Psikolog Ungkap Fenomena 'Decision Anxiety' Hantui Orang Tua dan Camaba 2026 Pendidikan
Pendidikan
Rabu, 29 April 2026 | 14:05 WIB

Psikolog Ungkap Fenomena 'Decision Anxiety' Hantui Orang Tua dan Camaba 2026

Bekasi, katakabar.com - Memilih perguruan tinggi di tahun 2026 bukan lagi soal "masuk mana", tapi lebih dari itu, yakni bagaimana mengelola kecemasan massal yang menghantui banyak orang tua dan calon mahasiswa. Fenomena ini dikenal sebagai decision anxiety, di mana banyaknya pilihan, informasi, dan ketidakpastian ekonomi membuat orang tua dan anak terjebak dalam siklus overthinking yang melumpuhkan. "Kita sering melihat anak menunda-nunda pilihan karena takut salah langkah, sementara orang tua terjebak dalam pencarian pembanding yang tak ada ujungnya," jelas Dr. Istiani, M.Psi., Faculty Member Binus University. Menurutnya, tanggung jawab moral untuk memastikan investasi pendidikan tidak "sia-sia" menciptakan tekanan ganda yang belum pernah dirasakan generasi sebelumnya. Kekhawatiran ini semakin besar dengan data yang menunjukkan bahwa sekitar 36 persen pemuda Indonesia bekerja di bidang yang tak sesuai dengan ijazah mereka. Angka ini tidak hanya menjadi statistik, melainkan pemicu utama kecemasan bagi banyak orang tua yang harus mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan anak mereka. Menanggapi hal ini, Prof. Gatot Soepriyanto, Direktur Kampus Binus @Bekasi, menegaskan bahwa penawar terbaik bagi decision anxiety adalah kejelasan arah. “Orang tua butuh ketenangan yang berasal dari progres nyata. Itulah mengapa kami mengintegrasikan industri langsung ke dalam kurikulum,” tegasnya. Binus @Bekasi sebagai Business, Service & Technology Campus menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih dari sekadar teori. Melalui program Enrichment dan pengalaman industri langsung yang terintegrasi dalam pembelajaran, mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang dunia kerja. Hal ini memberi progres nyata yang bisa dirasakan oleh orang tua. “Ketika orang tua melihat anaknya lebih percaya diri, punya pengalaman, dan mulai memahami arah kariernya, rasa cemas itu perlahan berubah menjadi rasa percaya,” tambah Prof. Gatot. Selain memberikan kejelasan arah, Binus @Bekasi juga memfokuskan diri pada meredam tekanan finansial yang menjadi salah satu faktor utama kecemasan orang tua. Salah satu solusi yang diberikan adalah Beasiswa EMAS (Empowering Achievement of Student), yang tidak hanya meringankan biaya pendidikan, tetapi juga memberi simbol investasi masa depan anak. “Dengan adanya Beasiswa EMAS, orang tua bisa lebih fokus pada masa depan anak tanpa merasa terbebani secara finansial. Beasiswa ini juga memberikan emas sebagai simbol investasi, mempertegas bahwa pendidikan adalah investasi yang dapat memberikan return dalam bentuk yang nyata, baik dari sisi finansial maupun karier,” tambah Prof. Gatot. Dr. Istiani, M.Psi., menegaskan dalam situasi seperti ini, kejelasan arah dan pengalaman nyata menjadi kunci dalam mengurangi kecemasan. “Ketika seorang individu, baik orang tua maupun anak yang merasa bahwa mereka berada di jalur yang jelas dan memiliki gambaran masa depan, maka tingkat kecemasan akan berkurang secara signifikan,” jelasnya. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan pengalaman nyata di dunia industri dan dukungan finansial melalui Beasiswa EMAS, Binus @Bekasi berupaya membantu orang tua dan calon mahasiswa melewati perjalanan ini dengan lebih tenang dan yakin. Pada akhirnya, keputusan pendidikan bukan hanya tentang memilih kampus, tetapi tentang memastikan bahwa anak mereka berada di jalur yang tepat, dengan rasa aman yang datang dari progres nyata dan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja.

Siap Diproduksi! Film Drama Original Perdana Lyto Pictures Angkat Fenomena 'People Pleaser' Lifestyle
Lifestyle
Sabtu, 25 April 2026 | 08:05 WIB

Siap Diproduksi! Film Drama Original Perdana Lyto Pictures Angkat Fenomena 'People Pleaser'

Jakarta, katakabar.com - Lytopictures umumkan proyek film drama original perdana segera memulai proses shooting bulan ini dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 2026 ini. Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo, ditulis oleh Evelyn Afnilia, serta diproduseri Andi Suryanto dan Marcella Daryanani. Kolaborasi ini menghadirkan karya yang memadukan pendekatan emosional, hangat, dan dekat dengan realita kehidupan modern. Mengangkat fenomena “people pleaser”, film ini terinspirasi dari keresahan tentang orang-orang yang sering merasa tidak enakan, sulit menolak, dan cenderung mengutamakan orang lain hingga melupakan dirinya sendiri.  Film ini dibintangi oleh Mawar de Jongh, bersama sejumlah artis dan komika terkenal seperti Ardit Erwandha, ⁠⁠Ummi Quary, Surya Saputra, ⁠⁠⁠Vonny Cornellya, Fatih Unru, Amel Carla, ⁠⁠Cut Mini, Taskya Namya, Femi Maringka, Fira Maringka, Marcella Daryanani, Fajar Nugra, Arif Alfiansyah, Musdalifah Basri, Yono Bakrie, Aci Resti dan ⁠⁠Sadana Agung. “Cerita ini lahir dari hal yang sangat dekat dengan banyak orang. Kami ingin mengemasnya secara hangat, jujur, dan tetap menghibur,” ungkap Andi Suryanto selaku Produser dari LYTO PICTURES. Lebih dari sekadar hiburan, film ini juga menjadi pengingat sederhana tentang pentingnya mengenali diri sendiri dan berani menetapkan batas dalam hubungan sosial. Nantikan film People Pleaser di Bioskop Indonesia, untuk berita selengkapnya bisa check di instagram @peoplepleaserfilm @lytopictures

Liga.Tennis Soroti Pertumbuhan Pasar, Perubahan Perilaku dan Peluang Ekonomi di Indonesia Default
Default
Rabu, 31 Desember 2025 | 19:00 WIB

Liga.Tennis Soroti Pertumbuhan Pasar, Perubahan Perilaku dan Peluang Ekonomi di Indonesia

Bali, katakabar.com - Minat terhadap olahraga raket di Indonesia terus meningkat secara signifikan, menciptakan peluang ekonomi baru di sektor olahraga dan gaya hidup. Laporan Global Padel Report 2025 dari Playtomic mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan padel tercepat di Asia Pasifik, sejajar dengan Singapura dan Thailand. Di kota-kota besar, padel berkembang dari sekadar aktivitas rekreasi menjadi “social currency” baru, yaitu medium untuk memperluas jejaring profesional, membangun komunitas lintas industri, dan memperkuat gaya hidup aktif masyarakat urban. Dibawa kali pertama oleh ekspatriat di Jakarta dan Bali, padel kini telah banyak digemari kalangan middle class masyarakat Indonesia. Fenomena ini selaras dengan pergeseran perilaku konsumen, terutama generasi muda dari rentang usia 30 hingga 40 tahun, yang semakin mengutamakan preventive health dan olahraga dengan learning curve yang cepat. Olahraga raket dipandang sebagai pilihan yang relevan karena ritme dinamis, durasi singkat, dan sifatnya yang sangat sosial. Kehadirannya dirasa sebagai lanjutan dari budaya badminton yang telah lama tertanam. Hal ini membuat adopsi olahraga raket lain berjalan lebih cepat dan menunjukkan potensi pasar jangka panjang. Seperti yang disampaikan oleh Founder Liga.Tennis, sebuah jaringan klub olahraga raket, Dmitry Scherbakov, Indonesia sedang memasuki era social fitness boom. Masyarakat tidak hanya mencari olahraga, tetapi ruang sosial, komunitas, dan pengalaman yang bermakna. Olahraga raket berada tepat di jantung perubahan ini karena sifatnya yang fun, mudah dimainkan, dan bersifat inklusif untuk semua usia dan tingkat kemampuan. Masifnya pertumbuhan olahraga raket di Indonesia memicu efek ekonomi berantai yang semakin terlihat. Fenomena global yang disebut sebagai “paddle effect” ini mendorong lahirnya brand apparel lokal, penyedia equipment dan perlengkapan, fasilitas fisioterapi dan sport recovery, akademi dan sekolah coaching, turnamen komunitas amatir hingga profesional, creator economy, dan pertumbuhan F&B di sekitar fasilitas olahraga. Hal ini turut menguatkan survei global yang menyebutkan bahwa aspek wellness semakin penting bagi masyarakat dunia. Mengutip laporan Global Wellness Economy Monitor 2024 dari Global Wellness Institute (GWI), ekonomi wellness global diperkirakan akan mencapai $9 triliun di tahun 2028 mendatang. Lebih jauh, Global Padel Report 2025 menyebutkan Indonesia mencatat salah satu angka produktivitas lapangan tertinggi secara global. Satu lapangan padel di Indonesia memiliki rata-rata gross merchandise value (GMV) lebih dari €6.000 per bulan atau setara dengan Rp110 juta, di mana angka ini tumbuh sebesar 173% YoY (2023–2024). Ruang pertumbuhannya juga sangat besar, dengan proyeksi Playtomic dan Monitor Deloitte yang memperkirakan jumlah lapangan padel di tahun 2026 akan mencapai sebanyak 85.000 di seluruh dunia atau dua kali lipat jumlah saat ini. Angka ini menunjukkan dua sinyal penting bagi investor dan operator, yaitu demand yang kuat dan sustainable serta efisiensi monetisasi per lapangan yang jauh di atas rata-rata pasar baru. “Ketika satu lapangan padel dibangun, yang bergerak bukan hanya pemainnya, tetapi ekonomi sekitarnya. Indonesia berada di titik percepatan pertumbuhan olahraga raket. Yang terjadi bukan hanya peningkatan jumlah pemain, tetapi lahirnya industri baru dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Kami membangun bukan hanya klub olahraga, tetapi ekosistem olahraga raket terbesar di Indonesia yang menghubungkan coaching, communities, facilities, dan digital platforms,” tambah Dmitry Didirikan pada 2017 sebagai platform digital untuk menghubungkan komunitas olahraga raket, Liga.Tennis berkembang menjadi salah satu jaringan klub olahraga raket dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Sejak membuka klub fisik pertamanya di Bali pada 2019, Liga.Tennis telah melayani pemain dari berbagai tingkat, termasuk kunjungan Novak Djokovic, petenis dengan rekor 24 gelar tunggal Grand Slam, dalam perjalanannya ke Bali pada tahun yang sama. Saat ini Liga.Tennis mengoperasikan 6 klub di Bali dan 1 klub di Sumba-Nusa Tenggara Timur dengan 85% tingkat okupansi yang didukung fasilitas lengkap untuk bermain tenis, padel, squash, pickleball, sekolah tenis, hingga community courts yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan rekreasional maupun fokus pengembangan keterampilan. Didukung basis pengguna yang terus bertumbuh dan telah mendekati 100.000 pengguna di Liga App, Liga.Tennis melihat kombinasi faktor jumlah populasi yang besar, pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, dan supply yang masih jauh dari mencukupi, perusahaan menargetkan ekspansi hingga 77 klub di seluruh Indonesia dan regional market dalam satu dekade mendatang.