Guru Besar
Sorotan terbaru dari Tag # Guru Besar
Dewan Guru Besar Binus University Hadirkan Solusi Jawab Tantangan Global
serta publik dalam pengawasan. ● Prof. Dr. Nesti F. Sianipar, S.P., M.Si. menyampaikan tentang ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat sebagai tantangan lintas generasi. Ia menyampaikan berbagai inovasi yang dilahirkan untuk mendukung kestabilan ● Prof. Dr. Ir. Sasmoko, M.Pd., M.A., CIRR, IPU, ASEAN Eng., SMIEEE menyampaikan pentingnya revolusi pendidikan yang didukung kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa AI bukan pengganti pendidik, melainkan partner strategis untuk menciptakan pengalaman belajar personal, relevan, dan berorientasi pada pembentukan karakter generasi emas 2045. ● Prof. Gatot Soepriyanto, S.E., Ak., M.Buss (Acc)., Ph.D., CA, CFE. memberikan refleksi kritis atas banyaknya kegagalan startup di Indonesia, yang menurutnya mencerminkan kebutuhan mendesak akan literasi keuangan, tata kelola korporasi yang kuat, dan pengawasan regulatif yang progresif namun inklusif terhadap inovasi. Forum ini bukan hanya menjadi ajang akademik, melainkan juga momen refleksi dan kontribusi nyata dari Dewan Guru Besar BINUS University terhadap kondisi Indonesia. “Kami percaya Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Indonesia membutuhkan solusi. Dan solusi lahir dari pemikiran yang tajam dan kolaboratif,” sebut Prof. Harjanto Prabowo.
Binus@Bandung Kukuhkan Guru Besar, Wujud Komitmen Dukung dan Bangun Industri Kreatif Kompetitif
Bandung, katakabar.com - Binue @Bandung dengan bangga mengukuhkan Prof. Nugroho Juli Setiadi, S.E., M.M., Ph.D. sebagai Guru Besar di bidang keahlian Manajemen Umum. Momen ini menjadi pencapaian penting bagi Binus University yang terus memperkuat perannya membangun industri kreatif nasional melalui riset di bidang Organizational Behavior dan Creativity in Work Context. Acara pengukuhan yang berlangsung di Atrium Binus @Bandung ini menjadi bukti komitmen Binus University dalam menjawab tantangan zaman melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Dalam pidatonya, Prof. Nugroho menegaskan, kreativitas dan inovasi kunci utama pertumbuhan ekonomi di era digital. “Sebagai Binusian, saya bersama rekan-rekan dari BINUS maupun SATU University terus mendukung UMKM dan industri kreatif dalam mendorong perkembangan ekonomi kreatif Indonesia,” ujarrnya. Sebagai bagian dari visi Fostering and Empowering the Society, Binus University terus mendukung pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Ke depan, roadmap penelitian Prof. Nugroho diarahkan pada pengembangan model-model yang mampu meningkatkan kompetensi dan daya saing pekerja kreatif, dengan cakupan riset yang mencakup berbagai subsektor industri seperti desain produk, film dan animasi, aplikasi digital, musik, serta seni pertunjukan.
Tolak Deforestasi untuk Perluasan Perkebunan Sawit, Ini Kata Guru Besar UGM
Yogyakarta, katakabar.com - Rencana Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto ingin melakukan perluasan perkebunan kelapa sawit untuk meningkat produksi minyak kelapa sawit dalam dan luar negeri ditentang banyak kalangan, termasuk akademisi. Banyak yang khawatir jika perluasan perkebunan kelapa sawit dilakukan bakal memicu maraknya deforestasi. Bahkan pernyataan Kepala Negara menyamakan tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hutan alam dianggap menyesatkan. Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono PhD, menolak keras upaya perluasan perkebunan kelapa sawit lantaran bakal mengancam kembalinya kerusakan hutan dan biodiversitas. “Kami menolak keras rencana presiden tersebut. Banyak riset menyatakan di kawasan perkebunan sawit tidak mampu menjadi habitat satwa liar dan hampir 0 persen keragaman hayati berkembang di perkebunan sawit,” ujar Budi melalui keterangan pers, dilansir dari laman EMG, Jumat (10/1). Menurut Budi, selama ini dampak dari perkebunan kelapa sawit yang sangat luas dengan model monokultur, ternyata rentan meningkatkan konflik satwa liar dengan manusia. Ini berujung berkurangnya populasi satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang, seperti orang utan, gajah, badak dan harimau Sumatera. “Flora dan fauna yang dilindungi semakin berkurang karena deforestasi akibat pembukaan perkebunan sawit,” jelasnya. Selain itu, dia menyarankan Prabowo menjalankan Instruksi Presiden (inpres) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan tata Kelola Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. “Dengan inpres tersebut, seluas 66,2 juta hektar hutan alam dan lahan gambut atau seluas negara Perancis dapat diselamatkan dari kerusakan,” imbuhnya. Disamping itu, Budi menginginkan agar pemerintah konsisten dalam menjalankan aturan yang sudah dibuat yakni Inpres Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan. Terkait pernyataan yang menyamakan tanaman kelapa sawit dengan tanaman hutan, “Itu pernyataan yang menyesatkan publik,” ucapnya. Apalagi, sebutnya, secara tegas sudah ada peraturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sebelumnya menyebutkan sawit bukan tanaman hutan.
Kemenperin Pacu Hilirisasi Industri Sawit Lahirkan Guru Besar Bidang Ilmu Kimia
Jakarta, katakabar.com - Kementerian Perindustrian atau Kemenperin punya komitmen kuat upaya melaksanakan pendidikan vokasi untuk menghasilkan sumber daya manusia atau SDM kompeten, sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini. Guna mencapai sasaran tersebut, selain didukung melalui metode pembelajaran yang efektif, diperlukan tenaga pengajar yang berkualitas dan kompetitif. Salah satu unit pendidikan vokasi milik Kemenperin, yakni Politeknik Teknologi Kimia Industri (PTKI) Medan bertekad serius untuk mengembangkan dan mempersiapkan diri menjadi perguruan tinggi yang unggul. Misalnya dengan memiliki tenaga pengajar yang kompeten, terdiri dari 71 Dosen yang meliputi 14 Lektor Kepala serta 10 dosen yang bergelar Doktor.
Guru Besar Ilmu Budaya Visual Dikukuhkan, Bukti Komitmen Binus Dunia Seni, Budaya dan Kreatif
Jakarta, katakabar.com - Binus University rayakan momen istimewa dengan pengukuhan Prof. Dr. Dra. Mita Purbasari Wahidayat, M.F.A sebagai Guru Besar Tetap di bidang Ilmu Budaya Visual. Acara pengukuhan ini berlangsung di BINUS @Kemanggisan, Anggrek Campus, menandai pencapaian luar biasa dalam dunia akademik dan kontribusi signifikan Prof. Mita dalam bidang yang ia tekuni. Prof. Dr. Dra. Mita Purbasari Wahidayat, M.F.A telah menunjukkan perjalanan akademik yang luar biasa selama lebih dari dua dekade di bidang Ilmu Budaya Visual. Fokus penelitiannya meliputi studi tentang pengaruh budaya visual terhadap identitas sosial dan transformasi sosial dalam era digital. Penelitian ini tidak hanya relevan di Indonesia, tapi memberikan kontribusi pada dunia akademik internasional melalui pendekatannya yang menggabungkan teori budaya, semiotika, dan fenomenologi untuk menganalisis cara visual mempengaruhi masyarakat.
Bertandang ke Kampus ITSI, Ini Pesan Penting Guru Besar USU
Medan, katakabar.com - Guru Besar dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Dr dr Ridha Dharmajaya SpBS (K) sampaikan satu pesan penting ke jajaran pimpinan rektorat Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) Medan. Pesan penting tersebut disampaikan dokter spesialis bedah syaraf ini saat melakukan kunjungan ke kampus milik Holding Perkebunan Nusantara bersama rombongannya, Rabu (4/9) kemarin.
Guru Besar Ini Sebut Sistem BLUD Mampu Sejahterakan Petani Sawit
Tenggarong, katakabar.com - Guru Besar Fakultas Ekonomi Unikarta, Prof Dr Iskandar selaku peneliti dan pengkajian pola pengelolaan keuangan menjelaskan Dinas Perkebunan (Disbun) sebagai salah satu OPD yang memberikan layanan kepada masyarakat, bisa terapkan pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Disbun ke Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) khusus, yakni UPTD Pembenihan dan Pengelolaan Hasil Kebun. "Jika instansi daerah sudah terapkan sistem BLUD, maka bisa lebih leluasa pengembangan bisnis mencari keuntungan. Tapi, harus memberikan layanan yang baik ke masyarakat," ujarnya saat digelar BRIDA Kukar di paruh Desember 2023 lalu, dilansir dari laman headlinekaltim.co, pada Selasa (19/12). Keuntungan lainnya, kata Prof Iskandar, kalau sudah menerapkan BLUD, penerapan praktek bisnis lebih sehat untuk kesejahteraan rakyat. Disbun bisa menjadi bagian ujung tombak layanan pengadaan bibit, pupuk dan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. “Karena Disbun punya UPTD Pengelolaan Kebun dan Hasil Kebun, UPTD Tanaman dan Laboratorium Hayati, dan lainnya,” jelas Prof Iskandar. Untuk membentuk BLUD, ulasnya, perlu mempersiapkan syarat teknis dan administrasi sebagai bahan kajian kelayakan. Kewenangan pembentukan penerapan BLUD ada di tangan OPD melalui Sekretaris Daerah Kukar. “Dari berbagai persyaratan, poinnya baru mencapai 19 jadi belum layak diterapkan BLUD,” ucapnya. Saran saya, terang Prof Iskandar, OPD Disbun melengkapi persyaratan dibentuknya pola BLUD pada UPTD agar bisa memberikan dampak luas ke masyarakat dan pemerintah. “Selama ini, pengadaan bibit dan pengelolaan hasil kebun sawit, kadang bekerja sama dengan perusahaan swasta,” tegasnya. Kabid Pemerintahan dan Kajian Perda BRIDA Kukar, Aini menimpaluli, pihaknya sudah melayangkan surat untuk membuat kajian pengelolaan UPTD. “Saat ini, petani kebun hanya terima bibitnya. Kalau ada BLUD, maka menjadi ekosistem bisnis dalam satu kesatuan memberikan mamfaat satu dengan yang lainnya,” bebernya. Dari kajian itu, tutur Aini, mencuat soal keharusan membentuk kebun khusus milik pemerintah. Orientasinya, memang tidak memperkaya kelembagaan. Tapi, memutar keuntungan demi kepentingan masyarakat. Misalnya, mengelola hasil kebun kelapa sawit bentuk CPO dan hasil kebun lainnya. “Jika UPTD menerapkan BLUD mampu sejahterakan petani kelapa sawit," tandasnya.
Pengukuhan Guru Besar Anak Meranti, Asmar: Ini Kebanggaan Bagi Kita
Pekanbaru, katakabar.com - Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar hadiri Rapat Terbuka Senat pengukuhan tiga Guru Besar di Universitas Islam Riau (UIR), di Auditorium Rektorat UIR, Pekanbaru, pada Rabu (13/12) kemarin. Satu dari tiga guru besar itu, yakni Prof. Dr. Eng. Ir. Muslim, ST, MT, IPU, anak watan Kepulauan Meranti, pasnya dari Desa Dedap, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti. Plt Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar mengatakan, atas nama pemerintah kabupaten ucapkan selamat dan mengaku bangga ada anak Kepulauan Meranti yang dikukuhkan menjadi guru besar di bidang perminyakan. "Ini kebanggan bagi kita. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih banyak lagi anak-anak Kepulauan Meranti yang menjadi guru besar di berbagai universitas," kata Plt Bupati Kepulauan Meranti. Sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas, ujar Asmar, Kepulauan Meranti sangat membutuhkan anak-anak daerah yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli di bidang perminyakan. "Kita butuh lebih banyak anak daerah yang menjadi profesor dan doktor perminyakan untuk terus menggali potensi minyak di Meranti," jelasnya. Pengukuhan itu dilakukan oleh Rektor UIR Prof. Dr. H. Syafrinaldi, SH, M.C.L. Menurutnya, di tahun 2023 ini ada lima orang guru besar yang telah dikukuhkan. "Ini catatan sejarah bagi UIR, kurun setahun bisa mengukuhkan 5 orang guru besar. Selamat dan tahniah, ini kado istimewa buat UIR," ujar Prof. Syafrinaldi. Selain Prof. Muslim yang dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Teknik, turut dikukuhkan di momen itu, Prof. Dr. Zetriuslita, S.Pd, M.Si sebagai guru besar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Prof. Dr. Hamdi Agustin, SE, MM sebagai guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Bupati Kabupaten Siak Alfedri, segenap pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau, civitas akademika UIR, dan para guru besar se Provinsi Riau serta lainnya, turut hadir.
Minyak dan Lemak Nabati Untuk Jaga Kedaulatan Energi Nasional
Bandung, katakabar.com - Akhir pekan di pekan keempat September 2023 lalu, tiga guru besar Institut Tekhnologi Bogor (ITB) dari tiga fakultas berbeda orasi ilmiah pada Forum Guru Besar (FGB) ITB di Aula Barat ITB. Prof Dr I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha dari KK Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis FTI ITB salah satu berorasi ilmiah judul 'Bahan 'Bakar Nabati untuk Kedaulatan Energi Nasional''. Sejak menjadi staf akademik Teknik Kimia ITB pada tahun 1988 hingga sekarang, Ia serint melakukan penelitian di bidang teknologi reaksi kimia dan teknologi proses produksi bahan bakar nabati. Dari kedua bidang itu, Prof Dr I Gusti telah menerbitkan dua buku, 69 makalah dalam bentuk jurnal/prosiding nasional hingga internasional, dan 4 paten nasional. Prof Dr I Gusti mengatakan, bahan bakar fosil khususnya minyak bumi dan turunannya hingga kini masih mendominasi penggunaan energi dunia. Tren ini diprediksi terus berlanjut setidaknya hingga 30 tahun ke depan. "Pada tahun 2020, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) hanya mampu menyumbang 10 persen dari total konsumsi energi dunia dan diprediksi akan mencapai 50 persen pada tahun 2050," ulasnya lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Minggu (24/9). Terkait hal itu, jelasnya, Indonesia salah satu negara pengimpor bahan bakar fosil terbesar di dunia perlu menerapkan langkah-langkah progresif dalam pengembangan EBT untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Target itu bukan hal yang mustahil mengingat Indonesia adalah produsen minyak nabati terbesar di dunia. Fakta ini dibuktikan dengan capaian produksi minyak sawit dan minyak inti sawit yang secara berturut-turut mencapai 51,3 juta ton dan 4,441 juta ton pada tahun 2022. Menurutnya, menunjukkan potensi dan kapasitas Indonesia untuk melakukan substitusi bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang bersumber dari minyak dan lemak nabati. “Memanfaatkan sumber daya minyak nabati memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional,” terangnya. Di ITB sendiri terdapat dua aspek pengembangan yang difokuskan dalam mengembangkan teknologi konversi bahan bakar nabati, yakni pengembangan teknologi katalis dan pengembangan teknologi proses konversi. Dalam hal ini, Laboratorium Teknologi Reaksi Kimia dan Katalisis (Lab. TRKK) dan Pusat Rekayasa Katalisis (PRK) ITB telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi penelitian dan industri nasional untuk mengembangkan energi berbasis bahan nabati dari minyak sawit dan minyak inti sawit. Teknologi proses konversi minyak nabati jadi bahan bakar nabati yang dikembangkan di ITB saat ini, meliputi pengembangan proses produksi biodiesel melalui proses trans-esterifikasi, proses produksi diesel biohidrokarbon dan avtur biohidrokarbon (bioavtur) melalui proses hidrodeoksigenasi maupun hidrodekarboksilasi. Terus, proses produksi campuran bahan bakar biohidrokarbon melalui proses hidrolisis, saponifikasi, dan dekarboksilasi; dan proses perengkahan minyak sawit menjadi bensin sawit. Untuk proses pengembangan katalis bebernya, dimulai dari skala laboratorium sebelum akhirnya diproduksi dalam skala pilot maupun komersial. Sintesa katalis dimulai dari proses eksploratif di dalam laboratorium untuk mendapat katalis yang aktif berdasarkan uji karakteristik dan aktivitas. "Jika hasil pengujian tidak sesuai dengan target, sintesa katalis diulang kembali dari proses formulasi ataupun perbaikan prosedur sintesa yang digunakan," ucapnya. Masih Prof Dr I Gusti, pengembangan yang terus dilakukan hingga sekarang diharapkan mampu mendorong substitusi bahan bakar fosil menjadi bahan bakar nabati yang tidak hanya berasal dari kelapa sawit. Tapi, berbagai jenis minyak dan lemak nabati. ITB sebagai pusat kepakaran dalam bidang iptek dan kerekayasaan dapat menjadi agen pengembangan di bidang energi baru dan terbarukan ini. “Proses pengembangan yang telah dimulai dan sedang dilakukan ini gilirannya menjadi salah satu riak kecil dari gelombang besar perubahan global menuju pada bioekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya.
Guru Besar UGM Dorong Integrasi Peternakan Sapi Perkebunan Sawit
Yogyakarta, katakabar.com - Luasan lahan vegetasi di bawah tegakan perkebunan kelapa sawit berpotensi menyediakan pakan ternak ruminansia dengan cara digembalakan dengan ketersediaan rumput, forb dan legum, pakis dan tanaman lain. Itu sejalan dengan luas perkebunan sawit di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 11,2 juta hektar. Terus meningkat menjadi 14,66 juta hektar pada tahun 2021 dan pada tahun 2022 meningkat menjadi 14,99 juta hektar dengan produksi total 45,58 juta ton atau rata-rata 3,04 ton per hektar. Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, integrasi sapi dalam perkebunan sawit bentuk pertanian terpadu dimana ternak sapi memanfaatkan hijauan antar pohon dan hasil samping industri perkebunan kelapa sawit. Di pengukuhan Guru Besar dirinya di bidang Nutrisi dan Makanan Ternak, di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM, pada Selasa (19/9) kemarin, Bambang pidato berjudul Sistem Integrasi Tanaman Pakan dan Kelapa Sawit untuk Mendukung Produksi Ternak Ruminansia di Indonesia. "Sistem integrasi sapi dan kelapa sawit merupakan bentuk sistem pertanian terpadu yang ideal bila disediakan lahan untuk tanaman pakan ternak ketika umur tanaman sawit sudah melebihi 5 tahun," ujarnya. Penggembalaan ternak sapi dengan metode rotasional grazing di bawah tegakan tanaman perkebunan sawit, bisa menekan biaya pakan dan pemeliharaan. “Total 4 juta sapi bisa dipelihara dengan biaya murah,” jelasnya. Sisi lain kata Bambang, potensi vegetasi di bawah tegakan tanaman hasil samping tanaman sawit yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia adalah pelepah dan daun sawit serta hasil samping pengolahan sawit berupa lumpur sawit. "Bungkil inti sawit bisa digunakan sebagai sumber pakan ternak. Sebaliknya bagi perkebunan kelapa sawit, kotoran ternak sapi bisa sebagai penyedia unsur hara untuk meningkatkan kesuburan lahan kebun kelapa sawit dan pengendalian gulma,” terangnya. Saya menilai ternak ruminansia paling baik sambungnya, jika dipelihara dengan cara digembalakan di padang rumput sehingga ternak secara langsung dapat mengambil pakan yang diinginkan dan dibutuhkan. Tapi, tidak semua ternak dapat dipelihara di padang penggembalaan akibat terbatasnya ladang padang rumput sehingga penggembalaan ternak di area perkebunan sawit menjadi salah satu pilihan dalam mewujudkan kemandirian pangan dari produk peternakan, sebutnya.