi. Program ini dirancang untuk memastikan riset tidak hanya berhenti di meja laboratorium, tetapi mampu memberikan solusi aplikatif bagi tantangan industri dan meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh penjuru Indonesia. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan perluasan mandat lembaga tahun ini membawa semangat inklusivitas yang lebih besar. Menurutnya, BPDP memberikan ruang seluas-luasnya bagi para peneliti untuk mengeksplorasi potensi di tiga komoditas utama tanpa ada pembatasan jumlah riset yang kaku di tiap kategorinya. "Tahun ini, kami akan melihat riset-riset yang berdampak bagi kakao, kelapa, dan sawit. Kami tidak akan membatasi atau menentukan jumlahnya masing-masing secara spesifik. Paling penting bagi kita agar hasil dari riset kita menjadi maksimal pemanfaatannya menuju komersialisasi," jelasnya. Ia menambahkan keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata oleh para pemangku kepentingan guna meningkatkan nilai tambah produk perkebunan Indonesia di pasar global. Sejalan dengan visi tersebut, salah satu Komite Penelitian dan Pengembangan BPDP, Dr. Tony Liwang, menekankan pentingnya kualitas luaran (output) dari setiap proposal yang diajukan. Tony merinci standar ketat yang menjadi acuan penilaian agar dana yang disalurkan dapat tepat sasaran pada riset yang memiliki daya guna tinggi. "Output yang diharapkan adalah replicable sehingga siapa saja dapat menggunakan dan masyarakat dapat mengaplikasikannya. Tolong perhatikan daftar periksa agar tidak ada yang terlewatkan, seperti apakah riset sudah jelas, memiliki relevansi yang kuat, inovatif, berdampak, dan apakah nilai komersialisasinya bernilai tinggi?" tegas Dr. Tony Liwang. Riset yang replikabel dinilai menjadi kunci utama agar inovasi yang dihasilkan dapat segera diserap oleh industri kecil maupun menengah (UKM) perkebunan di berbagai wilayah. Motivasi Untuk Peneliti Nasional Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, memberikan pesan penyemangat bagi para akademisi dan praktisi riset di seluruh Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa proses seleksi ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menajamkan kualitas keilmuan nasional. "Kami berharap Bapak dan Ibu tidak berkecil hati jika nantinya belum berhasil lolos. Tetapi, kami harapkan hasil ini menjadi momentum untuk semakin mempertajam fokus penelitiannya ke depan," ujar Rahmat Widiana. Rahmat juga menekankan BPDP berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam seluruh proses seleksi guna melahirkan inovasi unggulan yang dapat membanggakan Indonesia. Diketahui Pendaftaran proposal dilakukan sepenuhnya secara daring melalui portal resmi https://program-riset.bpdp.or.id/. Untuk batas akhir penyampaian usulan penelitian ditetapkan pada tanggal 30 Juni 2026 mendatang. Para peneliti diwajibkan menyusun proposal inti secara ringkas dan sistematis dengan batas maksimal 20 halaman, mengacu pada peta jalan (roadmap) penelitian yang telah ditetapkan. Melalui sinergi antara akademisi dan dukungan pendanaan dari BPDP, sektor perkebunan diharapkan mampu menjadi pilar utama ekonomi hijau Indonesia di masa depan.

PTPN III Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Lewat Ekspansi dan Hilirisasi Ubi Kayu Nusantara
Nusantara
Rabu, 22 April 2026 | 13:00 WIB

PTPN III Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Lewat Ekspansi dan Hilirisasi Ubi Kayu

Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus perkuat perannya sebagai BUMN strategis dukung agenda pemerintah yaitu program ketahanan pangan dan energi nasional. Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan adalah pelaksanaan program pengembangan dan hilirisasi komoditas ubi kayu. Program ini dirancang sebagai model pengembangan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada sisi on farm, PTPN III (Persero) akan fokus pada optimalisasi lahan, penanaman dan peningkatan produktivitas, serta pengembangan varietas unggul ubi kayu yang adaptif dan memiliki produktivitas tinggi. Sedang di sisi off farm, penguatan hilirisasi dilakukan melalui pengembangan industri pengolahan bioetanol melalui kolaborasi operasional dengan mitra pada fasilitas pabrik bioetanol di Lampung. Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, di acara kick off program hilirisasi di Kantor Holding Jakarta, mengatakan program ini langkah strategis perusahaan membangun ekosistem agroindustri masa depan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan. Menurutnya, ubi kayu bukan hanya komoditas pertanian, tetapi memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang kebutuhan nasional di sektor pangan dan energi. “Kami melihat ubi kayu sebagai komoditas strategis dengan potensi besar untuk pendukung ketahanan energi dan pangan nasional. Lantaran itu, pengembangannya tidak cukup hanya berhenti pada budidaya, tetapi harus dibangun secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kami mau pastikan peningkatan produksi di tingkat kebun berjalan seiring dengan kesiapan industri pengolahan, sehingga tercipta rantai nilai yang kuat, efisien dan berkelanjutan," jelasnya. Sebagai bentuk komitmen perusahaan, pada 14 hingga 15 April 2026 lalu, Direktur Utama PTPN III (Persero) bersama jajaran terkait, melakukan rangkaian pertemuan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan di Provinsi Lampung untuk memastikan implementasi. Pertemuan tersebut melibatkan Gubernur Lampung, masyarakat petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani ubi Kayu Indonesia (PPUKI), serta mitra operasional PT Medco Ethanol Lampung hingga kalangan akademisi di Universitas Lampung. Sinergi dengan Pemerintah Provinsi Lampung diarahkan untuk memperkuat dukungan kebijakan daerah, percepatan ekosistem investasi, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Sementara dialog dengan pelaku usaha dan asosiasi petani diharapkan memperkuat rantai pasok bahan baku serta menciptakan pola kemitraan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan petani. Di bidang riset dan inovasi, kerja sama dengan Universitas Lampung yang akan didampingi oleh PT Riset Perkebunan Nusantara menjadi bagian penting pengembangan varietas unggul serta penerapan teknologi budidaya modern, termasuk uji coba teknik peningkatan produktivitas dengan metode Mukibat. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan. Pengembangan pabrik bioetanol di Lampung juga diproyeksikan memberikan multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, tumbuhnya ekonomi wilayah, meningkatnya nilai tambah hasil pertanian, hingga terbentuknya ekosistem industri hijau berbasis sumber daya lokal. Melalui program ini, PTPN III (Persero) menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pembangunan sektor agroindustri nasional, menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus mendukung target besar Indonesia mewujudkan ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan sesuai dengan Astacita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Perkuat Sinergi Strategis: KS Akselerasi Hilirisasi dan Jaga Kedaulatan Baja Nasional Nasional
Nasional
Jumat, 17 April 2026 | 15:10 WIB

Perkuat Sinergi Strategis: KS Akselerasi Hilirisasi dan Jaga Kedaulatan Baja Nasional

Cilegon, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau Krakatau Steel Group (KRAS) pertegas perannya sebagai tulang punggung industri baja nasional melalui penguatan sinergi strategis dengan pemerintah. Hal ini ditandai dengan kunjungan lapangan Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) ke fasilitas operasional Krakatau Steel Group di Cilegon, Selasa (14/4) lalu. Kunjungan kerja ini dilakukan sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya guna meninjau secara langsung progres fasilitas produksi di Pabrik Hot Strip Mill (HSM), Cold Rolling Mill (CRM), serta operasional PT Krakatau Bandar Samudera/Krakatau International Port. Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., menyampaikan kegiatan ini tindak lanjut koordinasi strategis antara pemerintah dan Krakatau Steel dalam memastikan kesiapan industri baja nasional mendukung agenda hilirisasi yang diarahkan Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto. “Kami melihat Krakatau Steel memiliki peran penting dalam mendukung penguatan industri nasional melalui hilirisasi. Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, kami optimistis pengembangan industri baja ke depan akan semakin kuat dan terintegrasi,” ujarnya. Selain potensi pengembangan, DPN menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri baja nasional akibat tekanan produk impor murah yang terindikasi dumping. Kondisi ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Lantaran itu, Dr. Yayat, menekankan perlunya dukungan nyata dari sisi regulasi. “Diperlukan keberpihakan kebijakan, termasuk penguatan instrumen anti-dumping serta dukungan penuh terhadap penggunaan produk dalam negeri agar industri baja kita tetap berdaya saing,” jelasnya. Krakatau Steel Siap Akselerasi Transformasi Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, menegaskan kesiapan Perseroan dalam mendukung hilirisasi melalui penguatan operasional dan integrasi bisnis. “Kami terus meningkatkan kinerja produksi sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu untuk menciptakan rantai industri baja yang lebih terintegrasi dan berdaya saing,” jelas Sidik," terangny. Ia menambahkan langkah strategis ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita untuk mendorong kemandirian industri berbasis sumber daya domestik," terangnya. Krakatau Steel di bawah pimpinan Direktur Utama, Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman IISIA dan ALFI/ILFA menyatakan optimistis dalam sinergi dengan pemerintah akan memperkuat posisi perseroan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Dukungan Negara untuk Integrasi Hulu–Hilir Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., ucapkan apresiasinya dan menyebut Krakatau Steel sebagai kebanggaan industri nasional. Ia menegaskan peran strategis Perseroan dalam mendukung agenda hilirisasi nasional yang diarahkan Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto. “Kami melihat potensi besar Krakatau Steel untuk berkembang lebih jauh melalui penguatan lini hulu, termasuk pengolahan bijih besi dan nikel menjadi produk hilir bernilai tambah seperti stainless steel,” ulas Dr. Yayat Selain potensi pengembangan, DPN menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri baja nasional akibat tekanan produk impor murah yang terindikasi dumping. Kondisi ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Oleh karena itu, Dr. Yayat menekankan perlunya dukungan nyata dari sisi regulasi. “Diperlukan keberpihakan kebijakan, termasuk penguatan instrumen anti-dumping serta dukungan penuh terhadap penggunaan produk dalam negeri agar industri baja kita tetap berdaya saing,” bebernya. Krakatau Steel Siap Akselerasi Transformasi Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, menegaskan kesiapan Perseroan dalam mendukung hilirisasi melalui penguatan operasional dan integrasi bisnis. “Kami terus meningkatkan kinerja produksi sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu untuk menciptakan rantai industri baja yang lebih terintegrasi dan berdaya saing,” jelas Sidik. Langkah strategis ini, imbuhnya, sejalan dengan visi besar Presiden RI, H Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita untuk mendorong kemandirian industri berbasis sumber daya domestik.

Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram Nasional
Nasional
Rabu, 15 April 2026 | 09:59 WIB

Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram

Maluku, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), subholding Perkebunan Nusantara, percepat program hilirisasi kelapa melalui rencana tanam ulang (replanting) di Kebun Awaya, PTPN I Regional 8, Pulau Seram, Maluku. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, saat kunjungan kerja ke Kebun Awaya, di pekan pertama April 2026 lalu, sekaligus mendorong percepatan implementasi program strategis perusahaan di wilayah tersebut. Pada tahap awal, PTPN I bakal melaksanakan program replanting seluas 500 hektare pada 2026. Program ini akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai total 3.100 hektare di areal Kebun Awaya. Kunjungan tersebut disambut oleh Manager Kebun Awaya, Freddy B.R. Hutahaean, yang menyampaikan kesiapan jajaran kebun mendukung agenda strategis perusahaan. Ia menegaskan Kebun Awaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi dan pengolahan kelapa terintegrasi di kawasan timur Indonesia. Dalam arahannya, Teddy Yunirman Danas mendorong seluruh karyawan untuk menjaga semangat dan optimisme dalam mengelola potensi kebun, serta menjadikan Kebun Awaya sebagai titik awal (groundbreaking) hilirisasi kelapa di lingkungan PTPN I. “Potensi Kebun Awaya harus dimaksimalkan melalui langkah konkret dan terukur. Program replanting seluas 500 hektare pada tahun 2026 dan 1.000 hektare pada tahun 2027 harus menjadi momentum peningkatan produktivitas, baik dari sisi on farm maupun off farm,” ujarnya. Teddy menekankan pentingnya penguatan budaya kerja melalui konsep 3 on 3 sebagai fondasi transformasi perusahaan. Konsep tersebut meliputi Owner's Mindset, yaitu pola pikir sebagai pemilik perusahaan dengan memahami proses bisnis secara menyeluruh serta mempertimbangkan aspek cost and benefit dalam setiap pekerjaan. Selain itu, Networking menjadi elemen penting membangun kolaborasi yang memberikan nilai tambah, serta Excellence yang menekankan pencapaian kinerja sesuai tata kelola yang baik dengan perhitungan risiko yang terukur. Penerapan nilai 3 on 3 tersebut dinilai relevan dengan karakteristik Kebun Awaya yang memiliki luas areal sekitar 4.586 hektare, terdiri dari 3.100 hektare kebun kelapa dan 1.486 hektare kebun karet. Dengan dominasi komoditas kelapa, Kebun Awaya memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan hilirisasi berbasis kawasan. Optimalisasi potensi ini akan dilakukan melalui program replanting, peningkatan produktivitas, serta penguatan proses produksi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Teddy menegaskan keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh luas areal dan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, disiplin operasional, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid. Melalui implementasi prinsip Owner's Mindset, Networking, dan Excellence, Kebun Awaya diharapkan dapat menjadi model pengembangan hilirisasi kelapa di Regional 8 sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai tambah perusahaan. Kunjungan kerja ini turut dihadiri Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan, Aris Handoyo, Head of PMO Hilirisasi Perkebunan, Tri Susanto, serta seluruh karyawan Kebun Awaya. Sejalan dengan arah transformasi Holding Perkebunan Nusantara, langkah ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong transformasi bisnis, memperkuat daya saing komoditas perkebunan, serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah dan nasional.

PalmCo Gercep Bangun Ground Breaking Fasilitas Hilirisasi Anyar Lepas Lebaran Sawit
Sawit
Rabu, 01 April 2026 | 15:01 WIB

PalmCo Gercep Bangun Ground Breaking Fasilitas Hilirisasi Anyar Lepas Lebaran

Jakarta, katakabar.com - Lebaran 1447 Hijriah Tahun 2026 telah usai PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo gerak cepat (Gercep) hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sub Holdinh PTPN III (Persero) ini bersiap memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan rencana pembangunan tersebut bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). “Program ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara,” ujarnya dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Rabu sore. Ia menegaskanwaktu pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat, setelah periode Lebaran. “Secara kesiapan kami sudah matang. Tinggal menunggu keputusan pemegang saham, dan kami estimasikan bisa dilakukan pasca-Lebaran ini,” jelasnya. Menurut Jatmiko, PalmCo kini menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor Crude Palm Oil (CPO) menjadi pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi.Ia mencontohkan, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan seperti Bio Propylene Glycol (BioPG) mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. “Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” ucapnya. Pada tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama yang ditargetkan beroperasi bertahap mulai akhir 2028.Fasilitas tersebut mencakup pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) berkapasitas sekitar 34.000 ton per tahun. Selain itu, PalmCo kembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit.Adapun pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional. Proyek hilirisasi minyak sawit ini diproyeksi mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, PalmCo memperkirakan total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 2.900 orang. “Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” beber Jatmiko. Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga dipercaya dapat memicu efek berganda bagi sektor ekonomi lainnya, seperti logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan. Di sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat. PalmCo proyeksikan, pada 2030, fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun, atau setara sekitar 567.000 ton CPO. “Dengan hilirisasi ini, kami ingin memastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional,” sebutnya. PalmCo optimistis, dengan integrasi dari hulu hingga hilir serta dukungan kebijakan nasional, proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju produk bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi Buat Kemaslahatan Bangsa, MIND ID Pastikan Nilai Tambah Hulu Hilir Nasional
Nasional
Minggu, 08 Maret 2026 | 10:07 WIB

Hilirisasi Buat Kemaslahatan Bangsa, MIND ID Pastikan Nilai Tambah Hulu Hilir

Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID tegaskan perannya sebagai penggerak hilirisasi mineral dan batu bara nasional dengan memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. MIND ID mendorong terciptanya nilai tambah industri yang lebih besar sekaligus memastikan manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, menyatakan sebagai strategic active holding, MIND ID mengintegrasikan seluruh kegiatan penambangan, pengolahan, hingga program tanggung jawab sosial di seluruh anggota Grup guna membangun ekosistem industri mineral nasional yang berkelanjutan. Program hilirisasi yang dijalankan oleh seluruh Anggota Grup terintegrasi dari hulu hingga hilir, dan mampu memperkuat rantai nilai industri mineral nasional serta menghasilkan dampak ekonomi yang lebih optimal bagi negara. “MIND ID secara konsisten menyatukan berbagai inisiatif hilirisasi di seluruh Grup dari hulu hingga hilir. Integrasi ini penting agar pengelolaan sumber daya mineral tidak berhenti pada aktivitas penambangan, tetapi mampu menciptakan nilai tambah industri yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Pria saat Buka Puasa Grup MIND ID Bersama Media, Kamis (5/3) lalu. Di sektor hulu, Pria menekankan MIND ID terapkan Good Mining Practice sejak tahap pra penambangan, penambangan, hingga pascatambang, agar kegiatan operasional tetap selaras dengan kelestarian lingkungan serta menjaga keanekaragaman hayati di sekitar wilayah kerja. Pendekatan ini menempatkan perlindungan ekosistem sebagai fondasi dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Di tahap hilirisasi, lanjutnya, MIND ID terus mengembangkan berbagai proyek strategis sebagai penggerak rantai nilai mineral nasional. Beberapa proyek yang tengah dalam tahap pengembangan antara lain fasilitas Module & Pack (M&P) Plant dan Cell Plant Indonesia Battery Corporation (IBC) di Karawang sebagai bagian dari ekosistem baterai kendaraan listrik, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta ekspansi fasilitas logistik batu bara di koridor Tanjung Enim–Kramasan. Penguatan hilirisasi tersebut juga sejalan dengan tren investasi nasional. Pada 2025, sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional, menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis sumber daya alam menjadi salah satu motor penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Pria menegaskan manfaat hilirisasi tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai tambah industri, tetapi juga melalui penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan penerimaan daerah, serta pembangunan infrastruktur penunjang di wilayah operasi. MIND ID juga menjalankan berbagai program pemberdayaan UMK, peningkatan akses kesehatan, serta penguatan pendidikan masyarakat agar pertumbuhan industri dapat berjalan secara inklusif. “Bagi MIND ID, hilirisasi untuk kemaslahatan bangsa berarti memastikan setiap sumber daya mineral yang dikelola mampu menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, memperkuat kemandirian industri, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” sebut Pria Utama.

Hilirisasi Mineral Jadi Kontributor Utama Investasi, Industrialisasi Perlu Jadi Fokus Nasional
Nasional
Jumat, 20 Februari 2026 | 16:37 WIB

Hilirisasi Mineral Jadi Kontributor Utama Investasi, Industrialisasi Perlu Jadi Fokus

Jakarta, katakabar.com - Hilirisasi mineral kembali jadi kontributor terbesar realisasi investasi nasional sepanjang 2025. Dari total investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun, sektor hilirisasi menyumbang 30,2 persen setara Rp584,1 triliun, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan investasi Indonesia. Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral, dengan total Rp373,1 triliun, yang terdiri dari Nikel Rp185,2 triliun, Tembaga Rp65,9 triliun, Bauksit Rp53,1 triliun, Besi baja Rp39,2 triliun, Timah Rp11,3 triliun, dan mineral lainnya sebesar Rp18,4 triliun. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lain seperti perkebunan dan kehutanan Rp144,5 triliun, migas Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun. Data tersebut menegaskan bahwa hilirisasi mineral telah menjadi tulang punggung investasi nasional. Tetapi, hilirisasi dinilai masih perlu melangkah ke tahap industrialisasi. Meski capaian investasi tersebut sangat positif, para ekonom menilai Indonesia kini memasuki fase baru yang lebih menantang: mengubah hilirisasi menjadi industrialisasi menyeluruh. Pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, menilai hilirisasi saat ini masih didominasi pembangunan smelter, sehingga nilai tambah lanjutan belum sepenuhnya tercapai. “Pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut membangun ekosistem industrialisasi yang lengkap dari hulu hingga hilir,” ujarnya, Rabu (18/2) lalu. Menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kualitas investasi melalui penguatan rantai pasok, diversifikasi produk, dan peningkatan teknologi industri. Fahmy juga mencontohkan proyek hilirisasi alumina–aluminium yang dikembangkan oleh anak usaha MIND ID: PT Inalum, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai contoh hilirisasi yang mulai mengarah pada industrialisasi yang lebih matang. Indonesia Harus Mampu Menciptakan Produk Akhir Pengamat Ekonomi INDEF, Ahmad Heri Firdaus, menegaskan tantangan besar berikutnya adalah membangun industri produk jadi (end products) agar nilai tambah hilirisasi dapat dinikmati di dalam negeri. “Indonesia harus mampu memproduksi end product di dalam negeri. Perlu ada iklim usaha yang memberikan nilai plus kepada investor agar mereka bersedia berinvestasi hingga tahap produk jadi,” jelasnya. Ahmad mengingatkan hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah optimal, bukan berhenti pada produk setengah jadi atau intermediate goods. Adapun, pemerintah siapkan 20 proyek hilirisasi baru. Menteri Investasi dan CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan potensi investasi sekitar US$26 miliar dan penciptaan hingga 600.000 lapangan kerja. Sebanyak enam proyek telah diresmikan pada Februari 2026, sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi dan negosiasi investasi. Dengan kontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional, hilirisasi mineral diperkirakan masih akan menjadi pilar utama investasi pada 2026. Pemerintah terus mengupyakan investasi besar ini mampu menjadi motor bagi penciptakan nilai tambah lanjutan, memperkuat ekosistem industri nasional, membangun rantai pasok domestik, dan menghasilkan keberlanjutan ekonomi jangka panjang.

Hilirisasi Bauksit Hadirkan Dampak Sosial Nyata bagi Masyarakat Mempawah Nasional
Nasional
Kamis, 19 Februari 2026 | 06:35 WIB

Hilirisasi Bauksit Hadirkan Dampak Sosial Nyata bagi Masyarakat Mempawah

Mempawah, katakabar.com – Pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium oleh Grup MIND ID melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek Strategis Nasional (PSN) mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus juga membuka lapangan kerja serta mendorong aktivitas ekonomi lokal di berbagai sektor. Kepala Desa Bukit Batu, Harianto, mengungkapkan sebelum pembangunan fasilitas hilirisasi bauksit ini, wilayahnya menghadapi tantangan tingginya angka pengangguran, termasuk di kalangan tenaga kerja terdidik. Kehadiran proyek ini membawa perubahan yang signifikan bagi perekonomian masyarakat. “Sebelumnya pertumbuhan ekonomi sempat menurun. Setelah adanya proyek BAI, ekonomi tumbuh pesat. Masyarakat yang sebelumnya menganggur kini mendapatkan pekerjaan dan merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya. Dijelaskannya, dampak proyek terlihat dari serapan tenaga kerja. Kehadiran ribuan pekerja juga menciptakan multiplier effect yang menggerakkan sektor penunjang seperti perhotelan, hunian sewa, serta usaha kuliner. “Dampaknya tidak hanya di Desa Bukit Batu, tetapi meluas hingga seluruh Kabupaten Mempawah bahkan ke wilayah sekitar. Fasilitas akomodasi berkembang pesat, dan usaha kuliner maupun coffee shop kini semakin ramai karena daya beli masyarakat meningkat,” ucap Harianto. Selain itu, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), BAI turut mendukung pembangunan infrastruktur jalan dan drainase, peningkatan fasilitas pendidikan, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Dampak pemberdayaan juga dirasakan oleh sektor pertanian. Pembina Kelompok Wanita Tani Desa Bukit Batu, Asman, menimpali program pendampingan perusahaan telah membantu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Program yang telah berjalan selama tiga tahun tersebut meliputi bantuan penanaman 1.000 bibit jagung, bibit buah seperti jambu kristal dan kelengkeng, serta dukungan pupuk dan pendampingan teknis. Produk lokal seperti madu dan amplang pun mulai berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk wilayah perbatasan Malaysia. “Alhamdulillah, berkat bantuan yang diberikan, penghasilan keluarga meningkat,” tuturnya. Asman menambahkan, masyarakat memberikan apresiasi terhadap keberadaan perusahaan dan berharap pengembangan industri dapat terus berjalan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. “Kami berharap kegiatan perusahaan terus berkembang dan seiring dengan peningkatan produksi agar masyarakat tetap nyaman dan berkembang,” tandasnya.

PT IKN Resmikan IKN Store, Perkuat Ekosistem Hilirisasi di Bawah Holding PTPN Nasional
Nasional
Selasa, 10 Februari 2026 | 12:00 WIB

PT IKN Resmikan IKN Store, Perkuat Ekosistem Hilirisasi di Bawah Holding PTPN

Medan, katakabar.com - PT Industri Karet Nusantara (IKN), bagian dari ekosistem usaha Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), secara resmi buka gerai IKN Store sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan perusahaan kepada masyarakat luas. Kehadiran gerai ini diharapkan menjadi sarana edukasi publik sekaligus perkuat citra perusahaan sebagai penyedia produk karet berkualitas berbasis hilirisasi nasional. Acara peresmian berlangsung dengan khidmat dan ditandai dengan prosesi pemotongan pita oleh V.T. Moses Situmorang selaku Plt. Direktur bersama Amalia Nasution selaku SEVP Operation PT Industri Karet Nusantara. Momen tersebut menjadi simbol dimulainya operasional gerai yang akan menjadi etalase bagi inovasi dan hasil produksi perusahaan. Dalam sambutannya, Plt. Direktur menyampaikan pembukaan IKN Store merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk semakin dekat dengan masyarakat serta meningkatkan akses publik terhadap produk-produk PT IKN. “Melalui gerai ini, kami ingin menunjukkan kualitas dan keberagaman produk yang dimiliki sekaligus membangun kepercayaan pelanggan,” ujarnya. Sejalan dengan hal itu, SEVP Operation menambahkan kehadiran IKN Store langkah konkret perusahaan perkuat strategi pemasaran dan memperluas jangkauan pasar. Selain berfungsi sebagai pusat penjualan, gerai ini juga diharapkan menjadi ruang informasi bagi masyarakat yang ingin memahami lebih jauh proses produksi serta keunggulan produk PT Industri Karet Nusantara. Dengan diresmikannya IKN Store, PT Industri Karet Nusantara optimistis dapat terus meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan pemangku kepentingan di dalam ekosistem Holding Perkebunan Nusantara. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk berinovasi berkelanjutan dan menghadirkan produk berkualitas yang mampu menjawab kebutuhan pasar nasional maupun global.

Hilirisasi Bauksit Penggerak Ekonomi di Kalbar Nasional
Nasional
Senin, 09 Februari 2026 | 10:14 WIB

Hilirisasi Bauksit Penggerak Ekonomi di Kalbar

Mempawah, katakabar.com - Pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang diinisiasi oleh Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dinilai memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Mega proyek hilirisasi terintegrasi ini akan menjadi motor untuk semakin memperkuat kinerja ekonomi daerah, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Data BPS menunjukkan, Ekonomi Kalimantan Barat pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian pada tahun 2024 yang tumbuh sebesar 4,90 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian, yaitu sebesar 31,48 persen. Bupati Mempawah, Erlina, menyampaikan kehadiran proyek hilirisasi menjadi motor transformasi ekonomi daerah yang sebelumnya bergantung pada aktivitas pertambangan bahan mentah. Hilirisasi dinilai mampu untuk semakin menggerakkan berbagai sektor ekonomi, membuka lapangan kerja, serta menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat. “Pertama penyerapan tenaga kerja, itu yang paling penting. Kedua, akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi karena banyak masyarakat dari luar daerah yang datang. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Mempawah,” kata Erlina selesai pelaksanaan groundbreaking proyek pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, di pekan pertama Februari 2026 lalu. Ia menjelaskan, dampak ekonomi dari proyek hilirisasi yang telah berjalan sebelumnya sudah mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah usaha pendukung tumbuh di sekitar kawasan proyek, seperti homestay, rumah kos, serta berbagai usaha kuliner. Kondisi ini membuka sumber penghasilan baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal. “Dengan adanya proyek ini, kebutuhan akan tempat tinggal dan layanan pendukung meningkat. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ucapnya. Selain dampak ekonomi jangka pendek, Erlina menyampaikan pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dijalankan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) selaku operator proyek juga berdampak positif bagi masyarakat. Ia berharap program CSR ke depan semakin terus dikembangkan sektor pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, sehingga semakin banyak putra daerah yang memiliki kompetensi dan dapat bekerja di kawasan industri tersebut. Saat ini, Grup MIND ID telah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah untuk mengolah bauksit menjadi alumina. Fasilitas ini menjadi penghubung penting dalam rantai pasok hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang sebelumnya belum terintegrasi di dalam negeri. Melalui prosesi groundbreaking terbaru, Grup MIND ID akan melanjutkan pengembangan ekosistem hilirisasi dengan membangun Smelter Aluminium Baru serta SGAR Fase II guna memperkuat integrasi dari hulu hingga hilir. Di kegiatan sama, CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan kontribusi program hilirisasi terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk mempercepat hilirisasi karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah. “Jika kita lihat, kontribusi hilirisasi terus meningkat. Pada 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp580,4 triliun atau sekitar 30% dari total investasi nasional, meningkat 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya,” kupas Rosan. Ke depan, pemerintah mendorong pemerataan pengembangan hilirisasi agar tidak hanya terpusat di wilayah tertentu seperti Maluku dan Sulawesi, tetapi meluas ke berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat.