Bitcoin Uji US$75.000 di Tengah Ketegangan Iran dan Lonjakan Risiko Energi Global Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 19 April 2026 | 16:10 WIB

Bitcoin Uji US$75.000 di Tengah Ketegangan Iran dan Lonjakan Risiko Energi Global

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin kembali menguji zona teknikal penting di sekitar US$75.000 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Menurut analisis terbaru dari FLOQ Trading Desk, pergerakan ini menempatkan Bitcoin pada salah satu titik penentu arah pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar US$74.458, tepat di bawah level psikologis US$75.000, sebuah area yang secara historis sering menjadi titik keputusan bagi momentum pasar. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya volatilitas di pasar global setelah konflik Iran picu lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang lebih luas. Harga minyak sempat mendekati US$100 per barel sebelum pasar kembali stabil setelah kabar gencatan senjata sementara. Bitcoin Memasuki Zona Teknis Penting Analisis tim FLOQ Trading Desk menunjukkan bahwa Bitcoin kini diperdagangkan jauh di atas Value Area High (VAH) di US$71.500 berdasarkan analisis volume profile. Breakout di atas level ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah keluar dari area distribusi utama dan memasuki zona dengan suplai yang lebih tipis. Kondisi ini sering disebut sebagai "thin liquidity zone", di mana pergerakan harga dapat berlangsung lebih cepat karena minimnya tekanan jual. Jika Bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas US$74.000, jalur menuju US$78.000 berpotensi terbuka karena minimnya resistance di atas area tersebut. Sinyal Harus Diperhatikan Bagi Trader Meski reli Bitcoin masih berpotensi berlanjut, beberapa indikator momentum mulai menunjukkan tanda-tanda kehati-hatian. Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di sekitar level 70, yang dalam beberapa reli sebelumnya sering memicu koreksi jangka pendek sekitar 3–5 persen. Selain itu, analis juga mengamati indikasi bearish divergence, di mana harga Bitcoin mencetak level tertinggi baru sementara indikator momentum mulai melemah.Jika terjadi penolakan harga di sekitar US$75.000, beberapa level support yang diperkirakan akan diuji oleh pasar meliputi: • US$73.000 • US$71.500 Level-level tersebut diperkirakan menjadi area konsolidasi jika reli Bitcoin kehilangan momentum dalam jangka pendek. Faktor Global Pengaruhi Pasar Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyoroti pentingnya Selat Hormuz, jalur energi strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Setiap potensi gangguan di wilayah ini dapat meningkatkan premi risiko energi global serta mempengaruhi inflasi dan sentimen investor secara luas. Perubahan sentimen ini terlihat jelas di pasar global yang beberapa kali berpindah dari mode risk-off menuju relief rally dalam waktu singkat.Pergerakan Bitcoin yang mengikuti dinamika ini menunjukkan bahwa aset digital kini semakin dipandang sebagai aset makro global. Founder dan CEO FLOQ, Yudhono Rawis, menyatakan pergerakan Bitcoin saat ini mencerminkan transformasi kripto menjadi aset yang semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global.“Pasar kripto hari ini tidak lagi bergerak secara terpisah dari dinamika global. Geopolitik, energi, dan likuiditas global kini memainkan peran penting dalam menentukan arah harga Bitcoin,” ujar Yudhono. Menurutnya, trader dan investor perlu memahami hubungan antara pasar kripto dan kondisi makro global untuk dapat menavigasi volatilitas pasar dengan lebih baik. Prospek Pasar Dalam jangka pendek, FLOQ Trading Desk memperkirakan Bitcoin akan terus bergerak dalam zona keputusan antara US$74.000 hingga US$75.000. Breakout yang kuat di atas area tersebut berpotensi membuka reli menuju US$78.000 hingga US$80.000.Namun jika momentum gagal dipertahankan, pasar kemungkinan akan kembali melakukan konsolidasi menuju area US$71.500 sebelum menentukan arah berikutnya. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang, pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan akan semakin dipengaruhi oleh kombinasi faktor makro global seperti harga energi, kebijakan moneter, dan arus likuiditas institusional. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif, dan platform berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini, FLOQ telah catat lebihdari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads, dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.

Analisa Pasar FLOQ: Ketegangan Perang Dagang dan Pelemahan Ekonomi AS Bikin Investor Minat Bitcoin Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 14 April 2026 | 19:08 WIB

Analisa Pasar FLOQ: Ketegangan Perang Dagang dan Pelemahan Ekonomi AS Bikin Investor Minat Bitcoin

Jakarta, katakabar.com - Pada Market Outlook terbaru yang dirilis platform aset kripto FLOQ, dinamika geopolitik, serta perubahan kondisi makroekonomi global jadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk saham dan aset kripto. Ketegangan perdagangan global kembali meningkat setelah Amerika Serikat umumkan kebijakan tarif baru yang kemudian dibalas China dan Uni Eropa. Eskalasi ini picu kekhawatiran potensi perang dagang global dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia dan sentimen pasar keuangan. Pada Market Outlook terbaru yang dirilis platform aset kripto FLOQ, dinamika geopolitik serta perubahan kondisi makroekonomi global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk saham, dan kripto. Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan sinyal pelemahan. Klaim pengangguran meningkat sementara indeks harga produsen (PPI) mengalami penurunan. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi Federal Reserve berpotensi mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan. Secara historis, kondisi tersebut sering kali memberikan sentimen positif bagi aset berisiko seperti saham emerging markets dan kripto. Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah jalur perdagangan Selat Hormuz kembali dibuka turut menekan harga minyak dunia. Harga minyak WTI dilaporkan turun kebawah US$100 per barel, mengurangi tekanan inflasi energi global. Menariknya, di tengah kondisi tersebut, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan diperdagangkan di kisaran US$71.000–US$72.000, setelah sebelumnya menguji area penting di sekitar US$69.000. Menurut Yudhono Rawis, Founder dan CEO FLOQ, kondisi pasar saat ini mencerminkan perubahan cara investor memandang aset kripto dalam konteks ekonomi global. “Ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat, investor secara alami mencari alternatif di luar sistem keuangan tradisional. Bitcoin semakin dilihat bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi sebagai aset digital strategis yang dapat berperan dalam diversifikasi portofolio global,” ujar Yudhono Rawis. Ia menambahkan dinamika pasar saat ini menunjukkan kripto semakin berperan dalam percakapan ekonomi global, terutama dalam konteks adopsi institusional dan potensi penggunaannya dalam transaksi lintas negara. Sementara di dalam negeri, ulas Yudhono, pasar saham Indonesia menunjukkan pemulihan yang signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 4,42% dalam satu hari, didukung net buy investor asing sekitar Rp632 miliar, dengan sektor energi dan perbankan menjadi pendorong utama penguatan pasar. Fundamental makro Indonesia juga relatif stabil. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa nasional berada pada kisaran US$151,9 miliar, setara sekitar 6,1 bulan impor, jauh di atas standar internasional. Menurut analisis FLOQ, beberapa faktor global yang berpotensi memengaruhi pasar Indonesia dalam waktu dekat meliputi: Eskalasi perang dagang global yang berpotensi mengganggu rantai pasok dunia Pelemahan ekonomi Amerika Serikat dapat mendorong arus modal ke emerging markets Stabilitas harga minyak yang berpotensi membantu menjaga inflasi domestik Dalam menghadapi kondisi pasar yang volatil, FLOQ menekankan pentingnya pendekatan investasi yang disiplin. Untuk investor pemula, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum dinilai tetap relevan. Sementara bagi trader, area US$69.000–US$70.000 dipandang sebagai zona penting untuk akumulasi, dengan potensi pergerakan lanjutan apabila Bitcoin mampu menembus resistance di sekitar US$75.000. Menurut FLOQ, dinamika pasar saat ini menunjukkan bahwa kripto semakin berkembang dari sekadar aset spekulatif menjadi bagian dari ekosistem keuangan global yang lebih luas. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ  Academy yang dapat diakses tanpa biaya.  Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.  Disclaimer Informasi dalam Market Outlook ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi. Investor disarankan untuk melakukan riset mandiri dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi. 

Bitcoin Melejit di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran, Sinyal Awal Reli Baru! Internasional
Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 19:00 WIB

Bitcoin Melejit di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran, Sinyal Awal Reli Baru!

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga Bitcoin kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah mencatat kenaikan 1,0 persen dalam 24 jam terakhir pada Jumat (10/4) ke level US$72.258. Kenaikan ini bahkan melampaui pertumbuhan total pasar kripto yang hanya naik 0,79 persen, menandakan adanya dorongan kuat dari faktor eksternal, khususnya sentimen global. Lonjakan harga ini terjadi di tengah kabar meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu reli luas pada aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Sentimen Global Jadi Pemicu Utama Kenaikan Bitcoin kali ini tidak terlepas dari pengumuman gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang berlangsung selama dua minggu pada awal April 2026. Kabar ini langsung menurunkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko. Efeknya terlihat jelas di berbagai pasar. Indeks S&P 500 naik 1,9 persen, sementara Bitcoin menunjukkan korelasi tinggi sebesar 0,88 terhadap indeks tersebut, menegaskan bahwa pergerakan kripto saat ini sangat dipengaruhi kondisi makro global. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan peran Bitcoin sebagai aset berisiko dalam ekosistem keuangan global. “Reli Bitcoin saat ini lebih mencerminkan perubahan sentimen makro global, terutama meredanya risiko geopolitik. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya, bukan didorong oleh faktor fundamental internal semata,” ujar Fyqieh. Likuidasi Besar dan Breakout Teknikal Perkuat Kenaikan Selain sentimen geopolitik, kenaikan harga Bitcoin juga diperkuat oleh faktor teknikal dan aktivitas di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, terjadi likuidasi posisi short senilai US$427 juta, yang memicu efek domino berupa aksi beli paksa. Tekanan beli ini semakin memperkuat momentum setelah Bitcoin berhasil menembus level penting Fibonacci di kisaran US$71.515. Secara teknikal, indikator RSI 7 hari berada di level 67,49, yang menunjukkan tren bullish namun belum memasuki kondisi jenuh beli. Fyqieh menilai kombinasi ini menjadi faktor penting dalam mempercepat pergerakan harga. “Likuidasi di pasar derivatif menciptakan tekanan beli tambahan yang mempercepat kenaikan. Ditambah dengan breakout di level teknikal kunci, ini memberikan validasi bahwa tren naik masih memiliki kekuatan, setidaknya dalam jangka pendek,” jelasnya. Peran Data Inflasi dan Kebijakan The Fed Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif. Inflasi PCE Februari tercatat sebesar 2,8 persen secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di level 3 persen. Stabilnya inflasi ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga tidak meningkat signifikan, sehingga memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel. Tetapi, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi CPI Maret yang diperkirakan naik menjadi 3,3 persen secara tahunan. Data ini menjadi penting karena mencerminkan dampak langsung dari konflik geopolitik terhadap inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi. “Pasar saat ini berada dalam fase yang sensitif terhadap data ekonomi. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, maka narasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan bisa menekan Bitcoin. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi penguatan lanjutan,” kata Fyqieh. Outlook Jangka Pendek: Peluang Naik Masih Terbuka Tapi Rapuh Dalam jangka pendek, Bitcoin masih menunjukkan potensi kenaikan lanjutan selama mampu bertahan di atas level US$71.500. Jika level ini terjaga, harga berpeluang menguji resistance di kisaran US$72.545 hingga US$73.500. Tetapi, risiko koreksi tetap terbuka, terutama jika gencatan senjata antara AS dan Iran tidak bertahan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat. Dalam skenario analisis Tokocrypto, Bitcoin berpotensi turun ke area support di sekitar US$68.700. Fyqieh menegaskan stabilitas makro menjadi kunci utama pergerakan pasar saat ini. “Tren saat ini memang bullish, tetapi sangat bergantung pada faktor eksternal, terutama geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Investor perlu tetap waspada terhadap perubahan sentimen yang bisa terjadi dengan cepat,” ujarnya. Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bagaimana aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika global. Reli yang terjadi bukan hanya hasil dari faktor internal, tetapi juga refleksi dari perubahan sentimen investor terhadap risiko global. Kombinasi sentimen geopolitik, tekanan derivatif, dan dukungan teknikal, Bitcoin memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan. Tetapi, ketidakpastian yang masih tinggi membuat pasar tetap berada dalam kondisi yang rapuh. Pelaku pasar diharapkan tidak hanya melihat peluang, tetapi juga mempertimbangkan risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu seiring perubahan kondisi global.

Bittime Catatkan Kenaikan Nilai Aset Bitcoin hingga 3,21 Persen Pasca Deeskalasi Geopolitik Timteng Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 25 Maret 2026 | 11:06 WIB

Bittime Catatkan Kenaikan Nilai Aset Bitcoin hingga 3,21 Persen Pasca Deeskalasi Geopolitik Timteng

Jakarta, katakabar com - Pasar aset kripto menunjukkan penguatan signifikan, di mana Bitcoin ($BTC) dan sejumlah aset kripto utama lainnya naik sekitar 5 persen Senin(23/3) kemarin menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait penundaan serangan terhadap infrastruktur Iran. Bertepatan dengan ini, daily trading volume di Bittime menunjukkan dominasi aset Bitcoin ($BTC) dan $USDT yang masih mendominasi perdagangan aset kripto di Indonesia. Lebih lanjut, meredanya risiko geopolitik antara United States dan Iran kembali menegaskan bahwa pasar aset kripto sangat responsif terhadap perkembangan makro dan politik global. Hal ini menunjukkan bahwa de-eskalasi geopolitik dapat menjadi katalis bagi pemulihan harga dan momentum penguatan aset kripto. Di periode de-eskalasi, investor cenderung kembali masuk ke pasar, sehingga mendorong permintaan terhadap aset digital utama seperti $BTC dan $USDT sebagai bagian dari strategi pengelolaan portofolio. Perkembangan ini menegaskan bahwa faktor makro dan geopolitik turut berperan dalam mempengaruhi pergerakan sentimen pasar. Di sisi lain, berdasarkan data on-chain yang dipaparkan oleh analis CryptoQuant melalui pasokan $BTC yang dipegang oleh pemegang jangka panjang atau Long-Term Holders (LTH) justru mengalami peningkatan pesat sebesar 332.000 $BTC selama satu bulan terakhir di tahun 2026. Ini menunjukkan adanya pergeseran sentimen di mana para investor optimis dan terus menambah kepemilikan mereka meskipun kondisi pasar sedang penuh ketidakpastian, yang sekaligus mencerminkan tingkat toleransi yang lebih tinggi terhadap risiko di masa depan. Ini selaras dengan aktivitas trading pada platform perdagangan Bittime yang mencatatkan bahwa $BTC dan $USDT tetap menjadi aset kripto dengan volume perdagangan tertinggi atau top trading assets bagi para investor dalam seminggu terakhir. Penggunaan pasangan perdagangan IDR/USDT juga menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku pasar untuk menjaga nilai aset mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Dominasi aktivitas perdagangan $BTC dan $USDT di platform Bittime mencerminkan strategi investor yang cenderung mencari perlindungan nilai saat pasar sedang mengalami tekanan hebat. Kehadiran $USDT yang dipasangkan dengan Rupiah memudahkan investor lokal untuk bertransaksi dengan cepat tanpa harus terpapar fluktuasi nilai tukar dolar yang juga tidak menentu. Sebagai platform perdagangan aset kripto yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime berkomitmen untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi para investor di Indonesia. Tetpi, investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Untuk itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Bitcoin Tembus US $76.000, Ini Kata Bittime Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 20 Maret 2026 | 08:03 WIB

Bitcoin Tembus US $76.000, Ini Kata Bittime

Jakarta, katakabar.com - Momentum positif kembali terlihat di pasar aset kripto global, di mana Bitcoin ($BTC) sempat sentuh level US$76.000 setelah mencatat kenaikan sekitar 4 persen dalam waktu singkat (17 Maret 2026). Di tengah momentum tersebut, Bittime melihat peluang bagi investor Indonesia untuk mulai membangun strategi portofolio yang lebih adaptif. Sebelumnya, pergerakan positif ini diikuti oleh sejumlah aset kripto utama lainnya, seperti XRP ($XRP) yang naik sekitar 9 persen, Ethereum ($ETH) sebesar 12 persen, serta Cardano ($ADA) yang menguat hingga 8% dalam seminggu terakhir. Tren ini mencerminkan meningkatnya optimisme pasar di tengah kondisi global yang masih diwarnai ketidakpastian. Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) memandang hal ini sebagai peluang bagi investor Indonesia untuk mulai membangun strategi portofolio yang lebih adaptif. Salah satu pendekatan yang saat ini banyak diterapkan adalah konversi IDR ke Tether ($USDT). Sebab, stablecoin $USDT dinilai dapat memberikan fleksibilitas bagi investor untuk mengelola likuiditas sekaligus merespons peluang pasar dengan lebih cepat, terutama dalam kondisi pasar yang bergerak dinamis. Melalui ekosistem perdagangan yang dimilikinya, Bittime menghadirkan kemudahan bagi pengguna untuk melakukan konversi IDR–USDT secara efisien, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengakses berbagai aset kripto utama. Pendekatan ini memungkinkan investor untuk secara bertahap membangun portofolio, tidak hanya bergantung pada satu aset, tetapi mendiversifikasikan berbagai aset seperti $BTC, $XRP, hingga $ETH sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Menurut Ronny Prasetya, Presiden Direktur Bittime, momentum kenaikan pasar seperti saat ini dapat menjadi salah satu momen bagi investor untuk mulai memperkuat strategi pengelolaan aset mereka. Ia menambahkan di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan ekonomi, strategi investasi yang adaptif menjadi semakin penting. Kombinasi antara pengelolaan likuiditas melalui stablecoin dan alokasi ke aset kripto utama dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan oleh investor. Sebagai platform perdagangan aset kripto yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime terus berkomitmen untuk menyediakan layanan yang aman, mudah diakses, serta relevan dengan kebutuhan investor Indonesia. Tetapi, investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Tentu, perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Harga Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Geopolitik, Pasar Cari Alternatif Selain Emas Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 18 Maret 2026 | 11:06 WIB

Harga Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Geopolitik, Pasar Cari Alternatif Selain Emas

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan naik sekitar 3,18% dalam 24 jam terakhir ke level $73.905 atau sekitar Rp1,25 miliar, Senin (16/3), mengungguli sebagian besar aset di pasar global yang cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini juga menunjukkan korelasi yang semakin kuat dengan emas, dengan tingkat korelasi mencapai sekitar 28,14%, mengindikasikan Bitcoin mulai diposisikan investor sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Lonjakan harga Bitcoin terjadi ketika risiko geopolitik meningkat setelah konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mendekati $100 per barel, level tertinggi sejak 2022. Kondisi ini mendorong kekhawatiran inflasi global sekaligus membuat investor mencari alternatif penyimpan nilai di luar aset tradisional. CEO Tokocrypto Calvin Kizana, menilai dinamika pasar saat ini memperlihatkan perubahan persepsi investor terhadap Bitcoin di tengah ketidakpastian global. “Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga minyak melonjak, pasar biasanya mencari aset yang dianggap tahan terhadap tekanan inflasi dan risiko mata uang. Saat ini kita melihat Bitcoin semakin sering diperlakukan seperti emas digital, yakni sebagai alternatif lindung nilai terhadap gejolak makroekonomi,” ujar Calvin. Selain faktor geopolitik, kata Calvin, kenaikan harga Bitcoin juga didorong oleh kembalinya permintaan institusional melalui ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat. Sepanjang Maret, produk ETF Bitcoin tercatat telah menarik sekitar $1,3 miliar arus masuk bersih, menandai pemulihan minat investor besar setelah periode perlambatan pada akhir 2025. "Dalam lima hari perdagangan terakhir saja, ETF Bitcoin di AS mencatat arus masuk lebih dari $767 juta, dengan BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) menyumbang sekitar $600 juta dari total tersebut. Secara keseluruhan, ETF telah menyerap sekitar 18.000 BTC sejak awal Maret, memperkuat permintaan struktural di pasar," jelasnya. Di sisi lain, ulas Calvin, reli harga juga diperkuat oleh dinamika pasar derivatif. Data menunjukkan lonjakan likuidasi posisi sebesar 420% dalam 24 jam, dengan lebih dari 92% berasal dari posisi short, yang memicu efek short squeeze dan mempercepat kenaikan harga. Kombinasi arus masuk institusional dan tekanan pada posisi leverage bearish menjadi katalis penting dalam pergerakan harga terbaru. “ETF memberikan permintaan riil dari investor institusional, sementara likuidasi posisi short mempercepat pergerakan harga di pasar derivatif. Kombinasi dua faktor ini menciptakan momentum yang kuat bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ucapnya. Dari sisi teknikal, lanjut Calvin, Bitcoin berhasil menembus rata-rata pergerakan 50 hari di sekitar $71.125, yang menjadi sinyal penguatan momentum dalam jangka pendek. Level ini kini menjadi salah satu area support penting yang dipantau pasar. "Tetapi secara jangka panjang, Bitcoin masih berada di bawah 200-day moving average sekitar $93.939, yang menunjukkan tren bearish struktural masih membayangi. Indikator teknikal lainnya memperlihatkan kondisi yang campuran, RSI 7-hari di level 70 mendekati area overbought, sementara MACD positif menunjukkan momentum bullish jangka pendek masih berlanjut," kupas Calvin lagi. Calvin menilai kondisi ini mencerminkan fase transisi pasar kripto yang masih sensitif terhadap sentimen makro. “Momentum jangka pendek terlihat positif, tetapi pasar masih berada dalam fase konsolidasi besar. Selama Bitcoin belum mampu menembus rata-rata 200 hari, reli kemungkinan akan menghadapi resistensi kuat di level atas,” imbuhnya. Dalam jangka pendek, analis memperkirakan Bitcoin berpotensi mengujicoba kembali area resistensi $74.000–$75.000 apabila mampu mempertahankan support di sekitar $71.500. Penembusan di atas $74.000 dapat membuka peluang menuju $77.000. Sebaliknya, jika momentum melemah atau arus masuk ETF melambat, harga berisiko turun kembali ke area $69.000. Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini didorong oleh kombinasi lindung nilai makro, akumulasi institusional, serta momentum teknikal jangka pendek, sementara meningkatnya partisipasi investor ritel di dalam negeri turut memberikan sentimen positif bagi pasar kripto menjelang akhir Ramadhan. Di dalam negeri, momentum penguatan pasar kripto juga bertepatan dengan periode menjelang Lebaran dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), yang biasanya ikut mendorong peningkatan aktivitas investasi ritel. Tokocrypto mencatat adanya peningkatan jumlah active trader dan first-time trader lebih dari 30% di platform dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto. Tren ini juga didorong oleh kehadiran kampanye Ramadan bertajuk “Ramadhan Berkah Bersama Tokocrypto! Total Hadiah hingga IDR250 Juta”, yang mengajak masyarakat untuk memperbanyak silaturahmi sekaligus mengundang kerabat terdekat untuk ikut berpartisipasi di ekosistem kripto. Calvin mengatakan bahwa periode Ramadan hingga menjelang Idul Fitri kerap menjadi momentum meningkatnya partisipasi investor baru di pasar kripto. “Kami melihat adanya peningkatan jumlah trader aktif dan pengguna baru di platform Tokocrypto menjelang Lebaran. Pencairan THR sering kali menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk mulai mencoba berinvestasi, termasuk di aset kripto,” tutur Calvin. Ia menambahkan, berbagai program insentif dan kampanye pemasaran yang dijalankan selama Ramadan diharapkan dapat semakin mendorong aktivitas transaksi di pasar. Melalui program Ramadan Berkah Bersama Tokocrypto, perusahaan ingin menghadirkan semangat Ramadan yang bukan hanya identik dengan berbagi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mulai mengenal dan bertransaksi aset kripto secara lebih luas. “Dengan adanya insentif serta program promosi yang kami jalankan selama Ramadan, kami berharap dapat mendorong peningkatan nilai transaksi baik di platform Tokocrypto maupun secara nasional. Kami optimistis momentum ini dapat menjadi penutup Ramadan yang 'hijau' bagi pasar kripto tahun ini,” tandasnya.

Resiliensi Bitcoin di Tengah Gejolak Geopolitik, Bittime: Momentum Diversifikasi Aset Investasi Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:08 WIB

Resiliensi Bitcoin di Tengah Gejolak Geopolitik, Bittime: Momentum Diversifikasi Aset Investasi

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto baru saja menunjukkan ketahanannya setelah Bitcoin ($BTC) berhasil menembus kembali level harga $70.000. Menanggapi hal ini, Bittime, crypto exchange yang mengusung Trustworthy, sebagai salah satu pondasi platformnya, kembali menekankan penguatan literasi dan strategi investasi yang tidak terbatas pada sentimen pasar. Sebelumnya, menurut data dari NewsBTC pemulihan ini didorong oleh perubahan sentimen risiko global setelah adanya sinyal bahwa konflik tersebut dapat diredam lebih cepat dari perkiraan semula. Seiring dengan mendinginnya harga minyak mentah dunia dan stabilnya pasar saham, aset Bitcoin ($BTC) mulai menunjukkan performa yang solid sebagai aset kripto yang mulai matang dalam menghadapi tekanan eksternal. Data dari berbagai platform analisis termasuk CryptoQuant juga menunjukkan bahwa koreksi harga yang terjadi bukanlah awal dari fase penurunan pasar yang panjang, melainkan sebuah guncangan likuiditas sesaat. Aktivitas di pasar derivatif dan aliran dana masuk pada instrumen aset $ETF dan $BTC menunjukkan bahwa investor institusional justru memanfaatkan penurunan harga untuk menambah posisi mereka. Ini mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap aset kripto seperti $BTC yang tetap kokoh meskipun berada di tengah ketidakpastian global. Sekaligus memperkuat narasi $BTC sebagai "emas digital" yang mulai memiliki pola pergerakan yang lebih stabil dibandingkan masa-masa awal kehadirannya. Hal tersebut, juga menekankan kehadiran aset kripto sebagai salah satu diversifikasi aset investasi di tengah ketidakpastian global. Namun, tentu investor perlu memahami bahwa dinamika pasar memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap strategi portofolio masing-masing. Mengingat, kondisi volatilitas pasar yang dapat menciptakan peluang, sekaligus risiko lebih tinggi bagi para trader. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi di tengah momentum pasar terhadap diversifikasi aset diversifikasi. Sebab, dengan pemahaman yang baik, investor dapat mengelola risiko dengan lebih bijak dan berdasarkan profil risiko masing-masing. Tentu, perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Bittime Tegaskan Pentingnya Literasi Digital Jelang Dinamika Bitcoin Terhadap CPI Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 13 Maret 2026 | 09:00 WIB

Bittime Tegaskan Pentingnya Literasi Digital Jelang Dinamika Bitcoin Terhadap CPI

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto mengawali pekan ini dengan tren positif yang mencatatkan penguatan harga, jelang Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat 2026. Menanggapi hal ini, Bittime, crypto exchange usung Trustworthy, sebagai salah satu pondasi platformnya, kembali menekankan penguatan literasi dan strategi investasi yang tidak terbatas pada sentimen pasar. Menurut data dari CoinPedia, pasar aset kripto telah menunjukkan reaksi yang kuat terhadap data inflasi dalam beberapa bulan terakhir. Di mana, pada 13 Februari 2026 lalu, ketika CPI Januari tercatat sebesar 2,4 persen, sedikit di bawah ekspektasi, bertepatan dengan aset Bitcoin ($BTC) yang melonjak sekitar 5 persen, naik dari titik terendah harian $65.889 menjadi hampir $70.500. Di saat yang sama, Ethereum ($ETH) dan XRP ($XRP) juga bereaksi kuat. Kedua koin tersebut naik sekitar 5 persen hingga 8 persen dalam satu hari, dengan $ETH bergerak di atas $2.100 dan $XRP diperdagangkan di dekat $1,55. Sekarang, data CPI Februari diperkirakan akan mencapai 2,5 persen, sedikit lebih tinggi dari angka Januari sebesar 2,4 persen. Karena itu, para trader mengamati dengan cermat bagaimana pasar akan bereaksi kali ini. Consumer Price Index (CPI) merilis Meskipun inflasi menunjukkan tren yang mulai mereda secara perlahan, angka tersebut masih berada di atas target ideal Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed sebesar 2 persen. Lebih lanjut, situasi ini menciptakan dilema kebijakan moneter, di mana The Fed kemungkinan besar akan menunda pemotongan suku bunga demi menjaga stabilitas ekonomi. Berdasarkan data pasar, terdapat probabilitas yang sangat tinggi suku bunga bakal dipertahankan pada level 3,5 persen hingga 3,75 persen, sebuah kondisi yang biasanya membatasi aliran likuiditas ke pasar aset spekulatif seperti aset kripto. Tetapi, investor juga perlu mewaspadai risiko koreksi jika inflasi melonjak melampaui prediksi, karena hal tersebut dapat memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Fluktuasi ini menuntut kedewasaan dalam berinvestasi agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan yang bersifat emosional saat pasar mengalami volatilitas tinggi. Di tengah situasi pasar yang penuh tantangan ini, Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang. Sebab, kehadiran aset kripto sebagai salah satu diversifikasi aset investasi juga dapat dilirik sebagai investasi jangka panjang. Untuk itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Tetapi, perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya. Bagaimana Konflik Internasional Pengaruhi Harga Emas dan Dolar Jakarta, katakabar.com - Pasar keuangan global sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik. Ketika konflik internasional meningkat, ketidakpastian ekonomi juga ikut meningkat dan memengaruhi pergerakan berbagai instrumen keuangan. Dua aset yang paling sering mengalami perubahan signifikan dalam situasi seperti ini adalah emas dan dolar Amerika Serikat. Emas dikenal sebagai aset safe haven yang sering dicari investor ketika situasi global tidak stabil. Sementara itu, dolar AS sering dianggap sebagai mata uang paling likuid dan relatif aman dalam kondisi krisis. Kombinasi dua faktor ini membuat keduanya sering menjadi pusat perhatian pelaku pasar ketika terjadi konflik geopolitik. Pada kondisi geopolitik yang tidak stabil, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman. Emas sering menjadi pilihan utama karena memiliki nilai intrinsik dan historis yang kuat sebagai penyimpan nilai. Ketika ketegangan internasional meningkat, permintaan terhadap emas biasanya ikut naik. Hal ini dapat mendorong harga emas meningkat karena banyak investor mencari perlindungan dari ketidakpastian pasar. Fenomena ini telah terjadi dalam berbagai krisis global, termasuk konflik militer, ketegangan perdagangan, dan ketidakstabilan ekonomi. Peran Dolar AS dalam Ketidakpastian Global Selain emas, dolar Amerika Serikat juga sering mengalami penguatan ketika situasi global memanas. Sebagai mata uang cadangan utama dunia, dolar memiliki tingkat likuiditas tinggi dan digunakan secara luas dalam perdagangan internasional. Ketika konflik terjadi, banyak investor memindahkan aset mereka ke dolar untuk menjaga stabilitas portofolio. Permintaan yang meningkat terhadap dolar ini dapat menyebabkan mata uang tersebut menguat terhadap mata uang lainnya. Tetapi, dalam beberapa kondisi tertentu, kenaikan harga emas dan penguatan dolar bisa terjadi secara bersamaan karena keduanya dianggap sebagai aset pelindung dari risiko global. Risiko Geopolitik dan Strategi Persiapan Finansial Ketegangan geopolitik juga sering memicu kekhawatiran mengenai potensi konflik yang lebih besar di masa depan. Dalam situasi seperti ini, investor dan trader perlu memahami bagaimana perkembangan geopolitik dapat memengaruhi kondisi pasar serta mempersiapkan strategi finansial yang lebih bijak. Pembahasan lebih lanjut mengenai risiko konflik global dan strategi persiapan finansial dapat dibaca melalui artikel berikut: Risiko Perang Dunia III, Strategi Persiapan Finansial Dengan memahami hubungan antara konflik internasional dan pergerakan pasar, pelaku pasar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih rasional dan terukur. Dalam kondisi pasar yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, trader membutuhkan platform trading yang stabil serta akses informasi pasar yang akurat. Broker Trading KVB Indonesia menyediakan akses ke berbagai instrumen global seperti forex, emas, dan komoditas yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dunia. Bagi Anda yang ingin mulai trading dan memanfaatkan peluang dari pergerakan pasar global, pendaftaran akun dapat dilakukan melalui: Link Registrasi KVB Futures Dengan pemahaman terhadap dinamika geopolitik serta dukungan platform trading yang tepat, trader dapat merespons perubahan pasar global dengan lebih cepat dan strategis.

Gejolak Timur Tengah Guncang Kripto, Kemana Arah Bitcoin? Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 05 Maret 2026 | 13:23 WIB

Gejolak Timur Tengah Guncang Kripto, Kemana Arah Bitcoin?

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto mengalami tekanan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi serangan udara terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan militer tercapai. Pernyataan tersebut memicu gelombang risk-off di pasar global dan mendorong harga aset kripto utama kembali melemah. Bitcoin (BTC) tercatat turun ke kisaran US$65.954 pada Senin (⅔) setelah sempat rebound menembus level US$68.000. Dalam 24 jam terakhir, BTC terkoreksi sekitar 1 persen dan masih mencatatkan penurunan sekitar 20 persen dalam sebulan terakhir. Tekanan juga terjadi pada altcoin utama, dengan Ethereum (ETH) turun sekitar 2,46 persen ke level US$1.947, sementara XRP melemah hampir 3% ke kisaran US$1,35. Solana (SOL) turut mencatatkan pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pelemahan ini terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat menyusul serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan semakin meningkat ketika Iran menolak laporan mengenai pembukaan kembali negosiasi nuklir dengan AS, sementara Inggris menyatakan kesediaannya mengizinkan penggunaan pangkalan militer untuk mendukung serangan defensif terhadap situs rudal Iran. Lonjakan konflik tersebut memicu reli pada aset safe haven tradisional. Harga minyak mentah mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, sementara emas melonjak lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, indeks saham global seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong dibuka melemah. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai volatilitas yang terjadi saat ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen makro global. “Jangka pendek, Bitcoin kembali bergerak sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Ketika terjadi eskalasi konflik dan lonjakan harga minyak, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, sehingga pasar kripto mengalami tekanan,” ujar Calvin. Analisis Pasar Kripto Secara teknikal, Bitcoin kini berada di bawah area support penting US$65.000. Jika tekanan berlanjut dan harga menembus area US$64.000, terdapat risiko pengujian ulang level US$63.000 bahkan mendekati US$60.000. Sedang, untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka pendek, BTC perlu kembali menembus resistance di kisaran US$68.500–US$69.000 dan melampaui level US$70.800. Data pasar juga menunjukkan pelemahan dari sisi on-chain dan derivatif. Aktivitas akumulasi whale dilaporkan menurun, sementara likuidasi posisi leverage mempercepat tekanan harga. Kondisi ini mengindikasikan bahwa struktur pasar saat ini masih cenderung bearish, dengan minimnya dorongan beli besar yang mampu menopang reli berkelanjutan. Tetapi, Calvin menekankan dinamika makro dapat menciptakan dua skenario berbeda bagi kripto dalam jangka menengah. “Jika eskalasi konflik mendorong bank sentral, khususnya The Fed, untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya, maka likuiditas tambahan di sistem keuangan global berpotensi menjadi katalis positif bagi Bitcoin. Jika lonjakan harga energi memicu inflasi baru dan menunda penurunan suku bunga, maka tekanan terhadap aset berisiko bisa bertahan lebih lama,” jelasnya. Di sisi lain, prospek jangka menengah industri kripto masih ditopang oleh potensi katalis regulasi di Amerika Serikat, termasuk pembahasan CLARITY Act yang diproyeksikan dapat memberikan kepastian hukum bagi aset digital pada pertengahan 2026. Kejelasan regulasi dinilai menjadi prasyarat penting untuk membuka aliran modal institusional yang lebih besar ke pasar kripto. Kondisi di Dalam Negeri Di dalam negeri, menurut Calvin, dinamika pasar kripto juga dipengaruhi oleh pergerakan harga yang cenderung sideways dan mulai terasa jenuh dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat banyak investor memilih bersikap wait and see sambil menunggu momentum baru yang lebih kuat. “Di saat yang sama, ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga The Fed, mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menambah eksposur dan melakukan ekspansi portofolio,” imbuhnya. Meski begitu, dari sisi fundamental dan aktivitas pengguna, minat terhadap aset kripto tetap terjaga. Di platform Tokocrypto, investor saat ini cenderung melakukan akumulasi secara bertahap serta lebih selektif dalam memilih aset, alih-alih melakukan transaksi agresif seperti pada periode bullish. Kondisi ini mencerminkan fase konsolidasi yang relatif sehat, di mana investor menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang dipengaruhi sentimen makro global. Calvin menekankan pentingnya sikap disiplin di tengah kondisi yang masih fluktuatif. “Di fase volatilitas tinggi seperti sekarang, investor perlu lebih mengutamakan manajemen risiko dan tetap rasional dalam mengambil keputusan. Perhatikan perkembangan geopolitik, pergerakan harga minyak, serta rilis data ekonomi AS yang sangat mempengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed,” terangbCalvin. Ia menambahkan, strategi yang terukur dan berbasis fundamental menjadi kunci agar investor tetap tangguh menghadapi dinamika pasar global.

Jangan Panik! Koreksi Bitcoin Saat Imlek Justru Bisa Jadi Peluang Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 17 Februari 2026 | 17:00 WIB

Jangan Panik! Koreksi Bitcoin Saat Imlek Justru Bisa Jadi Peluang

Jakarta, katakabar.com - Periode Tahun Baru Imlek 2026 yang berlangsung pada 17 Februari hingga awal Maret menjadi perhatian pelaku pasar kripto global. Secara historis, perayaan ini kerap diikuti pola musiman pada pergerakan harga Bitcoin, mulai dari tekanan jual menjelang libur hingga pemulihan setelah aktivitas perdagangan kembali normal. Sejumlah riset pasar menunjukkan bahwa dalam kurun 2015–2023, Bitcoin cenderung mengalami koreksi rata-rata 10–20% dalam dua hingga tiga minggu sebelum Imlek. Setelah periode libur berakhir, harga kerap mencatat reli 15–35% dalam satu hingga dua minggu berikutnya. Bahkan, analisis 10x Research mencatat bahwa strategi membeli Bitcoin tiga hari sebelum Imlek dan menjual 10 hari setelahnya menghasilkan rata-rata imbal hasil (ROI) 11% secara historis. Fenomena ini tidak lepas dari besarnya partisipasi investor asal China dalam ekosistem kripto global. Meski terdapat pembatasan dari pemerintah setempat, jumlah pemilik aset kripto di China diperkirakan mencapai 59,1 juta orang. Menjelang Imlek, sebagian investor disebut melakukan likuidasi untuk memenuhi kebutuhan musiman seperti perjalanan mudik, pembagian angpao (hongbao), hingga pengeluaran keluarga dan bisnis. Tekanan jual yang terkonsentrasi dalam waktu singkat menciptakan pola koreksi yang relatif konsisten. Selain itu, selama masa libur delapan hari, aktivitas perdagangan dari kawasan Asia cenderung menurun signifikan. Penurunan volume transaksi ini membuat likuiditas pasar menipis dan order book menjadi lebih tipis, sehingga pergerakan harga lebih mudah terdorong oleh transaksi dalam jumlah relatif kecil. Tekanan Jual Jadi Perhatian Data historis 2024 memperlihatkan pola serupa. Pada Januari 2024, Bitcoin sempat mencapai level US$48.494 sebelum terkoreksi ke sekitar US$38.678, atau turun hampir 20% menjelang Imlek. Namun setelah periode libur, harga berbalik naik dan sempat menyentuh US$56.650 pada akhir Februari, mencerminkan pemulihan lebih dari 30% dari titik sebelum perayaan. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai faktor musiman seperti Imlek memang kerap memberikan tekanan jangka pendek terhadap pasar, namun bukan satu-satunya variabel penentu arah harga. “Periode seperti Imlek sering kali menghadirkan volatilitas karena faktor likuiditas regional dan kebutuhan musiman investor. Namun, investor perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas, termasuk sentimen global dan arus dana institusional,” kata Calvin. Menurutnya, struktur pasar kripto saat ini sudah jauh lebih matang dibandingkan beberapa tahun lalu. Masuknya investor institusi melalui berbagai instrumen investasi, termasuk ETF Bitcoin spot di sejumlah negara, turut memperluas sumber likuiditas yang sebelumnya sangat bergantung pada kawasan Asia. “Saat ini arus dana tidak lagi terpusat di satu wilayah. Partisipasi institusi global membuat pasar lebih terdiversifikasi, sehingga potensi tekanan dari satu kawasan bisa lebih teredam dibandingkan sebelumnya,” jelasnya. Meski demikian, Calvin menilai investor tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas jangka pendek selama periode libur panjang. Ia menyarankan agar pelaku pasar memperhatikan manajemen risiko dan tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan harga yang bersifat musiman. Selain faktor Imlek, pasar kripto global juga masih dibayangi dinamika makroekonomi, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral utama hingga perkembangan regulasi di berbagai negara. Kombinasi faktor musiman dan sentimen global ini membuat pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir terlihat fluktuatif. “Pasar kripto dalam beberapa waktu terakhir memang terasa 'babak belur' karena kombinasi berbagai faktor eksternal. Oleh karena itu, pemahaman terhadap siklus pasar dan disiplin dalam pengelolaan risiko menjadi semakin penting,” kata Calvin. Tokocrypto Hadirkan Fitur Gift Card dan Optimalkan Deposit BCA Di tengah dinamika pasar tersebut, Tokocrypto memperkenalkan sejumlah pembaruan fitur untuk mendorong aktivitas transaksi dan memperluas utilitas aset kripto di Indonesia, bertepatan dengan momentum Imlek 2577 dan Ramadan 1447 H. Salah satu fitur yang diluncurkan adalah Gift Card Tokocrypto, yang memungkinkan pengguna mengirim aset kripto sebagai hadiah digital tanpa perlu mengetahui alamat wallet penerima. Pengguna cukup membagikan tautan atau kode yang dapat diklaim oleh penerima, serta dapat menyertakan pesan personal sesuai momen perayaan. Selain itu, Tokocrypto juga mencatat pertumbuhan signifikan pada metode deposit melalui Virtual Account BCA, yang menjadi salah satu kontributor terbesar transaksi deposit di platform. Pengguna dapat melakukan transfer melalui BCA Mobile, MyBCA, KlikBCA, maupun ATM BCA, dengan proses yang diklaim dapat selesai dalam waktu kurang dari lima menit dan dana langsung dapat digunakan untuk bertransaksi. Calvin berharap inovasi ini dapat menjaga minat masyarakat terhadap investasi aset digital di tengah kondisi pasar yang menantang. “Kami ingin memastikan pengguna tetap memiliki akses yang mudah, cepat, dan relevan terhadap aset kripto, termasuk dalam momen spesial seperti Imlek dan Ramadan,” sebutnya.