Bioetanol
Sorotan terbaru dari Tag # Bioetanol
Perkuat Ketapang dan Energi Nasional, Presiden RI Tinjau Hilirisasi Bioetanol PTPN I
Malang, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (Persero), Subholding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menegaskan komitmen dukung ketahanan pangan dan energi nasional melalui hilirisasi tebu menjadi bioetanol. Komitmen itu ditunjukkan melalui partisipasi perusahaan Panen Raya TNI dalam rangka Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional yang dihadiri Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7) lalu. Kegiatan tersebut turut dihadiri Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Menteri Pertahanan, Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto beserta Anggota, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI, Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI, Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI M. Tonny Harjono, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, Sekretaris Kabinet, Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Bupati Malang, Wali Kota Malang, para kepala daerah, serta jajaran direksi BUMN. Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan sejumlah booth yang menampilkan komoditas strategis dan produk hilirisasi oleh Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto, didampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Salah satu booth yang dikunjungi adalah booth PTPN I (Persero). Dalam kesempatan tersebut, Presiden beserta rombongan disambut langsung oleh Direktur Utama PTPN I (Persero), Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.Si., IPU., ASEAN Eng., yang memaparkan pengembangan bioetanol hasil hilirisasi tetes tebu melalui PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak perusahaan PTPN I (Persero). “Melalui PT Energi Agro Nusantara (Enero), kami mengolah tetes tebu menjadi bioetanol dengan kapasitas produksi 100 kiloliter per hari. Bioetanol tersebut dimanfaatkan sebagai fuel grade ethanol untuk campuran bahan bakar, termasuk Pertamax Green 95. Selain itu, kami juga menghasilkan extra neutral alcohol untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi, spiritus, serta pupuk hayati,” jelas Rivai. Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk TNI, Polri, pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat, sebagai fondasi dalam mewujudkan kemandirian bangsa. “Kegiatan ini menunjukkan ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa. Saya mengajak semua kekuatan bangsa, bersatulah untuk bangsa dan rakyat kita,” ujar Kepala Negara. Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto aminkan Presden RI. Ia menyampaikan bahwa Panen Raya TNI wujud sinergi lintas sektor dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara TNI, pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. “Capaian ini adalah hasil dari sinergi TNI, pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Kami memohon arahan Bapak Presiden agar seluruh program yang kami laksanakan tetap selaras dengan kebijakan pemerintah dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia,” jelas Panglima TNI. Panglima TNI juga menekankan hilirisasi tebu menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, di antaranya molase, bioetanol, bahan baku industri dan farmasi, pupuk organik, serta produk turunan lainnya yang memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Sejalan dengan upaya tersebut, PTPN I (Persero) terus memperkuat hilirisasi tebu melalui pengembangan bioetanol sebagai salah satu energi terbarukan. Selain dimanfaatkan sebagai fuel-grade ethanol untuk campuran bahan bakar, bioetanol yang dihasilkan juga menjadi bahan baku berbagai produk turunan, seperti extra neutral alcohol untuk industri kosmetik dan farmasi, spiritus, serta pupuk hayati. Pengembangan hilirisasi ini menjadi bagian dari komitmen PTPN I (Persero) dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan melalui inovasi yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PTPN I terus memperkuat transformasi industri perkebunan melalui hilirisasi komoditas strategis, pengembangan energi terbarukan, dan inovasi berbasis keberlanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri perkebunan Indonesia di tingkat global.
Holding PTPN dan Unila Perkuat Ekosistem Bioetanol Berbasis Singkong di Lampung
Bandar Lampung, katakabar.com - Ambisi Indonesia untuk memutus rantai ketergantungan pada bahan bakar fosil kini menemukan titik tumpu baru di tanah Lampung melalui penguatan ekosistem bioetanol berbasis singkong. Holding Perkebunan Nusantara bersama Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) resmi memperkuat sinergi hulu-hilir guna membangun kedaulatan energi sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. Langkah strategis ini diharapkan menjadi katalisator bagi Lampung untuk bertransformasi menjadi barometer pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Direktur Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, menegaskan penguatan ketahanan energi merupakan agenda strategis nasional yang mendesak, terutama dalam mengejar target implementasi B50 dan E20 pada tahun 2028. Menurutnya, Lampung memiliki posisi strategis untuk menjadi model pengembangan singkong yang terintegrasi, namun hal tersebut memerlukan percepatan pengembangan lahan, pembangunan pabrik etanol, serta jaminan pasokan bahan baku yang stabil. Denaldy menilai pertemuan ini menjadi langkah awal yang vital untuk memastikan industri bioetanol nasional memiliki fondasi yang kokoh dan berkelanjutan. Sejalan dengan visi besar tersebut, Direktur Operasional PTPN I, Fauzi Omar, menerangkan pihaknya berkomitmen penuh mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. "PTPN I berperan memastikan operasional di lapangan berjalan selaras dengan kebijakan nasional, di mana komoditas singkong tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan pangan mentah, melainkan aset energi yang memiliki nilai tambah tinggi. Hilirisasi ini dipandang Fauzi sebagai kunci untuk meningkatkan daya saing industri domestik sekaligus memberikan kepastian pasar yang lebih luas bagi hasil bumi dalam negeri," ujarnya. Upaya hilirisasi ini mendapat dukungan teknis dari FP Unila yang telah ditetapkan Bappenas sebagai pusat penelitian singkong nasional. Dekan FP Unila, Kuswanta Futas Hidayat, mengungkapkan pihaknya kini fokus mengejar target produktivitas 30 ton per hektare melalui enam langkah utama, mulai dari pemetaan klon singkong, perbanyakan bibit unggul, hingga penerapan mekanisasi budidaya di empat kabupaten sentra. Transformasi di tingkat hulu ini menjadi krusial agar pasokan bahan baku pabrik bioetanol tetap terjaga tanpa mengganggu stabilitas kebutuhan pangan. Meskipun akselerasi bioetanol terus dipacu, para akademisi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem industri yang sudah mapan. Prof. Udin Hasanudin mewanti-wanti agar pengembangan pabrik etanol tidak menekan keberadaan industri tapioka, sementara Prof. Setyo Dwi Utomo menekankan pentingnya pemanfaatan klon lokal potensial untuk meningkatkan efisiensi produksi. Di sisi lain, Prof. Radix Suharjo menyoroti pentingnya aspek kesehatan lahan melalui penggunaan bahan organik dan mikroba, agar tanah tetap produktif dan tanaman memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit dalam jangka panjang. Sinergi lintas sektor antara PTPN dan Unila ini akhirnya bermuara pada satu tujuan besar: kesejahteraan petani. Seluruh pihak sepakat kolaborasi antara riset, industri, dan petani adalah syarat mutlak agar hilirisasi singkong dapat berjalan berkelanjutan. Dengan integrasi yang matang, pengembangan bioetanol di Lampung tidak hanya akan memperkuat kedaulatan energi nasional, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi baru yang mampu mengangkat taraf hidup petani singkong secara signifikan.
Mantap! Kemenperin Bikin Bioetanol dari Bahan TKK Sawit
Jakarta, katakabar.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bikin terobosan bikin Biotanol dari bahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS dianggap limbah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, sehingga mendukung terwujudnya akselerasi nol emisi karbon (Net Zero Emissions/NZE) pada 2050 mendatang.