Bitcoin Rebound

Sorotan terbaru dari Tag # Bitcoin Rebound

Bitcoin Rebound dari Tekanan Akhir Juli, US$66.500 Jadi Ujian Selanjutnya Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:07 WIB

Bitcoin Rebound dari Tekanan Akhir Juli, US$66.500 Jadi Ujian Selanjutnya

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto mulai menunjukkan tanda pemulihan di pekan pertama Agustus 2026. Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran US$64.400–US$64.500 pada 6 Agustus, naik sekitar 1,1–1,5 persen dalam tujuh hari setelah sebelumnya sempat turun menembus level US$64.000. Market Outlook W1 Agustus 2026 FLOQ menunjukkan, Bitcoin bergerak dalam rentang US$62.241 hingga US$65.305 sepanjang sepekan terakhir. Pemulihan harga terjadi bersamaan dengan meredanya sejumlah tekanan global, mulai dari menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat hingga koreksi tajam harga minyak dunia. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kembalinya Bitcoin ke atas US$64.000 merupakan perkembangan positif, meskipun pasar masih berada dalam fase yang sensitif terhadap perubahan sentimen global. “Rebound Bitcoin ke atas US$64.000 menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi pada akhir Juli mulai mereda. Namun, kondisi pasar belum sepenuhnya stabil karena arah suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik, dan data ekonomi Amerika Serikat masih dapat memicu volatilitas dalam waktu dekat,” ujar Yudho. Ekspektasi Suku Bunga The Fed Mulai Mereda Salah satu faktor yang memberikan ruang bagi pemulihan Bitcoin adalah menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Probabilitas kenaikan suku bunga yang sempat mencapai 72,3 persen pada 29 Juli turun ke kisaran 57–62 persen pada awal Agustus. Perubahan ini memberikan tekanan yang lebih ringan terhadap aset berisiko, termasuk pasar kripto. Tetapi, arah kebijakan The Fed masih dapat berubah seiring rilis sejumlah data ekonomi penting, terutama data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat. “Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan ruang bagi pasar untuk bernapas. Tetapi investor perlu melihat apakah tren tersebut dapat bertahan setelah rilis data tenaga kerja dan inflasi. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed,” jelas Yudho.  Harga Minyak Turun Hampir 9 persen Tekanan Geopolitik Mulai Mereda Sentimen positif lainnya datang dari perkembangan konflik di Timur Tengah. Pembicaraan Iran-Oman mengenai Selat Hormuz disebut telah memasuki tahap akhir, meskipun hingga 6 Agustus belum terdapat kesepakatan resmi. Perkembangan tersebut turut mendorong koreksi harga minyak dunia. Harga Brent turun sekitar 8,9 persen dari US$86,97 menjadi US$79,26 per barel. Sementara WTI turun sekitar 8,4 persen menjadi kisaran US$75,16 per barel. Menurut Yudho, penurunan harga energi dapat menjadi faktor positif bagi aset berisiko karena membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. “Jika harga minyak terus stabil dan proses de-eskalasi berlanjut, tekanan inflasi dapat berkurang dan memberikan sentimen yang lebih kondusif bagi aset berisiko. Namun, pasar tetap perlu berhati-hati karena perkembangan geopolitik dapat berubah dengan cepat,” jelasnya. Arus Dana ETF Bitcoin Kembali Positif Dari sisi institusional, arus dana ETF Bitcoin juga menunjukkan perbaikan. Setelah mencatat outflow sekitar US$265,4 juta pada 31 Juli, ETF Bitcoin berbalik mencatat inflow sekitar US$170,1 juta pada 3 Agustus. IBIT menjadi salah satu kontributor utama dengan inflow sekitar US$111,4 juta. ETF Ethereum juga mengalami perubahan serupa, dari outflow sekitar US$6,4 juta pada akhir Juli menjadi inflow sekitar US$53,1 juta pada 4 Agustus. Meski demikian, FLOQ menilai data dalam satu hingga dua hari masih terlalu singkat untuk dianggap sebagai tren yang stabil. “Masuknya kembali dana ke ETF menunjukkan minat institusional terhadap aset kripto masih ada. Namun, yang lebih penting adalah melihat konsistensi arus dana tersebut dalam beberapa pekan ke depan, terutama ketika pasar menghadapi data ekonomi baru,” kata Yudho. Bitcoin Hadapi Ujian di US$65.300–US$66.500 Untuk pergerakan selanjutnya, data FLOQ mencatat US$62.241 sebagai level support penting Bitcoin. Sementara area US$65.305 hingga US$66.500 menjadi zona resistance yang perlu dilewati untuk memperkuat momentum pemulihan. Pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk laporan tenaga kerja, CPI Juli pada 12 Agustus, serta PPI pada 13 Agustus. Data tersebut berpotensi mempengaruhi kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed. “Selama Bitcoin mampu menjaga pergerakan di atas US$64.000, peluang untuk menguji kembali area US$65.300 hingga US$66.500 masih terbuka. Namun, konfirmasi pemulihan tetap membutuhkan dukungan dari kondisi makro yang lebih stabil dan arus dana institusional yang konsisten,” sebut Yudho. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 6 Agustus 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu.  FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Bitcoin Rebound ke US$68.000 Selepas Perubahan Sentimen Geopolitik Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 03 Maret 2026 | 09:10 WIB

Bitcoin Rebound ke US$68.000 Selepas Perubahan Sentimen Geopolitik

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin pulih ke atas US$68.000 setelah sempat tertekan oleh eskalasi geopolitik Timur Tengah, sehingga picu perubahan sentimen dan volatilitas pasar kripto. Harga Bitcoin kembali menguat ke atas level US$68.000 setelah pasar mencerna kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang diumumkan menyusul serangan militer bersama oleh Amerika Serikat dan Israel. Aset kripto terbesar di dunia itu sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati US$63.000 seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Di awal perdagangan pada Minggu, Bitcoin tercatat melonjak tajam dan menyentuh level sekitar US$68.200, sebelum bergerak stabil di kisaran US$67.350–US$67.700. Kenaikan ini memulihkan sebagian besar kerugian yang terjadi sehari sebelumnya, ketika sentimen pasar memburuk akibat meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko. Rebound tersebut menunjukkan respons cepat pasar kripto terhadap perubahan sentimen global. Perubahan arah harga dipicu interpretasi sebagian pelaku pasar yang menilai kabar tersebut sebagai potensi penurunan ketegangan geopolitik dalam jangka pendek. Harapan akan stabilisasi situasi mendorong kembalinya minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto, setelah sebelumnya investor cenderung mencari aset lindung nilai. Dampaknya, kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turut mengalami peningkatan dalam waktu singkat. Tetapi, reli harga ini diiringi volatilitas yang tinggi. Dalam kurun 24 jam terakhir, ratusan ribu trader dilaporkan mengalami likuidasi posisi dengan total nilai mencapai sekitar US$657 juta. Likuidasi tersebut hampir seimbang antara posisi long dan short, mencerminkan kondisi pasar yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Situasi ini menegaskan meski harga pulih, risiko jangka pendek tetap tinggi bagi pelaku pasar dengan eksposur leverage. Secara teknikal, pergerakan Bitcoin masih menunjukkan pola kanal harga jangka pendek, menyusul aksi jual besar yang menekan pasar kripto global pada pekan sebelumnya. Analis menilai pemulihan saat ini lebih bersifat reaktif terhadap sentimen berita, sementara arah tren selanjutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan data makroekonomi global. Investor pun cenderung bersikap selektif sambil menunggu sinyal yang lebih jelas. Bagi investor Indonesia yang ingin memantau dinamika pasar global secara real-time, pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital dapat kamu cek melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memudahkan investor mengikuti perubahan harga dan sentimen pasar internasional dalam satu aplikasi yang praktis. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk memulai sekaligus mengeksplor berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman, serta dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia. Bagi investor pemula, tidak perlu khawatir karena aset kamu terproteksi dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Selain itu, Nanovest telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga telah tersedia di Play Store maupun App Store, mendukung kebutuhan investor untuk memantau dan memanfaatkan peluang di tengah volatilitas pasar global.